guru sejati muridnya

Judul: Guru Sejati dan Muridnya
Karya: Bawa Muhaiyaddeen
Alih bahasa: Herry Mardian

“Sejengkal seorang hamba dekati Tuhannya, sehasta Tuhan akan datangi. Selangkah ia datangi, seribu langkah Ia akan berlari menjemput.”

Sebuah hadits (qudsi) yang sungguh menentramkan. Dia Maha Baik. Tapi begitulah agaknya bila seorang hamba… kembali. Bila kita datang dan mengetuk, pasti Ia membukakan pintu. Bahkan sekerling lirikan, sejumput doa yang tulus, tak akan disia-siakan. Ia menarik, memikat, dengan segala cara. Dibuat-Nya kita betah berkumpul di sebuah pengajian, atau membaca berlama-lama tentang kebaikan, atau senang berderma diam-diam. Jika kita miskin, Ia akan cukupkan. Jika kita terlampau kaya, Ia pun akan cukupkan. Read the rest of this entry »

cover guru sejati

“Bawa Muhaiyaddeen tidak mendidik muridnya untuk menjadi Islamolog maupun pengkaji tasawuf yang hafal pelbagai istilah rumit, dan menjadikan para muridnya menang dalam setiap perdebatan ilmiah. Yang Bawa lakukan adalah mendidik para muridnya untuk hidup dan ‘bernafas’ dalam teori-teori tersebut sehingga esensinya mampu ditangkap oleh murid-muridnya.”

BERIKUT kutipan ‘Visi Buku Ini’ dari Pustaka Prabajati, sebagaimana tertulis dalam bukunya:

“…Buku ini langka karena di masa ini cukup sulit bagi kita untuk mendapatkan literatur konkrit tentang cara seorang Mursyid sejati dalam memberikan bimbingan kepada para muridnya, dengan muatan yang mampu menggambarkan interaksi mereka dengan baik. Umumnya literatur yang tersedia dalam mengulas hal tersebut, biasanya ada dalam konteks masa Islam klasik, dengan gaya bahasa maupun istilah yang tidak mudah dipahami oleh pembaca umum. Kadang bimbingannya ditulis dalam bentuk hikayat. Selain itu, karena perbedaan masa yang terpaut jauh dengan masa kita sekarang, biasanya buku-buku tersebut memerlukan interpretasi yang lebih dalam lagi untuk bisa diturunkan dalam level kehidupan kita sehari-hari di masa kini.
Read the rest of this entry »

Ayat-ayat Obsesi

December 7, 2006

Herry Mardian

Lebih baik kisah satu hikmah yang diraih dengan mati-matian, diminum dan ditelan dengan perjuangan, daripada ribuan hikmah yang diumbar berserakan tapi sebatas kutipan.”

APA novel yang paling saya nikmati? ‘The Alchemist’-nya Paulo Coelho, saya sampai merasa perlu untuk mengecek kesesuaian ‘rasa’ novel tersebut dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Inggrisnya. Apa novel yang paling membuat saya tak bisa menahan diri untuk tidak membuka halaman selanjutnya? ‘Da Vinci Code’-nya Dan Brown. Novel pertama yang saya baca? ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah’-nya Hamka, ketika SMP. Air mata saya bercucuran ketika membacanya, dulu sekali.

Kebiasaan membaca sejak SMP ini berlanjut. Setiap bulan, saya biasanya mencari satu novel atau buku untuk ditamatkan. Kebiasaan ini berlanjut hingga masa-masa krisis moneter dulu, yang membuat harga buku melonjak hingga lima kali lipat. Akhirnya, sekarang saya sangat selektif untuk membeli novel: saya hanya membeli yang saya anggap benar-benar layak untuk dibeli. Kriterianya bagi saya, novel yang saya beli harus mampu mencerahkan, memberi inspirasi, membuat saya mengerti sebuah sudut pandang lain tentang kehidupan, dan melembutkan hati. Kriteria terpenting, novel tersebut harus mampu memunculkan insight yang membuat saya semakin bermunajat. Entah itu berupa sebuah ketakjuban, kesyukuran, sebuah pemahaman, atau bahkan sebuah kesedihan: harus ada sebuah penghadapan baru dari diri saya kepada-Nya, setelah membaca apa yang disampaikan pengarang sebuah novel.
Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.