Pentingnya Shalat dan Doa
June 26, 2010
Oleh Bawa Muhaiyaddeen, 22 Februari 1974;
diterjemahkan oleh Herry Mardian.
ANAK-ANAKKU, aku ingin menyampaikan pada kalian tentang maqam (tingkatan spiritual) dan ahwal (kedudukan)-ku. Aku datang ke dunia ini untuk melaksanakan doa, pemujaan dan meditasi dengan segala macam bentuknya, berbagai jenis zikir, tafakkur, shalat, salam dan shalawat. Aku sudah sangat tua, baik dalam pengalaman maupun dalam pemahaman. Usiaku sudah sangat, sangat tua.
Dulu sekali, ketika jumlah masjid masih sedikit, untuk mencapai masjid kadang kita harus berjalan kaki sejauh sepuluh sampai lima belas mil, hingga tibanya waktu Isya’. Untuk shalat Jum’at berjamaah (ke masjid yang menyelenggarakan shalat Jum’at—penerj.), kita harus mulai berjalan segera setelah Isya’ pada malam sebelumnya. Aku biasa berjalan sepuluh atau lima belas mil melewati hutan, berjalan kaki sepanjang malam untuk sampai di masjid pada jam satu atau jam dua pagi, agar bisa shalat subuh di sana. Lalu aku akan menunggu sampai tiba waktu shalat jum’at, lalu tetap di sana untuk shalat ashar dan shalat maghrib, lalu kembali berjalan pulang melewati hutan. Aku shalat seperti ini tanpa pernah kehilangan satu pun waktu shalat, selama delapan puluh tahun.
Read the rest of this entry »
Visi Buku: “Cinta Bagai Anggur”
October 7, 2008

Judul: “Cinta Bagai Anggur” / Karya: Syaikh Muzaffer Ozak, dikompilasikan oleh Syaikh Ragip Frager / Alih bahasa: Nadia Dwi Insani, Herry Mardian, Herman Soetomo / Tata letak dan Ergonomi Pembacaan: Bambang Setyadi Machmud / Penerbit: Pustaka Prabajati / Status: naik cetak sudah terbit
Oleh Herry Mardian.
PADA periode akhir sembilan puluhan, saya baru menyadari bahwa istilah “Islam” bukanlah sekadar sebuah label penamaan, seperti misalnya kata “Sudirman” ketika digunakan semata-mata untuk mempermudah pengidentifikasian sebuah jalan. Tidak ada keterkaitan antara makna kata “Sudirman” dengan jati diri sebuah jalan beraspal yang menyandang namanya itu. Demikian pula, kata “Sudirman” sama sekali tidak mengandung apa pun yang bisa menerangkan perihal jalan itu.
Ketika itu saya dibuat merenung, waktu menyadari bahwa kata “Islam” bermakna keberserahdirian, berasal dari kata “aslama” yang bermakna “berserah diri” atau “sepenuhnya tunduk”. Kata ini bukan berfungsi sebagai identifikator untuk membedakannya dengan agama lain—agama itu tidak dinamai Diinul-Muhammadi, Muhammadian atau Muhammadanisme. Kata ini, yang saya yakini sungguh dalam maknanya, ternyata berfungsi untuk menerangkan jati diri agama yang dinamainya itu. Read the rest of this entry »
Dulu, Dulu Sekali, Saya Pernah Mengalaminya
March 5, 2008
Oleh Septina Ferniati, ibu dua anak, tinggal di Bandung.

DENGAN si sulung Ilalang saya baru saja habiskan waktu berdua. Setelah dia tuntaskan PR-nya, dan saya sudah sangat capek menekuni terjemahan, kami berinisiatif cari makan. Bukan karena kami kebanyakan uang. Namun karena di rumah saya tidak masak banyak. Tahu tumis bawang jahe sudah habis sejak sarapan, siang pun diisi dengan acara makan spageti pemberian seorang teman istimewa. Jadi sore ke malam memang tidak ada apa-apa. Maka harus ke luar.
Meski gerimis, kami semangat. Saya susui dulu si bungsu yang baru enam belas bulan usianya, sampai tertidur. Ayahnya di rumah, tidur bareng dia. Lalu kami ke luar, agak jauh dari rumah, karena saya dan Ilalang ingin ke Surabi Imut.
Read the rest of this entry »
Potret Kehariinian
June 16, 2006
Oleh Herry Mardian.

SIANG tadi, ibu menghampiriku di tempat aku biasa bekerja. Wajahnya agak miris. Di tangannya ada tiga koran: Kompas, Republika dan Koran Tempo, koran langganan kami setiap hari.
“Coba lihat ini. Kamu sudah baca?” katanya.
Tidak biasa-biasanya ibu mendatangiku hanya untuk membicarakan sesuatu yang tertulis di koran. Pasti berita itu adalah berita yang benar-benar ‘mengganggunya’.
Read the rest of this entry »