Taubat Saya Jelek Banget…

[Tanya]

Kak, kenapa ya tobat saya tidak pernah sempurna? Sehari pingin tobat, besok udah lupa. Sehari ingin jadi orang baik, besoknya udah lupa. Gimana dong? Saya merasa gagal… tobat saya jelek banget.


[Jawab]

Saya cerita saja ya. Ini kisah dari sahabat baik saya. Sementara kita lupakan dulu dalil-dalil Qur’ani maupun hadits yang terkesan ‘melangit’. Contoh ini lebih terjangkau, saya kira.

Saya punya teman. Suatu ketika waktu dia SD, dia tahu dua minggu lagi mamanya akan berulang tahun. Dia bertekad ingin memberikan hadiah ulang tahun pada mamanya yang merupakan hasil usahanya sendiri, tidak beli dari toko. Dia ingin memberikan sesuatu yang ‘spesial’ untuk mamanya. Dia memutuskan untuk membuatkan mamanya hiasan meja dari kertas koran yang dibasahi dan dicampur lem, dijadikan semacam patung perahu, dan dikeringkan.

Jadi selama seminggu, dia sisihkan sebagian uang sakunya untuk membeli lem, alas untuk pajangan meja, karton, gunting, cat dan sebagainya. Setelah uangnya terkumpul, selama beberapa hari dia membuat hiasan meja itu. Setiap hari, secara rahasia, dia diam-diam membuatnya tanpa sepengetahuan mamanya. Dia ingin menjadikannya kejutan. Kalau siang, dia pura-pura tidur siang, padahal diam-diam membuat patung itu. Kalau malam, setelah mamanya tidur, dia bangun sebentar menyempurnakan pekerjaannya. Setelah itu dia simpan di bawah tempat tidurnya. Begitu terus selama beberapa hari.

Sampai semalam sebelum hari ulang tahun mamanya, dia kecewa sekali. Patung buatannya tidak bagus, tidak seperti yang ibu guru buat di sekolah. Bentuknya mencong sana sini, catnya tidak rapih. Jauh dari sempurna. Dia menangis malam itu saking kecewanya, sampai tertidur.

Paginya, seperti biasa dia makan pagi dengan papa dan mamanya. Papanya memberikan mamanya kado, ucapan selamat ulang tahun, dan sebagainya. Dia juga mengucapkan selamat pada mamanya. Tapi rupanya mamanya heran, kok dia agak murung pagi itu.

Anyway, akhirnya dia mengatakan bahwa dia telah membuatkan mamanya hadiah ulang tahun, tapi menurutnya hasilnya ‘jelek banget’. Dan ahirnya tunjukkan pada mamanya juga.

Diluar dugaannya, mamanya justru jadi menangis terharu… dan memeluknya. Mamanya terharu karena anaknya yang masih kecil itu menyisihkan uang sakunya, mengurangi jam tidurnya, hanya untuk membuatkan benda (yang dianggap buruk oleh anaknya itu) khusus untuk dirinya.

Akhirnya hiasan buatannya itu malah dibawa mamanya ke kantornya, dan diletakkan didalam kotak pajangan dari kaca yang dibeli mamanya khusus untuk patung itu. Sampai mamanya pensiun, karyanya yang ‘buruk’ itu selalu disimpan mamanya di ruang kerjanya. Bagi mamanya, seburuk apapun, itu adalah perwujudan cinta anaknya.

Nah, dalam konteks taubat, Allah pun, sedikit banyak juga seperti mama teman saya itu. Tobat kita mungkin akan jauh dari sempurna. Mungkin tidak akan pernah sempurna. Tapi persembahkan saja semampu kita. Kalau kita membuat kadonya dengan serius, bisa jadi Dia malah ‘terharu’ dengan bukti cinta kita yang ‘jelek banget’ itu.

Yang terpenting, adalah bahwa kita berusaha untuk melakukan sesuatu benar-benar diniatkan ‘khusus untuk Dia’, seburuk apapun hasilnya di mata kita.

Semoga bermanfaat.


Herry Mardian

Taubat Saya Jelek Banget…

7 thoughts on “Taubat Saya Jelek Banget…

  1. lia says:

    Alhamdulillah, mas herry memberikan gambaran yang baik banget buat saya dan mudah dicerna, saya yang juga ngerasa gak pernah bener dengan tobatnya, seakan ada harapan untuk tetap melangkah untuk kembali ke jalanNya. makasih mas…:smile:

  2. Salam sesama pencari.
    Saya merinding ketika memasuki web ini, saat saya memasukkan keyword, peniadaan diri. Tolong ajak saya bergabung dengan komunitas Mas Herry.
    Mas, kok aku ngga bisa register plus isi guest book.
    Salam sesama pencari.

  3. adm10296 says:

    yang ane tau;

    awalnya kita tobat itu dari hati
    jadi yang perlu kita jaga adalh perasaan yang ada di hati
    untuk itu kita harus memperkuat hati
    caranya ada di lagu tombo ati :lol::lol::lol:

    adm 10296

  4. taubat secara lisan mudah diucapkan, secara hati mungkin agak subjektif dari sudut pandang pelaku. yg paling berat adalah LAKU TAUBAT… diperlukan istiqomah untuk menuju ridhaNYA. karena taubat adalah “gerbang tol” bagi sebuah perjalanan seorang pencari Tuhan. sehingga berarti adalah syarat mutlak bagi kita -yang merasa sebagai seoarang hamba pencariNYA-

  5. hidden says:

    Saya senang dengan kalimat yang terakhir …

    >>Yang terpenting, adalah bahwa kita berusaha untuk melakukan sesuatu benar-benar diniatkan ‘khusus untuk Dia’, seburuk apapun hasilnya di mata kita

    Dan saya bahagia dengan frasa yang di tengahnya
    >>‘khusus untuk Dia’

    saya merasa, dari Kalimat inilah kiranya Taubat itu dimulai….
    barangkali.

  6. Saya tidak tau apakah jawaban mas Herry dengan menceritakan pengalaman sahabatnya itu sebuah kejadian benaran atau tidak saya tidak terlalu perduli yang penting adalah bahwa jawaban yang mas Herry sampaikan dengan cerita itu pas bangat dan menjawab semua hal dengan sangat lugas serta memberikan gambaran yang mudah dicerna, Saya setuju dengan mbak Lia mudah mudahan cara seperti ini dapat dicontoh. Bertobatlah terus, jalani hidup ini semampu kita, kecewa dan gagal yang terjadi hadapkan kepada Allah dengan demikian kita berharap Allah memberikan pertolongannya amin,,,:smile:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s