Anjing Perindu

praying
 

Setiap malam seseorang memohon menangis,
‘Ya Allah, Ya Allah!’

Bibirnya terasa manis dengan permohonan,
hingga seorang sinis datang dan berkata padanya:

“Nah! Selalu kudengar kau memanggil,
tapi pernahkah engkau menerima jawaban?”

Ia tak bisa menjawab.
Dia hentikan doanya dan tertidur dalam kebingungan.

Dalam mimpinya ia bertemu Khidir, Sang Penuntun Jiwa,
mendatanginya dengan naungan tebal kehijauan.

      “Kenapa kau hentikan doamu?”

   “Sebab aku tak pernah mendengar jawaban.”

      “Rasa rindu yang kau jeritkan, ITU sebuah jawaban!”

Kerinduan yang kau jeritkan
akan menarikmu menuju penyatuan.

Sucinya kesedihanmu
yang menginginkan pertolongan
itulah cangkir rahasianya.

Dengarlah lengkingan rindu seekor anjing pada tuannya.
Lengkingan itulah yang menghubungkan mereka.

ada anjing-anjing yang perindu
walau tiada yang mengetahui nama mereka.

Gadaikan hidupmu
demi menjadi salah satu dari mereka.

[]

Apakah jawaban harus selalu ‘terdengar’? Kenapa bisa ada rasa rindu itu dalam hati kita? Memangnya siapa yang memberi kita rasa rindu itu? Coba perhatikan, berapa banyak orang yang telah merasa dirinya baik, sekalipun ia adalah seorang tokoh atau pemuka agama, tapi hatinya tidak memiliki kerinduan pada-Nya sama sekali?

Atau, berapa banyak orang yang benar-benar menyimak dan memperhatikan kalimat ‘…wa iyyaka nasta’iin, Ihdinash-shiraatal mustaqiim’ yang diucapkan mulutnya sendiri ketika shalat? Yang mengucapkan kalimat itu dengan jujur, dari dasar hatinya?

Tidak setiap orang diberi jawaban: tidak setiap orang diberi rasa rindu itu.

Walaupun seseorang masih didominasi oleh hawa nafsu atau syahwatnya (simbol anjing), bisa jadi telah ada setitik kerinduan yang telah Dia sematkan dalam hatinya.

Hidupkan setitik kerinduan itu.


Diterjemahkan oleh Herry Mardian dari “Love Dogs”, Jalaluddin Rumi, dalam The Essential Rumi, trans. by Coleman Barks.

Anjing Perindu

13 thoughts on “Anjing Perindu

  1. mega-fusi says:

    perasaan yang ada dalam jeritan jiwa, apakah itu suatu hal yang baik? bukankah lebih banyak timbul dari ketidakmampuan dalam menghadapi hidup? dan mengapa seekor anjing memilih untuk setia dengan tuannya, padahal ia bisa hidup bebas? alasan apa yang menumpuk dan membentuk suatu kerinduan?

  2. Rasa rindu itu hanya bisa muncul kalau kita memahami siapa yang dirindukan, jika tidak dia sebenarnya terjebak dalam kepasrahan ketidakmampuan akal pikirannya untuk berdoa terhadap kepentingan pribadinya, orang demikian masih berkisar pada duniawinya dan tidak akan pernah sampai pada keilahian karena untuk sampai kesana dia tidak merasakan apa2.

  3. intan says:

    rasa ketuhanan adalah sebuah niscaya bagi setiap orang, tapi kerinduan hanya milik yang terpilih karena sematan rindu itu adalah balasan dari rindu sang Ilahi akan rintihan dan tangisan kita. duhai Yang Maha Kasih, kasihanilah hamba-Mu ini Rabbi

  4. ahmad says:

    i’d love poetry, although i never knew means of the poetry….
    makasih banget atas puisi dan syairan yang mengingatkan kita semua kepada pencipta kita semua (Alloh A’zza wa jalla)
    The most merciful God, Laa ilaha illalloh muhammad rosululloh….
    subhanalloh atas semua ciptaan-Nya
    Alhamdulillah atas semua nikmat-Nya
    -=(Z)=-

  5. Ananda says:

    Subhanallah…
    Memang merasakan kerinduan kepada Nya, sungguh begitu nikmat, sehingga pada saat kita melihat segala ciptaan NYa, kita bisa merasakan kerinduan yang begitu besar.

    Terima kasih ya Allah, karena telah kausematkan kerinduan kepada Mu kian hari kian besar. Jangan kau cabut kenikmatan untuk merasakan kerinduan tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s