Majikan Baru

© 2005 – by Herry Mardian

Teman-teman, sekarang aku punya majikan baru. Rumahnya bagus dan luas. Barang-barangnya juga bagus. Halamannya luas, tanamannya indah-indah. Aku senang di sini.

Keluarganya pun baik-baik. Anak majikanku banyak. Anak yang paling baik namanya Muhammad. Dia yang paling mirip sama Tuan, juga paling disayang sama Tuan. Keluarga yang lain juga suka datang. Oleh teman-teman pembantu yang lain, mereka disebut para wali. Kalau anak-anak Tuan, mereka menyebutnya para Nabi.

Sebelum aku di sini, hidupku susah. Majikan-majikan yang dulu suka pura-pura membantu, pura-pura baik. Tapi kalau aku salah, mereka marah sekali. Atau aku ditinggal sendirian. Diusir juga pernah. Kalau sudah begini, aku biasanya luntang-lantung kelaparan di luar, jadi pengangguran atau gelandangan. Kedinginan dan kesepian sendiri, tidak punya rumah. Tidak tau mau ke mana. Terus kalau mereka butuh, aku dicariin lagi. Tapi kalau sudah tidak butuh, aku ditinggal lagi. Tapi sekarang, kalau aku sedang kena masalah terus bilang ke Tuan, Dia suka ikut nolongin. Mestinya dari dulu aku di sini ya.

Majikanku baik sekali. Aku kan orang kampung yang tidak tau tata krama. Baju dan kakiku selalu kotor, jadi kalau jalan malah mengotori karpet. Bekas tanganku juga banyak ngotorin dinding. Tingkah lakuku tidak sopan, mungkin sering membuat malu Tuan kalau ada tamu. Yah, namanya orang kampung. Aku juga tidak tau cara memakai barang-barang di sini. Sering piring atau gelas pecah gara-gara aku. Tivi, kulkas, atau radio sering rusak kalau aku mau pakai, karena aku tidak tau caranya. Tapi majikanku baik sekali. Dia suka pura-pura tidak tau kalau barang-barangnya rusak atau kotor karena aku.

Sampai akhirnya aku kesel sendiri, abisnya aku hanya merusak dan mengotori saja di sini. Lalu dengan takut-takut, aku menghadap ke Tuan. Aku bilang aku tidak mau jadi pembantu yang jelek. Jadi aku minta diajari caranya jadi pembantu di sini. Katanya, Dia mau mengajariku. Aku senang sekali.

Sekarang, sambil belajar, aku masih salah-salah. Tapi Dia tidak marah. Disini hidupku dijamin. Katanya aku tidak usah pikir besok makan apa, tidak usah kuatir apa-apa. Biar semua Dia yang tanggung. Pokoknya belajar saja dulu, yang baik. Katanya biar jadi pembantu yang baik juga. Kalau sudah baik, katanya nanti Dia mau kasih aku tugas khusus. Tugas khususnya apa, aku belum dikasih tau.

Aku senang di sini. Tadinya aku pikir aku diterima disini sebagai keluarga, hehe.. Ternyata salah. Aku kegeeran. Pembantu kok mau jadi keluarga majikan.

Aku cuman pembantu di sini. Tapi aku senang. Majikanku baik sekali.


(Herry Mardian, 14 Maret 2005, 20.01)

Majikan Baru

4 thoughts on “Majikan Baru

  1. adjipamungkas says:

    hehe…saya mungkin.pembantu kurang ajar…:twisted:
    uda salah…sok tau…cengegesan lagi😆
    kerjaan gak beres sering nunda-nunda, tapi majikanku..sangat memperhatikanku:oops:…gak pernah tuh potong gaji..selalu terima.full+lembur:roll:.

    yah…mungkin karena sudah sok kota.jadi lupa tatakrama…duh Gusti Ndoro Juragan …maafkan pembantumu yang lebih banyak nyusain dari pada ngebantuin…:cry:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s