Mati Menjelma Lebah

 
lebahGalagasi di tapal, merentas.
Pedarnya kini sayup, meranggas.
 
Enam puluh purnama ia meranduk
menuai hikmah.
 
Sujud galagasi kecil
pada senyum Sang Guru,
waktu Ia datang malam itu
[galagasi]
“Sebentar lagi kau mati, nak.
Menjelma lebah.”
 
Alhamdulillah.
 
© Herry Mardian, 1 Muharram 1427 H.

 
 

** Galagasi: laba-laba; Tapal: batas; Merentas: mencari-cari jalan, Pedar: amarah, Sayup: hampir sunyi, Meranggas: berguguran, Meranduk: mengarungi padang.

Mati Menjelma Lebah

2 thoughts on “Mati Menjelma Lebah

  1. firdaus says:

    mati menjelma lebah :
    kurang lebih dari pemikiran akal saya yang lemah seperti ini :
    laba laba diperumpamakan si penulis / kita / manusia yang telah melalui berbagai bagai macam perjalanan hidup yang dijalanin dan menimbulkan berbagai macam rasa dan hikmah , dan berharap dari apa yang dialami dan dirasa akan mengubah dia /penulis/manusia untuk sampai ke tingkat makrifat kpd Allah hingga dari laba laba yang lemah menjadi lebah mampu menembus alam hikmah..mati ini melambangkan sudah tidak tertarik pada dunia
    wallahu’alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s