Bangku Belakang
June 4, 2009
Oleh Sofie Dewayani, dimuat di Koran Tempo edisi 17 Mei 2009.
PADA hariku yang lelah, warnet adalah tempat istirah. Di dunia maya aku bisa menyapa teman-teman lama. Ceria, tertawa, seperti dulu waktu SMA. Cerita nostalgia, kabar bahagia, terpampang bergantian seperti pajangan. Mataku menelan lembar demi lembar layar, menyusuri kota demi kota. Teknologi memang gila. Ruang dan waktu dirangkumnya dalam satu sentuhan jemari saja.
Tak heran orang menyebutnya dunia maya. Jejaring pertemanan ini meleburkan peristiwa dan masa. Aku bisa tergelak oleh kisah lama, tersenyum memandangi potret kelabu masa remaja. Aku menyeletuk sekadarnya, tapi lebih sering menyaksikannya saja. Aku tak ingin beranjak dari bangku belakang. Seperti dulu, waktu SMA.
Read the rest of this entry »
Metamorfosa Seorang Wanita
August 7, 2006
Oleh Dwi Urika Prihartini, 2006.

Ada dua hal yang pasti dalam hidupku yaitu saat kelahiranku dan saat kematianku. Yang belum aku ketahui adalah kejadian sebelum kelahiranku, yang mungkin tidak akan pernah dapat kuingat, saat aku berada dalam rahim ibuku, dan saat sebelum itu. Lalu kejadian antara kelahiran dan kematianku, yang sedang kujalani saat ini. Setiap detiknya waktu selalu ditambahkan, tidak ada kesempatan mundur. Dan terakhir adalah kejadian sesudah kematianku, sesuatu yang belum aku jalani dan aku takuti.
Kini, aku sedang menjalani kehidupan. Terjebak dalam lingkaran ruang dan waktu. Di atas bumi dan hitungan dua puluh empat jam sehari, yang dibagi-bagi dalam beberapa segmen pekerjaan dan rutinitas yang harus kujalani.
Bosan! Sebenarnya, apa yang sedang kujalani ini? Sesuatu yang absurd. Kesepian dan kegelisahan ada dimana-mana. Wajahku bertahta di setiap muka yang kutatap. Apa yang kucari di kehidupan ini? Kebahagiaan? Seperti apakah kebahagiaan itu. Apa yang membuatku bahagia. Aku menutup buku diariku. Kuputuskan untuk tidak membukanya lagi sebelum ?aku memperoleh sebuah jawaban. Jika tidak, aku akan menulis hal yang sama berulang-ulang. Read the rest of this entry »
Potret Kehariinian
June 16, 2006
Oleh Herry Mardian.

SIANG tadi, ibu menghampiriku di tempat aku biasa bekerja. Wajahnya agak miris. Di tangannya ada tiga koran: Kompas, Republika dan Koran Tempo, koran langganan kami setiap hari.
“Coba lihat ini. Kamu sudah baca?” katanya.
Tidak biasa-biasanya ibu mendatangiku hanya untuk membicarakan sesuatu yang tertulis di koran. Pasti berita itu adalah berita yang benar-benar ‘mengganggunya’.
Read the rest of this entry »
Berhentilah Jadi Gelas
May 11, 2006

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.
“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
Read the rest of this entry »
Majikan Baru
March 14, 2005
© 2005 – by Herry Mardian
Teman-teman, sekarang aku punya majikan baru. Rumahnya bagus dan luas. Barang-barangnya juga bagus. Halamannya luas, tanamannya indah-indah. Aku senang di sini.
Keluarganya pun baik-baik. Anak majikanku banyak. Anak yang paling baik namanya Muhammad. Dia yang paling mirip sama Tuan, juga paling disayang sama Tuan. Keluarga yang lain juga suka datang. Oleh teman-teman pembantu yang lain, mereka disebut para wali. Kalau anak-anak Tuan, mereka menyebutnya para Nabi.
Sebelum aku di sini, hidupku susah. Majikan-majikan yang dulu suka pura-pura membantu, pura-pura baik. Tapi kalau aku salah, mereka marah sekali. Atau aku ditinggal sendirian. Diusir juga pernah. Kalau sudah begini, aku biasanya luntang-lantung kelaparan di luar, jadi pengangguran atau gelandangan. Kedinginan dan kesepian sendiri, tidak punya rumah. Tidak tau mau ke mana. Terus kalau mereka butuh, aku dicariin lagi. Tapi kalau sudah tidak butuh, aku ditinggal lagi. Tapi sekarang, kalau aku sedang kena masalah terus bilang ke Tuan, Dia suka ikut nolongin. Mestinya dari dulu aku di sini ya.
Read the rest of this entry »