Tiap Orang, Satu Misi

Oleh Watung Arif
Artikel asli ada di sini

vetruvian man

MARI sedikit berefleksi. Tentang sebuah misteri.

Sudah lama sebenarnya saya nonton Bourne Identity, tapi baru kemarin mencoba untuk revisit nuansa idenya lagi. Yah, termasuk film jenis gedebak-gedebuk, berkisah tentang agen CIA yang menderita amnesia akut, setengah rol dari film ini menceritakan perjuangan Jason Bourne (diperankan Matt Damon) untuk menemukan kembali ingatannya. Tahu bahwa ia begitu cekatan bermain pisau, memiliki pengetahuan komplit soal senjata, jago berantem, tangkas ngebut, pandai ngobrol berbagai bahasa — yang bagi Marie (Franka Potente) dianggap sebagai skill-set yang “nggak wajar” — Bourne sadar bahwa satu hal penting yang tak ia ketahui: siapa dirinya, identitas dirinya.

Jason Bourne: “Now, Marie, how could I know all that and not know who I am?”

Who am I? Why am I here? Pernah nggak sih kita bertanya seperti itu? Sejenak saja, sambil malam-malam mengukur jalanan kota yang gloomy ini, membiarkan pikiran kita mundur ke masa lalu ketika bayi, ketika di dalam perut Ibunda, dan jauh ke belakang membayangkan ketika kita pernah bertemu berhadap-hadapan dengan “sosok” yang sekarang kita sebut “Tuhan” (well, for those who believe) :

“…ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi”. (Qur’an [7] : 172)

Pernah nggak kita coba membayangkan, apa saja yang dibahas di pertemuan itu? Apa yang terjadi sebenarnya di sana? Who are we? Why are we here?

“…dan dia lupa kepada kejadiannya. (Qur’an [36] : 78)”

Coba kita tengok lagi jalan panjang itu, hari-hari kita. Bergumul dengan peluh dan debu, pagi sampai petang, untuk memenuhi perut dan garasi rumah kita sendiri, then what? Mati, terkubur di dalam tanah… Is that all, my dear fella? Hidup cuma menonton pergantian siang dan malam?

“Tapi, Tung, kan kata Qur’an juga:”

“Tidak kuciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Qur’an [51] : 56)

“Kita disuruh sholat, puasa, berzakat, dan kalau timbangannya oke kita masuk surga, kalau nggak ya nggak kesana. Simpel. Jelas, Tung?”

Baik juga. Tapi barangkali kita pernah mendengar suatu pemaknaan lain tentang kata “ibadah” (di ayat itu: “ya’bud”—red) ini: “… supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” Menjadi abdi-Nya (akar katanya sama: abid (hamba, budak), ya’bud (mengabdi), ibadat (pengabdian)—red). Dan untuk apakah seorang abdi bila tanpa suatu peran atau tugas khusus yang diembannya? Kita dibimbing dengan puasa, sholat dan zakat, lalu menganggap bahwa itu semua as an end, tanpa mencoba menilik kembali bahwa barangkali itu as a mean, sarana demi sesuatu yang lebih agung, suatu maksud di balik diberlakukannya hukum-hukum, “standard operating procedures” itu?

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.” (Qur’an [33] : 72)

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Qur’an [2] : 30)

Ada sesuatu yang musti kita “ambil” di dunia ini. Suatu tugas yang dipercayakan kepada kita. Suatu amanat.

Baik, kita semua memang diciptakan untuk menjadi khalifah, abdi-Nya, sang pemakmur bumi. Juklak umum, memang seperti itu. Now here’s the question: adakah juklak khusus, untuk masing-masing kita? “Well, Watung, a purpose, yes. But a purpose for each of us? Please.”

Think this way:

Ibaratkan, sebuah perusahaan. Setiap perusahaan memiliki misi, ada tujuannya. And the hall of fame purpose of a company is… making profit, right? Itu juklak umum. Tapi bukankah tiap departemen, tiap divisi, tiap unit, memiliki specific-purpose, scope tersendiri, bidangnya sendiri, strateginya sendiri, juklak khususnya sendiri, yang walaupun berbeda satu sama lain tapi konvergen dengan misi perusahaan? Seperti keenam utas senar gitar yang bergetar, tahu perannya masing-masing dalam mendendangkan satu langgam. Marketing mendongkrak sales, dan Operation menekan cost. Apakah misi marketing adalah making profit? Yup! Tapi kita tahu bahwa masih banyak tugas lain yang lebih spesifik di sana.

Apakah kita diciptakan untuk menjadi wakil-Nya, pemakmur bumi? Tentu. But don’t you ever wonder… tugas khusus bagi masing-masing kita? Sebuah ‘misi hidup’?

“Tiap-tiap diri dimudahkan sesuai dengan untuk apa ia diciptakan.” – Rasulullah SAW (HR Bukhari)

Ya, tiap-tiap diri. Dimudahkan sesuai maksud penciptaannya, tujuannya, tugasnya. Think again the story of Jason Bourne.

Kita jago melukis, bikin komposisi musik, jago ngelawak, jago ngomong (a.k.a persuasion), pinter me-lead orang, encer dalam programming, akuntansi, dan berbagai bidang lain yang bagi banyak orang lain di sekeliling kita sering sekali dianggap “extra-ordinary”? Suatu skill-set yang rasanya buat kita enteng sekali mengerjakannya (bahkan sambil tutup mata), tapi kita terheran-heran dalam hati “Gitu aja kok orang tepuk tangan?”

Pernah nggak sih kita merenungkan karakter kita, kelebihan kita, beyond a mere coincidence, bukan semata suatu kebetulan? Bahwa bukannya tanpa suatu special-purpose Allah Ta’ala membuat kita mudah mencipta 100 lagu sehari, mudah luar kepala menghitung 93,562 x 45,379, bahkan seorang ibu yang dengan tangan ajaibnya making everything ticks bagi keluarganya dan selalu dicintai anak-anaknya? Bahwa Gusti Allah begitu serius mempersiapkan hal-hal (don’t you think?)… sebagai bekal, berupa talenta, karakter, with something in mind: a special mission?

“Oke deh, Tung: a special mission. Tapi buat apa? Apa urgency-nya?”

“So man has come in this world for a particular task, and that is his purpose; if he does not perform it, then he will have done nothing.” – Jalaluddin Rumi

Seperti seorang marketer yang ngurusin akunting, atau kurir yang di tengah tugasnya tiba-tiba malah menjadi juru masak, atau manusia yang ingin menjadi binatang… Walau pekerjaan itu bermanfaat, tapi bila tugas aslinya tak tersentuh, maka seperti kata Rumi:

“It is just as if a king had sent you to the country to carry out a specified task. You go and perform a hundred other tasks; but if you have not performed that particular task on account of which you had gone to the country, it is as though you have performed nothing at all.”

Dianggap seperti tak mengerjakan apa-apa…

Jason Bourne: “Who am I?”
Conklin: “You’re U.S. Government property. You’re a malfunctioning-thirty-million-dollar-weapon.”

Semoga bermanfaat.

P.S. Warning: Saya bukan ahli tafsir (dan tidak sedang berusaha menafsirkan), so you don’t have to believe any word I say here.

Tiap Orang, Satu Misi

19 thoughts on “Tiap Orang, Satu Misi

  1. Mas Herry, pas sekali, saya sedang mencari-cari apa artinya saya di mata orang, sedikit pencerahan tentunya dari guratan tinta mas Herry. Yah, intinya menjadikan hidup lebih bermakna….
    Matur nuhun…

  2. Gigih says:

    Ass.Wr.Wb.
    Mas Watung & mas Herry, aku ping belajar dan menggali lebih dalam… pls send me an email supaya kita bisa berdiskusi lebih bebas.. jika njenengan berdua tidak keberatan. Tak tunggu ya…
    Salam hangat
    Wass.wr.wb. Gigih:lol:

  3. Selama ini saya berusaha menjelaskan ttg special misison ini pada kerabat dan sahabat, tapi kebanyakan nggak mudeng😉
    Mungkin karena saya yg kurang komunikatif. Tapi penjelasan dari mas Watung ini terasa lebih kena sasaran. Boleh nggak saya forward ke para sahabat saya? semoga bisa mencerahkan banyak orang. Terimakasih dan salam kenal buat mas Herry.

  4. Divi says:

    “So man has come in this world for a particular task, and that is his purpose; if he does not perform it, then he will have done nothing.” – Jalaluddin Rumi
    Seperti seorang marketer yang ngurusin akunting, atau kurir yang di tengah tugasnya tiba-tiba malah menjadi juru masak, atau manusia yang ingin menjadi binatang…
    Adakah orang yang diberi tugas menjadi Office Girl dalam hidupnya, tapi karena dia mengingkari ‘tugas’ ini dan berusaha menjadi pebisnis, atau birokrat, maka dia gagal dalam hidupnya?
    Saya berangan-angan Marx membaca tulisan Rumi dan menganalisisnya dengan analisis kelas, maka Rumi akan digolongkan sebagai orang-orang yang melanggengkan struktur kelas untuk kepentingan elit kelas tertentu.
    Ada penjelasan tentang ini?

    DV

  5. ronald says:

    Beberapa waktu lalu, saya baca-baca di mal, buku makrifat sunan kalijaga karangan achmad chodjim. hal menarik dalam buku tersebut adalah soal reinkarnasi..gimana mas, bagi-bagi dong soal reinkarnasi ini, pingin tahu lebih jauh nih

  6. zal says:

    salam, memahami misi, bertindak.., dengan sungguh sungguh, dengan tujuan ataupun engga jelas tujuannya entah apapun yang terdorong yang harus ditindaki, jika perumpamaan sebagai artis, maka ada yang berperan utama baik sebagai tokoh baik maupun antagonis, jika tokoh tokoh ini berhasil dengan sempurna percayalah tidak akan dibedakan honornya….dan popolaritasnya, dahulu ada tokoh antagonis utama dengan bayaran dan popularitas sama dengan tokoh utama lainnya bernama farouq affero….

  7. adjipamungkas says:

    misi hidup …yah coba di telusuri langkah langkah berikut ini
    frist…pahami dulu tujuan penciptaan manusia
    second..sadari kalo tiap orang(insan) punya misi
    then..kenalilah dirimu..maka kau akan mengenal tuhanmu..biar DIA ..yang mengenalkannmu pada “sejatinya” dirimu serta Misi sejati yang kau emban di bumi ini

    kunci semua itu buka Qur’an coy:mrgreen:

  8. Liana says:

    kulonuwun mas, sungguh saya terinspirasi. boleh saya kopi di catatan facebook saya? biar ingat terus utk mencari misi.. pasti saya link ke alamat ini dan sumber asalnya.

    jazaakumullah khair.

  9. Nans says:

    nice posting….makasih mas WATUNG dan mas HERI yg sudah membari pencerahan….jadi terinspirasi nih mas..pengen tahu siapa nih diri ini yang sbnarnya…:neutral: so mas…trus buat lagi dong…postingannya…salam kenal…saya dari Lembang Bandung…yang lagi stress nyari jati diri sendiri….

  10. m.abidin says:

    trimakasih diatas penjelasan kenali diri dan tiap orang satu misi ini amat rasional penjelasannya terbuka pintu hati ini kehadapan Allah s.w.t trimakasih amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s