Waham ‘Kesolehan’, Waham ‘Kekasih Allah’, Waham ‘Pembimbing Spiritual’

Oleh Herry Mardian, Yayasan Paramartha.

MARI sedikit merenung.

Umumnya dari kita mencari jalan menuju Tuhan dengan membawa kriteria kita sendiri. Seorang mursyid haruslah berwajah cerah, berseri, tampak simpatik, dan sebagainya. Kita membawa waham kita sendiri dalam mencari pembimbing. Mungkin penampilannya berjubah dan berjanggut, atau apapun lah, yang biasa kita asosiasikan dengan penampilan seorang ’soleh’.

Sahabat, jika sekarang, misalkan di pasar dekat rumah kita, ada seorang yang penuh penyakit kulit. Kemana-mana dirubungi lalat dan belatung. Ia tinggal di gubuk sebagai seorang gelandangan. Jika ia mengatakan bahwa ia membawa risalah Allah, maukah kita mengikutinya? Mungkin tidak, karena penampilannya sangat jauh dari ’soleh’.

Jika tetangga kita sekarang, di RT sebelah misalkan, seorang yang dikucilkan oleh masyarakat. Di atap rumahnya membangun perahu, dan setiap hari kerjanya berteriak-teriak bahwa 6 bulan lagi akan banjir. Setiap hari ia menjadi bahan ejekan masyarakat dan tetangga anda. Akankah kita mengikutinya? Atau ikut menertawakan?

Jika di negara kita ada seorang panglima berusia 20-an tahun, yang mengatakan bahwa dia membawa perintah Tuhan untuk menyebarkan risalahnya, sementara dia senantiasa memimpin pasukannya ke negara tetangga dengan membantai, menyiksa, atau mengampuni dan memaafkan, benar-benar sesuka hatinya. Akankah kita mengikutinya?

Seorang tua yang hidup di tepian padang gersang, menggembala kambing-kambingnya. Setiap hari hanyalah beternak, dan menimba sumur untuk ternaknya. Hidup di gubuk, jauh dari kota. Miskin, tua renta. Tidak punya apapun yang bisa ditawarkan. Jika ia mengatakan bahwa ia bisa membimbing anda menuju Allah, apakah anda mau menjadi muridnya?

Seorang anak muda antisosial yang jarang bergaul, kerjanya merenung. Alim, tapi pendiam. Sering pergi memencilkan diri ke pinggir kota. Anak muda itu secara sensasional tiba-tiba menikahi janda tua yang sangat kaya, dan ia pun mendadak menjadi kaya raya pula karenanya. Lalu ia mengatakan bahwa ia telah bertemu malaikat, dan mengatakan bahwa anda harus mengikutinya. Ikutkah anda?

Seorang gelandangan, pakaiannya bau dan kotor. Setiap hari hanya meniup seruling dan bermain catur di pojok pasar. Hanya kadang ia membantu membersihkan mesjid supaya boleh tidur di dalamnya. Maukah anda mengangkatnya sebagai pembimbing spiritual?

Seorang muda tampan, berpenampilan soleh, bersih dan alim, sangat ukhrawi, miskinnya luar biasa, hartanya hanya cangkir dan pakaian yang melekat di tubuhnya. Tapi ia amat sangat dekat dengan seorang pelacur dan selalu membelanya mati-matian dari cemoohan masyarakat. Percayakah anda padanya, jika dia mengatakan bahwa ia adalah seorang nabi?

*******

Tahukah anda, bahwa kakek berpenyakit kulit, bau dan penuh belatung yang hidup di pinggir pasar tadi seperti Nabi Ayyub as pada zamannya? Tetangga yang membangun perahu di atap rumahnya, ditertawakan dan dibodoh-bodohi masyarakat, posisinya adalah seperti Nuh as pada zamannya dahulu.

Panglima 20-an tahun yang sesuka hatinya membantai atau menyiksa, juga mengampuni dan memaafkan, adalah Iskandar Zulqarnayn, seorang yang menyebarkan kebenaran di sepanjang asia, timur tengah hingga eropa. Ia dibebaskan Allah untuk menyiksa ataupun mengampuni sesukanya, sebagaimana diabadikan dalam QS 18:86,

“..Hai Dzulqarnayn, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.”

Orang tua miskin di gurun adalah Syu’aib as, mursyid dari salah satu nabi terbesar, Musa as, nabi agama Yahudi, Nasrani, dan Islam. Anak muda antisosial, yang pendiam dan kaya mendadak karena menikahi janda tua yang kaya kemudian mengaku bertemu malaikat, adalah Rasulullah SAW. Gelandangan bau dan kotor, yang hanya membawa-bawa seruling dan ‘nongkrong’ di pasar, adalah Shamsuddin Tabriz, mursyid dari wali besar Jalaluddin Rumi. Anak muda soleh dan tampan, sangat ukhrawi yang dekat dengan seorang pelacur adalah Nabi Isa as, dan pelacur itu adalah Maria Magdalena.

Coba posisikan diri kita sebagai masyarakat yang ada pada zaman mereka. Mampukah kita melihat kebenaran yang mereka bawa? Percayakah kita, jika kita hidup di zaman itu, bahwa mereka adalah para kekasih Allah, yang bisa menunjukkan pada kita ruas jalan taubat? Akankah kita mengikuti mereka?

Siapakah kita, yang berani menentukan kriteria kekasih Allah? Dia berhak menyukai siapa saja, sesuka-Nya. Mengatur para kekasihNya berpenampilan seperti kehendakNya. Kenapa kita berani mengatur, apalagi dengan standar yang kita buat sendiri, bahwa seorang kekasih Allah pastilah berseri-seri, ramah, selalu tersenyum? Berjubah, atau berjanggut? Pasti hidupnya berhasil secara duniawi maupun ukhrawi? Alangkah sombongnya kita.

Kita sendirilah yang menciptakan penghalang, filter yang kita ‘bikin-bikin’, sehingga justru menutup kita dari jalan kebenaran. Kita menciptakan ‘waham kesolehan’ sendiri. Waham, ilusi, yang justru dapat menjauhkan kita dari gerbang-Nya. Kita telah tertipu oleh ’standar jaminan mutu kesolehan’ yang dibangun dunia ini.

Belum tentu seorang yang mampu menuntun kita menuju Allah, sesuai dengan kriteria yang kita buat sendiri. Belum tentu. Memang ada para kekasihnya yang berpenampilan seperti yang kita golongkan sebagai ‘yang baik-baik’, tapi ada pula yang sama sekali tidak demikian. Mereka disamarkan-Nya (tasyrif) karena dilindungi Allah. Dilindungi dari para peminta berkah, dari orang-orang yang sedikit sedikit meminta tolong dan bantuan, minta dagangannya laku, minta didoakan supaya dapat jodoh, minta sakitnya disembuhkan, diobati saudaranya yang kesurupan, konsultasi posisi politik, dan segala permintaan tetek bengek lain yang sifatnya ‘menghilangkan derita’ saja, bukan minta dibimbing menuju Allah. Bukan minta diajarkan bertaubat.

Jika semua dibuka dengan mudahnya, bayangkan berapa orang yang datang mengantri setiap saat dengan tujuan tak jelas? Tanpa biaya pula.

Allah pun, dari 99 namanya, terbagi menjadi dua jenis. Yang ‘Jamal’, yang ‘ramah’, yang indah, yang enak kedengarannya. Contohnya adalah Maha Penyayang, Maha pengampun, Maha sabar, dan semacamnya. Tapi Dia juga memiliki nama-nama yang ‘jalal’, yang ‘agung’, yang keras, yang ‘menyeramkan’ dalam sudut pandang kita, seperti Maha Pedih Siksanya, Yang Maha Membalas, Yang Maha Keras, Yang Maha Mengalahkan, Yang Maha Menghinakan, Yang Maha Memaksa, dan sebagainya.

Setiap makhluk membawa potensi kombinasi dari 99 nama-namaNya, termasuk pula para kekasih-Nya. Mengapa kita melabelkan pada diri kita sendiri bahwa ‘Kekasih Allah pastilah ramah, enak, baik, wangi, bersih, bla-bla-bla?’ Ada yang demikian, ada pula yang tidak.

Perhatikan Qur’an 25:20,

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh-sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.”

Seharusnya ini cukup.

Sedangkan manusia terkadang sombong, merasa perlu malaikat atau mu’jizat untuk meyakinkan dirinya. Mereka menolak rasul yang ‘wajar’. Inginnya yang ‘malaikati’ atau ‘mukjizati’. Padahal jika dia tidak mengikuti pun, kemuliaan Allah sama sekali tidak akan berkurang. Allah tidak rugi apapun.

Pada QS 25:7,

“Dan mereka berkata, ‘Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?”

Pada hadits Muslim 1972 (8: 154):

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda, “Banyak sekali orang yang kelihatannya compang-camping (hina di mata masyarakat), tidak diperkenankan memasuki pintu seseorang, tetapi kalau dia berdoa kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan doanya.” (H. R. Muslim)

*******

Ciri utama dari seorang yang harus anda ikuti bukanlah senyumnya, wajahnya yang bersih, dan sebagainya. Mantan presiden kita yang dulu pun wajahnya bersih dan penuh senyum. Fir’aun pun sangat gagah dan tampan. Iblis pun, apakah akan datang ke kita selalu bertanduk, berpakaian api, membawa tombak trisula dan berekor panah? Dia tidak sebodoh itu. Jika penampilannya monoton dan tidak kreatif seperti itu, tentu saja kita akan dengan sangat mudah mengetahui bahwa dia adalah iblis, dan tidak untuk diikuti.

Syarat dan ciri utama seorang yang harus diikuti sudah dicantumkan dalam Qur’an, yaitu Q.S. 36:21,

“Dan ikutilah orang-orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah ‘muhtaduun’ “

Apakah ‘Muhtaduun’? Muhtadun, asal katanya dari tsummahtada, yang berarti ‘telah tetap menapak di atas petunjuk (dari Allah)’. Al-Muhtaduun adalah mereka yang sudah ditetapkan-Nya melangkah hanya di atas petunjuk-Nya saja.

Jadi, ciri pertama adalah, tidak pernah minta balasan apapun, baik pertolongan, status sosial, kerjasama manajemen, saling membantu, dan lain-lain. Dia yang bisa membantu kita, dan kita tidak bisa membantunya sama sekali. Dia sudah tidak membutuhkan apapun.

Yang kedua, orang itu sudah ‘tetap di atas petunjuk’. Dia membimbing anda murni seratus persen berdasarkan petunjuk Allah yang datang ke qalbnya, bukan berdasarkan pendapat, teori pendidikan, EQ, AQ, Acceleration Learning, kebiasaan umum, budaya, dan lain sebagainya.

Dengan demikian, coret juga orang yang belum mampu mendapat petunjuk Allah setiap saat di dalam qalb-nya.

Beberapa rambu Al-Qur’an yang perlu kita cermati juga:

“Kami tidak mengutus seorang Rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (QS. 14:4)”

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut. (QS. 16:36)”

Perhatikanlah, bahwa pada dasarnya tiap-tiap ummat ada Rasulnya (penyampai risalah, pengajak menuju Allah). Dan, dengan bahasa kaumnya pula.

*******

Sahabat, banyak orang yang mengaku mursyid, merasa mursyid, atau dianggap mursyid. Tapi yang teramat sulit adalah mencari mursyid yang sesungguhnya, yang tugas kelahirannya memang sebagai seorang mursyid, seorang yang memang bermisi hidup sebagai mursyid dan telah dibekali Allah dengan Ruh Al-Quds sebagai legitimasi ilahiyah atas tugasnya. Kita harus setiap saat memohon untuk diantarkannya ke ’seorang pemimpin yang dapat memberi petunjuk/wali mursyid’, sebagaimana QS 18: 17 menyebutkan,

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang disesatkanNya, maka kamu tak akan mendapatkan ‘Waliyyan Mursyida’ (seorang pemimpin yang dapat memberi petunjuk).”

Kita harus setiap saat memohon untuk ditunjuki-Nya kepada seorang ‘Waliyyan Mursyida’ ini.

Namun demikian, banyak orang yang ingin bertemu mereka, tapi setelah bertemu mereka justru berbondong-bondong berlari meninggalkannya. Kenapa? Karena bersama seorang mursyid memang tidak mudah. Dia akan memotong semua jalur-jalur perbudakan syahwat dan hawa nafsu pada diri kita. Dia akan mengajari dan memaksa kita untuk berani mengenal, mempelajari dan menguasai semua jenis hawa nasfu dan syahwat yang ada dalam diri kita sendiri. Dia akan memaksa kita untuk murni bergantung pada Allah, bahkan bukan bergantung pada dirinya sebagai mursyid. Itu adalah tugasnya.

Karena dengan terkuasainya seluruh balatentara syahwat dan hawa nafsu kita, maka kalbu kita akan semakin bening, dan kita pun pada akhirnya akan mampu mendapatkan petunjuk dari qalb kita sendiri.

Memang dia akan menolong kita jika ‘terjepit’ dalam kehidupan, menjelaskan persoalan dengan gamblang, tapi bukan berarti memanjakan terus menerus. Dia tidak akan mendidik kita untuk menjadi orang yang tidak mau menghadapi persoalan, sedikit-sedikit menangis minta tolong pada mursyidnya. Dia akan memaksa kita untuk berani menghadapi persoalan, karena dengan demikian kita akan mengenal segala kekurangan diri yang perlu diperbaiki, mengenal dan menyempurnakan kelebihan diri yang ada, menghadapi semua hawa nafsu dan syahwat (misalnya: rasa takut, cemas, inferior, bangga, sombong, iri, minder, tidak percaya diri, dan sebagainya) demi untuk mengenal segala aspek dalam diri kita sendiri (’arafa nafsahu), supaya kelak kita bisa mengenal Rabb kita (’arafa rabbahu).

Maka dari itu, bermursyid bukan seperti datang ke pengajian sekali seminggu. Menghilangkan kepenatan dan kemumetan, mencari kesejukan sesaat, buka dan sekedar menghafal Al-Qur’an, setelah lega kembali ke kehidupan masing-masing. Bukan pula untuk berorganisasi, berharap dapat mengembangkan potensi diri demi karir di sana. Juga bukan seperti dukun, minta doa supaya sukses, minta amalan, dan semacam itulah. Bukan juga datang ke sana untuk bersosialisasi, mencari kelompok maupun kegiatan saja.

Bermursyid itu, bukan pula seperti ke pasar. Ingin membeli pencerahan, ingin membeli keajaiban, ingin membeli maqom ataupun pencapaian spiritual. Tapi begitu malam tiba, semua pembeli pergi ke rumah masing-masing dan kembali kepada kenyamanan tempat tidurnya di rumah, lupa pada perjuangan penyucian diri.

Demikian pula, jangan bermursyid pada orang yang mengangkat kita sebagai murid karena kita memiliki ‘potensi’ manfaat untuk dirinya, bisnisnya, partai politiknya, maupun organisasinya. Ini guru yang ‘berbisnis’, karena orang seperti ini, jika ia ingin susu maka ia akan mencari sapi untuk dipelihara.

Hubungan dengan mursyid itu tidak mudah, karena konsekuensinya adalah, setiap saat dimanapun kita berada, kita dituntut untuk bertaubat dan memperbaiki diri, sesuai Q.S. 5:39, bahwa Allah hanya menerima taubat dari orang-orang yang taubatnya dilanjutkan dengan memperbaiki dirinya.

“Dan barangsiapa bertaubat setelah melakukan kejahatan (menzalimi dirinya) dan kemudian memperbaiki dirinya, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” (Q.S. [5] : 39)

Sekali lagi, inilah rambu utama dari Al-Qur’an yang harus kita ikuti:

“Dan ikutilah orang-orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah ‘muhtaduun’ (orang yang tetap diatas petunjuk)” Q.S. 36:21.

[]

: : : : : : : :

—Tulisan lama, Januari 2004, Herry Mardian.

Waham ‘Kesolehan’, Waham ‘Kekasih Allah’, Waham ‘Pembimbing Spiritual’

16 thoughts on “Waham ‘Kesolehan’, Waham ‘Kekasih Allah’, Waham ‘Pembimbing Spiritual’

  1. memeth says:

    Kang Herry…
    saya sangat bersyukur pd Allah. Dia bener2 menunjukkan jalan dengan mempertemukan saya dg Kang Herry . suatu ‘kebetulan’ a la Celestine Prophecy.
    Pas saya baca tulisan2 Kang Herry dan teman2, saya seperti musafir yg menemukan oase. sudah bbrp waktu saya merasakan kegelisahan teramat sangat, dan juga bbrp masalah pribadi yg bikin makin bingung. alhamdulillah, ujian dariNya telah membuat saya menemukan anugerahNya.:mrgreen:
    Kang, kebetulan bgt saya tu lg tertarik dg tasawwuf, psikologi sufi, dan psikologi transpersonal. Lhadalah kok ketemu panjenengan.:grin:
    ada bbrp pertanyaan yg ingin saya diskusikan, bisa gak kl lewat japri ??
    trus, menurut Kang Herry, gimana pandangan tasawwuf mengenai seks. dan apa pendapat Kang Herry tentang saudara2 kita para waria dan juga kaum gay??
    kebetulan, saya tu lg belajar psikologi. ada bbrp fenomena yang saya pengen tahu perspektifnya dari segi tasawwuf. krn dipsikologi, hal tersebut bukan lg penyimpangan asal yg bersangkutan mencapai aktualisasi diri dan kebahagiaan. nah, bahagia itu yg seperti apa ? krn setahu saya, para ustad kebanyakan jijik dan haram dengan kaum waria dan gay. saya kasiandengan mereka, seolah seperti wabah, dijauhi sehingga tidak mendapat siraman rohani yg menyejukkan kegelisahan mereka (saya yakin, mereka dilanda kegelisahan yg teramat sangat).
    untuk sementara sekian dulu.
    bravo Kang Herry, semoga sll dlm lindungan Allah SWT.
    eh satu lg, pengen tau ttg Yayasan Paramartha. dimana ya??

  2. ningrum says:

    Menarik sekali membaca tulisan anda, membuat sy benar2 merenung……..terima kasih, tapi ada yang sedikit mengganjal saya, penggambaran anda tentang sosok Nabi kita bahwa beliau seseorang yang anti sosial dan mendadak kaya hanya karena menikahi janda kaya sepertinya tidak sesuai. Wass

  3. herasamo says:

    saya sudah membeli buku GURU SEJATI & MURIDNYA terjemahan pak herry..buku yang bagus…semoga kegelisahan2 saya selama ini mengantarkan saya pada kesejatian…sejujurnya,beberapa hari yg lalu saya dibuat kesal oleh seorang teman yg mengatakan “”mumpung belum kiamat lho..””” hanya karena saya tidak ikut taklim manapun yg dia tawarkan…:sad: menurut pak herry saya harus bersikap bagaimana ya?? o,y, saya seorang perempuan pak:cry::cry::cry::cry::cry:

  4. hamba says:

    artikel yang mencerahkan, saya jadi ingat tentang pengalaman pribadi yang mungkin berkaitan tapi agak sedikit ekstrim, dan ingin berbagi:

    satu-satunya INDIVIDU antagonis di Al-Quran hanya Fir’aun. individu antagonis artinya menunjuk seseorang dengan cap jahat tanpa aling-aling. biasanya kalau ada cap musyrik zalim syirik dsb kan pakai golongan kelompok. misal: gerombolan ini begini, golongan itu zalim, pemuda-pemuda ini dsb. jarang sekali individu disebut kalau tidak sangat penting banget.

    saya bolak-balik mencermati dialog Musa dengan Fir’aun di Al-Quran. ternyata… semua inti kalimat yang dikatakan Musa “ditangkap” Fir’aun lalu diulang ditanyakan ke masyarakat atau rakyatnya. bukanya ditelan mentah atau dipikirin sendiri lalu membunuh Musa langsung, namun semua esensi dialog termasuk jawaban dari Musa diperluas ke rakyat oleh Fir’aun. saat ada penasehat Fir’aun berkata “bunuh Musa”. Fir’aun enggan dan bernanti-nanti biarin aja dulu, dengan alasan “agar rakyat tau sendiri bahwa Musa gila” kata Fir’aun.

    INTINYA SAYA AGAK “CURIGA”. FIR’AUN ITU SEBENARNYA SEORANG “NABI” PERAN JAHAT/ZALIM. YANG SEBENARNYA SE-MISI DENGAN MUSA TANPA DIKETAHUI MUSA. ADA MUSA ADA FIR’AUN.

    tapi pemberian cap zalim pada INDIVIDU itu (Fir’aun) pun masih saya nilai halus karena itu pun ternyata masih gelar seorang raja (Pharaoh). Al-Quran benar-benar tidak sembarangan menyebut nama seorang individu. dan akhirnya pun INDIVIDU tersebut (Fir’aun) menerima tuhannya Musa (beriman) pas mau tenggelam.

    walahu’alam

  5. adjipamungkas says:

    hehehe..hati hati mas, ” keliaran nalar bisa menjadi waham yang menyesatkan ! “.semoga pencerahannya mendapatkan hikmah yang berguna buat kembali bertaubat kepada Allah.
    Please don’t try like fir’aun….its very..very..dangerous..:mrgreen:

  6. hamba says:

    masih curiga oh curiga psikoanalis. mohon maaf dilanjutkan sedikit. mungkin bisa buat contoh yang suka psikologi.

    [26:23] Fir’aun bertanya: “Siapa Tuhan semesta alam itu?”

    [26:25] Berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya: “Apakah kamu tidak mendengarkan?”

    [43:51] Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?

    hehehe malah tanya dia, orang jahat menjawab “ngawur kamu!” diakhiri dengan membunuh. lha ini rakyatnya yang disuruh mendengar, pihak dikritik biasanya menyuruh “diam!”. dunia tahu emang dia raja mesir, kalimatnya malah cenderung sopan jika dikatakan sebagai perlawanan.

    Fir’aun seperti intelek yang pura-pura oon, dialognya counter positif (menangkap, menambah powernya, lalu disebar), ancaman Fir’aun yang sadis-sadis (dipenjara bagi yang percaya Musa begitu saja) gertak sambal tak terjadi (kecuali membunuh bayi-bayi lelaki, itu di Al-Quran memang dijelaskan sebagai cobaan yang berat, kemungkinan keputusan dewan, dan bayi masih belum sadar dosa, belum memaknai dendam dan rasa sakit saat dibunuh).

    dilihat dari dialog-dialog, kita bisa mengkira-kira kapasitas otak/intelejensi Fir’aun untuk sekedar memahami siapa Tuhan Semesta Alam yang dimaksud Musa, dia paham sebenarnya, tapi sengaja “mengkafirkan diri” didepan rakyat, mungkin agar jadi contoh bahwa dia orang zalim, atau sebagai kontra dia justru MENSUKSESKAN MISI PUTRANYA tersebut. ada Musa ada Fir’aun.

    saya pernah baca Mahabharata, skill (rela angkuh) seperti ini cuma ada di golongan ksatria (cek wiki: Karna).

    lalu bagaimana perasaan seorang ayah (Fir’aun) saat dikritik anaknya sendiri (Musa)? mungkin yang ada dibenaknyna begini: “ini Musa putraku, dilihat dari semangatnya yang teguh, sebenarnya apa maksud dia, apakah dia ingin membuktikan diri sebagai lelaki sejati, atau anak sayang ayah”. seperti itulah kira-kira hati seorang ayah. kelak jika kita jadi bapak lalu dikritik pedas oleh anak, pasti akan paham perasaan ini. saya belum jadi bapak, jadi tanya ke bapak/eyang kita saja.

  7. hamba says:

    setuju bahwa Fir’aun adalah contoh zalim melampaui batas jangan ditiru. karena Al-Quran sudah menyebutkan demikian, jadi jangan khawatir, kita tetap sepaham tentangnya.

    setelah insyaf pas mau tenggelam akhirnya Fir’aun diselamatkan, terjemahan: “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu”.

    1. diselamatkan lalu pulang dan menceritakan pengalaman pengejaran, memimpin negeri dengan ajaran monotheis berserah diri pada Allah (saya agak ragu dengan yang ini).

    2. diselamatkan badannya (dalam keadaan mati) oleh keluarga khususnya isterinya, diikuti anaknya yang masih kecil itu.

    istrinya disebut di Al-Quran sebagai contoh orang yang beriman, dan mungkin anaknya itulah penerus tahta Fir’aun dengan ajaran monotheis. (cek wiki: Akhenaten)

    tergantung ketepatan terjemahan kata arab “badanmu”. soalnya saya temukan ada terjemahan berbunyi “isteri” dan “istri” itu contoh terjemahan salah ketik. sedangkan diluar sana banyak non-muslim cari masalah karena bingung tentang tenggelamnya Fir’aun. menurut saya “ditenggelamkan” maksudnya adalah Fir’aun sepasukan sudah disaksikan oleh umum (Bani Israil) kecelup air laut dan dipastikan semua mati tenggelam, pas Bani Israil pada pergi melanjutkan perjalanan, Fir’aun diselamatkan oleh-Nya, entah cuma badan atau sekalian hidupnya. sekali lagi semua tergantung keakurasian terjemahan. hanya Allah yang maha mengetahui.

    Firaun disebut berkali-kali di Al-Quran, istrinya juga ditulis tanpa disebutkan namanya. jadi sekali lagi jika “tidak sangat penting banget” Al-Quran tidak akan sembarangan menyebut nama individu, baik dia sangat alim atau jahat. jadi siapa Fir’aun yang selalu disebut-sebut menurut pendapat saudara-saudara?

    menurut saya: Fir’aun itu tetap seorang zalim melampaui batas dan jangan ditiru. cuma mari kita berusaha peka melihat karakter supaya tahu mana guru sejati meskipun mengenakan berbagai jubah, sesuai artikel waham kesolehan ini.

    walahu’alam.

  8. Gelisah says:

    Untuk HAMBA, pernah baca tulisan nya Rumi? (saya lupa judulnya). Rumi pernah mengatakan.. perselisihan Firaun dengan Musa seperti layaknya perselisihan tukang keledai.

    Kalo di jaman sekarang mungkin seperti tukang obat di pasar-pasar. Ada orang jual obat, terus datang teman nya yang pura-pura sakit, kemudian setelah di oleh oleh obat itu langsung sembuh.

    Maksudnya supaya para penonton/pengunjung pasar, meyakini bahwa obat itu manjur dan langsung membelinya.

    Note ini hanya pendapat saya pribadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s