KALI ini saya ingin menampilkan posting yang sedikit berbeda. Sahabat-sahabat pejalan dari Perhimpunan Islam Paramartha menyusun sebuah buku dan video mengenai kesiapsiagaan menghadapi bencana yang mungkin saja akan terjadi di wilayah kita. Baru-baru ini kita mendengar banjir besar yang melanda Pakistan, gempa bumi yang melanda beberapa wilayah di Indonesia sebelumnya.
Negara seperti Jepang secara teratur melatih warganya untuk memahami karakter wilayah mereka yang rawan gempa bumi. Sejak SD anak-anak sudah diberi tahu apa yang terjadi jika tanda-tanda gempa mulai terjadi, bagaimana berlindung dan bagaimana melakukan evakuasi. Dengan demikian, masyarakat menjadi lebih siap dan dampaknya bisa diminimalisir.
Buku saku dan video “Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Gempa Bumi” dari Divisi Manajemen Bencana – Perkumpulan Islam Paramartha, merupakan sebuah sumbangan kecil bagi masyarakat Indonesia untuk semakin mengenal, dan bersiap hidup dalam fitrah alamnya yang unik. Silahkan diunduh, di-print dan disebarkan segara gratis bagi siapapun yang merasa membutuhkannya.
Read the rest of this entry »
Pendidikan Hati
December 15, 2008
Dikutip dari sebagian isi Bab III buku “Cinta Bagai Anggur”, dengan seijin penerbit.
Selama engkau tidak menceraikan dunia dan segala sifat keduniawiannya, kau tidak akan pernah mengenal Tuhan. Pada persoalan ini, kau harus memahaminya dengan sangat berhati-hati! Nabi Isa a.s. adalah Nabi yang menjadi contoh pelepasan diri dari dunia material secara sempurna. Di sisi lain, kau juga mengenal seorang nabi besar lain, Raja Sulaiman a.s. Beliau adalah manusia yang paling kaya dari yang terkaya, juga yang paling berkuasa.
Intinya adalah menceraikan dunia dengan qalb. Kemiskinan materi bukanlah inti persoalannya.
SEORANG sufi besar, Ibrahim bin Adham rah. [1] sebelumnya adalah sultan kerajaan Balkh. Dia tinggalkan kedudukannya sebagai raja di dunia ini demi merajai kehidupannya yang berikutnya.
Teladan dari beliau mengilustrasikan bahwa selama ini kita mungkin mengira bahwa kitalah pihak yang mencari dan mendapatkan, namun sebenarnya tidak demikian. Sebenarnya Allah-lah yang mencari kita, dan kita semata-mata hanya menjawab panggilan-Nya saja.
Pada tingkatan kita sekarang, seringkali kita tidak segera memutuskan untuk memenuhi undangan Allah. Kita menunda. Kita mempertimbangkan dan merenungkannya. Read the rest of this entry »
“Cinta Bagai Anggur” Sudah Bisa Dipesan
December 6, 2008

Judul: “Cinta Bagai Anggur: Tuangan Hikmah Dari Seorang Guru Sufi di Amerika.”
Karya: Syaikh Muzaffer Ozak, dikompilasikan oleh Syaikh Ragip Frager
Alih bahasa: Nadia Dwi Insani, Herry Mardian, Herman Soetomo
Penerbit: Pustaka Prabajati
17 x 23 cm, 202 hal.
ISBN: 978-979-15115-0-6
Harga: Rp. 48.000,-
: : : : : : : :
Back Cover:
PADA tahun 1980, Dr. Robert Frager, Ph.D untuk pertama kalinya bertemu dengan Syaikh Muzaffer Ozak, pimpinan Tarekat Halveti-Jerrahi dari Turki. Ia, sebagai pendiri dan direktur Institute of Transpersonal Psychology di California Utara, ketika itu mengundang beliau sebagai pembicara di universitasnya.
Frager dan seluruh mahasiswanya, serta seluruh hadirin, dibuat takjub dan terpaku dengan narasi Sang Syaikh yang terasa begitu intens dan dalam. Bukan pembahasan akademis-teoretik tentang Islam dan tashawwuf yang membuat mereka diam terpaku, melainkan tuangan kisah hikmah yang digunakan Syaikh untuk menjelaskan hakikat-hakikat agama dan kehidupan kepada audiens. Read the rest of this entry »
Visi Buku: “Cinta Bagai Anggur”
October 7, 2008

Judul: “Cinta Bagai Anggur” / Karya: Syaikh Muzaffer Ozak, dikompilasikan oleh Syaikh Ragip Frager / Alih bahasa: Nadia Dwi Insani, Herry Mardian, Herman Soetomo / Tata letak dan Ergonomi Pembacaan: Bambang Setyadi Machmud / Penerbit: Pustaka Prabajati / Status: naik cetak sudah terbit
Oleh Herry Mardian.
PADA periode akhir sembilan puluhan, saya baru menyadari bahwa istilah “Islam” bukanlah sekadar sebuah label penamaan, seperti misalnya kata “Sudirman” ketika digunakan semata-mata untuk mempermudah pengidentifikasian sebuah jalan. Tidak ada keterkaitan antara makna kata “Sudirman” dengan jati diri sebuah jalan beraspal yang menyandang namanya itu. Demikian pula, kata “Sudirman” sama sekali tidak mengandung apa pun yang bisa menerangkan perihal jalan itu.
Ketika itu saya dibuat merenung, waktu menyadari bahwa kata “Islam” bermakna keberserahdirian, berasal dari kata “aslama” yang bermakna “berserah diri” atau “sepenuhnya tunduk”. Kata ini bukan berfungsi sebagai identifikator untuk membedakannya dengan agama lain—agama itu tidak dinamai Diinul-Muhammadi, Muhammadian atau Muhammadanisme. Kata ini, yang saya yakini sungguh dalam maknanya, ternyata berfungsi untuk menerangkan jati diri agama yang dinamainya itu. Read the rest of this entry »
‘Guru Sejati dan Muridnya’ Sudah Diluncurkan
February 17, 2008

“Bawa Muhaiyaddeen tidak mendidik muridnya untuk menjadi Islamolog maupun pengkaji tasawuf yang hafal pelbagai istilah rumit, dan menjadikan para muridnya menang dalam setiap perdebatan ilmiah. Yang Bawa lakukan adalah mendidik para muridnya untuk hidup dan ‘bernafas’ dalam teori-teori tersebut sehingga esensinya mampu ditangkap oleh murid-muridnya.”
BERIKUT kutipan ‘Visi Buku Ini’ dari Pustaka Prabajati, sebagaimana tertulis dalam bukunya:
“…Buku ini langka karena di masa ini cukup sulit bagi kita untuk mendapatkan literatur konkrit tentang cara seorang Mursyid sejati dalam memberikan bimbingan kepada para muridnya, dengan muatan yang mampu menggambarkan interaksi mereka dengan baik. Umumnya literatur yang tersedia dalam mengulas hal tersebut, biasanya ada dalam konteks masa Islam klasik, dengan gaya bahasa maupun istilah yang tidak mudah dipahami oleh pembaca umum. Kadang bimbingannya ditulis dalam bentuk hikayat. Selain itu, karena perbedaan masa yang terpaut jauh dengan masa kita sekarang, biasanya buku-buku tersebut memerlukan interpretasi yang lebih dalam lagi untuk bisa diturunkan dalam level kehidupan kita sehari-hari di masa kini.
Read the rest of this entry »
Ayat-ayat Obsesi
December 7, 2006
Herry Mardian
Lebih baik kisah satu hikmah yang diraih dengan mati-matian, diminum dan ditelan dengan perjuangan, daripada ribuan hikmah yang diumbar berserakan tapi sebatas kutipan.”
APA novel yang paling saya nikmati? ‘The Alchemist’-nya Paulo Coelho, saya sampai merasa perlu untuk mengecek kesesuaian ‘rasa’ novel tersebut dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Inggrisnya. Apa novel yang paling membuat saya tak bisa menahan diri untuk tidak membuka halaman selanjutnya? ‘Da Vinci Code’-nya Dan Brown. Novel pertama yang saya baca? ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah’-nya Hamka, ketika SMP. Air mata saya bercucuran ketika membacanya, dulu sekali.
Kebiasaan membaca sejak SMP ini berlanjut. Setiap bulan, saya biasanya mencari satu novel atau buku untuk ditamatkan. Kebiasaan ini berlanjut hingga masa-masa krisis moneter dulu, yang membuat harga buku melonjak hingga lima kali lipat. Akhirnya, sekarang saya sangat selektif untuk membeli novel: saya hanya membeli yang saya anggap benar-benar layak untuk dibeli. Kriterianya bagi saya, novel yang saya beli harus mampu mencerahkan, memberi inspirasi, membuat saya mengerti sebuah sudut pandang lain tentang kehidupan, dan melembutkan hati. Kriteria terpenting, novel tersebut harus mampu memunculkan insight yang membuat saya semakin bermunajat. Entah itu berupa sebuah ketakjuban, kesyukuran, sebuah pemahaman, atau bahkan sebuah kesedihan: harus ada sebuah penghadapan baru dari diri saya kepada-Nya, setelah membaca apa yang disampaikan pengarang sebuah novel.
Read the rest of this entry »
Buku ‘Guru Sejati dan Muridnya’ : Pengantar Penerjemah
January 11, 2006
Bayangkanlah diri Anda sebagai seorang yang telah lelah dan jenuh mencari makna kehidupan di dunia ini. Bayangkan diri Anda yang jemu melihat dunia ini hanya sebagai tarikan-tarikan persoalan senang dan sedih, berhasil dan gagal, mendapatkan keuntungan dan kebahagiaan; demikian pula dengan berbagai tekanan kehidupan, hantaman kesedihan dan terpaan penderitaan. Anda, tanpa menyadarinya, telah terbawa tanpa daya oleh pusaran kehidupan dunia: kelahiran, dibentuk oleh orangtua dan lingkungan, bersekolah, berkeluarga, bekerja dan mengejar karir, mendidik anak, dan seterusnya.
Pada suatu titik Anda tersadar, apa makna dari semuanya ini. Apakah kehidupan hanyalah sekadar pergantian episode senang dan sedih, baik dan buruk, hingga datang saat kematian kelak? Apakah benar-benar tidak ada makna yang lebih hakiki daripada sekadar mencoba menggapai kesuksesan, memiliki pendapatan yang cukup untuk hidup senang dan mempersiapkan bekal pendidikan anak-anak? Bukankah itu berarti bahwa kita juga hanya mengarahkan anak-anak kita menuju pengulangan-pengulangan tanpa makna yang persis sama dengan yang kita jalani? Sebuah rutinitas kehidupan yang juga akan memerangkap mereka, sama seperti kita yang telah terperangkap di dalamnya.
Read the rest of this entry »
