Meletakkan Harapan

Pernah datang seseorang dan bercerita kepada Hasan Al-Bashri r.a. tentang suatu kaum yang mengatakan: “Kami mengharap kepada Allah”, sedang mereka itu menyia-nyiakan amal. Lalu Al-Bashri menjawab, “Amat jauh, amat jauh yang demikian itu. Itu adalah angan-angan mereka yang mereka berpegang padanya!” Beliau kemudian berwasiat, “Barangsiapa mengharapkan sesuatu niscaya dicarinya, dan barangsiapa takut kepada sesuatu niscaya ia lari daripadanya.” Demikian dikisahkan Imam Al-Ghazali dalam Kitab Terpedaya, Ihya ‘Ulumuddin.

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa takut dan harap (khauf wa raja’) merupakan dua panglima dan penghela yang dapat membangkitkan manusia kepada amal. Khauf membawa kita pada ketaatan, dan raja’ membawa kita kepada amal. Tentunya khauf dan raja’–yang selanjutnya akan dibahas–ini memiliki berbagai tingkat dan derajat, sesuai dengan keadaan manusianya dan tingkat pengetahuan (ma’rifah) mereka kepada Allah. Namun, sebagaimana Ihya ‘Ulumuddin dimaksud untuk pembahasan persoalan mu’amalah, Imam Al-Ghazali kemudian mengemukakan dua keutamaan harapan.

Pertama, pada diri orang yang terjerumus dalam kehidupan maksiat lalu terguris dalam hatinya keinginan untuk bertaubat. Harapan mencegah dirinya berputus asa dan menguatkan dirinya bahwa Allah mengampunkan segenap dosa. Firman Allah Ta’ala:

“Katakanlah! Hai, hamba-hamba-Ku yang melampaui batas mencelakakan dirinya sendiri, janganlah kamu putus harapan dari rahmat Allah; sesungguhnya Allah mengampuni segenap dosa! Sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu! [Q.S. Az-Zumar: 53-54].

Kedua, pada diri orang-orang yang lemah dengan amal-amal fadhilah dan hanya mencukupkan diri dengan amal-amal wajib. Harapan membuatnya bangkit untuk memperoleh ni’mat Allah yang diperoleh oleh mereka yang berada di shirat al-mustaqim–sebagaimana yang kita pinta setiap rakaat shalat saat membaca Al-Fatihah–seperti difirmankan dalam Al-Quran:

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Ar-Rasul, mereka itu akan bersama dengan orang-orang yang Allah anugrahi ni’mat, yaitu nabi-nabi,ash-shiddiqin, asy-syuhada dan ash-shalihin“[Q.S. An-Nisa: 69].

Sehingga dengan harapan itu tergeraklah diri kepada amal-amal fadhilah.

Bila harapan pertama mencegah keputusasaan dari jalan taubat dan harapan kedua menghela kelemahan kepada kerajinan dan kekekalan amal, maka tiap-tiap yang mengakibatkan seseorang menyepelekan amal-amal batil dan membawa kelemahan kepada amal adalah “angan-angan” belaka, dan angan-angan bukanlah harapan. Inilah salah satu rahasia keterpedayaan (ghurur) yang diungkap Imam Al-Ghazali.

Dalam sebuah Hadits Qudsi ada disebutkan:

Aku adalah pada sangkaan hamba-Ku kepada-Ku; maka hendaklah ia menyangka kepada-Ku dengan sangkaan yang baik“.

Tapi ini bukan berarti kita boleh berbuat sesuka hati dan berleha-leha dari amal dan mencukupkan diri dengan sangkaan bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Merahmati, lalu mengatakan bahwa dirinya mengharap kepada Allah.

Nabi SAW sendiri menyingkapkan persoalan ini, sebagaimana sabdanya:

Orang pintar ialah mereka yang mengagamakan dirinya dan beramal untuk sesudah mati. Dan orang bodoh ialah mereka yang mengikutkan dirinya kepada hawa-nafsu dan berangan-angan kepada Allah“.

Begitu juga dalam Al-Quran disebutkan bahwa orang-orang yang mengharap rahmat Allah ditunjukan dengan keimanan, hijrah dan jihad mereka, sebagaimana firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang hijrah serta berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharap rahmat Allah” [Q.S. Al-Baqarah: 218].

Imam Al-Ghazali memberikan suatu perumpamaan yang indah bagaimana semestinya kita meletakan harapan. Diceritakan seorang petani yang berharap dapat menuai hasil yang baik dan melimpah dari ladangnya. Maka kemudian petani itu membajak tanahnya, juga dipilihnya bibit yang terbaik untuk ditanam di ladangnya. Sepanjang musim petani tersebut senantiasa bekerja dengan seksama, memberi pengairan dan pupuk yang cukup bagi tanahnya, merawat tanamannya dari segala penyakit dan mencegahnya dari binatang yang dapat merusak. Maka disinilah letaknya harapan untuk menuai jerih upayanya dan petani itu juga masih memiliki rasa takut bahwa panennya akan gagal.

Demikian pula halnya dengan orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih dan meninggalkan perbuatan-perbuatan keji, ia diliputi perasaan takut dan harap. Takut: bahwa amalnya tidak diterima dan ia tidak kekal dalam amal itu, dan ia mendapatkan su’ul-khatimah. Harap: bahwa ia mengharap Allah Ta’ala menetapkan, menguatkan dan memelihara agamanya, serta menjaga hatinya dari kecenderungan hawa-nafsu dan syahwat sepanjang sisa hidupnya.

Di sinilah harapan–dan takut–menjadi panglima yang membawa manusia kepada taat (taubat) dan membangkitkan kepada amal. Maka, sebagaimana diungkap dalam kisah Hasan Al-Bashri di atas, apa-apa yang membawa diri kepada keputusasaan dari jalan taubat, menyepelekan tindakan batil, melemahkan dan mencegah dari kekekalan amal bukanlah harapan, melainkan angan-angan. Dan barangsiapa yang mengikuti angan-angan maka ia terpedaya.

Dalam Al-Quran disebutkan:

“…Akan tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menanti-nanti serta ragu, dan kamu terpedaya oleh angan-angan kosong sehingga datang amr Allah; dan kamu telah terpedaya terhadap Allah oleh pendaya (al-ghurur)” [Q.S. Al-Hadid: 14].

Copyright @ PICTS 2001: Kajian Ihya ‘Ulumuddin

Meletakkan Harapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s