Gelisah Dalam Kehidupan

Herry Mardian, Yayasan Paramartha.

[TANYA] Mas, mengapa sampai dengan sekarang saya masih merasa galau dengan diri saya sendiri (seingat saya saya mulai bertanya-tanya tentang diri saya sejak SD sampai dengan sekarang, kurang lebih 15 th), apalagi setelah saya baca kalimat “Siapa yang mengetahui dirinya, dia akan mengetahui Tuhannya”. Saya sangat berharap dengan balasannya. Terima kasih atas perhatiannya.

: : : : : : :

Sahabat, seringkah anda dihampiri pertanyaan-pertanyaan seperti ‘untuk apa semua ini? Apakah makna hidup saya? Kenapa hidup saya terasa datar saja, berputar-putar dari hari ke hari? Hanya pergantian episode senang dan sedih? Mengapa saya seperti dikuasai oleh kehidupan saya?’ pun mulai muncul di hati anda.

Sebenarnya, Allah setiap saat ‘memanggil-manggil’ kita untuk kembali kepada-Nya. Dengan cara apa saja. Dia, dengan kasih sayang-Nya, terkadang membuat suasana kehidupan seorang anak manusia sedemikian rupa sehingga kalbunya dibuat-Nya ‘menoleh’ kepada Allah. Hanya saja, teramat sedikit orang yang mendengarkan, atau berusaha mendengarkan, panggilan-Nya ini.

Allah terkadang membuat kita terus menerus gelisah, atau terus menerus mempertanyakan ‘Siapa diri saya ini sebenarnya? Apa tujuan saya? Apa makna kehidupan saya?,’ dan sebagainya. Bukankah kegalauan semacam ini adalah sebuah seruan, panggilan supaya kita mencari kesejatian? Mencari kebenaran? Mencari ‘Al-Haqq’? Allah, percayalah, akan selalu menurunkan pancingan-pancingan pada manusia untuk mencari-Nya.

Dalam hal ini, Allah amatlah pengasih. Apakah seseorang percaya kepada-Nya atau tidak, beragama atau tidak, Dia tidak pandang bulu. Apakah seseorang membaca kitab-Nya atau tidak, percaya pada para utusan-Nya ataupun tidak, semua orang pernah dipanggil-Nya dengan cara seperti ini. Setiap orang pasti dipanggil-Nya seperti ini untuk mencari kesejatian, untuk mencari hakikat kehidupan.

Bentuk ‘pancingan’ semacam ini pula yang dialami oleh para pencari, maupun para Nabi. Nabi Ibrahim yang gelisah dan mencari tempat mengabdi (ilah), yang diabadikan dalam QS 6:74-79. Juga kita lihat Nabi Musa, misalnya. Setelah hanyut di sungai nil, dia dibesarkan oleh salah seorang maha raja yang terbesar sepanjang sejarah, Sethi I. Hidup dalam kemewahan, kecukupan, hanya bersenang-senang. Tapi dia selalu ‘galau’ ketika melihat di sekelilingnya, bangsa Bani Israil, yang ketika itu menjadi warga mesir kelas rendahan, sebagai budak. Dia yang hidup dengan ayah tirinya Sethi I, tentunya setiap hari melihat sisi kemanusiaan ayahnya, normal saja. Dia mungkin hanya sedikit heran mengapa masyarakat mesir mau menyembah ayah tirinya itu.

Hanya saja, kadang kemewahan, kenyamanan, mengubur harta kita yang sangat berharga itu: potensi kita untuk mencari siapakah diri kita sebenarnya. Kita disibukkan oleh pekerjaan, dibuai oleh kesibukan, mengejar kesuksesan kerja, atau ditipu oleh dalih mengejar karir atau sekolah, atau nyaman bersama keluarga. Sangat sering, ketika hal ini terjadi, pertanyaan-pertanyaan esensial seperti itu, yaitu potensi pencarian kebenaran yang kita bawa sejak lahir, yang ketika kanak-kanak sangat nyata, terkubur dan terlupakan begitu saja seiring waktu kita menjadi semakin dewasa. Padahal, itu adalah ‘potensi mencari Allah’ yang Dia bekali untuk kita ketika lahir. Bukan berarti kita harus meninggalkan semua itu, bukan sama sekali. Tapi, jangan biarkan semua itu menenggelamkan potensi pencarian kebenaran yang telah Allah turunkan pada kita semenjak lahir.

Ketika kita tenggelam dalam dunia seperti itu, kita bahkan tidak menyadari bahwa kehidupan kita berputar-putar saja dari hari ke hari. Sekolah, mengejar karir, pergi pagi pulang sore, terima gaji, menikah, membesarkan anak, menyekolahkan anak, pensiun, dan seterusnya setiap hari, selama bertahun-tahun. Apakah hanya itu? Bukankah kita tanpa sadar telah terjebak kepada pusaran kehidupan yang terus berputar-putar saja, tanpa makna? Celakanya, kita mencetak anak-anak kita untuk mengikuti pola yang sama dengan kita. Pada saatnya nanti, mungkin hidup mereka pun akan mengulangi putaran-putaran tanpa makna yang pernah kita tempuh.

Sangat jarang orang yang potensi pencariannya akan Allah belum terkubur. Dalam hal ini, jika kita masih saja gelisah mencari makna kehidupan, maka kegelisahan kita merupakan hal yang perlu disyukuri.

Berapa orang, sahabat, yang masih mau mendengarkan kegelisahannya sendiri? Padahal kegelisahannya itu merupakan rembesan dari jiwa yang menjerit tidak ingin terkubur dalam kehidupan dunia. Dia ‘menjerit’ ingin mencari Al-Haqq, dan ‘rembesannya’ kadang naik ke permukaan dalam bentuk kegelisahan.

Sayang, sebagian orang segera membantai kegelisahannya, potensi pencarian kebenarannya ini, justru pada saat ketika ia timbul; karena secara psikologis hal ini memang terasa tidak nyaman. Maka untuk melupakannya, ia semakin menenggelamkan diri lebih dalam lagi dalam pekerjaannya, kesibukannya, bersenang-senang, atau berdalih menutupi kegelisahannya dengan berusaha lebih lagi mencintai istri dan anak, atau keluarga, menenggelamkan diri dalam keasyikan hobi… dan sebagainya.

Atau, membantainya dengan kesenangan spiritual sesaat, seperti datang ke pengajian bukan dengan niat mencari-Nya tapi hanya untuk melenyapkan kegelisahannya, seperti obat sakit kepala saja: ketika sakit kepala, cari obat. Kegelisahan hilang, dia pun pergi lagi..

Atau juga dengan mengindoktrinasi dirinya: “Manusia diciptakan untuk beribadah!! Segala jawaban telah ada di Qur’an!!” Oke, tapi ibadah yang seperti apa? Bisakah kita benar-benar beribadah, tanpa mengetahui maknanya? Atau lebih jauh lagi, mampukah ia menjangkau makna Qur’an?

Beranikah kita jujur pada diri kita sendiri: Jika qur’an benar, mengapa kegelisahannya tidak hilang? Mengapa qur’an seperti kitab suci yang tidak teratur susunannya? Mengapa ayatnya kadang melompat-lompat, dari satu topik ke yang lainnya secara mendadak? Jika kita beriman, apakah iman itu? Apakah takwa itu? Apakah Lauhul Mahfudz? Apakah Ad-diin? Apakah Shiratal Mustaqim? Jalan yang lurus yang bagaimana? Mengapa qur’an terasa abstrak dan tak terjangkau makna sebenarnya? Ini sebenarnya pertanyaan-pertanyaan jujur, dan sama sekali bukan menghakimi qur’an.

Kadang orang terus saja mengindoktrinasi dirinya sendiri, padahal qur’an sendiri menyatakan bahwa tidak ada yang mampu menjangkaunya selain orang-orang yang disucikan/ Al-mutahharuun, (QS 56:77-79).

[Q.S. 56] “Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia (77). Pada kitab yang terpelihara (78). Dan tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan/ Al-muthahharuun (79).”

Apakah dia berani yakin bahwa dia adalah seorang yang telah disucikan, sehingga makna qur’an telah terbentang begitu jelas dihadapannya? Jika demikian, apa implikasi pernyataan : “Semua jawaban telah ada di Qur’an” baginya? Apakah ia akan terus saja membohongi diri dengan membaca terjemahan qur’an dan memaksakan diri meyakini bahwa ia telah mendapatkan maknanya?

Jeritan jiwanya tersebut ia timbun dengan segala cara. Ia tidak ingin mendengarkannya. Hal ini, sudah barang tentu akan membuat seseorang semakin terperangkap saja dalam rutinitasnya, dan semakin terkuburlah potensi pencariannya akan kebenaran. Padahal seharusnya ‘jeritan jiwa’ tersebut didengarkan. Jika anak kita menangis karena lapar, apakah kita akan pergi bersenang-senang untuk melupakannya, dan berharap anak kita akan berhenti menangis dengan sendirinya? Bukankah seharusnya kita mencari tahu, kenapa anak kita menangis?

Kembali kepada kisah Musa as. Demikian pula Musa, ia pun, sebagaimana kita semua, sejak kecil dibekali pertanyaan-pertanyaan dari dalam dirinya. Dibekali kegelisahan pencarian kebenaran. Bibit-bibitnya ada. Allah, untuk menumbuhkan bibit-bibit pencariannya itu supaya tidak terkubur dalam kemewahan kehidupan istana, menyiramnya dengan kebingungan yang lebih besar lagi.

Ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa ayahnya pernah membantai jutaan bayi lelaki Bani Israil. Ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa ayahnya menganggap Bani Israil adalah warga kelas dua yang rendah, bodoh, dan memang patut diperbudak. Puncaknya, ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa dirinya sendiri ternyata merupakan seorang anak Bani Israil, keturunan warga budak kelas dua, yang dipungut dari sungai Nil. Pada saat ini, pada diri seorang Pangeran Musa lenyaplah sudah harga dirinya. Hancur semua masa lalunya. Dia seorang tanpa sejarah diri sekarang. Ditambah lagi ia telah membunuh seorang lelaki, maka larilah ia terlunta-lunta, menggelandang di padang pasir, mempertanyakan siapa dirinya sebenarnya.

Justru, pada saat inilah ia berangkat dengan pertanyaan terpenting bagi seorang pejalan suluk, yang telah tumbuh disiram subur oleh Allah dengan air kegalauan: “Siapa diriku sebenarnya?”.

Pertanyaan ini telah tumbuh kokoh dalam diri Musa as., dan sebagaimana kita semua mengetahui kisah lanjutannya, di ujung padang pasir Madyan ada seorang pembimbing untuk menempuh jalan menuju Allah ta’ala, yaitu Nabi Syu’aib as, yang lalu menyuruh anaknya untuk menjemput Musa dan membawa Musa kepadanya.

Di bawah bimbingannya, Musa dididik menempuh jalan taubat, supaya “arafa nafsahu”, untuk “arif akan nafs (jiwa)-nya sendiri”. Dan dengan bimbingan Syu’aib akhirnya ia mengerti dengan sebenar-benarnya (ia telah ‘arif), bahwa dirinya diciptakan Allah sebagai seorang Rasul bagi bangsa Bani Israil, bukan sebagai seorang pangeran Mesir. Ia menemukan kembali misi hidupnya, tugas kelahirannya yang untuk apa Allah telah menciptakannya. Ia telah menemukan untuk apa dia diciptakan, yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Setiap orang dimudahkan untuk mengerjakan apa yang telah Dia ciptakan untuk itu.” (Shahih Bukhari no. 2026)

Maka dari itu, sahabat-sahabat, jika ada diantara anda yang mungkin ingin sekali bertemu seorang guru sejati, atau seorang mursyid yang Haqq untuk minta bimbingannya, maka terlebih dahulu anda harus benar-benar mencari Allah, mencari kebenaran, mencari Al-Haqq. Pertanyaan “Siapakan aku? Untuk apa aku diciptakan?” harus benar-benar telah tumbuh dalam diri kita (dan itu pun bukan menjadi jaminan bahwa perjalanannya akan berhasil). Anda memang telah benar-benar butuh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Jika tidak demikian, atau jika belum merasa benar-benar membutuhkan, percayalah, tidak akan ada seorang mursyid sejati yang akan mengutus anak-anaknya untuk menjemput anda.

“Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu”, bukan semata-mata artinya “siapa yang mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya.” Kata ” ‘Arafa”, juga “Ma’rifat,” berasal dari kata ‘arif, yang bermakna ‘sepenuhnya memahami’, ‘mengetahui kebenarannya dengan sebenar-benarnya’; dan bukan sekedar mengetahui. dan nafsahu berasal dari kata ‘nafs’, salah satu dari tiga unsur yang membentuk manusia (Jasad, nafs, dan ruh).

Jadi, kurang lebih maknanya adalah “barangsiapa yang ‘arif (sebenar-benarnya telah mengetahui) akan nafs-nya, maka akan ‘arif pula akan Rabbnya”. Jalan untuk mengenal kebenaran hakiki, mengenal Allah, hanyalah dengan mengenal nafs terlebih dahulu.

Setelah arif akan nafs kita sendiri, lalu ‘arif akan Rabb kita, maka setelah itu kita baru bisa memulai melangkah di atas ‘Ad-diin’.

‘Arif akan Rabb, atau dalam bahasa Arab disebut ‘Ma’rifatullah’ (meng- ‘arifi Allah dengan sebenar-benarnya), sebenarnya barulah –awal– perjalanan, bukan tujuan akhir perjalanan sebagaimana dipahami kebanyakan orang. Salah seorang sahabat Rasul selalu mengatakan kalimatnya yang terkenal: “Awaluddiina ma’rifatullah”, Awalnya diin adalah ma’rifat (meng-‘arif-i) Allah. []

(Herry Mardian, tulisan lama: 23 Februari 2005)

Gelisah Dalam Kehidupan

36 thoughts on “Gelisah Dalam Kehidupan

  1. lulu says:

    saya pernah bertanya hal seperti itu pada sahabat saya,
    jawabnya :

    ” Ketika kita tidak tahu siapa diri kita lagi, ingatlah satu hal, kita adalah hamba Allah ”

  2. sedgedjenar says:

    Aku di karuniai-Nya ilmu yang engkau tidak di karuniai Nya. Dan engkaupun di karunia-Nya ilmu yang tidak di karuniai-Nya kepada ku😀

  3. Abdi Cipta says:

    Biasanya yang masih gelisah karena belum menemukan “cara” dalam men-sikapi kehidupan. Tapi percayalah “cara” tsb. ada.

  4. lailatul says:

    tak paham sgt dgn apa yg cuba disampaikan, tapi still dapat input walau sedikit. ada cara-cara utk menjadikan diri lebih berharga dari hari ke hari tak?

  5. pertanyaan diatas kurang lebih sama dengan apa yang saya rasakan.saya pun pernah mengalami kegelisahan ketika terjebak pada rutinitas.Tiba2 saja hidup terasa sangat hampa tanpa saya tahu sebabnya.saya merasa tersindir, pengajian sering kali saya ikuti dengan harap bisa menghilangkan kegelisahan dan menemukan-Nya dalam hidup saya.tapi,hanya berhenti sampai disitu.selanjutnya,kegelisahan tetap saja ada.rupanya saya harus benar2 berusaha lebih keras dalam mengais makna hidup.terima kasih ya…tulisannya benar2 memberikan pencerahan🙂 salam…

  6. wahyu says:

    siapa yang kenal dirinya,akan mengenal tuhannya….
    kalau dalam terminologi pewayangan, mungkin identik dengan
    cerita dewa ruci, oleh sang werkudara….

  7. tika says:

    punten ya pak…anda paramrtha..? kenal dgn mas ari, ibu taubah, pak salim..? sy banyak terkesima dhn tulisan anda pak..
    subhanallah..ternayata….sgt familiar dgn saya…

    Salam kenal ya pak…:grin:

  8. Kenal!😀 Mas Ari, Bu Taubah, Pak dan Bu Salim, Mubarok….

    Kenal juga toh? *ngajak salaman (tapi gak sampe kena)* sodaranya? Salam kenal juga!

  9. henny says:

    membaca tulisan mas herry, jadi kangen dengan paramartha.. saya dulu ikut yang di bintaro dengan pembimbing mas kuswandani… apa ada ya di batam??😦

  10. henny says:

    boleh dunk emailnya mas dani, aku gak punya..
    insyaallah belum ada rencana pindah dari batam, mknya kalo ada yang disini bisa lanjut:) tp baca artikel2 yang dipost jadi penyegaran kembali.. mksh lho postingannya….:)

  11. Jazzkord says:

    Siapa Aku ?
    Sebenarnya siapa yang berucap Aku ?
    Kalo didalam tubuh sepertinnya ada yg empat deh…Kulit,daging, tulang dan sumsum…:smile:

    ingin juga kenal sama yang punya Aku

  12. Ass…..
    Mungkin atau memang yang saat ini saya rasakan….
    kegelisahan yang saya alami…..
    Terpuruk atas rutinitas hidup membuat saya terlena akan sesuatu yang penting yang terlewatkan dalam hidup ini.
    Terbentur atas sebuah permasalahan dengan pasangan….
    dia menanyakan”Apakah abang sudah mengetahui diri abang sendiri itu siapa ?”
    semenjak dari waktu tersebut, apa yang saya rasakan?
    hampa….
    Apa maksud dari semua ini….
    setelah membaca semua diatas….
    saya sedikit mulai mengerti ….
    hanya saja, timbul satu pertanyaan…..
    “dari mana saya harus memulai?”
    ntah pertanyaan tersebut muncul akibat dari stuck nya pemikiran atau memang sudah seharusnya saya mencari…..:idea:

  13. Gw barusan ngeliat front pagenya paramartha.org ada kalimat syahadat trus yang jadi pertanyaan gw :
    1.Apakah dg ngucapin 2 kalimat syahadat udah dikegorikan masuk islam?
    2.Trus klo orang bisu gmana yaa
    3.thx buat pecerahannya bos bos yang ada di forum ini😈

  14. Siapa Aku ?
    Sebenarnya siapa yang berucap Aku ?
    Kalo didalam tubuh sepertinnya ada yg empat deh…Kulit,daging, tulang dan sumsum…

    ingin juga kenal sama yang punya Aku
    Comment by Jazzkord — Monday, September 24, 2007 @ 12:02

    pake LOe..Gw aja bos..berasa taste nya dan lebih akrab😈

  15. subhanallah sekali..
    saya selalu mempertanyakan ii pada diri saya, saya selalu gelisah dan gelisah akan pertanyaan ini.. semakin ga bisa dicapai.. saya semakin gelisah..
    apa yang dilakukan nih agar bisa menghilangkan rasa gelisah ini?
    apakah ke pengajian hanya sebagai oobat ?
    bukankah sama saja dengan solat ?
    kenapa solat disuruh lima kali, ntinya sama dengan pengajian itu cuz sama aja seperti obat.. gimana?

  16. shashakoe says:

    Terimakasih atas pemaparannya yang sangat runut🙂 Betul sekali terkadang dikarenakan kesibukan, sehingga kita mengubur suara kegalauan tsb. Mungkin cara yg mudah adalah selalu “menyampaikan” segala aktivitas kita kepada Allah,sekecil apapun aktivitas ibu. Contohnya makan, saya makan bukan hanya untuk mengobati lapar, tapi agar punya kekuatan untuk beribadah, jadi berujung untuk Allah dll. Mudah2an pada akhirnya apapun kesibukan yg kita lakukan, kegalauan itu tidak terkubur..

    Semoga kita menjadi orang yg sabar, ikhlas, dan sederhana dalam menyikapi hidup ini. Amiin.

  17. syukur.. masih bisa gelisah euy..

    lama terlalu cuek, ga peduli apapun..

    jadi inget syair debu,, di sudut surga, di bawah sebuah pohon rindang, ada rasulullah dan para hamba terpilih, tengah belajar dari rasulullah.. (aga2 lupa getu)

    btw, plis bls inbox fesbuk nya yah
    tq

  18. ADe Orlando Bali says:

    Suatu saat setitik embun di pagi hari akan menyadari bahwa dirinya adalah Samudra yang maha luas yang sedang dalam pencarian..

  19. Rizwan Syah says:

    Perjalanan menemukan takdir kesejatian diri adalah perjalanan seumur hidup, beberapa dari kita menemukannya kala kanak-kanak, ada pula di waktu muda, sebagian lagi baru ngeh di paruh baya, ada juga di usia senja, bahkan di kala menit terakhir masa hidupnya. Segalanya tergantung pada kemauanNya yang sebagian itu terekspresi pada gerak batin kita.
    Maka, mari bersama kita bergandeng jiwa menuju keharibaanNya. Agar kita semakin peduli akan denting kalbu yang semakin keras terdengar. Saling menguatkan, saling mengingatkan.
    Semoga perjalanan ini menjadi kenangan tak terlupakan kala kita berkumpul kelak dalam halaqahNya yang Maha Agung. Salam bahagia untuk guru, saudara dan sahabatku Herry Mardian, terima kasih atas segala kebaikan dan pencerahannya. Allah saja yang mampu menggenapi balasanNya.😥

  20. iwan says:

    salam kenal mas heri, ulasan yg menarik sekali.
    Hadist Bukhari yg dicuplik bukankah no 7551 ya (2026 tentang i’tikaf)? Maaf kalau keliru ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s