“Cinta Tak Sampai, Terlunta-lunta, Menunggu” – Yunus Emre
November 10, 2011

Wahai diriku,
jalan yang ditempuh para ‘arif billah
lebih sulit terlihat bahkan dari yang paling samar.
Yang menghalangi jalannya Raja Sulaiman, adalah seekor semut. [1]Siang malam air mata sang pecinta
mengalir tanpa henti
memerah darah
merindu Sang Terkasih.“Kekasih yang cintanya tak kesampaian,
terlunta-lunta kesana-kemari,
menunggu cintanya berbalas,” [2] kata mereka kepadaku, dulu.
Dare Not To Say
September 28, 2011

Dare not to say, “I am safe”
for every step you take, could be your very mistake
every name could easily be the enemy you hate
each and every fortune can surely push you down the graveWhile living and dying has lost their meaning
and your dying self must live among the living
with every hour is your own stone or flower striking
fear and hope become the names of your wing
Herry Mardian, 28092011, 09.50 AM.
Gambar: “Child Praying”, taken from Ryan Haus Album
“Di Balik Tirai Dirimu” – Mahmud Shabistari
May 26, 2011

Shadr-mu, kosongkan.
Layakkan ia bagi kediaman Yang Tercinta
Saat dirimu tak lagi tinggal di sana, Dia ‘kan datang
Lalu di balik diri mu: tirai yang menutupi engkau dari-Nya,
di dalamnyalah keindahan-Nya akan Dia tampilkan.
Mahmud Syabistari
Terjemahan oleh Herry Mardian.
Read the rest of this entry »
Dalam Diri Ini – Yunus Emre
May 12, 2011

Tanpa sengaja, kami temukan tempat pencerahan jiwa
kami menyaksikannya: jasadLangit demi langit yang berpusar,
lapisan-lapisan bumi yang tergelar,
kami menemukannya dalam jasad ini.
Sebuah panggilan setiap saat berkumandang dari langit: “Dan sungguh, Kami benar-benar meluaskannya.” (*1)
Yang mendengarnya setiap saat, namun bukan dengan telinga? “Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang mengabdi, yang bertahmid, yang berjalan (karena Allah), yang ruku’, yang sujud.” (*2)
Carilah tangga “dari Allah, pemilik Al-Ma’arij (tempat mi’raj) ” (*3), lalu naiklah! Tangga yang “Al-Malaa’ikat dan Ar-Ruuh naik (kepada-Nya) dalam satu hari. ” (*4)
Siapakah yang sanggup, dari bahan khayalanmu, mampu membuat nyata tangga ke langit itu?
Tangan “Kepada Kami segala sesuatu akan kembali.” -lah yang membuat mereka mi’raj. (*5)
Doa Indian Sioux
April 20, 2011

Wahai Yang Maha Agung,
yang suara-Mu terdengar dalam angin berhembus
Engkau, yang nafas-Mu menjadikan bumi hidup
Dengarlah permohonanku
Rumi: Kegelapan dan Cahaya
December 15, 2010

Cahaya menjadikan warna-warna nyata:
malam membuat merah, hijau dan kecoklatan sirna dari mata.Cahaya, oleh kegelapan, diperkenalkan padamu.
Segala yang tak terlihat, oleh lawannya, ditampakkan untukmu.Allah, ahad tanpa lawan, maka
Bagi-Nya segala sesuatu terlihat,
namun Dia tak akan pernah dilihat.Dari gelapnya belantara
tempat singa terlihat mata
jadilah jiwa tak terlihat
yang melompat ke dalam cahaya.
: :
(Jalaluddin Rumi, terjemahan R. A. Nicholson. Terjemahan bahasa Indonesia oleh Herry Mardian)
Ada kebahagiaan rahasia bersama perut yang kosong.
Kita cuma alat musik petik, tak lebih, tak kurang.
Kotak suara penuh, musik pun hilang.Bakar habis segala yang mengisi kepala dan perut
dengan menahan lapar, maka setiap saat
irama baru akan keluar dari api kelaparan yang nyala berkobar.
Ketika hijab habis terbakar, keperkasaan baru akan membuatmu melejit
berlari mendaki setiap anak tangga di depanmu yang digelar.
Tomorrow You’ll Smile
March 30, 2010
![]()
Been a long night, a long rainy night
my little girl’s sleeping on my lap.
She cried and suddenly wake up,
I had to kill my sleep and get up.Someday you’ll be with Mr. Right,
will you still remember me, my child?
With your happy little steps we walk,
watching sunset together in the park.
Rumi: Kepalamu Adalah Tangga
November 8, 2009

Hari ini kulihat Sang Tercinta, seri semarak segala perkara itu; Ia lepas menuju ke langit bagai ruh Mustafa. 1)
Karena wajah-Nya, matahari menjadi malu, daerah langit terharu-biru sekacau kalbu; lantaran cerlangnya, air dan tanah lempung lebih bercahaya dari api menyala.
Aku berkata, “Berikan padaku tangga, agar aku dapat naik ke langit pula.” Jawab-Nya, “kepalamu ialah tangga; purukkan kepalamu lebih rendah dari kakimu.” 2)
