Belajar Mengemis

BoyPraying

Tuhan,
aku belajar mengemis.

Kubergabung dengan kelompok pengemis
supaya aku bisa mengemis.

Setiap hari,
kupakai perban kotor,
pura-pura menutup luka penderitaan
tak apalah, meski Kau tahu palsu.
Aku belum punya luka sejati.

Kukenakan pakaian lusuh
pura-pura jadi orang fakir
tak apa kan, Tuhan.
Aku memang belum fakir sejati.

Kuhitam muka dengan arang
pura-pura jadi kaum tertindas
boleh ya, Tuhan?
Aku kan belum tertindas sejati.

Pura-pura lapar,
kuketuk pintu-Mu
mengemis receh rahmat-Mu.

Bagaimana, Tuhan?
Sudah baikkah mengemisku pada-Mu?

(HerryMardian, 270203, 19.53)

‘Belajar Mengemis’ © 2003 – Herry Mardian

Belajar Mengemis

5 thoughts on “Belajar Mengemis

  1. Syukur Alhamdulillah, saya dapat bertemu dengan website ini. banyak sekali yang dapat saya pelajari. Puisi diatas yang saya tahu seperti apa yang dijalani oleh para sufi. Dari puisi diatas saya merasakan saya masih bodoh belum dapat merasakan seperti puisi di atas.kalau boleh tau Mas Herry, apakah semua pengunjung website ini para pencari semua? salam

  2. Terimakasih atas kunjungannya🙂 apakah pengunjung pencari semua? Wallahu ‘alam, dari rata-rata 87 visitor per day, saya tidak tahu berapa persen pencarinya. But everybody welcome to visit and read!

  3. Tahun 2004 kami diberkati Allah dapat pergi haji dan ketika berkeliling mencari pengemis paling layak, rupanya mereka itu tiada meminta lansung tetapi menutup dan mengalirkan airmata. Mereka memberi sedekah doa sebelum kami tiba. Mereka memberi kami makan, buah dan dua ratus pound. Sebelum ke Madinah, kami disedekah lagi RM500.00 dan ada yang melompat bila poketnya diisi bagiakan ular ! Ada mahu memulangkan tapi Allahu Karim. Negerimu, kampungmu kan ada ramai masakin, ambil dan belanja ikut suka ! Ada yang bangun tidur dan pemberi sedekah sudah hilang. Ada yang mengira dua gumpal riyal ditengah jalan. Ada yang menarik ihram tepi Kaaba dan ada yang hilang semuanya. Wang, kasut dan kantung. Allahu akbar. Ada yang tercukur habis. Ada yang membuat zikir Allahu..Allahu Allahu hingga tiada kesempatan. Ada hari..semua kocek kosong. Ada hari khemah kami diMina bergoncang dan habis banjir. Ada hari…wang, batu, hujan,kasut dan air sama harganya ! semuanya hilang dari mata bila tiba saatya. Bukah kita yang sedekah, tapi kita adalah fakir papa sebenar !

  4. Lidah Palsu says:

    sungguh menarik karya nya mas Herry..
    spertinya “aku” dalam puisi itu juga sepertinya “aku” d hari ini..
    belum pernah menjadi “sejati” tapi sangat mahu jadi bagian itu..
    smoga Allah memberi kan lagi masi Herry cahaya yg terang supaya terus dapat distribusi juga d blog ini😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s