Waham ‘Kesolehan’, Waham ‘Kekasih Allah’, Waham ‘Pembimbing Spiritual’

Oleh Herry Mardian,
(tulisan ini merupakan posting ulang)

guru

MARI sedikit merenung.

Umumnya dari kita mencari jalan menuju Tuhan dengan membawa kriteria kita sendiri. Seorang mursyid haruslah berwajah cerah, berseri, tampak simpatik, dan sebagainya. Kita membawa waham kita sendiri dalam mencari pembimbing. Mungkin penampilannya berjubah dan berjanggut, atau apapun lah, yang biasa kita asosiasikan dengan penampilan seorang ’soleh’.

Sahabat, jika sekarang, misalkan di pasar dekat rumah kita, ada seorang yang penuh penyakit kulit. Penampilannya menjijikkan. Kemana-mana dirubungi lalat dan belatung. Ia tinggal di gubuk sebagai seorang gelandangan. Jika ia mengatakan bahwa ia membawa risalah Allah, maukah kita mengikutinya? Mungkin tidak, karena penampilannya sangat jauh dari ’soleh’.

Jika tetangga kita sekarang, di RT sebelah misalkan, seorang yang dikucilkan oleh masyarakat. Di atap rumahnya membangun perahu, dan setiap hari kerjanya berteriak-teriak bahwa 6 bulan lagi akan banjir. Setiap hari ia menjadi bahan ejekan masyarakat dan tetangga anda. Akankah kita mengikutinya? Atau ikut menertawakan?

Jika di negara kita ada seorang panglima berusia 20-an tahun, yang mengatakan bahwa dia membawa perintah Tuhan untuk menyebarkan risalahnya, sementara dia senantiasa memimpin pasukannya ke negara tetangga dengan membantai, menyiksa, atau mengampuni dan memaafkan, benar-benar sesuka hatinya. Akankah kita mengikutinya?

Seorang tua yang hidup di tepian padang gersang, menggembala kambing-kambingnya. Setiap hari hanyalah beternak, dan menimba sumur untuk ternaknya. Hidup di gubuk, jauh dari kota. Miskin, tua renta. Tidak punya apapun yang bisa ditawarkan. Jika ia mengatakan bahwa ia bisa membimbing anda menuju Allah, apakah anda mau menjadi muridnya?

Seorang anak muda pendiam, bergaul seperlunya saja, tidak suka ‘kumpul-kumpul’. Kerjanya merenung. Alim, tapi pendiam. Sering pergi memencilkan diri ke pinggir kota. Anak muda itu secara sensasional tiba-tiba menikahi janda tua yang sangat cantik dan kaya, dan ia pun mendadak menjadi kaya raya pula karenanya. Lalu ia mengatakan bahwa ia telah bertemu malaikat, dan mengatakan bahwa anda harus mengikutinya agar selamat. Ikutkah anda?

Seorang berpenampilan gelandangan, pakaiannya lusuh dan kotor. Pekerjaannya tak jelas. Sering terlihat di pasar. Hanya kadang ia membantu membersihkan mesjid supaya boleh tidur di dalamnya. Maukah anda mengangkatnya sebagai pembimbing spiritual?

Seorang muda tampan, berpenampilan soleh, bersih dan alim, sangat ukhrawi, miskinnya luar biasa, hartanya hanya cangkir dan pakaian yang melekat di tubuhnya. Tapi ia amat sangat dekat dengan seorang pelacur dan selalu membelanya mati-matian dari cemoohan masyarakat. Percayakah anda padanya, jika dia mengatakan bahwa ia adalah seorang nabi?

*******

Tahukah anda, bahwa kakek berpenyakit kulit, bau dan penuh belatung yang hidup di pinggir pasar tadi seperti Nabi Ayyub as pada zamannya? Tetangga yang membangun perahu di atap rumahnya, ditertawakan dan dibodoh-bodohi masyarakat, posisinya adalah seperti Nuh as pada zamannya dahulu.

Panglima 20-an tahun yang sesuka hatinya membantai atau menyiksa, juga mengampuni dan memaafkan, adalah Iskandar Zulqarnayn, seorang yang menyebarkan kebenaran di sepanjang asia, timur tengah hingga eropa. Ia dibebaskan Allah untuk menyiksa ataupun mengampuni sesukanya, sebagaimana diabadikan dalam QS 18:86,

“..Hai Dzulqarnayn, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.”

Orang tua miskin di gurun adalah Syu’aib as, mursyid dari salah satu nabi terbesar, Musa as, nabi agama Yahudi, Nasrani, dan Islam. Anak muda antisosial, yang pendiam dan kaya mendadak karena menikahi janda tua yang kaya kemudian mengaku bertemu malaikat, adalah Rasulullah SAW, mursyid agung tertinggi yang pernah ada. Gelandangan bau dan kotor, yang hanya membawa-bawa seruling dan ‘nongkrong’ di pasar, adalah Shamsuddin Tabriz, mursyid dari wali besar Jalaluddin Rumi. Anak muda soleh dan tampan, sangat ukhrawi yang dekat dengan seorang pelacur adalah Nabi Isa as, dan pelacur itu adalah Maria Magdalena.

Coba posisikan diri kita sebagai masyarakat yang ada pada zaman mereka. Mampukah kita melihat kebenaran yang mereka bawa? Percayakah kita, jika kita hidup di zaman itu, bahwa mereka adalah para kekasih Allah, yang bisa menunjukkan pada kita ruas jalan taubat? Akankah kita mengikuti mereka?

Siapakah kita, yang berani menentukan kriteria kekasih Allah? Dia berhak menyukai siapa saja, sesuka-Nya. Mengatur para kekasihNya berpenampilan seperti kehendakNya. Kenapa kita berani mengatur, apalagi dengan standar yang kita buat sendiri, bahwa seorang kekasih Allah pastilah berseri-seri, ramah, selalu tersenyum? Berjubah, atau berjanggut? Pasti hidupnya berhasil secara duniawi maupun ukhrawi? Alangkah sombongnya kita.

Kita sendirilah yang menciptakan penghalang, filter yang kita ‘bikin-bikin’, sehingga justru menutup kita dari jalan kebenaran. Kita menciptakan ‘waham kesolehan’ sendiri. Waham, ilusi, yang justru dapat menjauhkan kita dari gerbang-Nya. Kita telah tertipu oleh ’standar jaminan mutu kesolehan’ yang dibangun dunia ini.

Belum tentu seorang yang mampu menuntun kita menuju Allah, sesuai dengan kriteria yang kita buat sendiri. Belum tentu. Memang ada para kekasihnya yang berpenampilan seperti yang kita golongkan sebagai ‘yang baik-baik’, tapi ada pula yang sama sekali tidak demikian. Mereka disamarkan-Nya (tasyrif) karena dilindungi Allah. Dilindungi dari para peminta berkah, dari orang-orang yang sedikit sedikit meminta tolong dan bantuan, minta dagangannya laku, minta didoakan supaya dapat jodoh, minta sakitnya disembuhkan, diobati saudaranya yang kesurupan, konsultasi posisi politik, dan segala permintaan tetek bengek lain yang sifatnya ‘menghilangkan derita’ saja, bukan minta dibimbing menuju Allah. Bukan minta diajarkan bertaubat.

Jika semua dibuka dengan mudahnya, bayangkan berapa orang yang datang mengantri setiap saat dengan tujuan tak jelas? Tanpa biaya pula.

Allah pun, dari 99 namanya, terbagi menjadi dua jenis. Yang ‘Jamal’, yang ‘ramah’, yang indah, yang enak kedengarannya. Contohnya adalah Maha Penyayang, Maha pengampun, Maha sabar, dan semacamnya. Tapi Dia juga memiliki nama-nama yang ‘jalal’, yang ‘agung’, yang keras, yang ‘menyeramkan’ dalam sudut pandang kita, seperti Maha Pedih Siksanya, Yang Maha Membalas, Yang Maha Keras, Yang Maha Mengalahkan, Yang Maha Menghinakan, Yang Maha Memaksa, dan sebagainya.

Setiap makhluk membawa potensi kombinasi dari 99 nama-namaNya, termasuk pula para kekasih-Nya. Mengapa kita melabelkan pada diri kita sendiri bahwa ‘Kekasih Allah pastilah ramah, enak, baik, wangi, bersih, bla-bla-bla?’ Ada yang demikian, ada pula yang tidak.

Perhatikan Qur’an 25:20,

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh-sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.”

Seharusnya ini cukup.

Sedangkan manusia terkadang sombong, merasa perlu malaikat atau mu’jizat untuk meyakinkan dirinya. Mereka menolak rasul yang ‘wajar’. Inginnya yang ‘malaikati’ atau ‘mukjizati’. Padahal jika dia tidak mengikuti pun, kemuliaan Allah sama sekali tidak akan berkurang. Allah tidak rugi apapun.

Pada QS 25:7,

“Dan mereka berkata, ‘Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?”

Pada hadits Muslim 1972 (8: 154):

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda, “Banyak sekali orang yang kelihatannya compang-camping (hina di mata masyarakat), tidak diperkenankan memasuki pintu seseorang, tetapi kalau dia berdoa kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan doanya.” (H. R. Muslim)

*******

Ciri utama dari seorang yang harus anda ikuti bukanlah senyumnya, wajahnya yang bersih, dan sebagainya. Mantan presiden kita yang dulu pun wajahnya bersih dan penuh senyum. Fir’aun pun sangat gagah dan tampan. Iblis pun, apakah akan datang ke kita selalu bertanduk, berpakaian api, membawa tombak trisula dan berekor panah? Dia tidak sebodoh itu. Jika penampilannya monoton dan tidak kreatif seperti itu, tentu saja kita akan dengan sangat mudah mengetahui bahwa dia adalah iblis, dan tidak untuk diikuti.

Syarat dan ciri utama seorang yang harus diikuti sudah dicantumkan dalam Qur’an, yaitu Q.S. 36:21,

“Dan ikutilah orang-orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah ‘muhtaduun’ “

Apakah ‘Muhtaduun’? Muhtadun, asal katanya dari tsummahtada, yang berarti ‘telah tetap menapak di atas petunjuk (dari Allah)’. Al-Muhtaduun adalah mereka yang sudah ditetapkan-Nya melangkah hanya di atas petunjuk-Nya saja.

Jadi, ciri pertama adalah, tidak pernah minta balasan apapun, baik pertolongan, status sosial, kerjasama manajemen, saling membantu, dan lain-lain. Dia yang bisa membantu kita, dan kita tidak bisa membantunya sama sekali. Dia sudah tidak membutuhkan apapun.

Yang kedua, orang itu sudah ‘tetap di atas petunjuk’. Dia membimbing anda murni seratus persen berdasarkan petunjuk Allah yang datang ke qalbnya, bukan berdasarkan pendapat, teori pendidikan, EQ, AQ, Acceleration Learning, kebiasaan umum, budaya, dan lain sebagainya.

Dengan demikian, coret juga orang yang belum mampu mendapat petunjuk Allah setiap saat di dalam qalb-nya.

Beberapa rambu Al-Qur’an yang perlu kita cermati juga:

“Kami tidak mengutus seorang Rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (QS. 14:4)”

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut. (QS. 16:36)”

Perhatikanlah, bahwa pada dasarnya tiap-tiap ummat ada Rasulnya (penyampai risalah, pengajak menuju Allah). Dan, dengan bahasa kaumnya pula.

*******

Sahabat, banyak orang yang mengaku mursyid, merasa mursyid, atau dianggap mursyid. Tapi yang teramat sulit adalah mencari mursyid yang sesungguhnya, yang tugas kelahirannya memang sebagai seorang mursyid, seorang yang memang bermisi hidup sebagai mursyid dan telah dibekali Allah dengan Ruh Al-Quds sebagai legitimasi ilahiyah atas tugasnya. Kita harus setiap saat memohon untuk diantarkannya ke ’seorang pemimpin yang dapat memberi petunjuk/wali mursyid’, sebagaimana QS 18: 17 menyebutkan,

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang disesatkanNya, maka kamu tak akan mendapatkan ‘Waliyyan Mursyida’ (seorang pemimpin yang dapat memberi petunjuk).”

Kita harus setiap saat memohon untuk ditunjuki-Nya kepada seorang ‘Waliyyan Mursyida’ ini.

Namun demikian, banyak orang yang ingin bertemu mereka, tapi setelah bertemu mereka justru berbondong-bondong berlari meninggalkannya. Kenapa? Karena bersama seorang mursyid memang tidak mudah. Dia akan memotong semua jalur-jalur perbudakan syahwat dan hawa nafsu pada diri kita. Dia akan mengajari dan memaksa kita untuk berani mengenal, mempelajari dan menguasai semua jenis hawa nasfu dan syahwat yang ada dalam diri kita sendiri. Dia akan memaksa kita untuk murni bergantung pada Allah, bahkan bukan bergantung pada dirinya sebagai mursyid. Itu adalah tugasnya.

Karena dengan terkuasainya seluruh balatentara syahwat dan hawa nafsu kita, maka kalbu kita akan semakin bening, dan kita pun pada akhirnya akan mampu mendapatkan petunjuk dari qalb kita sendiri.

Memang dia akan menolong kita jika ‘terjepit’ dalam kehidupan, menjelaskan persoalan dengan gamblang, tapi bukan berarti memanjakan terus menerus. Dia tidak akan mendidik kita untuk menjadi orang yang tidak mau menghadapi persoalan, sedikit-sedikit menangis minta tolong pada mursyidnya. Dia akan memaksa kita untuk berani menghadapi persoalan, karena dengan demikian kita akan mengenal segala kekurangan diri yang perlu diperbaiki, mengenal dan menyempurnakan kelebihan diri yang ada, menghadapi semua hawa nafsu dan syahwat (misalnya: rasa takut, cemas, inferior, bangga, sombong, iri, minder, tidak percaya diri, dan sebagainya) demi untuk mengenal segala aspek dalam diri kita sendiri (’arafa nafsahu), supaya kelak kita bisa mengenal Rabb kita (’arafa rabbahu).

Maka dari itu, bermursyid bukan seperti datang ke pengajian sekali seminggu. Menghilangkan kepenatan dan kemumetan, mencari kesejukan sesaat, buka dan sekedar menghafal Al-Qur’an, setelah lega kembali ke kehidupan masing-masing. Bukan pula untuk berorganisasi, berharap dapat mengembangkan potensi diri demi karir di sana. Juga bukan seperti dukun, minta doa supaya sukses, minta amalan, dan semacam itulah. Bukan juga datang ke sana untuk bersosialisasi, mencari kelompok maupun kegiatan saja.

Bermursyid itu, bukan pula seperti ke pasar. Ingin membeli pencerahan, ingin membeli keajaiban, ingin membeli maqom ataupun pencapaian spiritual. Tapi begitu malam tiba, semua pembeli pergi ke rumah masing-masing dan kembali kepada kenyamanan tempat tidurnya di rumah, lupa pada perjuangan penyucian diri.

Demikian pula, jangan bermursyid pada orang yang mengangkat kita sebagai murid karena kita memiliki ‘potensi’ manfaat untuk dirinya, bisnisnya, partai politiknya, maupun organisasinya. Ini guru yang ‘berbisnis’, karena orang seperti ini, jika ia ingin susu maka ia akan mencari sapi untuk dipelihara.

Hubungan dengan mursyid itu tidak mudah, karena konsekuensinya adalah, setiap saat dimanapun kita berada, kita dituntut untuk bertaubat dan memperbaiki diri, sesuai Q.S. 5:39, bahwa Allah hanya menerima taubat dari orang-orang yang taubatnya dilanjutkan dengan memperbaiki dirinya.

“Dan barangsiapa bertaubat setelah melakukan kejahatan (menzalimi dirinya) dan kemudian memperbaiki dirinya, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” (Q.S. [5] : 39)

Sekali lagi, inilah rambu utama dari Al-Qur’an yang harus kita ikuti:

“Dan ikutilah orang-orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah ‘muhtaduun’ (orang yang tetap diatas petunjuk)” Q.S. 36:21.

[]

: : : : : : : :

—Tulisan lama, Januari 2004, Herry Mardian.

Gambar diambil dari GURU

Waham ‘Kesolehan’, Waham ‘Kekasih Allah’, Waham ‘Pembimbing Spiritual’

36 thoughts on “Waham ‘Kesolehan’, Waham ‘Kekasih Allah’, Waham ‘Pembimbing Spiritual’

  1. dondick says:

    Saya cuma mau ikutan sharing Pak Herry. Awalnya tulisan ini saya baca di milis Sirnagalih, adayang memforward. tulisan ini sangat bagus, ini sama kisah-kisa tersebut seperti kisah-kisah guru saya sendiri, Yang Mulia Maha Guru Haris Suhyar. Anda membuat saya lebih yakin lagi dengan keberadaan dia di antara manusia. Dan benar, keberadaan mereka adalah untuk membantu kita agar lebih dekat dengan Yang Abadi. Sekali waktu saya sering lalai tidak mengikuti apa yang diajarkan beliau, dan tepat sekali setelah kita diajarkan cara memotong syahwat, maka godaan nafsu dan syahwat kepada diri kita terasa lebih dekat lagi dan dalam jumlah yang lebih besar, dan akibatnya kegelisahan saya pun lebih-lebih dari yang pernah ada.
    Disinilah mungkin yang menjadi ketakutan orang-orang, banyak yang ingin lari darinya karena tidak tahan atau karena banyak hal di dunia ini yang masih menjadi ketertarikannya.
    Makasih ya…😀

  2. cazar says:

    saya kok kurang setuju dengan contohnya yah. harusnya contohnya tidak hanya dideskripsikan secuil itu.kalau untuk menilai diri seseorang diperlukan perkenalan yang cukup lama. ambil contoh tentang yang menikah dengan janda tua, harusnya dikenalkan juga dengan pribadi orang tersebut terlebih dahulu. saya setuju dengan is yang diatas,tapi walau bagaimana pun mushid juga seorang manusia jadinya bisa salah, dan kita tidak perlu memuja murshid secara berlebihan bukankah Rasul juga demikian,ketika beliau datang sahabat hendak berdiri sekedar untuk menghormati beliau menolak.takutnya karena kita sangat menghormati murshid, bahkan mungkin kadang2 saya melihat ada yang melebihi perghormatan daripada Rasulullah

  3. Falestien says:

    Menemukan guru yang sejati adalah sesuatu yang sangat sulit. Adakalanya mereka yang malahan mendatangi kita sendiri sepanjang kita merasa sudah siap lahir batin. Bukankah guru itu tidak harus seseorang yang berjasadkan manusia? Saya pernah mendengar seorang tokoh spiritual yang mengaku, “Guruku adalah alam semesta ini”.
    Mas Herry, memangnya bisa kalau kita pengen mengenal Tuhan tanpa perantara guru manusia? Aku hanya ingin tahu sisi baik buruknya dari proses berakrab dengan Tuhan tanpa bimbingan dari manusia yang terkadang tidak bisa ditebak warna putih dan hitamnya. Apa mungkin karena mata batin saya yang tidak bisa melihat “The Real Murshid” ya …?

  4. hmm.. artikelnya baru x-ini saya baca…

    + Waham ? pls donk pak/mas herry dijelaskan pemahamannya biar lebih detil lagi… kan gt klo kayak dibuku2 pelajaran:mrgreen:, pemahaman/pengertian umum, analisa masalah, pokok bahasan, kesimpulan & saran.
    + klo mursyid bagi saya, yah.. org yg melakukan seperti yg Nabi SAW lakukan & jauh dari bid’ah2 dan mengajarkan apa yg ada dalam Al-Qur’an & Sunnah Nabi SAW, rendah diri serta mengajak berbuat baik & kebajikan serta bermasyarakat dgn ikhsan dan tidak menyendiri seperti sufi. klo jadi sufi.. gimana dia da’wah kekita ya?? gimana dia bisa kenal banyak org ? ya kan…😀

    skdar contoh:
    sy punya guru sma… yg Insya-4JJ1 sy kenal pribadinya, dia srkg jd anggota dewan… dan Alhamdulillah tidak lupa tgs2nya sbg da’i

    gitu aja dech….

  5. Jadi menurut chairul, sufi adalah:

    1. banyak bid’ah
    2. tidak sesuai dengan qur’an dan sunnah
    3. tidak bermasyarakat sehinga tidak bisa berdakwah
    4. penyendiri

    dan..

    5. kalo nulis tidak sesuai kaidah😉

    hore. stereotype lama. Padahal sufi ada banyak sekali (lagipula, saya tidak pernah bilang bahwa saya seorang sufi kan..)

    Kalo baca komen2 ente yang lain, ente senang berdebat ya rul?😉 ya deh. makasih ya…

  6. wah.. sepertinya sy cm tulis “+ klo mursyid bagi saya…..” bukan sy komentari artikelnya..

    lg pula kpan sy bilang pak/mas herry sufi yah ?:roll:

    ya klo gak berkenan… sy minta maaf!:smile:

  7. waduh !!
    kata2 sy kan : “+ klo mursyid bagi saya…”
    bukan maxud sy kesana lho pak. tp skedar “bagi saya” bkn maxud komentari/nada berdebat deh kayaknya.

    kok jd artian pak herry sufi yah? kan sy gak bilang/maxud gt. yaudadeh klo ga berkenan, sy minta maaf!

    smoga sy mendapat manfaat dr semua ini.

  8. santai aja rul…😉 saya ndak apa-apa kok.

    memang benar. saya sedang mencoba menapaki jalan taubat (yang sesuai dengan yang ditempuh Rasulullah). Mungkin itu membuat saya ‘terlabeli’ sebagai sufi. Tapi di mata Allah ta’ala, belum tentu. Saya masih sangat jauuuuh dari predikat hamba-Nya, ‘abdullah. In fact, dosa saya sangat banyak. Apa yang harus saya pelajari pun tidak akan selesai sampai akhir umur saya. Tapi toh tetap saya harus memulainya, selama masih ada nafas… saya harus memahami diin saya, bukan sekedar kata ustad atau guru ngaji. Saya tidak ingin agama pada saya hanya sekedar mengutip ayat dan hafalan dalil-dalil saja. Saya harus memahami.

    Karena saya mencari esensi (tanpa meninggalkan syari’at, tentunya) sepertinya di dahi saya seakan-akan ada tanda ‘tasawuf’, maka karena stereotype jadul orang terhadap tasawuf/sufi adalah ‘nrimo’, pasrah, menyendiri, tidak mau berdakwah/bermasyarakat, ndak mau usaha, lelaku, puasa mutih, akrab dengan jin dan mujarobat, bid’ah, tidak sesuai sunnah rasul, hanya sibuk dengan puisi dan kata-kata bersayap (aku adalah misteri, aku adalah cinta, dll), dan sebagainya, ya sering pula saya di ‘stereotype’-i seperti itu. Sudah biasa banget (btw siapa yang mengajari sih, bahwa sufi pasti seperti itu?)

    Nope. Antum menulis:

    klo mursyid bagi saya, yah.. org yg melakukan seperti yg Nabi SAW lakukan & jauh dari bid’ah2 dan mengajarkan apa yg ada dalam Al-Qur’an & Sunnah Nabi SAW, rendah diri serta mengajak berbuat baik & kebajikan serta bermasyarakat dgn ikhsan dan tidak menyendiri seperti sufi. klo jadi sufi.. gimana dia da’wah kekita ya?? gimana dia bisa kenal banyak org ?

    Apakah sufi selalu menyendiri, mengasingkan diri dari keramaian, tidak mengajak masyarakat berbuat baik? Dan membaca komentar lain antum di tulisan lain, cukup jelas tendensi antum ke arah mana…

    Ini blog tentang catatan perjalanan pribadi saya (kebetulan saya belajar umumnya pada sufi yang mencari hakikat/makna/esensi, karena saya juga mencari esensi kehidupan saya, walaupun pernah ikutan harokah dan ikut tarbiyah seperti guru sma yang antum anggap mursyid tadi). Kalo ndak suka sufi, yo monggo cari blog yang lain saja… masih banyak tho..

    Tapi kalau masih senang membaca ya monggo juga… saya yang terima kasih malah… Oh ya, tentang ‘bermasyarakat dengan ikhsan’ seperti kata antum, kebetulan saya punya tulisan tentang ‘ihsan’ di sini… monggo…

  9. zal says:

    he..he..Mas Herry, kejebak jadi tukang debat juga…:lol:
    sepertinya memang sulit melepaskan diri jadi talang, yang hanya aliran air…, mungkin karena melekat dalam suatu piranti ya mas….

  10. Weleh !!😮 panjang & melebar yach😛
    bagaimana pun… sy berucap terima kasih pak herry!! bpk sdh menyumbangkan pemikirinnya…🙂 ndak sperti sy toh ?😥 krn kejelasan yg sy butuhkan (mungkin dianggap telmi?ya gakpapa). sy dpt tambahan wawasan lagi… krn bpk telah menjelaskan pertanyaan2 saya… (tlg jgn dianggap sy ngetest pak herry lho) sy bertanya krn sy memang ingin belajar lebih, lain tidak!

    pak zal😆

  11. isi thread ini benar.
    kalo ada yg meragukannya, dia ndak salah, tapi ketahuan banget dia belum punya seorang pembimbing yg sebenar-benarnya pembimbing.
    Kalaupun dia punya seorang pembimbing, ketahuan juga level pembimbingnya ada dibawah level isi thread ini.

    Wallahu a’lam bishowab.

  12. Makmum says:

    Wah.., seru nih..!

    Buat yg mendebat.., ayoo teruskan..,
    Buat yg didebat.., ayoo.., ajukan sanggahan..

    Teruskan berdebat, karena dengan berdebat, kita dapatkan kebenaran, sekaligus kesalahan yang hakiki.., selama tujuan dari perdebatan itu sbb:

    1. Mencari perbedaan, untuk kemudian mencari jembatan untuk menjembatani perbedaan yg ditemukan.
    2. Mencari persamaan, untuk kemudian mempergunakan kesamaan2 yg didapat sebagai pengikat dan memperkuat hubungan dan silaturahmi.
    3. Menyebarkan perbedaan dan kesamaan yg ditemukan kepada orang lain yg mencari kebenaran, sehingga baik pendebat maupun yg didebat, menjadi ‘Mursyidin’ bagi saudara2nya..

    Sorry.., jadi ngompori, he..he..:grin:

    Wassalaam…

  13. abdillah says:

    Assalamu alaikum
    bang Herry, apakah berguru itu pada satu mursyid saja atau bisa lebih. Saya selama ini memandang Rasulullah SAWlah mursyid agung. Yang lain, patut kita ikuti kalau sejalan dengan AL Qur’an dan Sunnah
    Wassalam

  14. safia tajul alam says:

    terimakasih kerana tulisan yang bernas ini…buat diri saya sekiranya saya berjaya menundukkan hawa nafsu ini dan menyucikan jiwaku hingga bening..itu sudah satu rahmat dari tuhan..apa saya sudah bertemu mursyid yang sebenar? kata tok guru saya bisa ditemui dengan jalan peyucian jiwa dulu:neutral:

  15. zal says:

    Salam…
    @Makmum, perdebatan memang layaknya api, jika dimanfaatkan mendatangkan cahaya, namun jika dikobarkan mendatangkan kemusnahan…

    @Abdillah, Insya Allah, Allah mempertemukan tiap diri pada jenjang-jenjang kemursyidan, namun intinya berada pada sebagian Kebesaran Allah …”bahkan pada dirimu sendiri…” Insya Allah,

    @Safia tajul Alam, “sesungguhnya tiada yang mampu menyucikan diri selaia Allahlah yang mensucikannya, dan tiada nafsu tunduk kecuali hanya pada Allah semata, yang Allah sarankan mengingatNYA diperbanyak, sebab dipengingatan itu sungguh-sungguh ada makna yang besar, coba renungkan dengan ketundukan hati kenapa bisa dikatakan mengingatNYA menjadikan kesucian jiwa kita…semoga dipertemukan

  16. Mereka yang diberkati dengan dhawq menembusi alam sensori atau memasuki alam kabir malakut, maka lidah tiada terkata dan tiada bahasa bisa menggambarkan fana atau musyahada tersebut. Macam Nabi Ibrahim bermunajat dalam api, Nabi yunus berzikir dalam gelap perut ikan Nun dimalam pekat dan diselubungi kelam lautan. Atau gunung hancur depan mata Nabi Musa digunung Tursina. Apa erti ini semua buat kita ?

  17. Bahkan Rasulillah Muhammad SAW dibimbing oleh Sayyidina Jibril a.s. ketika mi’raj, walau pun ada rahasia tersendiri antara Rasulullah dan ALLAh secara langsung yang Jibril sendiri tidak tahu.

    Kalau merasa bisa menempu jalan sendiri, kenapa tidak terpikir mengapa Allah perlu mengutus Nabi dan Rasul, bukankah Allah bisa saja memberi hidayah semua umatNYA ?

    Pahami dengan hati bukan dengan akal, engkau akan mengerti.

  18. andreas says:

    sungguh ini sesuatu yang mencerahkan bagi saya! meski kita beda tapi dapat merasakan bahwa kita sama sebagai seorang peziarah dalam hidup ini, sehingga saya merasakan persaudaraan hati dengan anda

  19. dimas ragil says:

    Ass,

    Jika tak berkesempatan untuk bertemu.

    Kesadaran penuh akan ‘ketidaktahuan’ kita adalah modal untuk mulai memberikan kesempatan pada ‘sesuatu’ di luar sana untuk memperlihatkan sebagian rahasia yang selama ini tertutup oleh rasa diri yang terlalu besar.

    Jika kita memang belum bisa memahami pada apa yang sedang kita hadapi, ya.. biarkan aja. Semakin kita memaksa untuk memahami, maka bagai kita memberikan tirai yang semakin tebal pada sesuatu yang ingin kita pahami.

    Ini hanya mengajarkan diri kita untuk lebih ‘sadar’. (Dan tentu bukan ‘pasif manner’ hasil akhir yang akan tercapai). Kita belajar untuk bisa lebih menerima. Menerima diri kita. Mulai belajar untuk lebih mengenal diri kita.

    Keindahan akan dapat dipastikan mulai terlihat. Kecintaan akan bersemi. Dan pasti ini benih dari pribadi utama. Pribadi yang mampu menyiratkan makna ke-ikhlas-an dalam tiap langkahnya.
    Pribadi yang ‘aktif’.

    Wss.

  20. Sidi Om says:

    Yang mati itu nafsu, akal, jiwa, jasad,….. sakit, salah, sedap ini barang semua mahu diuji di sini.. bumi…. kasi cuci… kasi tanam.
    Yang hidup tanafas, nufus, roh… cahaya… nur….. kasi ini barang lembut, harum, ringan dan ghaib. tak ada kena soal.cari ini baranglah!!!!

  21. krishna says:

    kang. sepertinya ada konklusi yg belum tertulis di bagian akhir, yg intinya : kemursyidan itu seperti apa..( bukan seperti pengajian, ke pasar dll, so what gitu lho…. ).
    sekedar saran atau memang pake gaya open ending…🙂,
    tx.

  22. Yuda says:

    Kang Herry, saya setuju banget bahwa untuk menandai seorang itu mempunyai mandat untuk menjadi mursyid. Banyak yg sudah berani mengajar, tapi “bismiRobbika” saja dia belum bisa. Padahal “Iqra.BismiRobbika” adalah pelajaran yg pertama di ajarkan Malaikat Jibril (sebagai guru) kepada Muhammas s.a.w.
    Hanya dg karunia Allah kita dapat menemukannya. Barang siapa hijrahnya krn wanita mk itu yg akan dia dapatkan. barang siapa hijrahnya krn Allah semata, Allah sungguh akan menunjuki jalan-Nya. Amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s