Hadits Lengkap Pelarangan Poligami Sahabat Ali ra.

BANYAK yang mengira bahwa Rasulullah melarang menantunya, Ali ra yang ketika itu masih beristri putri Rasulullah, Fathimah ra, adalah semata-mata karena alasan kecemburuan atau khawatir putri tercintanya tersakiti.

Kalau kita lihat haditsnya secara lengkap, adalah seperti berikut ini.

“Diriwayatkan dari Miswar bin Makhramah ra : ‘Ali bin Abi Thalib ra. melamar anak perempuan Abu Jahal, sedangkan waktu itu dia adalah suami Fathimah, putri Nabi saw. Sewaktu mendengar lamaran Ali, Fathimah pergi menemui Nabi saw seraya berkata:

‘Sesungguhnya kaummu berbicara bahwa engkau tidak pernah marah karena putri-putrimu. Aku memberitahukan bahwa Ali hendak menikah dengan putri Abu Jahal.’

Berkata Miswar: Kemudian Nabi saw. berdiri. Aku mendengarnya membaca tasyahud, lalu berkata:

Amma ba’du. Sesungguhnya aku menikahkan Abu’l Ash bin Rabi’. Dia berbicara kepadaku dan dia membenarkanku. Dan sesungguhnya, Fathimah binti Muhammad adalah segumpal dagingku. Dan aku benar-benar tidak suka kalau mereka memfitnahnya. Demi Allah, sesungguhnya tidak boleh berkumpul putri Rasulullah dengan putri musuh Allah pada seorang suami selama-lamanya.”

Kemudian Ali ra menggagalkan lamarannya.”

(Shahih Muslim 7 : 142)


Banyak yang menampilkah hadits ini hanya sepotong saja, entah tanpa sengaja atau karena belum tahu, sehingga seakan-akan masalahnya hanyalah sekedar Rasulullah melarang Fathimah dimadu. Padahal jika kita lihat haditsnya secara lengkap, masalah sebenarnya sepertinya jauh lebih dalam dari itu.

Dari hadits ini, jika ditampilkan secara lengkap, sepertinya bisa dilihat bahwa Rasulullah melarang Ali menikah lagi ketika masih beristri Fathimah ra adalah karena Ali hendak melamar putri Abu Jahal, bukan karena semata-mata kecemburuan dan tidak ingin Fathimah, putri beliau, ‘terluka’.

Di riwayat lain, juga diriwayatkan hadits yang senada, walaupun nama imam haditsnya tidak tercantum.

“Sesungguhnya Fathimah adalah darah dagingku dan aku mengkhawatirkan dia akan terganggu agamanya.” Kemudian Beliau menyebutkan salah seorang menantunya dari bani ‘Abdi Syams (yaitu Utsman bin Affan r.a.), dengan memuji perkawinannya dengan anaknya yang dinilainya baik. Lalu Beliau SAW bersabda : “Menantuku kalau berbicara denganku jujur, kalau berjanji denganku, memenuhinya. Sesungguhnya aku tidaklah mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram, akan tetapi, demi Allah, putri Rasulullah tidaklah boleh sama sekali dikumpulkan di satu tempat dengan putri dari musuh Allah selama-lamanya.“(Al-Hadits).

Jadi saya kira pelarangan poligami Rasulullah terhadap Ali ra. ketika masih beristri Fathimah ra. bukanlah sekedar masalah kecemburuan atau sakit hati, melainkan dengan siapa Fathimah ra. hendak dikumpulkan pada seorang suami. Agaknya belum tepat jika potongan hadits ini dijadikan landasan argumen generalisasi bahwa ‘Rasulullah pada dasarnya melarang poligami’.

Apa hikmah poligami? Kenapa Islam tidak menganjurkannya, tapi juga tidak melarangnya?

Saya juga belum tahu. Tapi saya pribadi tidak ingin memandang poligami adalah sebuah hal yang ‘nista’. Sejauh yang bisa saya jadikan landasan sikap saya pribadi, adalah bahwa saya belum mengerti hakikat masalah ini. Tapi tidak akan bersikap di dalam hati seakan-akan ada yang salah di Al-Qur’an dan dalam sikap hidup Rasulullah. Itu artinya jauh di dalam hati saya masih tersimpan keyakinan bahwa ada yang tidak relevan lagi di Al-Qur’an sehingga ada bagian di kitab tersebut yang boleh diedit ulang. Itu mustahil. Al-Qur’an, sebagai kitab suci dari ‘tangan’ Allah ta’ala sendiri, tidak mungkin terbatas relevansi implikasinya dalam bingkai waktu.

Jika melihat sejarah, toh ada para rasul yang berpoligami, dan ada pula yang tidak. Demikian pula para sahabatnya. Demikian pula, Al-Qur’an dan syariat Islam pun tidak dalam posisi mengajurkan atau meng-encourage poligami. Posisinya netral, mubah-mubah saja. Dan di atas semuanya, tentu tidak perlu saya sebutkan lagi bahwa setiap pelaku poligami (dan bahkan monogami pun), semua akan dimintai pertanggungan jawabnya di hadapan Allah ta’ala: atas dasar apa ia mengambil sikap demikian.

Intinya, saya pribadi tidak ingin ‘mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram’, demikian dalam bahasa Rasulullah. Sikap demikian mengundang azab-Nya. Tapi saya juga tidak mencibir kepada Rasulullah maupun para sahabat yang berpoligami. Saya hanya belum mengerti, saya rasa alasan itu cukup di mata Allah sehingga (semoga) dalam rahmat-Nya Dia tidak akan menghakimi saya karena ketidakmengertian saya. Saya tidak ingin menjadi dihakimi-Nya karena jatuh kepada menghakimi orang lain dengan ketidakpahaman, apalagi mengedepankan sebuah kebencian dengan alasan-alasan emosional semata.

Ya Rabb, berilah hamba pemahaman… izinkan hamba menyentuh hakikat segala sesuatu. Engkaulah Rabb, Sang Penjaga, dan Engkaulah Al-‘Ilm Sang Raja pemilik ilmu. Aku hanyalah hamba, yang akan senantiasa butuh untuk meminta pada-Mu. Amiin.

Hadits Lengkap Pelarangan Poligami Sahabat Ali ra.

38 thoughts on “Hadits Lengkap Pelarangan Poligami Sahabat Ali ra.

  1. i217 says:

    A’kum,

    As for the question above, why polygamy is allowed in Islam. If we were to go through previous history, n kalau dilihat pada masa sekarang pun, there are a few men who can’t seem to stay married with one woman, no matter whether they are muslim or non-muslim. Thus, allowing polygamy is just for the sake of their children (with the other woman), so all children to be born with a father. For the non-muslim, although they are not allowed to marry more than one, how many actually have mistress? Even for misyar, there is a good reason behind it. Syurga kepada seorang wanita yang sudah berkahwin bergantung kepada samada suami merestuinya atau tidak. Misyar actually give a chance for the woman to concentrate on their career, without having to juggle career n married life, but I think it will only work if there is no child in the picture. Once you has a child, then the responsibility as a parent comes in. Thus, misyar no longer works.

    This gonna create controversy, right? I hope not, n of course I wouldn’t want my hubby to get married to another lady.

    The purpose of polygamy is to ensure all mankind will be able to trace their ancestors. Agar dapat melihat jalur keturunan dengan terang dan jelas. At the same time to avoid children being born as fatherless. Just imagine the emotional trauma they’ll be facing (to be born without having a father) through out their childhood, just because of their parent’s sin. Al-Quran will always remain relevant till the end of time. May Allah bless us all.

    Salam.

  2. tapi, bang herry…, hadits lengkap ini tiba-tiba membawaku ke pertanyaan baru: kalau alasannya putri Rasul dilarang berkumpul dengan putri Abu Jahal, kenapa putri Abu Jahal kesannya dapat dosa warisan? Apa salah dia? Ditakutkan mewarisi kekufuran ayahnya? Bukannya itu logika pemerintah Orba dalam menghabisi PKI tujuh turunan? Aiaiai, moga2 pertanyaannya tepat.

  3. Kalau boleh saya berpendapat.saya kira Muhammad SAW dalam
    hal ini tidak melarang Ali ra untuk berpoligami tetapi hanya men-
    yampaikan keberatan anaknya atas keinginan menantunya untuk
    berpoligami,dan Ali ra sebagai menantu yang menghormati mertua tentunya akan mendengarkan nasehat tersebut.Wallahualam bissawab.

  4. anonom says:

    Oke nabi poligami, tapi sahabat yang mana yang berpoligami?, maaf saya belulm tahu, kayaknya tidak ada sahabat nabi yang berpoligami. Yang perlu dipermasalahkan bukannya hukumnya (boleh berpoligami) tapi syaratnya jujur. Apakah kita sanggup berbuat seperti rosul. Ingat kita manusia bukan rosul. Kalalu dipikir pakai kepala atas memang tidak akan terjadi poligami tapi kalau dipikir pakai kepala bawah yang bisa terjadi poligami

  5. BINGO!! Makasih untuk bahasannya…😀

    @anonom : Umar berpoligami, begitu juga Abu Bakar.

    @passya : Salah satu istri beluiau tadinya adalah seorang anak Kepala Suku Yahudi yang tertawan, saat itu diberikan pilihan, masuk Islam dan dijadikan Istri Rasulullah, atau tetap menjadi Yahudi dan dijadikan tawanan perang. Istrinya tersebut memilih masuk Islam…:) Jadi, beliau tidak pernah menikahi salah seorang dari ahlul kitab…:) Dan selanjutnya, pernikahannya tersebut membuat malu kepala suku yahudi tersebut…:mrgreen:

  6. Ruby says:

    mas mardian, thanks buar artikelnya, saya jadi banyak tau tentang keislaman. oh yah, boleh ga’ add mas Herry jadi teman di Friendster, kalo boleh kasih alamat emailnya dong !

    Cheers,
    Ruby

  7. rudal91 says:

    Poligami dan Monogami

    Keduaduanya adalah hal yang diajarkan dalam islam. Poligami memang di lakukan (dicontohkan oleh Rosululoh) dan Monogami dilakukan oleh ‘beberapa’ sahabat Rosul, misal Sayidina Ali.

    Memang kadang ‘menarik’ bila ada yg mempermasalahkan dgn berkomentar ” Kamu ngikutin Rosul apa Ali sih ? ” ……( yg ujung2x orang itupun kebelet “nyandung”. – intermezzo-)
    Saya kira komentar demikian bisa dimaklumi lah.

    Saya tidak menentang ajaran Poligami ( duh… mana brani .. bisa -bisa disebut sok tau akan Poligami ) dan saya akan kampanyekan bahwa monogami juga ada contohnya , yakni dari sahabat nabi yang bermusid pada Rosululloh. .

    Ajaran / contoh Poligami dan monogami bukan polaritas tapi singularitas melihatnya .

    Thx
    rudal91

  8. Koreksi: Sahabat Ali ra pun berpoligami, sepeninggal Fathimah ra. Demikian pula Usman r.a.

    Nabi Ibrahim as., Daud as,. Sulaiman as., siapa lagi ya?

    Poligami bukan ‘diajarkan’ dalam Islam, dalam pengertian ‘didorong untuk dilakukan’. Ini kurang tepat: Islam tidak meng-encourage poligami.

    Hanya, Islam tidak memandang poligami sebagai hal yang nista dan salah. Baik poligami maupun monogami, juga menjadi istri pertama atau istri kedua, sama sekali tidak dipandang sebagai halangan yang mengurangi kesolehan dan kesucian seseorang, baik pria maupun wanita, ataupun menurunkan kedudukannya di mata Allah ta’ala. Banyak orang-orang suci di mata-Nya yang poligami maupun monogami. Demikian pula, banyak wanita suci di mata-Nya yang berkedudukan sebagai istri ke sekian dari seorang pria, ataupun sebagai istri tunggal.

  9. @Adrian Syah:

    Pertanyaan bagus🙂 kesannya putri Abu Jahal dapet ‘dosa warisan’ ayahnya ya?

    Sebenarnya, kalau baca sejarah, kemudian terungkap bahwa pihak keluarga Abu Jahal lah (Keluarga besar Ibnu Hisyam, kalau tidak salah) yang ‘mengatur’ pelamaran putrinya untuk Ali ra. Peristiwa ini lebih merupakan trik politik keluarga Abu Jahal.

    Rasulullah, sebagai seorang suci, mengetahui trik ini. Maka Beliau melarang Ali untuk melamar putri Abu Jahal tsb. Jadi bukan karena ‘anak Abu Jahal’, maka putrinya mewarisi dosa ayahnya, bukan begitu.

    Islam tidak mengenal dosa warisan. Hanya, potensi dosa orangtua, yaitu hawa nafsu dan syahwat, bisa terwariskan.

    Tentu beda kualitas jiwa sang anak, jika orangtua ‘membuatnya’ dalam keadaan penuh dosa dan belum bertaubat, diberi makan dari penghasilan yang haram dan sebagainya, jika dibandingkan dengan anak yang ‘dibuat’ orangtuanya dalam keadaan orangtua yang telah suci, telah taubat, dan memberi makan istri dan anaknya hanya dari harta yang halal. Potensi hawa nafsu dan syahwat yang tercipta dalam diri sang anak akan jauh berbeda, meskipun peristiwa ‘pembuatan’ anaknya tentu melibatkan hawa nafsu dan syahwat😀

    Ada hawa nafsu dan syahwat yang sudah terahmati, ada yang belum.

    Sebenarnya pertanyaan yang tepat bukanlah ‘adakah dosa warisan orang tua kepada anak’, tapi ‘pada kondisi spiritual seperti apakah sang anak ‘dibuat’, dan seberapa halal makanan yang diberikan kepadanya.

  10. Yosep says:

    Asalamualaikum,
    K Herry, bagus sekali artikelnya🙂 Tentang Poli maupun monogami, semua sudah dicontohkan Rasulullah SAW. Ketika beristri Khadijah ra. beliau bermonogami, setelah itu beliau berpoligami, artinya baik poligami maupun monogami memang dicontohkan🙂

    Soal hukum poligami, menurut saya mending kembalikan saja ke hukum asal NIKAH: WAJIB, MUBAH, dan HARAM. Wajib jika sudah mampu (batiniah maupun lahiriah, ada landasannya semisal petunjuk) dan ingin😀. Mubah sebagai hukum asal pernikahan. Haram jika landasan pernikahan tidak sesuai syariat, misal karena ingin menyakiti istri. [Maaf kalau kurang tepat, keterangan ini saya kutip dari buku pelajaran Agama Islam SMU :D]

    Demikian pula poligami, kalau memang sudah mampu dan ingin, kenapa tidak? Kalau hanya sekadar ingin menyalurkan syahwat terpendam, syukuri dulu istri yang satu, karena biasanya kalau sudah urusan syahwat dikedepankan, petunjuk Allah dikesampingkan.

  11. guest says:

    head above…
    head below…

    ….sometimes man confuse which to follow😉

    (imho, just follow the one in the middle)

  12. fatimah says:

    tulisan Anda sangat bijaksana. Sementara menurut saya, poligami memang layaknya mimpi buruk bagi perempuan namun jika dikaji dan diselami lebih luas, justeru adalah madu yang dianugerahkan Allah Ta’ala atas perempuan. Penuh manisan dan mensucikan.🙂

  13. dondick says:

    artikel ini bagus mas herry. dan comment yang paling menggelitik adalah comment yang hubnugannya dengan dosa warisan.

    tapi mas herry udah menjawab dengan baik pula; tampaknya inilah keterbatasan manusia yah mas… kadang kita suka lupa dan terlalu mengikuti logika pikiran tapi malah membuat diri kita selalu dalam kebingungan. Namun tulisan selanjutnya “Waham ‘Kesolehan’, Waham ‘Kekasih Allah’, Waham ‘Pembimbing Spiritual’” mungkin sudah agak lebih menjelaskan buat kami, siapa mereka (para suci) yang menjadi poin penting tulisan mas Herry.

  14. Tulisan yang bagus mas, saya baru tau ttg hal ini😉

    menyambung ttg dosa warisan atau keturunan, kasihan juga ya orang2 yang dilahirkan dari keluarga kafir atau jahat atau bejat dll. Potensi untuk jadi baiknya sedikit, beda dengan anak dari orang bener, potensi baiknya jadi besar:mrgreen: tentu ada beberapa pengecualian seperti anak nabi Nuh yang kafir.

    Tapi mungkin yang lebih penting adalah seberapa besar usaha, bukan sampai dimana seseorang, karena kalau gitu jadi gak adil donk Tuhan karena tiap2 orang start dari tempat yang berbeda, gitu? :?::?:

  15. abdurrachman huda says:

    Hadis ini perlu dikritisi.
    – Rosul Muhammad saw polygami karena apa
    – saya ragu kwalitas Ali ra kok diriwayatkan cuma segitu

  16. Aji Jatmika A says:

    Kalau belum banyak belajar ayat-ayat Al-Quran dan tafsirnya, hadits-hadits Nabi dan penjelasannya, kia kok banyak komentar tentang syariat Allah ini ya?😕

  17. Saleh Aziz says:

    Poligami atas nama agama, membunuh juga atas nama agama. Terorisme atas nama agama. Kenapa menjadi begini?

    Waktu jaman Majapahit, orang Jawa (Gajah Mada, dll) membuat nusantara
    makmur dan jaya. Orang jawa berkebudayaan tinggi, kreatif dan toleran.
    Setelah Islam masuk di Jawa, negara kita hancur korban dari penajahan
    Belanda, Jepang, dsb. Korban dari korupsi, kekerasan/teror, malapetaka. Dan korban dari imperialisme Arab (Indonesia menjadi pemasok turis calon haji yang terbesar di dunia). Orang-orang Arab ini memang hebat telah berhasil menemukan cara untuk memasukkan devisa.

    Bagaimana caranya supaya orang Jawa kembali bisa memakmurkan negara kita yang tercinta ini?

  18. zal says:

    @Saleh Aziz Menurut Rasulullah Muhammad SAW, Agama itu akhlaq yg baik, jika buah akhlaq perbuatan tidak baik, maka akan gugur sendiri, jika mengatas namakanpun perlu persetujuan yang punya misalnya surat kuasa, jika tidak disetujui ya… bayar sendiri…masalah pelakunya, he..he…no comment:lol:
    orang beragama untuk kebutuhan diri sendiri, jika berhasil dalam agama yang untung diri sendiri, bermajelispun untuk menambah pengetahuan diri sendiri.
    Masalah cocok engga cocok, engga usah dirisaukan, seperti pakaian silahkan dicoba, diamati, dinikmati ngerasa enak beli, pakai tampilkan pada tempat dan waktunya, engga cocok…???…hmmmmm😉

  19. Zorion Annas says:

    PERLAKUAN KASAR DIBENARKAN OLEH AL-QUR’AN

    Kang Sufehmi, bacalah kutipan surah an-Nisa ayat 34: “…Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka…”

    Ini jelas sekali bahwa, di lingkungan muslim, wanita adalah korban dari kekerasan fisik, penghinaan, pelecehan seksual. Semuanya itu dihalalkan oleh Al-Qur’an.

  20. Herry says:

    Info aja.

    Zorion Annas, a.k.a B. Ali, a.k.a sejati, a.k.a nurani, also known as Saleh Aziz. Orangnya hobi sekali ‘teriak-teriak’ kampanye negatif tentang Islam, lalu kopi-paste komentarnya di mana-mana.🙂 Bukan cuma masalah poligami aja: Islam tidak manusiawi, tidak adil, dan sebagainya. A pure troll against Islam and Muslim as a whole, bahkan kepada semua agama samawi.

    hatinurani21 alias Zorion Annas, B. Ali, sejati, nurani, Ridwan Azari, Ramli Rais dan Saleh Aziz. Juga resist dan zulkifli bin taha (zbtaha).

    Google aja namanya. IP nya saya simpen, juga yang ini, kalo-kalo ada yang butuh.

  21. hatinurani21 says:

    Di Forum Religiositas Agama, saya menemukan artikel yang menarik sekali.

    MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN?

    Pengantar

    Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa (MJ). Sayang sekali s/d saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan Kebudayaan Jawa (KJ) dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak2 yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari timur tengah/Arab). Mochtar Lubis dalam bukunya: Manusia Indonesia Baru, juga mengkritisi watak2 negatip manusia Jawa seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai).
    Kemunduran kebudayaan Jawa tidak lepas dari dosa regim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (Arab). Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. (mohon dibaca artikel yang lain dulu, sebaiknya sesuai no. urut)

    Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terusmenerus mengalami penjajahan, misalnya penjajahan oleh:
    – Bs. Belanda selama 300 tahunan
    – Bs. Jepang selama hampir 3 tahunan
    – Regim Soeharto/ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng).
    – Negara Adidaya/perusahaan multi nasioanal selama ORBA s/d saat ini.
    – Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak hati2, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka Timur Tengah/Arab Saudi (melalui kendaraan utama politisasi agama).

    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.
    Gerilya Kebudayaan
    Negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nylamur-tak kentara, orang awam pasti sulit mencernanya! Berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:
    – Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatip sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang Timur Tengah.
    – Artis2 film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’oon politik ini, bagaikan di masukan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
    – Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalam…dan wassalam…. Dulu kita bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dsb.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah2 asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha, dst. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bhs. Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik dan licik.
    – Kebaya, modolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama2 Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab2an dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending2 Jawa yang indah, gending2 dolanan anak2 yang bagus semisal: jamuran, cublak2 suweng, soyang2, dst., sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum syariah Islam terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berjilbab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan2 ibadah dan sekolah non Islam.
    – Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh madrasah2/pesantren2. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka lenyap.
    – Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente/riba; istilah ke Arab2an pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat bank syariah.
    – Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri (eselon 1 s/d 3) dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berjilbab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk arabisasi pakaian dinas di kantor masing2.
    – Di hampir pelosok P. Jawa kita dapat menyaksikan bangunan2 masjid yang megah, dana pembangunan dari Arab luar biasa besarnya. Bahkan organisasi preman bentukan militer di jaman ORBA, yaitu Pemuda Pancasila, pun mendapatkan grojogan dana dari Timur Tengah untuk membangun pesantren2 di Kalimantan, luar biasa!
    – Fatwa MUI pada bulan Agustus 2005 tentang larangan2 yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek keputusan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai
    – Dimasa lalu, banyak orang cerdas mengatakan bahwa Wali Songo adalah bagaikan MUI sekarang ini, dakwah mereka penuh gerilya kebudayaan dan politik. Manusia Majapahit digerilya, sehingga terdesak ke Bromo (suku Tengger) dan pulau Bali. Mengingat negara baru memerangi KKN, mestinya fatwa MUI adalah tentang KKN (yang relevan), misal pejabat tinggi negara yang PNS yang mempunyai tabungan diatas 3 milyar rupiah diharuskan mengembalikan uang haram itu (sebab hasil KKN), namun karena memang ditujukan untuk membelokan pemberantasan KKN, yang terjadi justru sebaliknya, fatwanya justru yang aneh2 dan merusak keharmonisan kebhinekaan Indonesia!
    – Buku2 yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur dan membabi buta ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Timur Tengah ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus selalu siap dan waspada dalam memilih buku yang ingin dibacanya.
    – Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakater (character assasination) budaya Jawa dan meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang amat sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah sangat asing!
    – Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum Syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati/menjaili kaum wanita dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdlatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).

    – Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan/perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing2! Sementara itu aliran setingkat Kejawen yang disebut Kong Hu Chu yang berasal dari RRC justru disyahkan keberadaannya. Sungguh sangat sadis para gerilyawan kebudayaan ini!
    – Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo, lakune koyo macan luwe) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Basyir) mendirikan pesantren Ngruki untuk mencuci otak anak2 muda. Akhir2 ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan baiat. Banyak intelektual muda kita di universitas2 yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah/pesantren di Indonesia yang dijadikan tempat2 cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas SDM bgs. Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya madrasah dan pesantren2. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!

    – Sejarah membuktikan bagaimana kerajaan Majapahit, yang luarbiasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gn. Bromo (suku Tengger) dan P. Bali (suku Bali). Mereka tetap menjaga kepercayaannya yaitu Hindu. Peranan wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar sekali! Semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!
    Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa
    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:
    – Orang2 hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih tertinggal) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.
    – Orang Barat mempedayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = k.l Rp. 10000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di L.N menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dikibulin dan dinina bobokan untuk menjadi negara peng export dan sekaligus pengimport terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang maha luar biasa.
    – Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dst. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
    – Orang Timur Tengah/Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita diatas; disamping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Asahari, Abu Bakar Baasyir dan Habib Riziq (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!
    – Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke S’pore, Thailand, Pilipina, dst.). Konyol bukan?
    – Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dst., yang tidak masuk akal!
    – Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut2an saja. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.
    – Sampai dengan saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimensi), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama2 mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.

    Penutup

    Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini (2007) adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama.

    Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.

  22. wahyu says:

    untuk hatinurani21:

    Sebenarnya manusia Jawa itu yang mana? Terus kebudayaan Jawa yang sebenarnya itu seperti apa? Kalau yang dimaksud itu orang-orang Jawa yang berkebudayaan Hindu-Budha, barangkali anda tidak memahami perjalanan dan sejarah perkembangan suatu bangsa. Atau apakah paham ataupun pemikiran2 ke-jawa-an yang kemudian dikenal dengan kejawen itu bisa dijamin sebagai produk asli Jawa?

    Sebaiknya kalau memang ingin memajukan budaya suatu bangsa adalah memulainya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kejatidirian bangsa ini dulu sebelum merasa memiliki kebanggaan atau kelebihan dari bangsa lain lalu setelah itu menyalah-nyalahkan orang atau bangsa lain. Bangsa ini butuh orang-orang yang berkarya, bukan cuma kritik dan provokasi saja.

    Kebenaran atau kesejatian itu adalah semata-mata hanyalah kebenaran, entah dari mana pun itu berasal. Apakah seorang manusia itu mampu mengejewantahkan kesejatiannya atau melahirkan suatu karya yang agung tanpa dia melakukan interaksi dengan orang lain? Kalau demikian saya khawatir yang anda manusia Jawa itu saat ini kebudayaannya akan masih seperti jaman Pithecantropus Erectus yang ada di Sangiran itu.

    Kebudayaan dan peradaban terus berkembang. Bahwa kemudian muncul kebudayaan tinggi di suatu bangsa yang diakui oleh bangsa-bangsa lain, itu adalah suatu proses yang panjang hasil kerja keras dari bangsa itu sendiri dengan pengaruh dan bahkan tantangan-tantangan dari budaya atau peradaban bangsa lain.

    Bahwa beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama saya setuju sekali, karena agama bukan sekedar budaya dari suatu bangsa (nggak tau ya kalau ada yang agamanya seperti suatu budaya saja). Bijaksana dan kritis dalam beragama tentu sangat diperlukan, tapi saya masih belum paham dengan cerdik dalam beragama spt yang anda maksud. Jangan-jangan agama yang anda maksud hanya sebuah alat saja untuk menyalurkan keinginan-keinginan orang tertentu saja.

  23. Perhatian:

    setelah dicek sumber-sumbernya, hatinurani21 yang menulis komen di atas adalah orang yang sama dengan Zorion Annas, B. Ali, sejati, nurani, Ridwan Azari, Ramli Rais dan Saleh Aziz. Juga resist dan zulkifli bin taha (zbtaha).

    gak usah ditanggapi lah komen dan tulisan ngawurnya.

  24. Haha… si Zorion Annas ternyata nongol disini juga tho 😀

    Gak usah pusing, hapus saja mas. Di blog saya kerjaannya cuma bikin keributan — gara2 komentar dia yang ngawur (dan RASIS!) jadi banyak yang naik darah dan emosi.

    Lha nambah kerjaan yang gak ada gunanya, memangnya saya pengangguran? Akhirnya saya hapus saja komentar-komentarnya.

    btw; well done untuk risetnya terhadap hadits ini, terimakasih. Mudah-mudahan makin banyak umat Islam yang mau kritis dan mencari tahu lebih banyak mengenai agamanya sendiri …. 🙂

  25. iya tuh. komennya semua ngawur, rasis, tendensius.. kalau saya muat semua bisa ribut blog ini… ada masalah rasulullah yang pedophil, agama langit agama ngawur, sukuisme, dan lain-lain…

    yah muat sekedar supaya blogger lain tau dan ngerti permasalahan saja…

    Makasih mas sufehmi🙂

  26. Rekan, kawan dan sahabat silakan baca buku yang agak tebal judulnya Al Bidayah Wa Nihayah…disana jelas sekali sejarah para sahabat Nabi yang utama (4 khalifah) dan lihat dengan teliti bahwa beliau-beliau dari Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali radhiallahu anhu….semua berisitri lebih dari satu.

  27. ilham d sannang says:

    Herry adalah teman dan sahabat saya.
    saya memiliki banyak kesamaan pendapat dengan Herry, kecuali dalam tulisan ini.

    [Herry]: “Rasulullah melarang Ali menikah lagi ketika masih beristri Fathimah ra adalah karena Ali hendak melamar putri Abu Jahal, bukan karena semata-mata kecemburuan dan tidak ingin Fathimah, putri beliau, ‘terluka’. ”

    Bagaimana kalau ini kita konfrontasikan dengan Nabi sendiri, yang mengawini Ummu Habibah puteri Abu Sufyan?
    Kita tahu bahwa Abu Sufyan adalah sekutu Abu Jahal, yakni sama-sama tokoh Quraisy yang memerangi Nabi.

    Nabi menikahi Ummu Habibah binti Sufyan, ketika Umm Habibah berhijrah ke Ethiopia. wali nikah mereka adalah Negus, Raja Ethiopia. Jadi, ketika Nabi menikahi putri Abu Sufyan ini, Nabi masih dalam suasana permusuhan dengan Abu Sufyan. Jadi, ini justru mementahkan argumen Herry di atas, bahwa alasan larangan Fatimah dipoligami adalah karena yang ingin dinikahi adalah putri Abu Jahal. Padahal, Nabi sendiri menikahi puteri seorang musuh Allah.

    Lalu, bagaimana dong penjelasannya?
    Sejauh ini, penjelasan yang paling memuaskan saya adalah, suatu informasi yang pernah saya baca di suatu buku, yakni bahwa poligami itu hanya dibolehkan jika si istri pertama berasal dari kaum yang biasa melakukan poligami, sehingga tidak dikuatirkan sakit hatinya. Jika poligami sudah merupakan praktik umum di suatu budaya masyarakat tertentu dari mana si istri pertama berasal, maka si suami boleh melakukannya.

    namun, jika si istri berasal dari budaya yang tidak berpoligami, maka sebaiknya suami yang arif tidak melakukannya.
    saya pikir, Khadijah dan Fatimah adalah wanita yang teramat sensitif, sehingga tidak pernah dipoligami. Menjadi kewajiban suami untuk melindungi perasaan sensitif istrinya ini. Berbeda dengan Aisyah, dan istri2 lain nabi. walaupun mereka semua “terluka” karena dipoligami (dan sering terjadi perselisihan juga antar istri2 nabi), namun “daya tahan” mereka rupanya lebih baik, sehingga dipoligami juga.

    ada juga yang menyatakan bahwa, kualitas Khadijah sedemikian istimewanya, sehingga Nabi tidak memerlukan istri yang lain lagi. sepeninggal Khadijah, tiada yang dapat menggantikannya, sehingga satu istri pun tidak cukup.

    Allahu a’lam.

  28. Solihin says:

    Assalaamu’alaikum.

    Saya sangat setuju dengan poligami.

    Saya mempunyai seorang teman yang sudah mempunyai seorang istri + 2 anak. Dia mau tidur seranjang dengan gadis yang berumur 9 tahun. Gadis ini adalah anak dari seorang teman akrabnya. Teman saya ini mau mencontohi Nabi Muhammad SAW.

    Teman saya ini mengetahui bahwa gadis tsb bukan milik ayahnya, melainkan milik Alloh.

    Pertanyaan saya: Berhakkah si Ayah menolak permintaan teman saya ini? Apakah si ayah akan masuk neraka karena menolak ajaran Nabi Muhammad SAW?

    Terima kasih atas pertolongannya untuk menjawab pertanyaan ini.

  29. nurdin m top says:

    jangan ..jangan solihin ini konconya atau hasil mutasi dari hatinurani21 yang menulis komen di atas adalah orang yang sama dengan Zorion Annas, B. Ali, sejati, nurani, Ridwan Azari, Ramli Rais dan Saleh Aziz.
    gak usah ditanggapi lah komen dan tulisan ngawurnya.

  30. nurdin m top says:

    jangan jangan solihin sama atau mutasi dari konchatinurani21 yang menulis komen di atas adalah orang yang sama dengan Zorion Annas, B. Ali, sejati, nurani, Ridwan Azari, Ramli Rais dan Saleh Aziz.
    gak usah ditanggapi lah komen dan tulisan ngawurnya.
    👿

Comments are closed.