Golongan Yang Selamat Dalam Islam: Golongan Mana?

takfir
 
Oleh Imam Suhadi, Yayasan Paramartha.
 
GOLONGAN YANG SELAMAT DALAM AL-QUR’AN

Orang sekarang ini dengan mudah mengklaim golongan dan jamaahnya sebagai golongan dan jamaah yang selamat. Selain pengikut jamaahnya adalah sesat dan tidak selamat. Karena hal ini, banyak orang yang “kebingungan dalam beragama”, dan sangat mungkin akan timbul pertanyaan dalam diri kita: “Siapakah seseungguhnya golongan yang selamat itu?”

Dalam Surat al Fathihah, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa manusia terbagi atas tiga golongan saja, yaitu:

1. Golongan yang berada di Shiraath al Mustaqiim.
2. Golongan yang Dimurkai.
3. Golongan yang Sesat.

Mengacu kepada ayat tersebut sesungguhnya sangat jelas sekali, bahwa golongan yang selamat adalah mereka yang berada di Shiraath al Mustaqiim. Mereka adalah orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah Ta’ala, yang dijelaskan dalam (QS 4:69), bahwa:

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: An-Nabiyyin, Ash-Shiddiiqiin, Asy-Syuhadaa (QS 57:19) dan Ash-Shalihiin (QS 19:9). Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)”

Tapi pertanyaannya, di masa ini, kelompok yang manakah yang sedang berada di atas Shirat Al-Mustaqiim itu? Kita akan membahas ini di akhir artikel.

 
SHIRATH AL-MUSTAQIIM

Banyak orang menganggap bahwa Shiraath Al-Mustaqiim ini ‘abstrak’ dan hanya akan dapat ditemui di akhirat. Dalam Al Qur’an Shiraath Al Mustaqiim dijelaskan sebagai:

 
1. Ad-Diin (Agama) yang tegak

Ketika seorang beragama, dan dalam pelaksanaan agamanya ia belum berada di atas Shirath Al Mustaqiim, sesungguhnya agamanya itu belum tegak (hakiki).

“Dan apabila ia telah berada di atas Shirath Al Mustaqiim, maka sesungguhnya diin dalam dirinya telah tegak.” (QS 6:161)

Shiraath akar katanya berarti tertelan (menurut Quraish Shihaab), Al Mustaqiim berarti adalah orang yang berada dalam keadaan istiqamah (mantap/konsisten). Artinya, orang yang berada di Shiraath Al Mustaqiim, adalah orang yang telah tertelan dalam keistiqamahan kepada jalan Allah. Tidak akan lagi bergeser kepada kekufuran.

Orang yang berada di atas Shirath Al Mustaqiim dijaga oleh Allah Ta’ala dari mengarah kepada kesalahan, dimana penjagaannya bagaikan dipegangnya ubun-ubun binatang melata. (lihat Q.S 11:56). Dan sesungguhnya Allah Ta’ala yang menjaga Shiraath Al Mustaqiim (lihat Q.S 15:41).

 
2. Jalan Orang yang Diberi Nikmat

Karena orang-orang yang berada di atas Shirath Al Mustaqiim, dijaga oleh Allah Ta’ala dari kesalahan, maka mereka inilah orang-orang yang diberi nikmat. (Q.S 1:7)

Untuk itu nikmat disini bukanlah sekedar nimat kesehatan, nikmat harta benda, dsb. Tetapi jauh lebih besar dari itu, adalah nikmat dijaga oleh Allah Ta’ala dari segala kesalahan dan hidup bersama Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala pun berada di atas Shiraath Al Mustaqiim (Q.S 11:56).

 
3. ‘Jalan’ Allah

Orang yang selamat hanyalah mereka yang berada di atas Shiraath al Mustaqiim. Shiraath al Mustaqiim inilah sesungguhnya merupakan ‘jalan’ Allah.

Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, ‘Ini Shiraath al Mustaqiim’. Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satupun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya. Selanjutnya beliau membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.’ (QS [6] : 153)” (Hadits shahih riwayat Ahmad dan Nasa’i)

 
MENUJU SHIRATH AL-MUSTAQIIM

Untuk menuju Shiraath al Mustaqiim, Allah Ta’ala telah dengan jelas menginformasikan kepada kita tentang prosesnya di al Qur’an. Media Allah Ta’ala membimbing seorang manusia menuju Shiraath Al Mustaqiim adalah dengan petunjuk-Nya.

Petunjuk Allah Ta’ala ada 2 (dua) jenis: (1) Petunjuk Umum dan (2) Petunjuk Khusus.

Petunjuk Umum, adalah Al Qur’an yang merupakan petunjuk untuk seluruh manusia. Sedangkan Petunjuk Khusus, adalah petunjuk yang Allah Ta’ala turunkan kepada manusia secara individual, orang perseorangan langsung ke dalam qalbunya.

Petunjuk khusus ini akan Allah Ta’ala turunkan apabila seorang manusia menjalankan substansi nilai-nilai yang dipandu dalam Petunjuk Umum. Tahapan-tahapan ini dijelaskan dalam ayat berikut:

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke Subulussalam, (jalan-jalan keselamatan) dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke Shiraath al Mustaqiim.” (Q.S. 5:16)

Petunjuk langsung ke qalb

Sayangnya kebanyakan manusia –karena ia tidak merasakannya- memungkiri bahwa sesungguhnya manusia dapat menerima petunjuk langsung dari Allah Ta’ala melalui qalb-nya. Mereka menganggap bahwa yang bisa menerima petunjuk langsung dari Allah Ta’ala hanyalah para Nabi, dan hal itu telah tertutup dengan khatamnya para Nabi. Padahal ayat-ayatnya sudah demikian jelas di al Qur’an.

“Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk langsung kepada qalbunya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q. S. 64:11)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya.” (Q.S. 10:9)

Dan sesungguhnya apabila kita tidak termasuk dalam golongan yang mendapat petunjuk Allah kepada Shiraath al Mustaqiim, niscaya kita hanya akan termasuk ke dalam golongan yang sesat.

“Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (Q.S. 6:77)

Untuk terpimpin kepada Shiraath Al Mustaqiim, syaratnya adalah mampu mendapat petunjuk langsung dari Allah ta’ala, dan syarat untuk mendapat petunjuk langsung itu adalah iman.

Namun iman yang bagaimana? Apakah iman yang sekedar definisi-definisi dan dalil-dalil? Jawabannya adalah “Bukan!”.

Iman yang menjadi syarat seorang mendapat petunjuk dari Allah Ta’ala, adalah iman yang berupa cahaya (nur iman), yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada manusia sebagai rahmat (pertolongan)-Nya untuk mensucikan qalb-nya.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (Q.S. 2:257)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya, yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kami. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. 57:28)

Dan bagaimana sesungguhnya untuk mendapatkan cahaya iman tersebut? Allah berkata, syaratnya adalah Islam.

“Orang-orang Arab itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka):” Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami islam’, karena iman itu belum masuk ke dalam qalbumu.” (Q.S. 49:14)

Dari ayat di atas, dapat kita cermati bahwa mereka yang ber-islam tidak serta merta langsung menjadi beriman. Mereka yang Islam bisa jadi belum beriman, karena Islam dan Iman merupakan dua tahap yang berkelanjutan/sekuensial.

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah qalb-nya (untuk) ber-Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (QS. 39:22)

Namun Islam, bukanlah sekedar “formal Islam”- nya, tetapi lebih dalam dari itu adalah menjalankan substansinya, yaitu: penyerahan diri kepada Allah. (Catatan: Islam secara dasar kata berarti berserah diri). Dan inilah sesungguuhnya substansi dasar ajaran Ilahiyah yang termaktub dalam al Qur’an.

 
PESAN UTAMA AJARAN ILAHIYYAH

Allah Ta’ala mengutus setiap utusannya, sejak zaman Adam as sampai Nabi Muhammad SAW, adalah untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Lihatlah ayat-ayat Al Qur’an berikut ini:

Nuh A.S

“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun daripadamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku (Nuh A.S) disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)”. (Q.S. 10:72).

Ibrahim A.S

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik”. (Q.S. 3:67).

Musa A.S

“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri“. (Q.S. 10:84).

Ya’qub A.S

“Dan Ya’qub berkata:”Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun daripada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri“. (Q.S. 12:67).

Sulaiman A.S

“Berkatalah Balqis:”Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam”. (Q.S. 27:44).

Isa A.S

“Aku (Isa A.S) tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku yaitu:”Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu”, dan adalah aku menjadi saksi (syahiidan) terhadap mereka”. (Q.S.5 :117).

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka berkatalah dia:”Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk Allah” Para hawariyyin menjawab:”Kamilah penolong-penolong Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (Q.S. 3:52).

Muhammad SAW

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku (Muhammad SAW)adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Q.S. 6:162-163)

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah)”. (Q.S. 6:14)

Penyerahan diri kepada Allah dengan sepenuh hati dimana seluruh aspek kehidupan diperuntukkan untuk Allah (yang mempunyai 99 asma) semata, merupakan pesan utama ajaran ilahiyah. Sehingga disampaikan oleh para utusan- Nya setiap zaman.

Berserah Diri dengan tulus ikhlas dalam setiap aspek adalah kondisi dimana seseorang bersedia diatur sepenuhnya oleh Allah (menjadi budak Allah Ta’ala), tidak mengatur dirinya sendiri dengan hawa nafsu dan syahwatnya. Ajaran (Ad- Diin) yang dibawa oleh Muhammad SAW adalah Ad-Diin Berserah Diri kepada Allah Ta’ala untuk itulah dinamakan Ad-Diin Al Islam. Ikhlas menyerahkan diri kepada Allah dan muhsin, itulah Ad-Diin yang paling baik.

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (Q.S. 4:125)

Berserah Diri kepada Allah Ta’ala dan muhsin, maka ia telah berpegang teguh kepada Allah Ta’ala.

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (Q.S. 31:22)

Keberserahan diri kepada Allah Ta’ala ditopang oleh empat sendi utama, yaitu: Sabar, Syukur, Tawakal dan Ikhlas. Bagaimana mungkin seorang akan menjadi seorang muslim yang utuh, apabila qalbunya tiada pernah bersabar atas segala masalah hidupnya? Selalu mengeluh dan tiada pernah bersyukur terhadap segala hal yang Allah berikan kepadanya?

 
GOLONGAN YANG SELAMAT MENURUT HADITS RASULULLAH

Dari Sahabat Abdullah bin Amr bin Ash r.a :

“Telah bersabda Rasulullah SAW : ” Sungguh-sungguh akan datang atas umatku sebagaimana yang telah datang pada Bani Israil, sebagaimana sepasang sandal yang sama ukurannya, sehingga kalau dulunya pernah ada di kalangan Bani Israil orang yang menzinai ibunya terang-terangan niscaya akan ada diumatku ini yang melakukan demikian. Dan sesungguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semua mereka bakal masuk neraka kecuali satu golongan yang selamat. Para shahabat bertanya: “Siapakah mereka yang selamat itu ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: ” yaitu golongan yang mengikuti Aku ada padanya pada hari ini dan yang mengikuti para Sahabatku.”

Hadits ini diriwayatkan lengkap oleh Tirmidzi, diterangkan pula oleh Hakim juz yang pertama, Ibnu Wadhoh, Imam Al-Azurri dalam kitabnya As- Syari’ah, Ibnu Nasr Al-Marwaji dalam kitabnya As- Sunnah Al-Laalikai, Abdul Qahir Al-Baghdadi dalam kitabnya Al-Faruq bainal Firaq) Hadits ini dikatakan oleh Tirmidzi HASAN GHARIB, Hadits ini dihasankan oleh Tirmidzi bukan karena secara sanad shahih, tetapi menghasankan karena Syawahidnya yang banyak. Hadits ini HASAN.

Dari Sahabat Abu Hurairah r.a : “Yahudi telah berpecah menjadi 71 golongan, dan Nasrani telah berpecah menjadi 72 golongan, dan akan berpecah umatku menjadi 73 golongan.” (Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Azzuri, Hakim, Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Abi Asim)

Dan Tirmidzi berkata hadits ini HASAN SHAHIH. Hakim berkata SOHIHUN ala Shahih Muslim dan disetujui oleh Ad-Dzahabi.

Dari Sahabat Auf Bin Malik r.a : “Yahudi berpecah menjadi 71 golongan, 1 masuk sorga dan 70 masuk neraka. Dan Nasrani berpecah menjadi 72 golongan, 71 masuk neraka dan 1 masuk sorga, Dan demi yang diri Muhammad ada ditangan-Nya, sesungguhnya umatku sungguh-sungguh akan berpecah menjadi 73 golongan, 1 di sorga dan 72 di neraka; kemudian sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, siapa mereka yang selalu satu itu yang masuk dalam surga (Wahidatun Fil Jannah)?, dijawab oleh Nabi SAW, yaitu ‘Al-Jama’ah‘” (Ibnu Majah, Ibnu Abi Asim dalam As-Sunnah, Imam Al-Laalikai)

Hadits ini di SHAHIH-kan oleh para ulama.

“Aku wasiatkan padamu agar engkau bertakwa kepada Allah, patuh dan ta’at, sekalipun yang memerintahmu seorang budak Habsyi. Sebab barangsiapa hidup (lama) di antara kamu tentu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Karena itu berpengang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang (mereka itu) mendapat petunjuk. Pegang teguhlah ia sekuat-kuatnya. Dan hati-hatilah terhadap setiap perkara yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat (dan setiap yang sesat adalah tempatnya di dalam Neraka).” (H. R. Nasa’i dan At-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan shahih).

Dalam hadits yang lain Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan satu golongan di dalam Surga, yaitu Al-Jama’ah.” (HR. Ahmad dan yang lainya. Al-Hafidz menggolongkannya hadits hasan)

Dalam riwayat lain disebutkan,

“Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para shahabatku meniti di atasnya.” (HR. Ahmad dan yang lainya. dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ 5219).

Dari keterangan diatas, pola apa yang terlihat? Di masa yahudi, dari 71 golongan, 70 tidak selamat dan 1 selamat. Pada masa berikutnya, Nasrani, dari 72 golongan, 71 tidak selamat dan 1 selamat. Pada masa selanjutnya, dari umat Rasul SAW terbagi menjadi 73 golongan, 72 tidak selamat dan 1 selamat. Lihatlah, betapa di setiap pergantian ajaran kenabian selalu bertambah satu golongan yang tidak selamat, sedangkan yang selamat tetap satu saja.

Golongan yang selamat menurut hadits Rasululah.

Sesungguhnya satu golongan yang selamat sejak dulu Yahudi, Nasrani dan Umat Muhammad SAW adalah sama. Tidak berubah. Merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk Allah langsung ke Qalbu, sehingga terpimpin ke Shiraath Al Mustaqiim.

Kenapa setiap pergantian ajaran Nabi bertambah satu golongan? Karena satu golongan itu adalah golongan yang hanya menjadi merasa bangga dengan formal golongannya, tetapi substansi ajaran agama Ilahi dilupakannya atau tidak dikenalnya.

Satu golongan yang selamat adalah Al Jamaah, merekalah yang Rasulullah SAW dan sahabat berada di atasnya. Secara eksplisit dalam Al Qur’an dikatakan merekalah orang yang berada di atas Shiraath Al Mustaqiim, siapapun ia dan darimana pun asal (nama) jamaahnya.

Yang selamat bukanlah nama sebuah jamaah, apakah tasawuf, tarekat A, tarekat B, Syiah, Sunni, Ikhwan al Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafy, Muhammadiyah, NU, atau apapun namanya. Siapapun orangnya, apakah berasal dari Tasawuf, tarekat A, tarekat B, Syiah, Sunni, Ikhwan al Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafy, Muhammadiyah, NU dan sebagainya. Kalaulah ia mendapat petunjuk langsung dari Allah dan terpimpin ke Shirath Al Mustaqiim, maka dia termasuk dalam Al Jamaah.

Al-Jama’ah

Karakter mereka sejak zaman Adam, Yakub, Musa, Isa, Muhammad adalah sama. Merekalah yang mencintai Allah lebih dari dunia. Merekalah orang-orang yang mampu menggembalakan hawa nafsu dan syahwatnya (bahkan mampu menggembalakan hawa nafsu dan syahwat dirinya dalam ber-‘agama’).

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”. (Q.S. 79:40-41)

Merekalah orang mati dalam keadaan berserah diri, al muslimuun).

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri (kepada Allah)”. (Q.S. 2:132)

“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membedabedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada- Nya-lah kami menyerahkan diri. (Q.S. 3:84)

[]

PS: Baca juga “Makna ‘Kafir’ dan ‘Syuhada’ : ‘Kafir’ Tidak Dengan Sendirinya Berarti Orang Yang Tidak Beragama Islam”.

Golongan Yang Selamat Dalam Islam: Golongan Mana?

42 thoughts on “Golongan Yang Selamat Dalam Islam: Golongan Mana?

  1. Tulisan di blognya bagus-bagus mas, rasanya familiar🙂
    Btw, mas Imam suhadi yang nulis artikel ini suaminya Yeni (Zhonny) bukan ya? Kalo iya, duuh salam yaa buat yeni, kangeen, dari temen seangkatan waktu kuliah. Loose kontak nih ama yeni. Tx yaa🙂

  2. betapa tipu daya bala tentara iblis itu begitu halusnya, bahkan orang yang sangat kukuh mempertahankan kebenaran dalam versinya , bahkan sampai yang berdasarkan kitab suci sekalipun, dapat dikendalikan hawa nafsunya. Semoga Allah memasukkan kita semua dalam orang2 yang berserah diri, orang2 yang dilindungi.. dan menunjukkan kita dan menetapkannya dalam Shiratal Mustaqiim.. Aamiin..

  3. nano says:

    mas Herry, beberapa waktu yang lalu ada artikelnya Al dimuat di PR, apakah tidak tertarik memuatnya di sini juga? Salam buat Al, Iwan, Daud, dkk. Makasih ya. Mohon doanya bagi kami di sini.

  4. zal says:

    Assalamu ‘alaikum Mas Herry, Mohon maaf sedikit bertanya tentang “…tetapi katakanlah ‘kami islam’, QS 49:14, apa memang lam tuu’minuu, berarti islam dalam bahasa arab ?, Mungkin Islam berati juga menyerah ya…, namun perasaan saya koq ada perbedaan ketundukan dengan penyerahan,

    Bukan maksudnya mendiskusikan bahasa, namun peletakan arti demikian akan “menina bobokkan…”, sekedar menyampaikan apa terfahamkan mungkin posisi “Islam” sendiri, setelah Iman-Taqwa-Taqwa Haqqotuqoti- Islam…, jadi khayalan saya menyampaikan, bahwa Posisi Islam itu, seperti sesudah melewati masa sekolah-ujian-yang akhirnya ditandai dengan penyerahan Ijazah/SK, seperti yang Allah tegaskan tentang kedudukan Ibrahim AS (dan dia seorang muslim)..dan Muhammad SAW…(AKU ridho Islam menjadi Agamamu) , sedang Agama menurut Rasulullah SAW adalah Akhlaq yang baik, mohon maaf jika salah ya Mas Herry, namnya juga pengetahuan dari pelajaran membaca…, jadi persepsinya amburadul begini he…he,

    Oh..ya, mungkin…ini kalau ngga salah, Petunjuk itu bukannya AlQur’an Mas Herry, kalau mau dipilahpun, apa boleh kita kelompokkan pada Muhkamat dan Mutasyabihat…, sebab jika disebutkan Petunjuk lagsung dari Allah (meskipun sebenarnya ya..,memang begitu…), sepertinya membangun khayal kerumitan, lha biasanya kalau sudah rumit malah malas ngejalaninya…he..he, padahal sepertinya jalan aja, masalah diberi atau tidaknya biar suka-suka yang memberi..kan Mas…, bahkan untuk jalan ya …sepertinya di dorngNYA ya Mas…

    Lagi, sepertinya Allah tetapkan 2 Jalan, bukannya di 2 jalan ini masih sepi-sepi aja Mas, yang lainnya kemana ya…., mungkin belum jalan kali ya…..he…he, mohon maaf Mas Hery, malah jadi kepanjangan kaya buat artikel….

  5. Wa alaikum salaam wr wb🙂

    [49] : 14, “Orang-orang Arab itu berkata: “Kami telah beriman” (amannaa). Katakanlah ” Kamu belum beriman (lan tu’minu), tetapi katakanlah ‘kami islam/berserah diri (aslamnaa)’, karena iman itu belum masuk ke dalam qalb-mu.” (Q.S. 49:14)

    ‘lan tu’minuu’, artinya belum beriman meski yang bersangkutan sudah Islam. Jadi Islam dulu, baru ketika iman sudah masuk ke qalb, baru masuk ke mu’minuun.

    Jadi muslim, kemudian mu’min, dan seterusnya. Seorang muslim tidak otomatis menjadi mu’min.

    Berserah diri pada Allah, bukan berarti ‘pasrah bongkokan’🙂 berserah diri pada Allah adalah menyerahkan diri kita sepenuhnya pada-Nya, bukan tunduk pada hawa nafsu, syahwat, norma masyarakat, rasio, dll. Dimulai dengan berserah diri dalam menjalankan syari’at-Nya.

    Yang sekolah ya berserah diri dalam sekolahnya, berusaha sebaik-baiknya, dan serahkan usaha dan karya kita kepada-Nya. Bukan berarti pasrah sekolah/nggak sama saja, takdir dll.

    ang berusaha ya berserah diri dalam usahanya, yang kuliah ya berserah diri dalam kuliahnya, yang bekerja ya… dst.

    ‘Diin’ itu bukan bermakna ‘agama’ dalam pengertian sekedar ‘religion’ atau ‘anutan’. ‘Diin’ itu sebuah sikap hidup, sebuah jalan hidup, sebuah jalan yang setiap saat kita akan menapakinya.

    Diin kita bisa pekerjaan, ingat akan pacar, mencari gaji, mengejar karir, dll. Dalam kata lain, diin kita adalah apa yang menjadi landasan perilaku kita.

    Qur’an adalah petunjuk umum. Itu dari Allah. Tapi bagaimana operasionalisasi qur’an kepada tiap individu, itu bisa berbeda. Nah, petunjuk orang-per-orang inilah yang diturunkan kepada qalb. Inilah yang membimbing, cara Allah membimbing tiap individu.

    Co: petunjuk umum: qur’an mewajibkan semua muslim untuk haji. Petunjuk khusus buat si A-nya: kapan saatnya yang terbaik untuk si A? Lewat mana? Sama siapa? Naik apa? Pake biro mana? disana nginep di mana? dan seterusnya.

  6. Herry says:

    Saya juga terima kasih🙂 ndak kok, nyambung aja..

    Oh ya, tentang ayat-ayat mutasyabihat, memang benar. Banyak dalam qur’an ayat-ayat yang maknanya tersamar, aneh, tidak jelas, dan lain-lain.

    Nah, petunjuk yang ke dalam qalb ini juga mengajarkan pada individu apa maksud ayat tersebut.. nanti kalau hatinya sudah bersih.

  7. Salaam kenal dari London. Subhanallah bagus sekali tulisannya, sangat fair dan pas seperti yang saya yakini selama ini.Bijak penyampainnya. Saya minta ijin untuk dikopi paste dan forward ke milis yang kebetulan sedang diskusi mengenai penyakit assobiyah. Ko pas sekali, apalagi saya bukan golongan atau ikutan NU, Muhamadiyah, Persis, PKS, HT, IM walau saya support akan perjuangan dan upaya da’wah mereka.
    Terima kasih, saya nikmati tulisannya. wassalam, teteh

  8. halah, si teteh teh kumaha? ai bareto teh apan udah pernah maen ke sinih?😉 dulu udah hei-heian dina blog tah?:mrgreen:

    sok mangga… link kadieu disertakeun nya teh.

  9. ikhwan says:

    Yang selamat bukanlah nama sebuah jamaah, apakah tasawuf, tarekat A, tarekat B, Syiah, Sunni, Ikhwan al Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafy, Muhammadiyah, NU, atau apapun namanya. Siapapun orangnya, apakah berasal dari Tasawuf, tarekat A, tarekat B, Syiah, Sunni, Ikhwan al Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafy, Muhammadiyah, NU dan sebagainya. Kalaulah ia mendapat petunjuk langsung dari Allah dan terpimpin ke Shirath Al Mustaqiim, maka dia termasuk dalam Al Jamaah.

    Assalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakaatuh

    Setuju Om..🙂
    maaf ikut nambah tulisan yah…
    ada sebuah syair….
    Semua orang mengaku telah menggapai si Laila
    Akan tetapi si Laila tidak mengakuinya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    “Sungguh telah nampak bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi siapa yang mengharapkan Allah dan hari akhir, dan bagi orang yang mengingat Allah. (Al-Ahdzab: 21)

    siapakah Al Jamaah?

    1. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah

    2. Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan siap menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah dan Rasulullah.

    3. Mereka mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul ) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1).

    4. Menghidupkan sunnah Rasulullah baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan, sehingga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah bersabda tetang mereka:

    “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

    5. Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatisme golongan.

    6. Mereka adalah orang-orang yang menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan sunnah Rasulullah dan sunnah para shahabatnya.

    7. Mereka adalah orang-orang yang memikul amanat amar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka mengingkari segala jalan bid’ah (lawannya sunnah) dan kelompok-kelompok yang akan mencabik-cabik barisan kaum muslimin.

    8. Mereka adalah orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia yang menyelisihi undang-undang Allah dan Rasulullah.

    9. Mereka adalah orang-orang yang siap memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama menghendaki yang demikian itu.

    10. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengintai setiap kelompok yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidah (Syi’ah), Murji’ah, Qadariyah, dan setiap orang yang menyeleweng dari manhaj Allah, mengikuti hawa nafsu pada setiap waktu dan tempat, dan mereka tidak pernah mundur karena cercaan orang yang mencerca.

    Ciri Khas Mereka

    Mereka adalah umat yang baik dan jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat yang sudah rusak dari segala sisi.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

    Berbahagialah orang yang asing itu (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang yang jahat. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (HR. Ahmad).

    Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka, asing pada berpegangnya dia terhadap sunnah dikarenakan berpegangnya manusia terhadap bid’ah, asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan mereka, asing pada shalatnya dikarenakan jelek shalat mereka, asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan mereka, asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama mereka dikarenakan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka.

    Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia tidak menemukan seorang penolong dan pembela. Dia sebagai orang yang berilmu ditengah orang-orang jahil, pemegang sunnah di tengah ahli bid’ah, penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf.

    Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan inilah yang telah menyebabkan berpecahnya ahli kiblat menjadi berkeping-keping. Sebagian mengkafirkan yang lain sehingga mereka menjadi bermusuh-musuhan, berpecah-belah, dan berpartai-partai yang dulunya mereka berada di atas satu hati.

    Dan tidak ada yang selamat dari semuanya ini melainkan satu kelompok. Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah: “Dan terus menerus sekelompok kecil dari umatku yang membela kebenaran dan tidak ada seorangpun yang mampu memudharatkannya siapa saja yang menghinakan dan menyelisihi mereka, sampai datangnya keputusan Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu”.

    Merekalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia dari sunnah Rasulullah. Merekalah orang-orang yang lari dengan membawa agama mereka dari fitnah. Mereka adalah orang yang sangat sedikit di tengah-tengah kabilah dan terkadang tidak didapati pada sebuah kabilah kecuali satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati satu orangpun sebagaimana permulaan Islam.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfiman:
    “Barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang telah ia kuasai itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa: 115).

    Allah memberikan penekanan yang sangat tegas dengan firman-Nya: “Mengikuti selain jalan kaum mukminin.” Kalimat ini merupakan poin yang sangat penting untuk membedakan antara orang-orang yang betul-betul memiliki komitmen dengan Al Qur’an dan As Sunnah, yaitu mereka yang senantiasa mengikuti jalan kaum mukminin dari kalangan para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang mengikutinya dangan baik, dengan kelompok yang “mengaku” berpegang di atas Al Qur’an dan As Sunnah padahal mereka menyelisihi jalan kaum mukminin tersebut.

    Demikianlah sunnatullah para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup selalu dalam prosentase yang sedikit.

    Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk memahami dienul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin yaa Rabbal ‘Alamin.

    Wallahu a’lamu bish shawaab….

    Wassalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh

  10. ikhwan says:

    Assalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakaatuh

    Setuju Om..🙂
    maaf ikut nambah tulisan yah…
    ada sebuah syair….
    Semua orang mengaku telah menggapai si Laila
    Akan tetapi si Laila tidak mengakuinya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    “Sungguh telah nampak bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi siapa yang mengharapkan Allah dan hari akhir, dan bagi orang yang mengingat Allah. (Al-Ahdzab: 21)

    siapakah Al Jamaah?

    1. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah.
    2. Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan siap menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah dan Rasulullah.
    3. Mereka mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul ) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1).
    4. Menghidupkan sunnah Rasulullah baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan, sehingga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah bersabda tetang mereka:
    “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)
    5. Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatisme golongan.

  11. Ada hadis yang mengatakan bahwa dari 73 dalam Islam yang selamat hanya golongan al Jamaah. Yang kemudian diasosiasikan dengan Ahlu Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA).

    Setelah membaca tulisan mas Imam Suhadi, saya meyakini bahwa hadis tsb adalah hadis yang sarat dengan muatan politik pada zaman Dinasti Bani Umayah. Mengenai siapa golongan yang selamat saya lebih condong kepada pendapat mas Imam Suhadi, lebih masuk akal dan sangat sesuai dengan semangat AlQuran.

  12. dhir says:

    dan siapakah anda? yang berani mengkultuskan ucapan / artikel anda adalah yang benar? sedangkan anda tidak membaca alur sejarah dari jaman Rasululloh SAW.

    teori anda hanyalah pencomotan ayat-ayat yang anda inginkan saja, sudahkah anda belajar bersastra arab?
    dan jangan mencomot nama ulama besar seperti bpk Quraish Shihaab dalam ucapan2 yang anda simpulkan sendiri.
    Artikel anda yang panjang bukanlah jaminan apa yang anda sampaikan menjadi seluruhnya benar, tapi akan menjadi semakin banyak salahnya seiring panjangnya artikel anda.

    dan siapakah saya? Saya adalah hamba yang akan hanya mengikuti Rasululloh SAW sebagai suri tauladan, bukan suara lainnya, ataupun buku2 terjemahan lainnya, apalagi artikel yg hanya ditulis tanpa hukum penerbitan spt ini.

    Istighfar lah! lakum diinukum walyadiin..

  13. adjipamungkas says:

    salam buat om dhir …
    emangnya sampean siapa kok brani..braninya menghakimi seseorang…emangya punya hak…emangnya punya pengetahuan…emangya..situ tuhan… komentar sampeyan yang sdikit tapi nyelekit itu menunjukkan sampeyan seperti katak dalam tempurung…gak mau membuka hati dan pikiran yang picik yang selalu melihat dari kulit…pisang X…tobatlah dahulu sebelum menyuruh orang tobat
    agamamu…ya agamamu yang belum tentu sama dengan agamaku…kalo seagama…pasti saling mengenal dan menghormati….

  14. dhir says:

    Asyhadu’ala IllaaHa illAlloh, wa ‘asyhadu anna Muhammad Rasululloh,

    orang pandai bermain pedang janganlah beradu dengan orang mahir dalam bermain senapan…
    bisa mati konyol…

    Sekarang saya ingin bertanya, baik bagi penulis ataupun bagi adjipamungkas :
    apakah anda ini berdua adalah ahli tafsir ?
    apakah anda berdua ini ahli bahasa arab ?
    apakah anda berdua ini adalah “kaum terdahulu” ?
    apakah anda berdua ini adalah ahli dalam nahu-syaraf ?

    daun berkelompok dan bergelantungan di ujung ranting,
    ranting berkelompok dan berhimpun di ranting yang besar,
    tiap ranting besar berkelompok dan berpegangan pada dahan,
    tiap dahan tumbuh dan membusuk pada batang pohon,
    setiap pohon yang tumbuh dan mati, pastilah punya akar…
    dan akar selalu tercipta lebih dahulu daripada daun…

    carilah ilmu hingga ke akar, ketika kamu petik daunnya, tanpa melihat asal usul ranting/dahan/batang nya, apakah kita akan yakin bahwa daun itu adalah yang benar ? anda bisa mencari (mengakar) sendiri, atau anda bisa membaca, mencari, berdiskusi dan cara-cara lainnya.

    Ada apa dengan “kaum terdahulu” ? karena mereka adalah orang2 yang paling dekat dengan sejarah saat para Nabi & Rasul hidup.
    Ada apa dengan sejarah ? karena banyak ayat yang diturunkan berdasarkan kejadian.
    Saya kuatir, jika anda langsung menulis ulang apa yg anda dapatkan dari buku yg hari ini ada, tanpa kita tau latar belakangnya, maka kita hanya akan memetik daun-daun yg mengakar pada hal yg kurang benar.

    Dan apakah kita akan benar dalam berserah diri? sedangkan cara berserah diri pun harus kita dapati dengan memetik dan mengambil inti sari dari daun-daun itu juga. Berserah diri adalah salah satu fase (mgkn tertinggi) dalam beribadah kepada Alloh SWT.
    Bagaimana bisa fase itu benar jika fase-fase sebelumnya kurang benar? ataupun tanpa dasar/akar yang jelas.
    Berserah diri adalah urusan hati, urusan hati sering abstrak, ibadah abstrak adalah tarekat.
    Tidak akan bertarekat jika kita tidak ber-syariat (fisik), begitu pun sebaliknya.
    Bagaimana kita bisa ber’marifat jika kita tidak bertarekat & ber-syariat?
    Bagaimana kita bisa ber’marifat jika kita tidak bertarekat dengan akar yg benar & ber-syariat dgn akar yg benar?

    Setiap murid pastilah mempunyai guru. Dan setiap guru pastilah dulunya adalah seorang murid dan mempunyai guru juga.
    Bagaimana kah kisah guru-guru sebelumnya itu bermuasal? Semuanya kembali ke sejarah. Bacalah sejarah selengkap-lengkapnya.

    Sebaiknya gimana? carilah akar yg baik, lalu petik daunnya.
    daun-daun yg berbeda-beda warna akan mudah sekali terlihat belangnya, dan anda tidak akan bisa menyembunyikan kebelangannya, lalu anda menjadi ragu. Tetapi jika sewarna, dan daun-daun itu anda ambil dari satu tempat (satu akar) maka anda akan yakin bahwa tidak ada belang di antara daun-daun yang anda bawa. “gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga”

    Saya akui bahwa saya adalah salah seorang yg kurang berilmu, kurang berwawasan dan kurang mengetahui sejarah.
    Dan semoga kita semua selalu dalam bimbingan Alloh SWT.

    Wassalamualaikum wr.wb.🙂

  15. adjipamungkas says:

    SAYA BERSAKSI TIADA ILAH SELAIN ALLAH DAN MUHAMMAD ADALAH RASULLNYA
    wahai insan yang bernama dhir? SIAPA KAMU ?
    apakah KAMU ahli tafsir ?
    apakah KAMU ahli bahasa arab ?
    apakah KAMU “kaum terdahulu” ?
    apakah KAMU ahli dalam nahu-syaraf ?
    JIKA TIDAK JANGAN MENGHAKIMI …

    SUDAH SAMPE MANA KAMU BELAJAR APA GELARMU SEHINGGA KAMU BISA MENILAI KAMI BUKAN AHLI TAFSIR …BAHASA ARAB …NAHU-SYARAF…

    YANG BISA MENERANGKAN SESUATU TENTU PUNYA PENGETAHUAN
    LALU JIKA ALLAH BERKEHENDAK DAN DENGAN IDZINNYA MEMBUKAKAN ILMU PENGETAHUAN -NYA
    KEPADA KAMI …LANTAS ENTE …SAMPEYAN…MAU APA?
    MASALAH DAUN HINGGA AKAR TENTU KAMI BERUSAHA MENGGALI KHAZANAH POHON TAKWA…JELAS MANA BIBIT IMAN AKAN TUMBUH DARI DALAM QALB YANG SUCIKAN DENGAN UJIAN DAN DI PAGARI DENGAN SYARIAT JIKA KAMU HANYA MEMETIK DAUN MAKA KAMI AKAN MEMANEN BUAH
    KARENA TANAH KAMI TIDAK TERTUTUP OLEH BATU…BATU KEPICIKAN DAN BURUK SANGKA SERTA GEMAR MENGHAKIMI
    ALLAH MAHA MELIHAT DAN MELINDUNGI SERTA PENGAMPUN
    SEMOGA IA MENGAMPUNI KITA SEMUA

  16. diaz says:

    waduh kok jadi rame ya.. malah saling hujat, bukan islam itu rahmatan lil alamin, trus bukannya di alquran jg ada tuh yg isinya kurang lebih “jgnlah kamu mencemooh kaum satu dgn yg laen bisa jadi yg kamu cemooh lebih baek dari kamu” kalo ga sala ya maap kalo keliru sory worry:grin:

  17. zero says:

    klo mo liat tentang golongan, ya harusnya kembali melihat/membaca sejarah dimana golongan itu belum terpecah… dan kenapa sampai terjadi perpecahan.
    ibarat memisahkan anjing & kucing yg lagi berantem, kita harus liat keunikan dari keduanya utk mencari solusinya, solusi buat si kucing : kasih ikan, solusi buat si anjing : kasih tulang.

  18. zaq1 says:

    ada yang jual telor asin nggak disini….:twisted:

    jalani aja boss… sesuai dengan aturan yang ada , nggak usah perumit diri. di suruh sholat kita sholat….
    disuruh zakat kita zakat…
    jangan maling… nggak kita lakukan …
    jangan ganggu bini tetangga ( dosa ) …. jangan lakukan ….
    mancing ikan di laut enak tuh…

    segampang itu hidup…. life is beatiful MAN….:oops:

  19. arief... says:

    ketika kita berbeda / berselisih paham… tidak berarti harus disampaikan dengan intonasi bahasa yang tinggi khan?… apalagi bila hal tersebut didengarkan dengan telinga……….. (saya yakin… rasulullah pun tidak mengajari kita dengan cara seperti itu) … mohon maaf…. saya yang masih sangat awam dengan ilmu agama… baru sedang ingin mempelajarinya…. salam kenal buat kang herry.

  20. miss usil says:

    Om dhir kok kaya abang jampang yang tidur trus bangun krn kesurupan sih? Sampe2 pengumuman mahir bersenapan segala. jangan2 masih kebawa mimpi (sekadar ilusi) ….

    Maap ya saudaraku seiman…mbok kalo ndak setuju, ya ungkapkanlah opini anda dengan adab yang islami, dengan akhlaq gitu loh….jadi yang baca di sini kan punya perbandingan pemikiran.
    Wong yang nulis artikel cuma sampaikan pengetahuan yang dia miliki koq, dan kayanya ndak pernah mengkalim itu sebagai ‘yang paling benar’.

    Koq sepertinya merasa terancam sih? hayo…ada apa ini? yang menjadi energi bicara itu iman atawa ?

    Astaghfirullah…astaghfirullah…astaghfirullah……

  21. adjipamungkas says:

    salam damai..peace man:mrgreen:
    tidak ada asap kalau tak ada api…..jadi jangan maen api ingat kebakaran kmaren..:oops:
    Sungguh syetan itu cuma meniup bara sekam syahwat berdebat..sehingga saya ..dan beberapa sahabat..terbakar…Astagafirullah ampuni kami ya Allah..:cry:
    Semoga Allah menolong kita dengan mengajari kesantunan..menghargai perbedaan untuk mencari kebenaranNya:lol:

  22. wan says:

    :neutral::ya alllah tiada apa lagi yg tinggal dalam diri ini cuma kasih MU sahaja. Malah wujud diri ini pun kian hilang,hanya KAU yg punya sifat wujud. Ku pohon jgnlah lah tinggal kan daku sendirian,kasihilah hamba yg hina ini.Hidup ku,matiku hanya untuk mu ya ALLAH,kemahuanMU adalah kemahuanku jua,jadikanlah kemahuanMU kemahuan ku jua.

  23. Ahmad says:

    “…nikmat disini bukanlah sekedar nimat kesehatan, nikmat harta benda, dsb. Tetapi jauh lebih besar dari itu, adalah nikmat dijaga oleh Allah Ta’ala dari segala kesalahan dan hidup bersama Allah Ta’ala…”

    mas, kalimat diatas apakah berarti insan seperti itu maksum mas?!seperti kemaksuman para Nabi-Nabiyullah?!
    ataukah hanya terjaga dari kesalahan/dosa besar yang mutlak?!

    “…sesungguhnya manusia dapat menerima petunjuk langsung dari Allah Ta’ala melalui qalb-nya.”

    Maksud diatas berarti memungkinkan adanya dialog (entah apakah itu langsung atau tidak langsung antara Allah Ta’ala dg hamba-Nya)?!klo seandainya petunjuk personal yang diberikan Allah SWT tersebut bs dikatakan hadist Qudsi?!

    Terakhir mas herry,saya minta tolong donk ditambah kajiannya dengan tema “TAWAKAL” yang dimaksud diatas…karena saya termasuk orang yang masih bingung dg tawakal yang sempurna:oops::oops:

    Makasih sebelumnya mas herry…
    Sukses terus untuk dakwah di dunia Mayanya…
    mudah2an byk orang yg tertular sama mas herry y:mrgreen:

  24. radzhi says:

    Hanya berkongsi pandangan….
    Manusia itu ada 73 golongan, hanya satu golongan yang selamat, yang lainnya sesat.
    Maka wasiat Rasullulah:
    Aku tinggal kan 2 perkara iaitu Kitabullah dan SunnahKu, barangsiapa yang berpegang kepada keduanya maka tidak akan sesat selamanya.
    Renungkanlah…..

  25. Assalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakaatuh

    Wahai saudaraku se Iman….Jangan biarkan dirimu menjadi sumber untuk para syaitan untuk menghujat satu dengan lainnya…Allah Berfirman :“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku untuk mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (Q.s. al-Isra’: 53).

    “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah rasul, dan ulil amri di antara kamu. Jika kamu berselisih tentang suatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir; yang demikian itu lebih utama dan lebih baik kesudahannya�?. [Q.S. 4:59]

    Rasullulah bersabda : sesungguhnya iman akan kusut dalam perut (dada) anak Adam (manusia) seperti kusut (lusuh)-nya pakaian, maka mohonlah kalian kepada Allah agar Dia memperbarui iman dalam kalbu kalian (HR. Thabrani dalam kitab Al-Kabir, hadits ini hasan).

    “Perbarui iman kalian !” sabda Rasulullah. Kemudian, seseorang bertanya kepada beliau, “bagaimana cara memperbarui iman kami ?” “Banyak-banyaklah membaca laa ilaaha illallah,” jawab beliau (HR. Ahmad, sanad hadits ini hasan).

    Untuk itu wahai saudaraku…mari kita serahklan segala sumber perselisihan ini kepada Allah dan Rasul-Nya….dan mari kita sama-sama kembali memperbaharui Iman kita masing-masing…Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Mohon maaf dan Wassalam.:arrow:

  26. dedril says:

    Asslam.
    saya suka sekali dengan tulisan-tulisan dan artikel didalam blog anda, ohya saya ingin mengcopi artikel-artikel didalamnya, untuk dimasukan dalam blok saya. apakah diperbolehkhan.

  27. Rudy Firmanto says:

    Ass Wr Wb

    Luar biasa Mas. Sampeyan hebat Mas. Subhanallah. Semuanya terang benderang.
    Seperti biasa mas, saya ijin mencopy dan saya simpan serta share ke semua Makhluk Allah.

    Terima Kasih
    Rudy Firmanto

  28. Assalamu’alaikum wr, wbr,.

    artikel yang bagus…menurut saya pribadi loh…:grin::grin:

    Salam kenal mas….

    Saya rasa memang demikianlah seharusnya makna beragama itu…agama diturunkan oleh Sang Pencipta tentu saja dalam rangka memberikan modul/tuntunan/cara/metode/syariat/jalan agar manusia bisa hidup di dunia dengan benar dan selamat menuju alam kehidupan berikutnya. Tidak mungkin agama diturunkan untuk menciptakan peperangan di antara umat.

    Azab Allah dalam al qur’an sebagian besar berkaitan dengan perilaku buruk manusia/kaum terhadap sesama makhluk ataupun kepada sang pencipta, bukan kepada kelompok agama tertentu….bahkan kepada agama yang salah menuhankan seorang nabi sekalipun….riwayat hadits justru akan turun sang Nabi untuk meluruskan ajaran ini. Bukankah ini merupakan kasih sayang Allah kepada manusia?

    Jalan untuk mencapai pemahaman sifat Ketuhanan, mengenal dzat Tuhan, menjadi manusia yang bijak dan rahmat bagi seluruh alam pasti bisa dicapai dengan banyak jalan, sangat banyak, tidak terhitung dan tidak terlingkupi oleh kelompok, pemahaman, manhaj, suku, agama, ras, dsb dsb.
    Rahmat Tuhan itu sangat dan begitu luas tiada terhingga….

    Bila direnungi…semua syariat, modul, jalan dsb…hanyalah agar kita menjadi manusia yang betul-betul manusia…suci, bijak dan hidup menjadi rahmat bagi seluruh alam, makhluk ciptaan Tuhan.

    Bagi yag sibuk ” MENCARI LAILA…..:mrgreen::mrgreen:

    LAILA yang mana yang mau anda kejar? laila versi anda itu sekarang banyak varian….LAILA ini berbau kelompok tertentu karena mereka ini yang paling gemar mengejar-ngejar LAILA…semua ingin LAILA dengan pemhaman dan penakwilannya sendiri…..tidak aneh dalam kurun waktu tidak lebih dari 20 tahun saja sudah muncul banyak varian kelompok tersebut di indonesia saja….paling tidak ada 5 varian yang antar variannya saling memutuskan silaturahmi dengan alasan agama…luar biasa…mengaku paling benar tapi ternyata mereka sendiri berpecah dengan beribu hujjah dsb dsb…
    Apa yang kalian cari??

    Jangan lupakan….ilmu memang penting, tetapi ilmu bukan tujuan…ilmu hanyalah penafsiran dan pendekatan pemahaman….tujuan dari smeuanya adalah membentuk amal dan manusia yang rahmatan lil alamin…bisa jadi seseorang memiliki ilmu, hafalan sedikit..tetapi dia sangat memaknai tujuan hidup sehingga dirinya menjadi bermanfaat bagi alam.
    Sementara banyak yang menghabiskan waktunya dengan ilmu, hafalan, belajar dsb dsb, memiliki perilaku yang buruk dan membuat keributan dan perpecahan di antara manusia….sibuk ingin menjadi mereka yang paling sunnah, yang paling sesuai untuk jadi pasanganya LAILA…..:mrgreen::mrgreen:

    Wassallam.

  29. nugh says:

    Islam agama yang ilmiah.Apa-apa yang ada tentang Islam maka harus ada dalilnya. Masalah buang hajat aja ada dalilnya, apalagi tentang aqidah,tauhid maupun ibadah, tentu lebih ada dalil tentang itu. Tetap semangat !! dalam mencari kebenaran, semakin dekat dengan Al Quran dan Al Hadits dalam pengamalannya, maka semakin dekat kita dengan kebenaran. Walahullalam bishowab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s