Ayat-ayat Obsesi

Herry Mardian

Lebih baik kisah satu hikmah yang diraih dengan mati-matian, diminum dan ditelan dengan perjuangan, daripada ribuan hikmah yang diumbar berserakan tapi sebatas kutipan.”

APA novel yang paling saya nikmati? ‘The Alchemist’-nya Paulo Coelho, saya sampai merasa perlu untuk mengecek kesesuaian ‘rasa’ novel tersebut dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Inggrisnya. Apa novel yang paling membuat saya tak bisa menahan diri untuk tidak membuka halaman selanjutnya? ‘Da Vinci Code’-nya Dan Brown. Novel pertama yang saya baca? ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah’-nya Hamka, ketika SMP. Air mata saya bercucuran ketika membacanya, dulu sekali.

Kebiasaan membaca sejak SMP ini berlanjut. Setiap bulan, saya biasanya mencari satu novel atau buku untuk ditamatkan. Kebiasaan ini berlanjut hingga masa-masa krisis moneter dulu, yang membuat harga buku melonjak hingga lima kali lipat. Akhirnya, sekarang saya sangat selektif untuk membeli novel: saya hanya membeli yang saya anggap benar-benar layak untuk dibeli. Kriterianya bagi saya, novel yang saya beli harus mampu mencerahkan, memberi inspirasi, membuat saya mengerti sebuah sudut pandang lain tentang kehidupan, dan melembutkan hati. Kriteria terpenting, novel tersebut harus mampu memunculkan insight yang membuat saya semakin bermunajat. Entah itu berupa sebuah ketakjuban, kesyukuran, sebuah pemahaman, atau bahkan sebuah kesedihan: harus ada sebuah penghadapan baru dari diri saya kepada-Nya, setelah membaca apa yang disampaikan pengarang sebuah novel.

Saya benar-benar ingin membaca karya-karya semacam itu. Setiap lewat ke toko buku, saya selalu menyempatkan diri untuk melihat-lihat sampel buku, mungkin ada novel atau buku yang bisa membuat saya ‘jatuh hati’, jatuh cinta lagi. Saya ingin mengalami ‘puber kedua’ membaca.

Sebenarnya, sudah lama sekali saya melihat novel ‘Ayat-ayat Cinta’-nya Habiburrahman El-Shirazy di rak pajangan toko buku, mungkin sejak satu atau dua tahun lalu. Tapi entah kenapa, saya tidak tertarik untuk membelinya, walaupun semua orang yang saya tahu bilang itu adalah novel yang bagus. Bahkan, untuk sebagian orang, novel tersebut kualitasnya luar biasa.

Sejak beberapa lama, novel AAC ini intens sekali diiklankan di sebuah harian terkemuka. Harian ini banyak mengutarakan keindahannya, keindahan setting-nya, dan sebagainya. Bahkan ada yang menyamakan pengarangnya dengan Hamka muda, dengan mengatakan ‘melalui novel ini, Hamka generasi ini telah lahir’. Saya mulai merasa perlu untuk membacanya. Sejak beberapa minggu lalu, saya berusaha mencari pinjaman novel ini kepada beberapa teman (hehe…) tapi belum dapat. Akhirnya, beberapa hari lalu, dengan pertimbangan sana-sini, saya membeli novel itu, walaupun mungkin sangat terlambat.

Saya baca novel itu dalam dua hari. Lalu bagaimana hasilnya? Nah, ini saya bingung bagaimana menyampaikannya dengan pas.

Begini saja. Apa obsesi anda? Kalau anda seorang saintis, mungkin anda berharap sejak kecil anda adalah orang yang jenius dalam banyak ilmu pengetahuan, jauh melampaui teman-teman sebaya anda. Anda sejak kecil hingga sekarang, adalah tempat bertanya semua orang. Anda hafal banyak hal luar kepala, dan mampu menjelaskan apapun, segala hal, dalam paradigma sains. Tentu anda juga ingin ganteng atau cantik, sangat pintar bergaul (meskipun sangat pintar di sekolah), banyak disukai lawan jenis. Lalu juga hangat di pergaulan, dan menjadi panutan orang-orang di kalangan anda. Pada usia dua puluhan anda mulai menghasilkan karya-karya sains besar, dan pada usia empat puluhan anda berhasil meraih hadiah nobel.

Anda juga ingin kecerdasan dan karya-karya sains yang anda hasilkan membuat anda jadi orang yang sangat kaya, walaupun lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Tidak lupa, bumbu rumah besar, mobil mewah, dan istri yang luar biasa cantiknya, atau suami yang luar biasa tampannya. Selain itu, sebagai sentuhan tambahan, anda berharap sejak kecil juga bersekolah tambahan pada guru-guru agama kelas satu. Sehingga pada usia SMP anda sudah hafal Al-Qur’an, pada usia SMA anda sudah banyak mengerti persoalan fiqh, hafal hadits, pakar bahasa Arab, juga disela-sela kesibukan masih bisa mengisi waktu luang dengan berdakwah, ceramah, dan mengajar persoalan agama.

Lengkap sudah. Alim, cerdas, jenius, cantik atau ganteng (atau kalaupun tidak, tetap dikejar-kejar lawan jenis). Sangat kaya, juga hafal Qur’an, pakar hadits, terkemuka di komunitas, meraih hadiah nobel, panutan di masyarakat, sekaligus tempat bertanya masyarakat dalam persoalan agama. ketika berumahtangga, kalau bisa sebaiknya penyatuan kedua belah pihak merupakan perpaduan dari kalangan ulama terkemuka dengan kalangan pengusaha ternama. Apa yang kurang?

Itu obsesi seorang saintis, mungkin. Kalau anda seorang pekerja kantoran? Kira-kira sama, hanya dalam bingkai kehidupan kantor. Seorang dosen? Atau ibu rumah tangga? Tidak jauh. Seorang aktivis dakwah? Tidak akan jauh dari itu, tapi tentu dalam bingkai kehidupan seorang aktivis dakwah. Semua ingin hidup sedemikian lancar dan mudah, linear. Makin tambah umur, makin baik saja kehidupan ini. Sedikit banyak, itu obsesi kita semua. Muda bahagia, dewasa kaya, pasangan tergila-gila, dan mati masuk surga, saking alimnya. Kita, atau tepatnya hawa nafsu kita, selalu ber’panjang angan-angan’ seperti itu. Hawa nafsu kita berangan-angan tentang kehidupan ini yang sedemikan indah dan mudahnya.

Kita kembali ke novel.

Pertama membuka novel AAC, saya cukup terkesan. Lima belas kali cetak ulang, dalam waktu dua tahun saja! Lalu disambung dengan enam halaman (!) berisi sembilan belas kutipan komentar positif maupun pujian dari kalangan tokoh masyarakat dan pembaca. Dan saya mulai membaca Bab I.

Tokoh utamanya seorang pria usia dua puluhan bernama Fahri, anak seorang penjual tape ketan keliling di kampung, lulusan madrasah yang kebetulan berhasil sekolah S2 sampai ke Mesir. Penyampaian pengarang bagus. Alurnya mengalir lancar dan rapi, dengan diwarnai detil seperlunya, khas pengarang pria yang tidak merasa perlu untuk berkutat terlalu dalam dengan detil.

Di mata saya, bab-bab pembuka membangun fondasi cerita dengan baik sekali. Pembaca dibawa mengenal tokoh utama dan mulai mengenal tokoh-tokoh terkait dengan rapi dan mengesankan. Penulis sanggup membuat pembaca ‘hidup’ dalam keseharian sang tokoh dengan rapi dan wajar, tanpa terlalu banyak berkutat di detil. Tidak ada ‘culture shock’ pembaca yang merasa asing ketika masuk ke kehidupan tokoh dalam novel tersebut. Pengarang mampu membuat isi novel tersebut seperti bagian dari kehidupan kita, walaupun dengan setting kehidupan keseharian mahasiswa di Mesir. Ini cukup membuat saya angkat topi.

Pada bab-bab selanjutnya, bab-bab pengantar, pembaca dikenalkan dengan tokoh kedua dengan cara yang misterius, sekaligus indah. Sayang, pada bab-bab ini juga saya mulai merasa aneh, walaupun baru sedikit. Secara halus, bab tiga difungsikan untuk menampakkan pada pembaca mengenai kepakaran dan kefaqihan sang tokoh dalam persoalan agama, bahkan orang Mesir yang baru sekali bertemu dalam kereta pun langsung terkesan dengan kepakaran sang mahasiswa muda ini (yang kebetulan merasa perlu untuk menunjukkan kemampuan dirinya dalam kereta umum). Selain menunjukkan kemampuannya berbicara dalam bahasa Arab, Jerman dan Perancis, bab-bab ini juga menggambarkan pada pembaca betapa sang tokoh adalah orang yang dituakan dan disegani di kalangan mahasiswa di kosnya maupun bagi kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir. ‘Alangkah pintarnya diriku’ terasa menjadi esensi bab-bab ini.

Walaupun demikian, di sisi yang lain, pembaca dibawa bertemu dengan tokoh kedua dengan cara yang mengesankan. Yang juga mengesankan, pembaca tidak tahu bahwa ada seorang tokoh di bab-bab awal ini yang kelak juga akan menjadi seorang tokoh utama, karena dimunculkan dengan demikian halusnya.

Masuk ke bab-bab pertengahan, walaupun disampaikan dengan halus dan baik sekali, tapi esensi cerita mulai dibumbui dengan taburan serakan kebaikan-kebaikan diri sang tokoh, penggambaran bahwa sang tokoh ternyata adalah ikhwan yang diimpikan, atau obyek obsesi, dari kalangan wanita-wanita ‘shalihah’ (kalangan wanita berjilbab, belajar agama, dari latar belakang keluarga kaya atau ulama terkemuka), juga dari wanita Islam Jerman, dan dari wanita ‘ahlul kitab’ (kristen koptik), yang ‘kebetulan’ semuanya digambarkan sebagai wanita yang luar biasa cantiknya. Semuanya jatuh cinta kepadanya, mengirim surat-surat cinta, dan sang tokoh ‘terpaksa’ tidak menanggapinya, dengan mengajukan dalil-dalil persoalan muhrim di Qur’an dan hadits. Esensi bab-bab ini? ‘Alangkah teguh imanku, tiada tergoda’.

Masuk ke bab-bab esensi cerita, sebenarnya saya mengharapkan sekali adanya sebuah kejutan yang insightful, yang dalam, yang spiritual, yang bermakna, sesuai label di cover novelnya : ‘Sebuah Novel (Islami) Pembangun Jiwa.’ Apa saya mendapatkannya?

Kisah pada bab-bab inti diawali dengan pernikahan yang keterlaluan beruntungnya. Sesuai tata cara ‘islami’ (dalam tanda kutip), sang tokoh menikah dengan akhwat yang tidak dikenalnya, tapi dipilihkan ustadnya. Tak dinyana, akhwat tersebut luar biasa cantiknya (baru ketahuan karena sebelumnya selalu mengenakan cadar), anak seorang saintis terkemuka sekaligus pengusaha internasional, dan memiliki sebuah apartemen supermewah. Maka pindahlah sang mahasiswa anak tukang tape itu, dari kamar kos kelas mahasiswa ke apartemen paling mewah di Kairo. Dan disana, sebagai istri ‘shalihah’ yang berbakti, sang istri membagi segala miliknya untuk suami tercinta (yang digambarkan romantis luar biasa setelah menikah: romantis yang ‘islami’). Termasuk membagi kepemilikan apartemen mewah. Dan si istri, sebagai tanda baktinya, memaksa suaminya menerima satu dari dua kartu ATM milik sang istri yang masing-masing berisi uang puluhan juta dollar.

Jadilah ‘sekonyong-konyong’ (apa ya kata yang tepat?) seorang anak tukang tape ketan keliling menjadi multi ziliuner (dalam dollar, bukan dalam rupiah), suami pemilik saham banyak hotel dan apartemen mewah yang tersebar di berbagai belahan dunia. Ia pun, untuk bisa mengantar istrinya, mau tidak mau ia pun ‘terpaksa’ harus belajar mengemudikan mobil (mewah). Tidak lupa, supaya tetap hidup sederhana, dari banyak pilihan mobil yang harus dibeli, ia menganjurkan pada istrinya untuk membeli mobil (mewah) yang bekas saja, tidak perlu yang baru.

Pada saat yang sama, akhwat-akhwat (cantik) lain yang selama ini terobsesi padanya menjadi sedemikian patah hati, sampai ada yang kehilangan semangat hidup hingga koma. Ada pula yang menghiba untuk dijadikan istri kedua saja. Namun, karena nasihat bijak sang tokoh cerita yang demikian bijaksana, pada akhirnya si akhwat mau juga menikah dengan ikhwan ‘sholeh’ lain sambil belajar untuk melupakan dirinya, walaupun akhwat ini menulis dalam surat cintanya, ‘cintaku padamu t’lah terlanjur mendarah daging dan menyumsum dalam diriku, kalau engkau tidak mau berpoligami, maka biarkan aku membawa cintaku ke jalan sunyi, jalan yang ditempuh orang sufi, setia pada yang dicintai sampai mati.’

Kemudian, alur cerita tiba-tiba dibuat dramatis dengan diputar balik secara mendadak. Sang tokoh, karena sesuatu dan lain hal, ternyata harus masuk penjara. Istri cantiknya hampir diperkosa. Dalam penjara ia menjadi kurus kering dan kurang makan, mengalami siksaan keji, dan sebagainya. Lalu cerita dibalik lagi sehingga sang tokoh bebas dengan dramatis, sekaligus membuat saya menghela nafas.

Saya kira, jika seandainya kisah jatuh bangun dalam penjara ini digali lebih dalam, mungkin nuansa novel ini berubah. Sayangnya, justru di titik ‘ujian kehidupan’ ini, titik di mana biasanya seseorang mendapatkan hikmah dan rasa butuh akan Allah, titik ketika seseorang menghayati hakikat dirinya sebagai makhluk yang fakir dan butuh kepada Rabb-nya, hanya disajikan sebagai dramatisasi cerita.

Sebenarnya di bab-bab ini saya benar-benar mengharapkan ada sesuatu yang bermakna. Tapi rupanya, dalam kisah selanjutnya, kebebasan sang tokoh dari penjara membuatnya masuk ke sebuah situasi yang sedemikian rupa sehingga si tokoh, mau tidak mau, harus menerima permintaan sang istri cantiknya itu (yang baru saja dinikahinya) untuk menikah lagi dengan wanita yang tak kalah jelita kecantikannya. Menariknya, si istrilah yang dengan menangis harus memaksa suaminya berpoligami, dan si suami terpaksa menerima permintaan istrinya itu dengan menangis juga…

Bab-bab penutupnya? Saya merasa tidak mendapatkannya. Benar, walaupun yang saya sampaikan di atas bukan akhir cerita, tapi kisahnya terasa terpotong begitu saja, tidak ada bab-bab epilog yang mengantar untuk menutup buku dan mengakhiri cerita.

Jadi apa insightnya? Justru itulah yang membuat saya menghela nafas seselesainya membaca. Saya merasa tidak memperoleh insight apa-apa. Apa jiwa saya bangun, sesuai tulisan di sampul bukunya, ‘sebuah novel pembangun jiwa’? Rasanya tidak. Jiwa saya seperti jadi hampa tertimbun angan-angan : oh, andai saya seperti itu, andai kehidupan senikmat itu, dan sebagainya. Angan-angan baru itu justru cenderung melenyapkan rasa bersyukur saya dengan kehidupan saya yang, walaupun ‘segini-gininya’ ini (beli novel aja mikir dulu, bo), Allah sendirilah yang merancang skenario kehidupan saya, dan kehidupan anda, dengan tangan-Nya sendiri, spesifik untuk kita masing-masing.

Ada yang positif muncul dari dalam diri saya seselesainya membaca : saya semakin rindu kesejatian, dengan makna dan perenungan; dan saya semakin tak suka saja dengan kepalsuan dan atribut tempelan.

: : : : : : : :

Jangan salah. Ini bukan sebuah novel yang buruk. Sama sekali bukan. Malah mungkin cenderung mengasyikkan untuk dibaca. Kalau bagi anda sebuah novel yang mengasyikkan adalah sebuah novel yang bagus, maka mungkin novel ini cukup bagus. Tapi mungkin yang saya cari dalam sebuah buku berbeda dengan apa yang anda cari.

Saya mencari proses. Saya lebih suka sebuah ‘kealiman’ ditampilkan dengan latar belakang perjuangan penempaan diri yang mati-matian, daripada kesana-kemari mengutip ayat dan hadits, seakan menjadi sebuah keharusan bagi seorang tokoh yang alim. Saya mencari hikmah kehidupan dalam agama, bukan menyampaikan atribut agama terlalu sering hingga menjadi kehilangan gaungnya. Lebih baik kisah satu hikmah yang diraih dengan mati-matian, diminum dan ditelan dengan perjuangan, daripada ribuan hikmah yang diumbar berserakan tapi sebatas kutipan. Sejujurnya, saya tadinya mengharapkan lebih dari apa yang oleh sebagian orang disebut sebagai ‘novel Islami Indonesia terbaik saat ini.’ Mungkin harapan saya terlalu tinggi.

Kualitas secara umum? Bagi saya pribadi, just another novel. Doesn’t stand out in crowd. Adakah Tuhan didalamnya? Tidak. Demikian pula tidak ada gambaran seseorang yang berjuang dan jatuh bangun mencari Tuhan dan kesejatian di dalamnya, hanya ada gambaran keseharian seorang ikhwan dan nilai-nilai yang menjadi idealnya. Tapi atribut keagamaan memang berserakan di dalamnya. Novel ini baru melukiskan fenomena kehidupan sang tokoh, tapi belum menyentuh esensi kehidupannya sendiri.

Sebuah novel Islami? Wallahu ‘alam. Jika ‘Islam’ berarti ‘berserah diri (pada Allah)’, tidak ada peristiwa keberserahdirian sang tokoh dalam novel ini. Rasanya ia lebih bersandar pada kemampuan dan keunggulan dirinya (yang memang menonjol, atau ditonjolkan), daripada adanya sebuah kisah yang memberikan nuansa pemahaman akan hakikat keberserahdirian. Tidak ada kerinduan dan kebutuhan seorang hamba pada Rabb-nya dalam novel itu.

Worth to buy? Tergantung apa yang anda cari, kalau uang anda pas-pasan saja seperti saya. Kecuali anda punya uang lebih dan punya waktu membacanya, bolehlah. Tapi menurut saya, buku ini masih ‘absolutely worth to borrow.’ Yang belum baca, baca saja, dan perhatikan ‘rasa bacaan’ yang terbentuk dalam diri anda. Yang udah punya? Pinjemin ke yang mau baca. Atau tunggu filmnya, yang sekarang konon sedang dalam masa produksi. Mutu kertas? Kertas di dalamnya berbahan sama dengan kertas koran, bahkan sedikit lebih tipis. Layout? Belum sampai taraf indah, tapi cukup baik dan nyaman di baca. Sayang kertasnya agak tipis dan tembus, apalagi kalau diberi stabilo. Sampul buku? Cukup, walaupun agak terlalu ramai dengan pemuatan komentar endorsement positif pembaca. Back cover? Isinya enam (!) komentar positif pembaca, tidak ada bagian yang menggambarkan isi sama sekali.

Saya tahu tulisan ini akan membuat panas banyak orang. Tapi saya tentu boleh berpendapat. Apalagi, saya sudah membeli novelnya (yang asli dan bukan bajakan), dengan harga yang lumayan. Dan saya cukup optimis, jika melihat novel ini, bagi seorang Habiburrahman El-Shirazy masalah konten di novel-novel berikutnya hanyalah masalah waktu.

Kenapa novel ini laku keras? Mungkin karena sebagian besar muslim di Indonesia memiliki mimpi yang sama dalam harapan ‘ikhwan/akhwat ideal’, dan melihat ada bagian dari keinginan dirinya yang terwakili oleh novel ini: alim, baik, murid guru-guru agama papan atas, hafal Al-Qur’an, faqih dalam persoalan agama, pintar, disegani dan dituakan, pintar bergaul, lancar tiga bahasa, penuh kata-kata bijak, dirindui banyak lawan jenis, dan super kaya dengan instan. Ideal dalam kacamata ‘agama beratribut duniawi’, tentu saja. Sebuah cara beragama yang sebatas fenomena dan perilaku, belum sampai memicu hadirnya rasa haus akan makna dan esensi. Seperti itukah ‘muslim’ ideal? Bagaimana sebenarnya Allah ‘memandang’ seorang muslim yang ideal?

Kalau anda kebetulan adalah seorang yang suka bermimpi untuk sejenak melupakan persoalan hidup, mungkin novel ini pas buat anda. Tapi kalau anda adalah orang yang suka mencari stimulus perenungan, atau berharap menemukan satu hal bermakna dalam yang bisa menjadi stimulus untuk membuat anda menjadi lebih ingin mengerti Tuhan, mengerti diri, atau mengerti esensi kehidupan lebih dalam lagi –walaupun sejengkal–, agaknya novel ini bukan untuk anda.

Terakhir, pertanyaan ini tak henti-hentinya menggelitik saya: kenapa semua tokoh akhwatnya harus berwajah luar biasa cantiknya? []

Ayat-ayat Obsesi

55 thoughts on “Ayat-ayat Obsesi

  1. yyuana says:

    Setuju 100%…Punya rumah mewah, istri cantik..dan ditengah cerita ada yang jahat dan ending ceritanya happy…Cuman AAC ada nuansa spiritualnya aza…tapi intinya sama, kalau dalam kehidupan itu kadang sukses kadang gagal…tapi hikmah dibalik itu jarang sekali di bahas…Bang pernah baca nggak novel atau buku yang banyak bercerita tentang hikmah kehidupan sperti kehidupan para sufi???? Saya baru baca buku pengarangnya mas gawtama yang berjudul “School of life’, belum bisa berkomentar karena belum tamat nich…

  2. Saya sangat menyarankan membaca ‘Les Miserables’ nya Victor Hugo. Edisi terjemahannya juga ada. Atau paling tidak, menonton filmnya lah. Cari aja di yang jualan DVD/VCD. Itu gambaran perjuangan luar biasa seorang bandit yang ‘hijrah’ untuk menjadi orang baik, dan menghadapi tempaan demi tempaan dengan segala jatuh bangunnya. Hanya demi kerinduannya untuk menjadi orang baik, ingin bertaubat.

    Atau kalau harus tentang sufi, mungkin di antaranya ‘The Way Of Love’-nya Nigel Watts (terbitan Gramedia) bisa menggambarkan pada kita nuansa perjuangan diri seorang Jalaluddin Rumi untuk berjuang menelan hikmah yang diraihnya secuil demi secuil dengan sangat mahal dan berat. Edisi Indonesia lainnya (buku yang sama) berjudul ‘Revolusi Sang Matahari : Kelana Cinta Jalaluddin Rumi’. Novel ini lumayan lah, walaupun belum seindah Victor Hugo diatas.

    Atau mungkin ada yang lain punya rekomendasi?

  3. Jadi ingat stereotip film ‘Catatan si Boy’. Ya, jangan-jangan begitulah mimpinya banyak umat Islam.

    Mungkin novel-novel yang direkomendasikan Oprah di Oprah’s Book Club memang betul2 bagus?

  4. Salam kenal, mas.
    Baru baca juga, pinjeman tapi. Setuju juga, euy.
    Kenapa novel ini sampai dipuji-puji setinggi itu, jangan-jangan karena apa yang masyarakat kita cari masih hanya sebatas “tampak saleh” dan juga sukses duniawi. Jadi keinget Catatan Si Boy: kaya luar biasa, baik, rajin sholat. Hohoho. Kalau novel ini kayaknya proporsi agama-dunianya aja yang beda.๐Ÿ˜‰

  5. firman says:

    Salam,
    Yang mendapatkan pencerahan jiwa karena buku ini, alhamdulillah..
    Yang tidak pun, alhamdulillah..
    Yang bermimpi jadi saleh karena buku ini, mudah2an mimpinya terlaksana, minimal ada upgrade di hati..
    Yang sudah saleh pun, mudah2an dapat referensi baru tentang warna warna manusia.. Biar makin kenal pencipta..
    Yang sampai sakit hati, jangan atuh ceuceu..๐Ÿ˜‰
    Wassalam

  6. Herry says:

    “Yang sudah saleh pun, mudah2an dapat referensi baru tentang warna warna manusia.. Biar makin kenal pencipta..”

    Emangnya ada ya, yang merasa diri sudah saleh?๐Ÿ™‚

  7. Alexander Dumas lebih layak baca deh, mo beli mo pinjem terserah. Trus buku-buku Herman Hasse (sy lg baca Siddharta, buntut-buntutnya usaha pencarian diri dgn cara-cara ekstrim akhirnya yg pas dgn moderasi), Salman Rushdie.

    Sudah baca Life of Pi? Itu asli lucu sekali, saya baca sampai ketawa-ketawa di kereta diliatan orang cuek aje. Terutama saat adegan pastor ketemu imam dan pandit sekaligus di pantai terus mereka ribut pakai stereotipe mencaci-maki pihak yang lain, intinya rebutan satu pengikut, ya Si Pi itu. Mentertawakan diri sendiri karena begitulah praktek yg masih banyak di masyarakat sekarang.

    Situs yg menarik: informatif dan banyak hasil perenungan. Ketemu situs ini waktu lagi cari info Bima Suci. Keep the good work!

  8. Setuju! Life Of Pi, itu asik untuk dibaca. Lucu: anak itu pas mencari agama, semuanya asik. Ya terus, daripada bingung, ikut aja semua:mrgreen: polos… Giliran pastor ketemu imam masjid dan pandit, berantem karena masing-masing mengira Pi adalah kader unggulan agama mereka dan setia pada agamanya, hahaha!!

    Saya juga suka Siddharta nya Herman Hesse…

    Tq ya Shinta!

  9. yyuana says:

    Bang, saya udah beli ‘Les Miserables’ nya victor hugo…bener2 bagus banget…Setiap sesion banyak pelajaran kehidupan yang bisa diambil…Gimana orang yg berbuat baik belum tentu dibalas dengan kebaikan dan gimana orang yang licik selalu aza diuntungkan, dan masih banyak lagi kisah2 yang baguuussss banget..Cuman untuk bukunya Rumi yang berjudul Revolusi sang matahari belum ketemu euy…di gramedia nggak ada….Punya rekoomendasi buku yang lain nggak???

  10. mira says:

    assww.. subhanallah, akhirnya ada tulisan dg tema ini.. yaa sebenernya hati2 ama yg namanya lagu.. film.. komik.. yg bisa menimbulkan angan2.. dulu pernah nonton meteor garden.. & beberapa hari seakan msh ada di alam meteor garden, ga karuan deh.. nontonnya emang asik, tapi pas udah tamat.. ngerusak pikiran bgt!! af1.. komennya tampak kurang nyambung:)

  11. Kreteria bacaan mas dengan saya ampir sama. Dan omong2 tentang the alchemist dari paulo coelho, saya juga termasuk penggemarnya. Isi novel itu sampai berpengaruh besar terhadap tindakan dalam hidup saya. Terutama untuk berani dalam mengejar “impian” saya.

    “Never abandon your dreams. Follow the signs” (The Alchemist)

  12. sebenarnya bener apa yg disampein di awalnya .. apa sih yg sebenarnya kita harapkan dari “membaca” ? mungkin novel “Revolusi Sang Matahari” atau “Kimya”, atau kalo dari Indonesia ada “Layang2 Putus” dan tetralogi “Suluk Abdul Jalil”

    anyway … ini gw lagi nyelesain novel tipis kok, berjudul “Memburu Rumi” karya Roger Housden. worth to buy keknya, murah lagi … hehe.

  13. Saya beruntung sudah membaca novel Ayat Ayat Cinta. Setelah itu mengembara ke novel Paul Coelho. Setting cerita dan aktor di dalamnya adalah hak penulis. Jadi seperti pertanyaan soal wanita cantik, sah juga memuat wanita cantik dan kemudian malah ada yang dimatikan

  14. fahri hozaini says:

    salam silaturrahmi sebelumnya, dan saya sangat setuju sekali terhadap persepsi yang ada di dalam tulisan ini, karena banyak akan mengandung hikmah di kala di maknai secara mendalam dan lebih-lebih bisa di ujudkan dalam aplikasi yang nyata

  15. ronald assambas says:

    Ass’kum

    Hebat, saya salut…banyak yang saya dapat setelah membaca blog ini. Sarat dengan pencerahan…
    Ngomong-ngomong, belajar tariqat apa mas

  16. Assalam.

    Memang membaca novel itu kadang mengasyikkan, menyedihkan dll. Tapi semua itu hanya nikmat yang sia-sia kalo kita tidak dapat pelajaran yang terkandung di dalamnya. coba kita bangun dengan kritik terhadap diri sendiri, daripada sebatas mnegkritik orang lain. yang belum tentu lebih buruk dari diri kita.

    semoga yang baik tetap menjadi baik (untuk kita renungkan)

  17. Ita Kustina says:

    Pak Herry, atau Mas saya panggil…
    Secara tidak sengaja saya menemukan tulisan bapak di atas, saat saya sedang mencari artikel tentang bagaimana mengendalikan obsesi yang pada akirnya membelengu jiwa … dan tulisan bapak di atas, walau pun tidak memberikan jawab atas pertanyaan saya … membuat saya sangat tertarik untuk berdiskusi lebih lanjut dengan bapak. Saya kebetulan sangat terobsesi menulis buku, dan buku saya sudah memasuki bab 9, tetapi apa yang saya ingin adalah buku itu memberikan sudut pandang lain tentang kehidupan pada pembacanya, dan itu sangat selaras dengan keinginan bapak saat bapak mencari sebuah buku. Sehingga sungguh saya sangat tertarik untuk mendiskusikan “CALON” buku saya itu dengan bapak. Jika bapak tidak berkeberatan…bapak bisa menghubungi saya di e-mail saya itakustina@gmail.com atau nomor HP saya 0813 108 955 41, dengan mengirim sms kesediaan bapak, dan saya akan mengontak bapak. kabar baik dari bapak sangat saya tunggu.

    Terima kasih
    salam
    Ita Kustina

  18. Salam kenal mas,

    Saya terkesan dengan analisa anda tentang novel AAC. Sebuah analisa yang tajam dan bernas. Saya juga udah baca itu novel. Saya juga ikut merasakan nahwa AAC hanyalah ‘another novle’ , tidak ‘stand out of the crowd’ seperti anda bilang. Cuma saya selama ini tidak bisa mendefinisikan apa yang saya rasakan. Sekarang, saya bisa mendapatkan jawabannya dari analisis anda.

    Salut!

    Salam.

  19. fadlly says:

    Mas Her,,saya setuju dengan kutipan kalimat di awal tulisan ini..gimana dengan Novel mas Habib yang kedua?sudah baca?atau penilaiannya sama?saya tunggu ulasannya..:smile:

  20. Alfie says:

    Outstanding sister….
    I’ve never read such detailed analysis. Saya belum baca novelnya tapi dari analisa mba’e saya manut aja deh,๐Ÿ˜€

  21. atul says:

    Sama Oey,,,,,,, saya jg suka bc novel AAC,, ya.. waloupun saya manusia terakhir yg baru menyadari kehebatan novel itu hehehehe,, maksdnya saya makhluk terakhir dare antrian yang berkepanjangan dari temen2 kuliah saya,,,hehehehehehehe…..:smile:

  22. yunia says:

    penulis novel mengutip pendapat seorang sufi tentang wanita, dan dia terang-terangan menyalahkan pendapat sang sufi….yang terbiasa menangkap hikmah di kehidupannya sendiri karena (alhamdulillah) Allah memperjalankan imannya akan melihat dan sedih : kenapa novel yang ditulis oleh -maaf- yang tidak punya imajinasi tentang iman dan islam ini mendapat applaus luar biasa….

    bukannya nyaingi, tapi…ayo….kapan ada novel yang muncul dengan kemasan bahasa mudah tapi benar-benar muncul dari penghayatan iman dan islam….:smile:

  23. yunia says:

    penulis novel mengutip pendapat seorang sufi tentang wanita, dan dia terang-terangan menyalahkan pendapat sang sufi….yang terbiasa menangkap hikmah di kehidupannya sendiri karena (alhamdulillah) Allah memperjalankan imannya akan langsung melihat dan sedih : kenapa novel yang ditulis oleh -maaf- yang tidak punya imajinasi tentang iman dan islam ini mendapat applaus luar biasa….

    bukannya nyaingi, tapi…ayo….kapan ada novel yang muncul dengan kemasan bahasa mudah tapi benar-benar muncul dari penghayatan iman dan islam….:smile:

  24. rika says:

    saya baca novel ini pas kuliah. jaman dulu banget. Di satu sisi, menurut saya, novel ini tepat ditujukan utk masyarakat islam yang masih awam dengan tata cara islami. Masalah hijab, bagaimana pergaulan dengan lawan jenis, poligami, dll.

    Namun memang BENAR sekali, di akhir membaca cerita ini, ujian hidup yg di paparkan dalam novel tidak banyak di kupas. Pdhl dari ujian hidup itu lah kita belajar menjadi manusia yg lebih baik. Isi ceritanya menawarkan banyak kenikmatan2 tanpa harus banyak berjuang (or at least tidak digambarkan sisi perjuangannya secara detail disini). Jd tdk banyak pelajaran hidup yg bisa saya ambil.

    Hal ini sama seperti ketika saya membaca buku harry potter. Imajinasi saya, harry potter adalah anak biasa yg gak tampan sama sekali dengan rambut jabrik….eh…di film, si harry malah tampannya minta ampun dengan rambut lurus. Jadi kecewa. hehehe…

    Lain lagi ketika saya menonton film “Denias – senandung di atas awan”. Nah ini baru terlihat perjuangannya. dan saya belajar banyak dari perjuangan ini.

    Wallahualam.

  25. marpuahm says:

    Mas Herry, salam kenal.

    Saya juga suka buku-buku yang memberi pencerahan. Selain buku2 Paulo Coelho ada satu buku yang benar2 membuat saya terharu: “The Kite Runner”nya Khaled Hosseini (buku lama yang baru saya baca). IMHO, buat saya buku ini benar2 menggambarkan perjuangan seorang manusia mengatasi kelemahan dirinya sendiri. Kena deh ke diri sendiri๐Ÿ™‚

  26. nurbaeti says:

    ass,salam kenal aja deh!
    pertama baca di pinjemin ama temen,katanya kalo ga’ baca tar nyesel!
    Wahhh ternyata bener kalo ga’ baca bkl ktinggalan informasi,
    Jadi ga sabar nunggu film nya di putar….
    Salut berat buat habbiburrahman deh,sukses terus.:lol:

  27. Luthfi says:

    memang benar kata teh Rika. novel ini terlahir ketika banyak orang yang mengaku muslim di Indonesia kurang faham dengan syari’at lahir Islam (jilbab, pergaulan dengan lawan jenis, poligami, dll). jadilah–atas kehendak Alloh–novel ini dianggap luar biasa oleh orang-orang. (ditambah: lagi marak-maraknya novel ‘kurang ajar’ karya penulis Indonesia)

    maka novel ini lebih merupakan tahap awal untuk membangkitkan kesadaran atas syari’at lahir Islam. nah, langkah selanjutnya justru saya menunggu mas Herry (sebagai penulis Indonesia) melahirkan–atas kehendak Alloh–novel yang dipenuhi penghayatan rasa beragama (Islam), perjuangan mengenal Alloh, diri, dan memahami esensi hidup dengan lebih dalam lagi. mas Herry kan rajin nulis. sejak dua tahun yang lalu saya sudah menyukai tulisan mas Herry. (baru ketemu lagi sekarang). saya tunggu ya mas. tapi novelnya jangan mahal, supaya saya ga banyak mikir kalo mau beli.
    oh iya, situs paramartha sayang tuh kayak ga ada yang ngurus. pada sibuk banget sih. jurnal psyche dan ruhul quds-nya gimana?

  28. ika says:

    Ayat- ayat cinta. Kereeeenn… Banget. Aku aja baca sampe tiga kali. Tapi tetap saja bisa membut diriku meneteskan air mata. Coba di dunia ini ada orang sebaik dan sepintar Fahri, pasti aku langsung daftar untuk jadi calon istrinya. yang paling membuatku terharu adalah saat Aisha mengizinkan Fahri untuk menikahi Maria. Lapang sekali hati Aisha. Pasti dia calon penghuni syurga.

  29. Ray Raihana says:

    TUL…
    Judulnya harusnya diganti jadi Ayat-Ayat Mimpi aja
    engga realistis banget, engga mencerahkan
    untungnya ini buku saya dapat sebagai hadiah ultah dari teman
    harga buku sekarang mahal euy..
    harus pinter-pinter milihnya

  30. dewapur says:

    hahahaha…..
    salam, sori kalo ketawa duluan… setelah baca sekian banyak comment kok tiba2 langsung ndrenges ketawa:mrgreen:

    kurasa bagus tidaknya sebuah buku tergantung sama kebutuhan jiwa sang pembaca. Ada seorang kawan yang gemar banget sama kisahnya Mahesa Jenar dalam buku Naga Sasra Sabuk Inten karya Mbah SH Mintardja. Seringkali mengambil rujukan dari cerita itu untuk mengomentari suatu hal. Nah kalo ada sebagian pembaca A2C yang tidak terkesan sebagai pembangun jiwa dan ada yang terkesan yah karena kebutuhan jiwanya berbeda.

    Lha aku sendiri berkali-kali dihadapkan sama buku La Tahzan tetep tidak bergeming untuk membacanya… hehehe mungkin karena ga lagi bersedih….(hmm ini sedikit menakutkan, semoga memang ga perlu bersedih)

  31. saya lebih tertantang membaca karya-karya yang akan mengguncang keimanan saya, meskipun saya tahu ini akan sangat berbahaya. bukan justru karya-karya yang terlalu lurus yang akan memenuhi kepuasan batin kebanyakan orang….

  32. darma says:

    saya menonton film AAC, menurut saya pembawaannya bagus, dengan latar belakang Islam yang sangat mendalam (Banyak istilah-istilah dalam bahasa arab yang sangat menyentuh) yang tidak dapat di pungkiri sebagian besar warga indonesia adalah beragama Islam.

    Tapi tipe-tipe cerita AAC seperti sinetron indonesia pada umumnya, menceritakan seseorang yang sangat ‘perfect’ dengan segala sesuatunya, lalu direbutkan oleh banyak orang (dalam hal ini dikejar-kejar oleh 4 wanita) dan segera dijatuhkan oleh orang-orang yang di’tolak’nya tiba-tiba bekerja sama dengan orang yang dari awalnya memang sudah menjadi antagonis. Dilanjutkan dengan cerita ‘happy ending’ tipe sinetron lagi. sungguh basi!!

  33. diku says:

    saya baca AAC 2 tahun lalu, hadiah ultah. langsung selesai dalam beberapa jam (penasaran), dan terkesaaan sekali. walaupun, buat saya, ceritanya too good to be true. tapi okelah sebagai oase di tengah serangan teenlit, chiclit, dan novel2 yang ngga jelas. pembangun jiwa? tergantung kita memaknainya. kalau saya sih, lebih suka laskar pelangi & the alchemist, untuk disebut pembangun jiwa.

  34. mia says:

    PERFECT! Couldnt agree more!

    Anda mengungkapkan dengan sempurna apa yang selama ini cuma mampu berenang-renang di kepala saya. hehehe. Saya tidak bermaksud mengabaikan niat baik sang penulis untuk berdakwah dengan menghadirkan tokoh yang ditampakkan sebagai muslim ideal, tapi tentunya sesuatu yang sekadar imajinasi yang tidak mempertimbangkan realita-realita dalam kehidupan nyata, baik itu realita sosial maupun realita diri, tidak mampu memberi pencerahan apa-apa.

    In the end, perempuan-perempuan (maaf) macam mbak ika di atas (yang bacanya ampe tiga kali) harus menanggung derita khayalan tersebut (macam cinderella syndrom). Last but not least, apakah muslim yang ideal itu semata-mata muslim yang macam sosok Fahri? DONT THINK SO! Kalau perempuan-perempuan lain mengatkan iya, selamat patah hatilah …. huehehehehe!

  35. cahaya hati says:

    waduh saya seneng sekali,, karena akhirnya ada juga yang mempunyai pemikiran yang sama seperti apa yang ada di otak saya,, setelah baca novel ini saya malah jadi gak PD. soalnya sebagai perempuan saya merasa dianggap lemah. dan perempuan – perempuan yang menyukai Fahri seperti tidak mengenal “ikhlas”

  36. aku g tau ya, aku suka awal novelnya tp gak suka lg begitu sampai di tengah sampai akhir. dan bagiku pribadi tidak ada yang benar dari poligami. bagiku selalu ada jalan lain.

  37. adjipamungkas says:

    bagiku pribadi tidak ada yang benar dari poligami. bagiku selalu ada jalan lain.Comment by sesy โ€” Monday, March 24, 2008 @ 16:20 yah….silahkan …gak suka ..gak suka ..toh fenomena poligamy tetap ada …:cry:…hehehe…kalo gak suka yah gak usah di poligamy…tapi kalo di uji Allah..dengan jalan poligamy gimana mbak..(misalnya suatu ketika mba bertemu dengan pria yang sangat ideal..sesuai dengan keinginan serta kriteria….dan akhirnya menikah..”bahagia”..lambat laun tiba tiba suami mbak belajar agama…dan berubah derastis ..menjadi sangat alim beiringan dengan dengan meningkatnya status ekonominya …tiba ..tiba ia berkeinginan menikah lagi dengan sorang wanita muallaf penampilannya sangat “muslimah”yang kebetulan …sebatangkara yatim piatu..masih muda..cantik lagi:oops:..disisi lain mba ternyata sedang di uji oleh Nya terkena penyakit yang menyebabkan mba..gak bisa melahirkan keturunan…hayooo…:roll:..pilih mana a.sakit hati…b.makan hatiii…c.stress ..uring uringan …akhirnya bercerai d.berusaha menerima dan menjadikannya lahan untuk berbakti pada Allah melalui ridha suami..menikah lagi….(basic of the true story):lol:

  38. chunmink says:

    kenapa yah.. tokoh wanitanya cantik cantik semua..

    padahal Allah menciptakan makhluknya itu banyak bentuk dan masing masing mempunyai “kelebihan dan kekurangan masing-masing” ..

    jangan sampai yang cantik cuman “CASING” nya saja dan bukan jiwa nya… dan yang lebih penting.. apakah sudah mengenal misi hidupnya…

    jangan sampai yang cantik cuman “LAHIRIAH” tapi tidak lebih dari “binatang ternak” yang tidak mempergunakan pendengaran, penglihatan dan qalb….

    Hanya Allah yang tahu…

  39. temannya mas aji says:

    salam mink…namanya juga ayat obsesi yah…itu obsesi ..sekalian indah dan bahagia…
    ada niat poligamy…??

  40. purnomo says:

    saya udah baca alchemist,siddharta (berdasar referensi dari mas herry di tulisan ini,makasih mas),dan aac.
    Saya koq melihat ketiganya ada benang merahnya menurut saya.
    yang bisa saya tangkap adalah bahwa kalau seseorang teguh memegang apa yang diyakininya,apakah dia santiago,sidharta,atau fahri,maka pasti akan diperoleh apa yang ditujunya tersebut.
    Sebenarnya saya gak heran,dalam beberapa tulisan di media, yang disoroti mengenai tokoh novel aac, adalah keberuntungan fahri ( sang tokoh), yang menjadi kaya raya dan mendapatkan cinta dari bbrp wanita cantik( bahkan sempat poligami).Bahkan poligami yang lebih sering disorot.
    Padahal kalau saya baca novelnya, sebagian besarnya malah menceritakan bagaimana perjuangan fahri dalam menegakkan keyakinan akan agamanya di dalam dirinya sendiri
    sementara kisah cintanya sebenarnya malah tidak terlalu banyak di ceritakan dalam novel tersebut ( menurut saya sich)

  41. adjipamungkas says:

    salam…
    man ..(temannya mas aji)..sampiyan..punya cita..cita poligamy..nyelesaiin sekolah dulu… kerja dulu ..cari..istri dulu..nikah dulu..rasain dulu…punya satu…jangan serakah…nanti nggak kuat…nggak adil…sampiyan jadi kualat…
    hayooo..tobat..man..tobat…:mrgreen:

  42. adjipamungkas says:

    sementara kisah cintanya sebenarnya malah tidak terlalu banyak di ceritakan dalam novel tersebut ( menurut saya sich)
    Comment by purnomo โ€” Tuesday, April 1, 2008 @ 17:07

    nah..itu masalahnya….cerita cintanya terkesan..dikemas ala sinetron….ayat..ayatnya jadi gak jelas..:roll:

    mengenai fachri..yah standarlah…figur idaman yang ideal di cerita..cerita novel…
    saya malah terkesan dengan filem “devil advocat” atau animasi beowulf(bener gak sih tulisannya” terkesan nyuluk gitchu..loch..
    isinya tentang insan yang terpedaya oleh godaan syetan๐Ÿ˜ˆ karena di dak mampu mengendalikan hawa dan nafsu…:lol:
    top dech

  43. gurandille says:

    Ass wrwb
    Mas Herry salam kenal ya..
    jazakumulloh, baru ketemu nich blog yang dikelola orang sekaliber anda. Jarang lho.! Setelah baca tulisan anda dan komentar disini, hehehe jadi ga tertarik beli bukunya, lha wong udah jelas gini lho.
    eh mas Her, gimana resensi anda tentang filem Matrix ? atau mungkin anda sudah bikin resensinya, dimana ? ga tau nich saya koq merasa tertarik dan seneng dg filem tersebut, saya ngeliat sarat dengan nilai tasawuf (utamanya tentang Jiwa manusia dan perjuanganya), atau mungkin saya salah kacamata ?
    tengkiu sebelum dan sesudahnya
    salam buat mas Herry dkk serta keluarga mas
    Wass.:lol: wrwb
    Adjiesoewoeng:lol:

  44. Denny Putra says:

    Iyah mas… saya juga jarang baca novel tetapi sejak saya di kenalkan dengan novel The Alchemistโ€™-nya Paulo Coelho saya begitu suka. Tapi saya sama sekali gak tertarik membaca AAC bahkan Filmnya walaupun semua orang berkata bahwa itu Film Bagus…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s