Makna ‘Syuhada’ Yang Sebenarnya

KATANYA, ‘syuhada’ dalam buku agama Islam di masa sekolah dasar saya dulu, maknanya diartikan sebagai orang yang gugur di medan perang melawan ‘musuh Islam’, dan pasti masuk surga. Maka ketika dewasanya, tidak heran orang-orang yang sejak kecil dididik dengan buku agama (!) dengan kualitas seperti itu jadi ‘panasan’, sedikit-sedikit ingin berperang (atau membuat-buat perangnya sendiri dan musuhnya sendiri) karena ingin mati sebagai ‘syuhada’.

Ada sebuah hadits yang ‘menggelitik’:

“Kebanyakan syuhada dari ummatku, ialah mereka yang mati di tikar tidurnya. Dan banyak pula orang yang terbunuh di antara dua baris perang, yang Allah Maha Mengetahui apa niat sebenarnya”. (Hadits Riwayat Ahmad dari Ibnu Mas’ud)

Kok aneh, sebagian besar para syuhada justru meninggal di atas tempat tidurnya? Apalagi Rasulullah sendiri yang mengatakan hal ini. Atau hadits lain yang ini:

“Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya.” (Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya).

Gimana mungkin, mati di tempat tidur mendapatkan derajat kematian seperti seorang syuhada?

Ini bisa kita pahami, jika kita teliti Al-Qur’an. Kata ’syuhada’, akar katanya sama dengan kata pada syahadat kita ‘Asyhadu’, artinya bersaksi, mempersaksikan dengan sepenuh kepercayaan, dengan sepenuh keyakinan (mengenai Tuhannya). Kata ’syuhada’ tidak semata-mata berarti orang yang mati di medan perang. Kata ’syuhada’ berarti ‘orang yang telah mempersaksikan (dengan sebenar-benarnya)’.

Kita lihat Al-Qur’an ayat 7 : 172,

7:172

Q.S. 7:172, “Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil persaksian terhadap nafs-nafs (jiwa-jiwa, anfusihim) mereka: “Bukankah aku ini Rabb-mu?” Mereka menjawab, “Benar, sesungguhnya kami bersaksi (syahidna)“.

Ketika Allah mengambil persaksian dari nafs-nafs manusia, kata yang dipakai adalah Asyhadahum ala anfusihim’, mengambil persaksian atas nafs-nafs (jiwa-jiwa) mereka. Dan nafs-nafs tersebut menjawab, ‘Qaalu, bala syahidna,” benar, sesungguhnya kami bersaksi.

Demikian pula kata yang sama (syuhada) dipakai dengan jelas di Q.S. Al-Hadiid [57] ayat 19:?

57:19

Q.S. 57:19, “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya, mereka itu orang-orang Shiddiqiin dan ‘syuhada inda Rabbihim’ (menjadi saksi di sisi rabb mereka), bagi mereka pahala dan cahaya mereka…”

Maka jelas bahwa ‘syuhada’ berarti orang yang mempersaksikan (kebenaran Ilahiyah). Menjadi syuhada tidak harus melalui peperangan. Seorang yang meninggal di atas tempat tidurnya pun bisa menjadi seorang syuhada, asal ia benar-benar memintanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

Di zaman Rasulullah, mereka yang gugur ketika berniat mengorbankan jiwa mereka untuk Allah melalui jalan yang tersedia dan dibutuhkan ummat pada masa itu (berperang), yang pengorbanannya diterima oleh Allah, dianugerahi sebuah ‘penyaksian (akan kebenaran/Al-Haqq)’ melalui gugurnya mereka di medan perang. Tapi, belum tentu jalan pengorbanan yang paling dibutuhkan ummat pada setiap masa adalah berperang.

Dengan demikian, maka jelas bahwa belum tentu setiap orang yang gugur di medan perang adalah ’syuhada’, jika pada saat kematiannya tidak dianugerahi sebuah penyaksian akan Al-Haqq. Juga hal ini berimplikasi bahwa banyak cara lain menjadi seorang ’syuhada’ selain melalui peperangan.

Apa yang didapat seseorang ketika berperang, sebagaimana sabda Nabi, bergantung pada niatnya. Untuk siapa ia perang? Ia persembahkan kematiannya untuk Allah, atau ‘hanya’ demi nama besar kemuliaan Islam? Apakah dengan adanya kita Islam jadi bertambah kemuliaannya? Atau mungkin, untuk melampiaskan kebencian pada (yang kita anggap) musuh? Atau untuk status sebagai ‘pejuang Islam’? Banyak kemungkinan.

“Bahwasanya segala amal perbuatan itu bergantung dengan niatnya. Dan bagi setiap manusia itu apa yang diniatkannya. Maka siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya kepada dunia yang akan diperolehnya atau wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya kepada apa yang ia berhijrah kepadanya.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Di atas semua itu, sudah tentu lebih bisa kita pahami sekarang mengapa orang yang telah berhasil menjadi seorang ‘syuhada’ maka jaminannya adalah surga.

Semoga bermanfaat,

Herry Mardian, Yayasan Paramartha.
17 Februari 2006.

Reposting dari sini

Makna ‘Syuhada’ Yang Sebenarnya

30 thoughts on “Makna ‘Syuhada’ Yang Sebenarnya

  1. mu3 says:

    subhanallah… syukroon Jazakallah atas artikelnya. Melengkapi pemahaman dan pendalaman atas bacaan saya, yaitu sebuah buku yang berisi biografi para syuhada –> “MOZAIK SYUHADA”

    Smoga kita semua adalah orang-orang yang terus belajar memperbaiki diri menuju kesempurnaan!

  2. hehe.. selamat ya😉 jangan lupa cantumin sumbernya ya🙂 apalagi untuk buku. komersial tuh, akhee… ini pake lisensi Creative Commons Non-Commercial. Sejujurnya, yang saya tuliskan adalah hal-hal yang diajarkan melalui banyak pengajar/orang/guru/mentor di atas saya, atau paling tidak, mereka mengajarkan bagaimana caranya memperoleh pengetahuan yang benar. Jadi kayaknya antum perlu meminta keikhlasan mereka juga kalo mau dimasukin buku…

    Tapi terimakasih banyak😉

  3. Dimas says:

    Bingung juga saya kok belum pernah lihat artikel ini ternyata reposting.Btw Artikelnya Alhamdulillah menambah kecintaan dan bahan bakar untuk terus belajar untuk mencintai Allah Swt

    “mereka mengajarkan bagaimana caranya memperoleh pengetahuan yang benar”. Subhanallah…ini dia mas, aku juga belum punya lampu jalan yang bisa menerangi arah dari jalanku 😕
    Semoga Cinta Allah membimbing kita semua dalam menuju pangkuanNya.amin:cry:

  4. zal says:

    :smile:agak pasti, kalau Mas Herry, agak terburu-buru menyimpulkan tulisan mu3…he..he…, lha wong sudah mulai dingetopkan, koq ya..buru..buru…ntar cepat downnya lho…sakiit…he..he..(lagi…)

  5. Mungkin komentar saya agak OOT nih Mas Herry,

    Saya perhatikan, rata-rata agama mengajarkan umatnya untuk berani mati, tidak mengajak berani hidup.

    Ditunggu tanggapannya.

  6. bsmllh
    ass

    coba sejenak kita renungkan ayat-ayat dibawah ini :
    Al-Baqarah:190
    وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ
    Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

    Al-Baqarah:191
    وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُم مِّنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلاَ تُقَاتِلُوهُمْ عِندَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِن قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاء الْكَافِرِينَ
    Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.

    Al-Baqarah:192
    فَإِنِ انتَهَوْاْ فَإِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
    Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Al-Baqarah:193
    وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلّهِ فَإِنِ انتَهَواْ فَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِينَ
    Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

    Al-Baqarah:194
    الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُواْ عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
    Bulan haram dengan bulan haram , dan pada sesuatu yang patut dihormati [119], berlaku hukum qishaash. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

    —————————-******
    Kenapa kita harus takut dan malu untuk mengakui bahwa perintah perang itu ada didalam islam, bahwa perintah bunuh itu ada di dalam islam.

    apakah kita takut dicap sebagai teroris oleh umat lain atau kita takut di cap tidak berperikemanusiaan, lantas kita harus menghapus atau mengabur-ngaburkan perintah ALLAH atau kita carikan pilihan pilihan pengganti yang menurut pemahaman kita lebih bermanfaat dan lebih bisa diterima oleh orang lain. Kemudian kita ajarkan kepada orang-orang, dengan semangat jihad kita bersedekah,dengan semangat jihad kita belajar,dengan semagat jihad kita berbuat baik, toh nilainya sama saja, sama-sama berjihad, sama-sama bisa jadi Syuhada. ……itu salah kaprah namanya.

    Kenapa kita harus kaburkan perintah-perintah Allah dari bentuknya yang sebenarnya.
    yakini saja jika Allah perintahkan perang maka perang itu akan membawa kebaikan
    Bukan karena kita pernah menguasai 2/3 dunia ini, bukan pula karena islam sebagai agama yang benar maka harus ia harus berjaya, atau karena ini adalah jalan pintas menuju surga ,bukan,bukan karena itu semua . ini semua hanya karena perintah ALLAH. kita ikut saja karena Allah yang maha tahu mana yang baik mana yang buruk.

    Islam punya perintah untuk berperang tapi bersamaan dengan itu juga diatur tata caranya yang benar. didalam perang yang diperintahkan islam ada pejuang-pejuang yang gugur sebagai syuhada. Syahid.

    sesungguhnya mereka tidak mati tetapi tetap hidup disisiNya dengan rezki yang mengalir terus-menerus.

    Lihat didalam Qur-an orang-orang yang telah mendapatkan garansi masuk surga oleh ALLAH. Mereka adalah para syuhada yang gugur dimedan pertempuran.bahkan saat dunia belum kiamat Allah sudah pastikan surga untuk mereka.

    intinya :
    suka tidak suka, mau tidak mau,logis ataupun tidak logis
    islam punya perintah berperang, ada saatnya membunuh itu halal.hanya saja semua ada aturannya,

    jika semua hal-hal telah memenuhi syarat dan kewajiban perang telah jatuh…maka kita wajib untuk berperang.
    tak perduli pekerjaan atau perniagaan yang sedang kita usahakan, anak istri yang harus dirawat dan dijaga, harta yang dimiliki dikelola dan disimpan, tak perduli tatanan kehidupan masyarakat yang telah tercipta, tak perduli segalanya, kalau ALLAH perintahkan perang kita harus berperang.
    Karna jika kecintaan kita terhadap orang tua, anak istri, harta, pekerjaan dan perniagaan, kendaraan, bahkan tanah air sekalipun, melebihi kecintaan kita terhadap ALLAH dan ROSULNYA maka tunggu saja, AZAB ALLAH AMAT PEDIH.

    ———————–******
    untuk kita renungkan sekali lagi..:arrow:
    :!::!::!::!::!: 😳

    Ali-`Imraan:167
    وَلْيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُواْ وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْاْ قَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَوِ ادْفَعُواْ قَالُواْ لَوْ نَعْلَمُ قِتَالاً لاَّتَّبَعْنَاكُمْ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلإِيمَانِ يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِم مَّا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ
    Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu” . Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.

    Ali-`Imraan:168
    الَّذِينَ قَالُواْ لإِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُواْ لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَؤُوا عَنْ أَنفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
    Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh”. Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar”.

  7. zal says:

    Salam Mas Wahyu…
    Betul tu, Mas Wahyu, embat aja itu orang-orang kafir, yang ngga jelas siapa penciptanya…, kalau kita kan jelas, Mak Bapak kitakan Islam, pastilah kita Ciptaan Allah….
    Apalagi kita sudah faham maksud Allah itu, manalah mungkin Allah nyampein dengan perumpamaan…, engga ada yang namanya Ayat-ayat Mutasyabih…, semuanya sudah jelas, dan engga perlu menuliskan Al-qur’an pake Semua samudera jadi Tinta dan ditambahkan Tujuh serupa…” lha wong cuma 6666 ayat koq, satu set tinta laser jet, aja masih berlebih koq…, ayooo embatttt…perang-perang….:evil::evil:

  8. najam says:

    Ass. wr.wb.
    Al-haq tidak pernah mengajarkan kita untuk radical ataupun arogan.tempatkanlah kondisi batiniah kita pada rasa kebersukuran terhadap nikmat iman yang kita miliki. jangan pernah ber paling dari pandangan itu. kalau tidak hanya keakuan kita yang akan kita saksikan. keakuan adlh salah satu syirik yang teramat halus. karena tidak pernah saya temui Dia bersanding dengan sesuatu. ada & tiada itu adlh tiada. tiada dan ada adalah ada. oohh.tidak pernah mampu kata-kata ini mendeskripsikan-Nya. Allahuakbar3X walillahilham.

  9. najam says:

    Ohhh…..ketika mata cinta-Nya menatapku, sekejap itu pula kusaksikan hanya Engkau kebutuhanku. ya-Raja jadikan aku ini cinta-Mu. ohhh -Rajaku yang tak pernah terbatasi oleh apa2 yang Dia ciptakan dan maksudkan dgn “terbatasi”, karena batas dan tidak terbatas hanyalah tiada. memang benar yang dikatakan debu bahwa “bila muncul sinar matahari maka menghilangkan bimasakti” ohhhh semoga cinta ini menjadi tubuh dan ruh ku.

  10. najam says:

    ya Allah curahkanlah cinta-Mu kepada majlis ini, karena sesungguhnya cinta hanya bertemu dengan cinta……

    kecintaan _Mu adalah rahmat terbesar kami dari_Mu

  11. abdillah says:

    Assalamu ‘alaikum

    Saya baru baca, tapi tergelitik untuk memberi komnetar:
    Ketika kita ngaku cinta, kita pasti ikhlas berkotban untuk si dia (apalagi Dia). Apakah pengorbanan terbesar baginya? Harta atau myawa kita. Biasanya kita mudah mengucapkan cinta, dengan segala janji-janjinya, namun ketika janji itu ditagih, kita mangkir

    Wassalam

  12. Jazzkord says:

    Penulisan di awali dengan salam dan dimulai dengan bismillah…(Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang)…”Dengan nama Allah” itu berarti ada 99..diantaranya yang Maha Pengasih dan Penyayang…

    Tapi isi tulisan mengajak untuk membunuh…terus dimana “Bismillah nya”..baru saja diucapkan tapi sudah dilanggar..apa kita sudah paham dengan ayat2 yang ada didalam Al-qur’an?…kalo Bismillahnya saja masih belum paham ?..Jangan2 kita yang munafik..kalo begitu apa perlu kita bunuh diri kita masing2?..

    Sungguh masih banyak yang harus ku pelajari..:cry:

  13. Herry says:

    isi tulisan mengajak membunuh?🙂 baca woy, baca.:mrgreen:

    “jihad” = “membunuh orang” itu mekanisme asosiasi dalam kepala.

  14. Nasyidutz says:

    @ wahyu: sikat aja orang-orang kafir! Embat! Kita kan beriman, ya? Orang lain kagak. UNTUK DIRENUNGKAN :!::!::!::

    “Main sikat, main embat, apa sing liwat! Kelakuan si kucing garong……”

  15. Ass. Wr. Wb.
    Selintas sudah saya baca komen antum semua. Jazakumullahu khoiron katsiiro. Amiin.

    Ternyata ketika ada sebuah kegelisahan dalam memulai suatu langkah (salah satunya mengimplementasikan makna jihad), penyebabnya selalu sekitar benturan antara modal awal berupa fitrah … dengan keterbatasan ilmu yang telah didasari petunjuk.

    Fitrah menurut definisi penulis adalah kecenderungan kepada … hal-hal yang positip. Sedangkan ilmu yang telah didasari petunjuk adalah … sebuah kekutan rohani yang membimbing kehendak fitrah tadi untuk … merealisasikan visi dan misinya.

    Nah, … kalo dua komponen tadi … (yang mana coba🙂 ) telah bersinergi … maka … GAK PERDOELI KITA MAU SYAHID DI ATAS RANJANG ATAU DI ATAS RANJAU. BAHKAN GAK PEDULI APA KITA PANTAS DIKATAKAN SYUHADA. LEBIH BAHKAN LAGI, KITA GAK PEDULI APAKAH KITA KELAK MASUK JANNAH-NYA ATAU RUANG MURKA-NYA. HANYA SATU PRIMARY KEY NYA : ACTION.

    allahu akbar !!!

  16. aku says:

    mati itu bukan kah bermaksud..KEMBALI..( kembali ke RAHMATULLAH )..mati di jalan ALLAH..jangan sempit fikiran..syahid bukan bermaksud perang..syhahid itu bermaksud mati di jalan ALLAH..fikirkan lah..dari ALLAH kita datang kepada ALLAH jua kita kembali..JASAD kembali kepada asal nya..TANAH..

  17. Anonymous says:

    sudah 1 bulan ini saya ubek2 blog ini,
    tulisannya bagus2 banget.. dan banyak memberi pembelajaran buat saya….ma kasih banget mas Herry

    mau minta ijin niy, menyebarkan tulisan2 mas pada temen2 saya🙂

  18. zilalallah says:

    Ada sebuah hadits yang ‘menggelitik’:

    “Kebanyakan syuhada dari ummatku, ialah mereka yang mati di tikar tidurnya.

    Salam sdra,
    Maaf, ini hanya teguran untuk anda.
    Mengapa kamu mengetakan mengelitik ertinya lucu, mengelikan.

    Kamu bukan Nabi Muhammad dan kamu tidak tahu apakah yang tersirat dengan apa yang tersurat.
    Firman: Sesiapa yang engkar kepada Rasul Ku, sama juga engkar kepada Ku”.
    Ingat, dgn firman Allah: “Allah adalah Maha Berkuasa dari segala-gala nya”.
    Apa sahaja yang datang dari Rasulullah adalah datangnya dari Allah.
    Sekali lagi ingat, jika engkau sudah terlalu pandai dan berpelajaran tinggi, jangan cuba mempermainkan atau dibuat senda kata dari Nabi Allah, Rasulullah SAW.

    Aku tak mahu lihat perkara ini berlaku lagi, jika kau berani, jangan kata aku tak beri peringatan kepada kau. Azab Allah sungguh pedih.

    Wassalam.

  19. Assalamu’alaikum
    Jazakumullah untuk akh Herry atas postingannya. Afwan akh, ane hanya ingin memberi sedikit saran saja, kalau bisa ketika memosting jangan menggunakan kata-kata yang sekiranya menyinggung, seperti “menggelitik”. Afwan, gunakan saja kata-kata yang sekiranya diperlukan.

    @wahyu dan akh yang merasa benar dibawahnya

    Jadi simple saja akh, kembali ke tujuan islam itu sendiri. Tujuan islam adalah menyeru yg ma’ruf dan mencegah yang munkar, mengajak dari yang sekiranya masih dalam kekufuran, ke jalan yang benar. Seandainya, semua kamum kafir diperangi, lantas siapa lagi yang akan kita ajak kepada kebaikan? Bukankah tujuan islam adalah mengajak sebanyak-banyaknya umat agar bisa mengenal rab-nya secara kafah? Kalau seperti itu mestinya Rasurullah saw juga memerangi dan bahkan membunuh Umar dong karena kekafirannya pada saat itu. Seperti itu akh.
    Lalu untuk surah yang sudah antum terangkan tadi, ane harap antum baca Al-Qur’an jangan kaya baca koran, sengertinya aja. Afwan, kalau antum memahami, maksud dari ayat itu adalah memerangi ketika kita diperangi, ketika kita diinjak- injak dan ketika kita terdesak. Seperti itu. Ane harap antum jangan asal-asalan menafairkan suatu Ayat dengan emosi. Afwan. Jazakumullah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s