Subduksi Lempeng KecilKALI ini saya ingin menampilkan posting yang sedikit berbeda. Sahabat-sahabat pejalan dari Perhimpunan Islam Paramartha menyusun sebuah buku dan video mengenai kesiapsiagaan menghadapi bencana yang mungkin saja akan terjadi di wilayah kita. Baru-baru ini kita mendengar banjir besar yang melanda Pakistan, gempa bumi yang melanda beberapa wilayah di Indonesia sebelumnya.

Negara seperti Jepang secara teratur melatih warganya untuk memahami karakter wilayah mereka yang rawan gempa bumi. Sejak SD anak-anak sudah diberi tahu apa yang terjadi jika tanda-tanda gempa mulai terjadi, bagaimana berlindung dan bagaimana melakukan evakuasi. Dengan demikian, masyarakat menjadi lebih siap dan dampaknya bisa diminimalisir.

Buku saku dan video “Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Gempa Bumi” dari Divisi Manajemen Bencana – Perkumpulan Islam Paramartha, merupakan sebuah sumbangan kecil bagi masyarakat Indonesia untuk semakin mengenal, dan bersiap hidup dalam fitrah alamnya yang unik. Silahkan diunduh, di-print dan disebarkan segara gratis bagi siapapun yang merasa membutuhkannya.
Read the rest of this entry »

Oleh Alfathri Adlin, aktivis yayasan Paramartha dan editor penerbit Jalasutra
(makalah ini disampaikan pada diskusi ‘Spritualitas dalam Realitas Kebudayaan Kontemporer’; di Fakultas Seni Rupa dan Desain -Institut Teknologi Bandung, di Bandung, 2 Maret 2005).

 

Pada suatu hari, ada sebuah e-mail sampai pada saya:

Image hosted by Photobucket.com

Beberapa tahun sebelum menerima e-mail ini, pada saat buku-buku how to, self-help, atau do it yourself mulai marak di Indonesia, saya berkelakar dengan seorang sahabat, “Jangan-jangan sebentar lagi akan terbit buku berjudul Kiat Praktis Menjadi Sufi dalam 30 Hari.” Sahabat tersebut menimpali, “Dan, tidak lama kemudian, akan terbit buku dengan judul Kiat Praktis Menjadi Sufi Seminggu Lebih Cepat daripada Buku Terbitan Sebelumnya.” Kami berdua tertawa. Ternyata, dugaan kami salah semuanya. Yang muncul bukanlah buku, tapi lebih mengejutkan lagi, sebuah lokakarya. Dan kami juga salah, ternyata bukan dalam waktu sebulan, atau seminggu lebih cepat, tapi malahan hanya dalam sehari saja! E-mail tersebut memunculkan pertanyaan bagi saya: ada apa ini sebenarnya? Apakah karena sekarang adalah zaman instan, berarti seluruh aspek kehidupan manusia, bahkan agama dan spiritualitas, bisa dijadikan instan juga? Apakah spiritualitas kini hanyalah salah satu kiat praktis (how to, self-help, atau do it yourself) dari sekian juta kiat praktis lainnya? Ataukah hanya sebuah terapi, dan bukan lagi praktik penempaan dan penempuhan jalan penyucian seumur hidup? Bagaimana dengan pencarian Tuhan seperti terdapat dalam kisah-kisah hikmah terdahulu? Apakah pencarian Tuhan tersebut sudah digantikan oleh gairah kepenasaran akan berbagai kiat praktis untuk mencapai pengalaman (seolah-olah?) spiritual?
Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.