Kenapa Al-Qur’an Tidak Jelas Sistematikanya?

[TANYA]

SEMOGA Allah selalu memberi keselamatan bagi kita semua. Bisakah memberi petunjuk kepada saya kenapa ayat-ayat dalam Al-Quran tidak tersusun secara sistematis? Adakalanya ditemukan pokok bahasan yang melompat-lompat dalam satu surat.

Bagaimana cara meraih makna dari kitab suci ini dengan baik sehingga bisa diamalkan dalam kehidupan kita? Apakah ada pengaruhnya jika kita bisa berbahasa arab dalam mempelajari Al -Quran?

Wassalam,

–Wisnu Wijayanto–

 

[JAWAB]

I. Lucky G. Adhipurna

PERTANYAAN bagus!🙂 sayangnya saya gak punya jawaban bagus. Ini sekadarnya aja.

Bacaan kita bilang “sistematis” (logis, rasional, masuk akal, dan lain-lain) kalo bacaan itu masuk, klop, pas, fit, cocok, ludes termakan “skema” fakultas pikir kita.

Padahal, “bacaan” kita yang satu ini (al-Qur’an) justru bertujuan “mentransformasi” skema fakultas pikir kita itu (bahkan seluruh fakultas kedirian kita).

Kalo kita baca sesuatu yang “sistematis” (yang nyaman masuk selera skema pikir kita), praktis kita tidak belajar apapun dari bacaan itu (jangankan ter-transformasi oleh bacaan itu).

Contoh, saya lancar dan nyaman baca buku “The Tao of Physics”, saya sudah familiar dengan jalan pikir buku itu, jalan pikir argumen buku itu klop dengan skema pikir saya: maka praktis, saya tidak belajar apapun (yang baru, mendasar, ground-breaking, transforming knowledge) dari buku itu.

Kalo pun saya “merasa” belajar dan dapat sesuatu dari buku itu, itu sekadar ilusi, justifikasi, amplifikasi dari skema kerdil pikiran saya yang itu-itu juga, yang gak dapat pelajaran apapun dari buku itu.

Jadi, kembali ke laptop, tentang apa yg salah dgn al-Qur’an; yang salah adalah gagasan kita tentang yang “sistematis”, logis, masuk akal, dan lain-lain itu. Al-Qur’an yang mau menciptakan akal baru dalam diri kita, kok dipaksa supaya bisa masuk akal sempit pikiran kita.

Terkait kemampuan bahasa ‘arab, dari sisi teknis tentu bisa dibilang kalo itu mendukung. Tapi pada prinsipnya, kita memahami al-Qur’an sejauh diri kita berhasil ditransformasi secara lahir dan bathin olehnya. Toh sangat banyak orang yang mampu berbahasa ‘arab tapi kenyataannya al-Qur’an sama sekali tidak mentransformasi dirinya, dan bagitu banyak hal-hal dalam al-Qur’an yang belum mampu dia pahami.

Mungkin gitu.

Salaam,

–Lucky G. Adhipurna–

 

II. Alfathri Adlin

SAYA pernah ikutan tes buta warna sewaktu mau masuk kuliah dulu. Rupanya tes buta warna itu berupa berbagai bulatan warna yang disusun acak-acakan namun membentuk pola tertentu. Saya lulus tes buta warna. Namun, suatu ketika, saya mengantarkan adik kelas saya untuk ikutan tes buta warna. Rupanya, sekian pola acak warna tersebut tidak tertangkap polanya oleh mata dia. Dia tidak melihat angka atau jalur yang terbentuk dari warna-warna tersebut. Di situlah saya baru tahu kalau dia itu buta warna dan bahwa orang buta warna itu kayak gitu.

Nah, demikian pula Al-Quran. Tapi Al-Quran itu bukan alat tes buta warna, tapi alat tes buta mata hati. Kalau kita melihat Al-Quran masih sebagai sebuah kitab dengan ayat-ayat yang acak-acakan, maka itu tanda kita masih buta mata hati. Namun, kalau kita melihat Al-Quran sudah sebagai sebuah kitab dengan ayat-ayat yang satu sama lainnya mengikat sangat kuat, sekuat mata rantai, seperti yang pernah diungkapkan dan dialami oleh mursyid dan kakak sulung kita, maka itu berarti kita sudah tidak buta mata hati lagi. Kalau tidak salah Imam Al-Ghazali pernah berkata bahwa sebagaimana halnya matahari bagi mata lahiriah kita, Al-Quran adalah matahari bagi mata batiniah kita, saking terangnya.

demikian dari saya…. mohon maaf kalau ada silap kateu….

Wass. Wr. Wb.

–Alfathri Adlin–

 

III. Herry Mardian

MAS Wisnu, alhamdulillah.

Qur’an, memang tidak mudah dipahami. Ayat-ayatnya tampak tidak sistematis dan melompat-lompat, jika instrumen untuk memahami Qur’an kita menggunakan pikiran atau rasio, paradigma sistematika yang dalam standar kita, teratur. Dan memang, sangat sedikit orang yang telah mampu menjangkau makna Qur’an (mereka yang mampu dijelaskan di artikel ini), walaupun itu para pejalan spiritual. Ada yang sudah ‘terbuka’, ada yang baru terbuka secara global dan belum detil (abstraksi), ada yang baru bisa paham sedikit sedikit, itu pun dengan dibantu oleh mereka yang sudah ‘terbuka’, ada yang belum bisa memahami.

Porsi terbesar makna Qur’an memang hanya bisa dijangkau —bukan— dengan instrumen rasio atau akal jasad kita ini, melainkan dengan instrumen ‘aql atau akal nafs/jiwa. Jika sebagian besar manusia bahkan tidak menyadari bahwa dalam dirinya ada diri yang lebih sejati dari diri fisikalnya, yaitu nafs, apa lagi menggunakan akal nafs-nya (‘aql) untuk memahami persoalan. Karena akal jiwa (‘aql) juga disebut dengan istilah lubb, maka orang-orang yang ‘aql nya telah berfungsi disebut juga ‘ulil-albab. Itulah sebabnya dalam qur’an begitu sering dikatakan berulang-ulang,

“hanya ulil-albaab sajalah yang mampu mengambil pelajaran.”

Pendek kata, porsi terbesar makna qur’an memang ter-enkripsi, dan instrumen untuk membuka enkripsi qur’an hanyalah ‘aql/lubb, bukan akal jasad (rasio). Dan orang-orang yang dalam dirinya telah memiliki lubb atau ‘aql ini belum tentu seorang ustadz terkenal ataupun mereka yang sekolah agama hingga S-4. Belum tentu. Namun demikian, sebagai kitab pembimbing manusia, mereka yang belum memiliki lubb pun diizinkan ‘membaca’ sedikit makna dan beberapa rahasianya, walaupun hanya sebagian kecil saja.

Mampu berbahasa ‘arab pun belum menjamin seseorang bisa menjangkau makna Qur’an, karena qur’an pada dasarnya adalah bahasa Qur’an, bukan bahasa ‘arab untuk berkomunikasi (contoh kita tidak akan akurat memahami qur’an jika hanya menggunakan bahasa ‘arab biasa ada di artikel ini dan artikel ini). Demikian banyak orang yang berbahasa ‘arab tapi juga tidak mengerti makna-makna ayat Qur’an. Tapi tentu, bisa berbahasa ‘arab (qur’ani, bukan bahasa komunikasi sehari-hari) akan jauh lebih mudah memahaminya daripada tidak bisa sama sekali.

Tapi hal yang terpenting adalah, bahwa kita mulai jujur pada diri kita sendiri dalam beragama ini. Kita berhenti mengindoktrinasi diri bahwa kita memahami Qur’an, bahwa Qur’an adalah kitab teragung, bahwa Qur’an mencakup jawaban bumi dan langit, dan sebagainya. Hal itu memang benar, tapi ‘dari sisi mana?’-nya kita sama sekali tidak paham.

Pelan-pelan, kita mulai semakin jujur bahwa: kita tidak mampu menjangkau Qur’an. Kita tidak memahami shalat dan gerakan-gerakannya. Tidak memahami makna puasa. Makna zakat. Makna rakaat-rakaat shalat dan waktu-waktunya. Makna haramnya minuman keras, diizinkannya poligami, hukum waris yang ‘aneh’ karena lelaki mendapat dua kali bagian wanita, dan lain sebagainya. Ternyata, kita tidak memahami diin kita. Tidak memahami hidup kita, sejarah diri kita, kenapa bertemu si A dan tidak B, kenapa bagian ini ada musibah dan bagian itu ada keberuntungan. Kita lama kelamaan akan menyadari bahwa kita bahkan tidak memahami diri kita sendiri. Selama sekian puluh tahun hidup, kita bahkan tidak kenal siapa kita!

Ini adalah awal kita mulai memahami hakikat ‘hamba’ pada diri kita: bahwa kita adalah makhluk yang lemah, yang bodoh, yang perlu bimbingan. Kita adalah ‘makhluk’, yang akan senantiasa butuh Rabb-nya, setiap saat. Tidak semua orang mampu mengerti, merasakan dan memahami hal ini, merasakan hakikat ‘hamba’ ini. Padahal,

“Wamaa khalaqtul jinna wal insa illa li ya’buduun.” (Q. S. 51 : 56)

‘Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka ‘ya’bud’,” ‘abid, meng-’abdi’, meng-hamba. —Bukan— diciptakan cuma untuk ‘beribadah’ dalam pengertian untuk shalat, puasa, zakat, dan seterusnya. Tapi meng-abdi. Meng-hamba. Bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Total.

Ini penting. Selama kita masih yakin akan kemampuan kita sendiri, entah itu di sisi agama, penghasilan, ilmu, kecerdasan, dan lain sebagainya; selama kita masih yakin bahwa ada kemampuan diri kita yang membuat kita mampu melalui hari esok dengan selamat, hakikat ‘penghambaan’ tidak akan pernah muncul dari dalam diri kita.

Jika kita sudah mulai menyadari bahwa ‘kita ternyata nggak bisa apa-apa sama sekali!’, maka insya Allah itu adalah saat bahwa kita benar-benar butuh Allah. Kelak sebelum menghadapi setiap hal, kita tidak akan pernah berhenti memohon pada-Nya untuk dibimbing, diajari dan dituntun oleh Tuan kita, sebaik-baik majikan bagi para hamba-Nya. Dengan demikian, mulai saat itu setiap peristiwa dalam hidup kita justru akan menjadi rangsangan untuk mengingat-Nya. Saat itu, setiap saat kita ada dalam kondisi memohon. Saat itu, setiap saat kita ada dalam kondisi zikir pada-Nya….

Tanpa menyadari hakikat ‘hamba’ (budak) dalam diri kita ini, sang Tuan tidak akan pernah menunjukkan jalan menuju diri-Nya, apalagi mengenalkan sifat ‘Maha Raja’-nya pada kita. Walaupun kita punya segunung prestasi, tapi jika kita belum sepenuhnya bergantung kepada-Nya mengabdi, pada dasarnya kita sama sekali belum berfungsi.

Mulai dari jujur pada diri kita sendiri. Selamat berjalan, Mas Wisnu… selamat berjalan, sahabat-sahabat. Semoga Dia mengajarkan pada kita semua tentang diri-Nya.

Wass Wr Wb

–Herry Mardian–

 

IV. Imam Suhadi

KANG Wisnu, menarik sekali membahas hal yang disampaikan Kang Wisnu.

Jika kita merujuk kepada Q.S. 3:7, dimana dijelaskan adanya ayat muhkamat dan ayat mutasyabihaat. Dan dengan jelas tercantum, tidak memahami ayat mutasyabihaat kecuali ulil-al-baab. Berkait dengan ayat ini, saya kutipkan sebuah hadits Qudsi dimana dikatakan: “Barangsiapa melakukan apa yang diketahuinya, Maka Allah akan mengajarkan apa-apa yang tiada diketahuinya”. (tentang ulil-al-baab, dijelaskan di sini —ed).

Dari ayat-ayat muhkamat inilah sebenarnya kita memulai untuk mencoba memahami ayat-ayat yang melompat-lompat ini. Karena dengan menjalankan yang muhkamat ini, kelak kita akan diajarkan atau diberikan kepahaman tentang ayat-ayat yang melompat tersebut.

Permasalahannya adalah dalam menjalankan yang muhkamat tidak boleh pilih-pilih. Kita benar-benar dituntut untuk menjalankan semua yang muhkamat. Contoh ayat yang muhkamat adalah perintah shalat, puasa, zakat, shadaqah. Mungkin kita sudah menjalankan ini. Namun ada pula ayat-ayat muhkamat yang lain, yang mungkin kita abaikan, seperti memaafkan orang lain, sabar, syukur, tawakal, dsb.

Nah memulai dengan menjalankan yang muhkamat-muhkamat inilah semoga menjadi gerbang memahami yang lainnya. Dengan memulai menjalankan yang muhkamat, dengan hidayah-Nya, sedikit demi sedikit kita akan diberikan kepahaman tentang yang lainnya, sehingga kita akan melihat bahwa al-Qur’an ini sesungguhnya sangat sistematis dan tidak melompat-lompat.

–Imam Suhadi–

[]

Kenapa Al-Qur’an Tidak Jelas Sistematikanya?

24 thoughts on “Kenapa Al-Qur’an Tidak Jelas Sistematikanya?

  1. Wah, mantap nih pembahasannya. Tapi alasan diacak-acaknya urutan pembahasan Al-Quran juga upaya untuk menjaga keaslian Al-Qur’an itu sendiri. Sering kita lihat orang salah mengetikkan kata-kata,m tapi jarang kita lihat orang salah mengetikkan nomor telepon (yang biasanya berupa angka acak). Dengan diacaknya urutan pembahasan, maka manusia akan memiliki perhatian per ayat bahkan per huruf, sehingga penyimpangan dan usaha pemalsuan AlQuran bisa diminamilisir bahkan ditiadakan😀

  2. zal says:

    :lol:Bravo Mas Wisnu, sepertinya mas Wisnu sudah diajak jalan-jalan tuh…, udah merasakan ada yang janggal, engga banyak joga lho yang menyadari hal ini,

    Sepertinya memang sebagaimana penyampaian Allah, “kami jadikan engkau bisa membaca sehingga tidak akan lupa…”, kesannya bahwa untuk membaca garis lurusnya, adalah bentuk, atau manifestnya dari suatu taqwil yang sudah ditanamkanNYA pada hati, kalau dengar-dengar ceritanya, yang mengalami hal ini tiba-tiba saja merasa faham, sehingga katanya sulit diungkapkan bagaimana prosesnya, seperti aliran air yang tiba-tiba ada dibawah tanah…, dibilang payah untuk menemukannya, atau mudah, sepertinya terletak pada Sang Maha Pembolak-Balik Hati…,…”dimudahkan kejalan yang mudah…” semoga segera ya..Mas Wisnu…, salam…

  3. hadijah says:

    Jazakillah Mas Wisnu, pertanyaannya direspon dgn sangat “baik” dan memberikan pencerahan. Semoga kita selalu dituntun oleh Nya untuk memahami Al Quran, amin…

  4. Kalijaga says:

    Mas Wisnu,

    Jawaban pertanyaan anda itu saat erat kaitannya dengan Firman-firmanNYA dalam Al qur’an yang banyak sekali menyatakan : ……..apakah kamu berpikir?. Kenapa banyak firman2 yg menyebutkan ayat2 tsb dikarena kita hidup di dunia ini harus mengkaji, menganalisa dan mengaplikasikan ayat2 di al Qur’an dengan mempergunakan AKAL yang diberikan olehNYA utk mengarungi hidup disini. Apabila perangkat AKAL tsb digunakan secara maksimal dan digabungkan dengan penyucian hati dan mengikuti koridor-koridor dariNYA maka insya allah akan dibukakan pemahaman hakikat segala sesuatu termasuk pemahaman isi Al Qur’an tsb…. Setelah disadari maka semua yang kita terima ini adalah karena setitik cinta kasihNYA kepada kita. Semoga kita semua menjadi khusnul kootimah.

  5. Betul, untuk melengkapi, saya tambahkan…

    Dasar-dasar ‘qalb’ sebagai entitas dalam diri manusia yang seharusnya dipergunakan untuk memahami persoalan adalah ayat-ayat berikut ini:

    (1)

    [7:179]

    وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ
    قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا
    وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ
    هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

    walaqad dzara/naa lijahannama katsiiran mina aljinni waal-insi —lahum quluubun laa yafqahuuna bihaa— walahum a’yunun laa yubshiruuna bihaa walahum aatsaanun laa yasma’uuna bihaa ulaa-ika kaal-an’aami bal hum adhallu ulaa-ika humu alghaafiluuna.

    Terjemahan Depag:

    “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

    Perhatikan:

    “…lahum quluubun laa yafqahuuna biha…”

    makna yang sesuai bahasa qur’annya adalah,

    “Mereka mempunyai qalb-qalb (tetapi) tidak mem-‘faqih’-i (memahami) dengannya…”

    —————–

    (2)

    [22:46]

    أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ
    بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ
    وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

    afalam yasiiruu fii al-ardhi fatakuuna —lahum quluubun ya’qiluuna bihaa— aw aatsaanun yasma’uuna bihaa fa-innahaa laa ta’maa al-abshaaru walaakin ta’maa alquluubu allatii fii alshshuduuri

    Terjemahan Depag :

    “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”

    Perhatikan:

    “…lahum quluubun ya’qiluuna biha…”

    makna yang sesuai bahasa qur’annya adalah,

    “mereka mempunyai qalb-qalb (dan) ber-‘aql dengannya…”

    ——————

    Jadi, untuk ‘faqih’ akan sebuah persoalan, dan untuk memakai-‘aql (akal jiwa/nafs) tentang sebuah persoalan, adalah menggunakan ‘qalb’. Bukan akal dalam pengertian ‘rasio’.

    Semoga bermanfaat,

    wass. wr. wb

  6. [TANYA]

    Apakah dengan demikian artinya orang seharusnya hanya menggunakan qalb untuk memandang persoalan? Apakah artinya ummat islam tidak boleh rasional? Dikit-dikit, hati, kalbu….

    [JAWAB]

    Tentu tidak. Karena ‘akal’ (akal rasional), yang merupakan akal jasad kita ini, seharusnya hanya menjadi instrumen untuk melaksanakan akal jiwanya (‘aql), yang bersumber dari qalb.

    Diri kita yang jasadiyah ini seharusnya cukup menjadi instrumen bagi diri sejatinya (jiwa/nafs) dalam melaksanakan tugasnya di dunia ini.

  7. ASWW :untuk memahami Al qura’n harus disertai amal perbuatan coba tafakuri ayat-ayat dibawah ini tq

    Aku berlindung kepada-Mu ya Allah dari godaan syaiton yang terkutuk

    Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang

    Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran , maka adakah orang yang mengambil pelajaran..???

    Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran , maka adakah orang yang mengambil pelajaran..???

    Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran , maka adakah orang yang mengambil pelajaran..???

    Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran , maka adakah orang yang mengambil pelajaran..???

    ( Qur’an Surat Al Qamar ayat 17,22,32,40 )

    Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah
    ( Al Qur’an ), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih.( QS16/An Nahl ayat 104 )

    1. Apa Al Qur’an itu ?

    Al Qur’an adalah Kitab Suci dari Allah S.w.t. untuk seluruh umat manusia dan alam semesta. yang di wahyukan melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhamad S.a.w .(QS 26 / Asy Syu’Araa’) ayat 192,193,194,195 (QS 04/An Nisaa’) ayat 82.

    . (QS 26 / Asy Syu’Araa’) ayat 192,193,194,195
    192. Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,
    193. dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril),
    194. ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,
    195. dengan bahasa Arab yang jelas🙄
    (QS 04/ An Nisaa’ ) ayat 82
    82. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan
    yang banyak di dalamnya.

    2. Bahasa apakah yang dipergunakan dalam Al Qur’an ?

    Bahasa Al Qur’an adalah bahasa Arab yang Jelas dan sangat baik (QS 26/Asyu’araa’ ayat 195; ( QS12/ Yusuf) ayat 1,2 ( QS43/AZ Zukhruf ) ayat 1,2,3
    ( QS16/An Nahl ) ayat 103,104
    (QS26/Asyu’araa’) ayat 195
    195. dengan bahasa Arab yang jelas. ( baca dari mulai ayat 192 !!! )

    (QS 12/ YUSUF ) ayat 1,2
    1. Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat kitab (Al Qur’an) yang nyata (dari Allah).
    2. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.

    (QS43/Az Zukhruf ) ayat 1,2,3
    1. Haa Miim.
    2. Demi Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan.
    3. Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami (nya).

    ( Qs16/ An Nahl ) ayat 103,104
    103. Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya Al Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa `Ajam, sedang Al Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang.
    104. Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah
    (Al Qur’an), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih.

    3. Mengapa Al Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab ?

    Karena Nabi Muhammad S.A.W adalah : orang Arab , berbahasa Arab dan Kaum yang diperingatkan pada sa’at itu berbahasa Arab.
    (QS 41/ Fush Shilat ayat 44 ; QS14/Ibrahim ayat 4; QS20/At Thaahaa ayat 2 ,QS44/Ad Dukhan ayat 58; QS19/Mariam ayat 97; QS 54 / Al Qamar ayat 17,22,32,40 )
    (QS41/Fush Shilat) ayat 44
    44. Dan jikalau Kami jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?”. Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh”.
    ( Qs 14/ Ibrahim ) ayat 4
    4. Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
    ( QS44/ Ad Dukhaan) ayat 58
    58. Sesungguhnya Kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran

    ( QS 19/ Mariam ) ayat 97
    97. Maka Sesungguhnya telah kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu , agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Qur’an itu kepada orang – orang yang bertakwa , dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.
    ( QS 54/ Al Qamar ) ayat 17,22, 32, 40
    17. Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?
    22. Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?
    32. Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?
    40. Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?
    (QS 07 / Al Araaf ) ayat 179
    179. Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

    4. Bagaimana isi Al Qur’an ?

    Al Qur’an terdiri dari 2 ( dua ) kelompok ayat yaitu:
    a. Ayat-ayat Mukhamat, yaitu : ayat – ayat yang pengertiannya jelas dan merupakan pokok – pokok isi Al Qur’an.
    b. Ayat – ayat Mutasyabihat, yaitu : ayat-ayat yang pengertiannya harus diuraikan terlebih dahulu oleh para ahlinya. ( Q3/Ali ‘Imran ayat 7 )
    Catatan : Kita harus memaklumi bahwa pada ayat-ayat Al-Qur’an ;mengandung hikmah, penuh dengan hikmah dan banyak ungkapan-ungkapan. (Q18./Al Kahfi) ayat 54 (Q 10/Yunus) ayat 1, (Q36/Yaasiin) ayat 2

    ( QS3/Ali ‘Imran ) ayat 7
    7. Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
    (QS18/Al Kahfi )ayat 54
    54. Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.

    (QS10/Yunus ) ayat 1
    1. Alif Laam Raa. Inilah ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung hikmah.
    (QS36/Yasin) ayat 2
    2. Demi Al Qur’an yang penuh hikmah,

    5. Apa tujuan diturunkan-Nya Al Qur’an ?

    Al Qur’an diturunkan agar manusia sejahtra ( selamat ) di dunia dan akhirat,
    (QS 19 / Maryam ) ayat 15,33 dan :
    a. Sebagai Rahmat untuk alam semesta.
    b. Sebagai Berita Gembira dan Peringatan untuk Manusia dan alam semesta
    c. Sebagai Petunjuk untuk orang yang bertaqwa
    d. Sebagai Pemisah antara yang hak dan yang bathil
    e. Dsb.
    ( Q3/Ali’Imran ayat 138, Q45/Al Jaatiyah ayat 20, Q68/Al Qalam ayat 52, QS 86/ Ath Thariq ayat 13 .dll cari sendiri !! )
    (QS 19 / Maryam ) ayat 15,33
    15. Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.
    33. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

    (QS03/Ali’Imran) ayat 138
    138. (Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
    (QS45/Al Jaatsiyah) ayat 20
    20. Al Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.
    (QS68/Al Qalam) ayat 52
    52. Dan Al Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat.
    (QS 86 /Ath Thaariq ) ayat 13
    13. sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil,

    6. Supaya sesuai dengan tujuan-Nya harus diapakan Al Qur’an itu ?

    Al Qur’an harus di Baca, di Mengerti, di Pahami dan di Amalkan
    Untuk dapat Membaca ,Mengerti dan Memahami Al Qur’an ada beberapa cara diantaranya 3 ( tiga ) cara yaitu :
    a. Belajar Baca Tulis Al Qur’an dan belajar Tata bahasa Arab
    ( Nahu,Sorof dsb)
    b. Membaca , Mengerti dan Memahami dalam bahasa yang dimengerti
    ( Indonesia , Jawa, Sunda, China Dsb ).
    c. Bertanya kepada yang ahlinya.
    (QS 96 / Al Alaq ayat 1;QS14/Ibrahim ayat 4, ,QS44/Ad Dukhan ayat 58,QS19/Mariam ayat 97).

    ( QS 96 / Al Alaq ) ayat 1
    1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
    (QS 29 / Al Ankabuut ) ayat 45
    45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    ( Qs 14/ Ibrahim ) ayat 4
    4. Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

    ( QS44/ Ad Dukhaan) ayat 58
    58. Sesungguhnya Kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran.

    ( QS 19/ Mariam ) ayat 97
    97. Maka Sesungguhnya telah kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu , agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Qur’an itu kepada orang – orang yang bertakwa , dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.

    7. Kapankah waktunya yang tepat untuk membaca ( mengkaji ) Al Qur’an ?

    Waktu yang tepat untuk membaca Al Qur’an hanya masing-masing pembacanyalah yang paling paham karena di sesuaikan dengan keadaannya masing- masing , akan tetapi apabila kita ingin menghayati dan mencermati , dan mendapatkan hikmah-Nya , Allah menyuruh kita untuk membaca ( mengkaji ) di sa’at ½ atau 1/3 malam terakhir.(QS 73 / Al Muzzammil ) ayat 1- 9 dan ayat 20.
    (QS 73/ Al Muzzammil ) ayat 1 s/d ayat 9
    1. Hai orang yang berselimut (Muhammad),
    2. bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya),
    3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit,
    4. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan.
    5. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.
    6. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.
    7. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).
    8. Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.
    9. (Dia-lah) Tuhan masyriq dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.

    8. Surat atau ayat apa yang harus dibaca dan didahulukan ?

    Mengenai ayat atau surat apa yang harus dibaca kita di sarankan untuk membaca dan mengahayati ayat – ayat yang mudah dan jelas ,dalam hal ini kita bisa memilih sesuai dengan kemampuan kita masing – masing.
    (QS 03/ Ali Imran ) ayat 7 dan ( QS 73/ Al Muzzammil ) ayat 20.

    (QS 73/ Al Muzzammil ) ayat 20
    20. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    9. Bagaimana tata cara (Adab) membaca ( mengkaji / memahami ) Al Qur’an supaya kita mendapatkan Hikmah -Nya ?

    a. Berwudhu ( QS.56/ Al Waaqi’ah) ayat 77-79
    b. Sebelum membaca Al Qur’an kita harus meminta perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk ( Ta’ud ) A’udzubillaahiminas syaithonirroojim. ( QS16/An Nahl ayat 98 )
    c. Kemudian membaca Asma Allah ( Bismillaahirrohmaanirrohiim ).( QS 96/ Al ‘Alaq )ayat 1
    d. Al Qur’an harus dibaca perlahan – lahan, tidak tergesa-gesa ( kecepatannya bukan suaranya ) , dan berdo’a Ya Tuhanku tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan ( QS 73/Al Muzzammil ayat 4, QS 20/Thaahaa ayat 114 ).
    e. Di baca dalam bahasa yang dimengerti atau dipahami dengan jelas.
    (QS14/Ibrahim ayat 4,QS19/Mariam ayat 97 dan QS 44/Ad Dukhaan ayat 58).
    f. Adapun yang memasukan hikmahnya kedalam dada orang yang membaca dan mengamalkannya adalah Allah.( QS 75/Al Qiyamaah ayat 16,17,18,19).
    g. Dan yang memberikan pengertian kepada yang membaca dan mengamalkannya adalah Allah. ( QS 75 /Al Qiyamaah ayat 16,17,18,19).
    h. Selama membaca ( mengkaji, memahami dan mengamalkan ) Al Qur’an harus menggunakan Akal ( QS 10 / Yunus ) ayat 100.
    i. Pada pelaksanaannnya kontrol diri kita agar tidak mengatakan / menyuruh apa yang kita sendiri tidak / belum melaksanakannya ( QS 61 / Ash Shaff ) ayat 2 dan 3.

    a. Berwudhu ( Qs.56/ Al Waaqi’ah) ayat 77-79
    (Qs.56/Al Waqi’ah ) ayat 77-79
    77. sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia,
    78. pada kitab yang terpelihara ( Lauh Mahfuzh )
    79. tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.

    b. Sebelum membaca Al Qur’an kita harus meminta perlindungan kepada
    Allah dari godaan syaitan yang terkutuk ( Ta’ud ) (Q16/An Nahl ayat 98)

    ( QS16/ An Nahl ) ayat 98
    98. Apabila kamu membaca Al Qur’an , hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.

    c. Kemudian membaca Asma Allah (QS 96/ Al ‘Alaq ayat 1)
    ( QS 96/ Al ‘Alaq ) ayat 1
    1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan

    d. Al Qur’an harus dibaca perlahan – lahan, tidak tergesa-gesa ( kecepatannya
    bukan suaranya ) .( Q73/Al Muzzammil ayat 4, Q20/Thaahaa ayat 114 ).

    ( QS 73/ Al Muzzammil ) ayat 4
    4. atau lebih seperdua itu. Dan Bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan – lahan.

    (QS20/ Thaahaa ) ayat 114
    114. Maka Maha Tinggi Allah Raja yang sebenar – benarnya dan janganlah
    kamu tergesa – gesa membaca Al Qur’an sebelum disempurnakan
    mewahyukannya kepadamu dan katakanlah:” Ya Tuhan tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”

    e. Di baca dalam bahasa yang dimengerti atau dipahami dengan jelas.
    (Q14/Ibrahim ayat 4,Q19/Mariam ayat 97 dan Q44/Ad Dukhaan ayat 58).

    ( QS 14/ IBRAHIM ) ayat 4
    4. Kami tidak mengutus seorang Rasulpun , melainkan dengan bahasa kaumnya , supaya dia dapat memberikan penjelasan dengan terang kepada mereka . Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki , dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki . Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

    ( QS 19/ Mariam ) ayat 97
    97. Maka Sesungguhnya telah kami mudahkan Al Qur’an itu dengan
    bahasamu , agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Qur’an itu kepada orang – orang yang bertakwa , dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.
    ( Q44/ Ad Dukhaan) ayat 58
    58. Sesungguhnya Kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu supaya
    mereka mendapat pelajaran

    f. Adapun yang memasukan hikmah dan pengertiannya kedalam dada orang
    yang membaca dan mengamalkannya adalah Allah.
    ( Q75/Al Qiyamaah ayat 16,17,18,19).

    (QS75/Al Qiyamah) ayat 16.17,18,19
    16. Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya.
    17. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
    18. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
    19. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.

    (QS 10 / Yunus ) ayat 100
    100. Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

    ( QS 61 / Ash Shaff ) ayat 2 – 3
    2. Hai Orang – orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak perbuat ?
    3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa -apa yang tiada kamu kerjakan.

    Hindari pengkultusan pribadi
    ( QS03 / Ali ‘Imron ) ayat 79
    Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab,Hikmah dan Kenabian, lalu ia berkata kepada manusia:”Hendaklah kamu menjadi penyembahku bukan penyembah Allah.”akan tetapi ( dia berkata ):”Hendaklah kamu menjadi orang-orang yang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”
    Memohon dan Kembalilah hanya kepada Allah dan Rasul-Nya.
    Qs3/Ali ‘Imran ayat 53
    Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti Rasul , karena itu masukanlah kami kedalam golongan orang-orang yang menjadi saksi ( tentang ke Esaan Allah ). Aamien.
    ***************************************
    Wahai saudara-sadaraku hamba Allah marilah kita sama-sama kembali kepada ridho dan rahmat –Nya. Baca dan pelajari lah Al Qur’an dengan bahasa yang dimengerti , mulailah dengan ayat-ayat mukhamat dan yang mudah menurut ukuran pembaca.
    Kita akan mendapatkan hikmah dari Al Qur’an apabila kita melaksanakan ayat yang dibaca serta mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya .
    Perintah-Nya adalah : Jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, berbuat baik terhadap kedua orang tua, Fakir miskin, Yatim, yatim piatu, kaum kerabat , ibnu sabil, tetangga dekat dan tetangga jauh.
    Hindari : Iri, dengki , fitnah ,merusak, permusuhan, judi, perjinahan minuman / makanan yang memabukan dsb. Karena sifat tersebut adalah sifat Iblis yang terkutuk dan sudah berjanji dihadapan Allah untuk menyesatkan Manusia.
    Kita harus menyadari bahwa Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang berbeda-beda (QS Ad Dzariat ayat 4 ):Jenis kelamin, status sosial, bangsa, bahasa , adat istiadat, pendapat , warna kulit dsb.
    Jadikanlah perbedaan tersebut sebagai rahmat-Nya.
    Kewajiban Rasul, Nabi ,saya dan saudara-saudara sekalian adalah melaksanakan perintah-Nya dan menyampaikan firman-firman-Nya
    Dan yang harus selalu diingat janganlah menyuruh orang lain berbuat kebaikan sebelum kita melaksanakannya.agar kita terhindar dari murka-Nya.
    Tujuan tulisan singkat ini di buat untuk mencari ridho-Nya dan sebagai sasaran antara sebelum kita semua mengerti dan memahami Al Qur’an dalam bahasa aslinya agar kita mempunyai gambaran yang jelas apa Al Qur’an itu ? .dari Allah ( yang tertulis dalam Al Qur’an ). Sehingga dalam pelaksanaan ritual ibadah yang terdapat dalam Sunnah Rasul dan Hadist – Hadist Nabi hati kita menjadi lebih khusyu.
    ( Kami menyarankan untuk membaca Tafsir Al Qur’an terbitan DEPAG .RI. karena hasil terjemahan 10 orang tokoh agama yang menurut kami sangat ahli dibidangnya.dan disertai referensi Hadist-Hadist dan Tafsir yang bisa dipertanggung jawabkan , atau CD Holy Qur’an versi 6.5 Dan kamipun sangat menyadari bahwa tiap ayat-ayat Al Qur’an penuh dengan pengertian dan hikmah , dan Allah lah yang memasukan hikmah tersebut kepada orang yang dikehendaki-Nya.
    Akhir kata kami meminta ma’af apabila dalam tulisan singkat ini ada kesalahan. Kami mengharapkan penyempurnaan dari saudara – saudara / hamba-hamba yang dimulyakan Allah yang lebih paham dan mohon dilengkapi dengan hadist-hadistnya Dan semoga kita semua menjadi orang-orang Rabbani. Aammien
    Catatan : Dengan Segala Kerendahan Hati apabila pada tulisan ini mengandung hal hal yang menjurus kepada pendapat pribadi penulis mohon untuk tidak di perselisihkan, akan tetapi penulis hanya menyampaikan firman – firman Allah S.w.t. dan mencermatinya yang merupakan kewajiban kita semua .
    Dengan kata lain Jangan dilihat siapa yang menulis dan kearah mana penulis maksudkan , akan tetapi bacalah ( Kaji, Hayati dan Amalkan ) sebagian ayat – ayat Al Qur’an tersebut ( ayat – ayat tersebut termasuk ayat Mukhamat yaitu ayat yang jelas dan mudah di mengerti ) mudah – mudahan hati kita tergerak untuk biasa membaca ( Mengkaji, menghayati dan mengamalkan ) keseluruhan ayat – ayat Al Qur’an.
    Adapun kesimpulam akhir ( Hikmahnya ) pembacalah yang lebih paham sesuai dengan amalan- amalan yang dilakukan , pola pikir, latar belakang pendidikan dsb. Wallahu Alam

    Wasalamu’alaikum .
    Penulis
    Dedi Jukardi
    Jl : Jl.Bumi Asih No.21-23
    Komplek Santosa Asih Jaya
    Rancasari – Bandung 40292
    Tlp.(022) -7506664-7507414 Hp.08122182894

  8. harry says:

    Soalan yang baik. Mari fikir bersama-sama.

    Semua soalan akan terjawab apabila kita melalui tertib yang sama sepertimana mereka yang yang telah mendapat anugerah Radhiallhuanhum dari Allah SWT iaitu sahabat-sahabat Nabi SAW.

    Contoh.
    Seorang petani yang berusaha menanam sayuran. Mulanya tanah di bersihkan, pokok di tebang, rumput diracun, tanah digemburkan. Kemudian benih disemai, disiram dan dijaga sehingga besar. Akhirnya barulah dapat hasilnya.
    Seorang lagi belajar semua cara-cara menanam dari mula hingga akhir tetapi tidak membuat usaha mananam sayuran.

    Disini didapati kedua-dua mempunyai pengetahuan mananam sayuran tetapi petani lebih memahami susah senang menanam sayuran. Maka terdapat perbezaan diantara yang tahu dan yang faham.

    Kefahaman akan diperolehi apabila kita berusaha mengikut tertib yang sama dengan mengorbankan diri, harta dan masa.

    Contoh.
    Sekiranya kita hendak membuat kek. Kita mesti mengikut tertib dan peraturan cara membuatnya. Jika tidak, kek yang kita masak tidak akan menjadi seperti yang kita hajatkan.

    Agama islam hanya satu dan usaha agama hanya satu iaitu cara Nabi SAW.

    Sudah tentu terdapat perbezaan kefamahan mengenai beras/padi antara seorang yang hari-hari makan nasi dengan seorang yang hari-hari buat usaha mananam padi.

  9. ikutan share yaa…🙂
    kenapa urutan ayat-ayat Al quran [kesannya] tidak berurutan ?
    saya setuju dengan semua pendapat diatas, saya juga mau nambahin, bahwa itulah salah satu ‘rahasia’ dari Al quran….
    ada ayat-ayat yg maknanya tidak akan pernah tertangkap oleh pemikiran logika manusia secanggih apapun tanpa ijin-Nya. Kalo ndak salah ayat-ayat itu disebut ayat-ayat Mutasyabih.
    Dan ada juga urut-urutan ayat Al quran yg kesannya tidak teratur dan [nyaris] tidak bisa dicerna oleh akal. Urut-urutan ayat-ayat itu [mungkin] bisa disebut juga sbg urut-urutan Mutasyabih. Alias tidak mampu kita cerna tanpa ijin-Nya.
    Hehehe… maaf ya, saya cuma ‘ngarang’ doank, alias menjawab dg asal-asalan…..

    tapi menurut pengalaman saya dalam membaca Al quran [maksudnya terjemahannya :D…] memang sih awalnya saya bingung, tapi kemudian saya pakai trik tafsir versi saya sendiri, eh, malah nyambung dari satu ayat ke ayat berikutnya. Malah, saya jadi banyak tahu mengenai hal-hal baru khususnya mengenai masalah keimanan saya. Sekarang saya baru sadar, ternyata Al quran memang hebat, bahkan sangat hebat…!!!
    Note: Tentu saja, saya menfasirkannya dg bimbingan seorang Mursyid. Soalnya takut sesat…:)

  10. Assalamu ‘alaikum wr.wb.

    Komentar saya tentang bagaimana orang seharusnya memahami Al Qur’an itu saya coba sarikan dari apa yang Guru saya Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad Attamimi ajarkan, yaitu sebenarnya Allah SWT menurunkan Al Quran itu ada dua macam : Quran Tekstual (kitabnya sendiri) dan Quran Hidup (Orang Allah, ahlillah) yang menjadi pelaksana pertama dari Al Quran itu.

    Saya ingat ada hadits dari Siti Aisyah yang menjawab pertanyaan dari Para Sahabat tentang akhlak Rasulullah, jawabannya ternyata simpel “Akhlak Rasulullah itu adalah Al Qur’an”. Rasulullah lah Al Quran hidup. Kalau Para Sahabat ingin tahu seperti apa Al Qur’an itu bisa diimplementasikan, Para Sahabat cukup melihat Rasulullah saja.

    Di waktu masih ada Nabi dan Rasul, Qur’an hidupnya adalah Nabi dan Rasul. Di zaman diturunkannya Taurat, Taurat hidupnya adalah Nabi Musa AS. Di zaman diturunkannya Qur’an, maka Rasulullah SAW lah Qur’an hidup nya. Di zaman ini, dimana tidak ada lagi Nabi, maka Guru-guru mursyid dan mujaddid lah Qur’an hidupnya. Ada sedikit tulisan tentang hal ini di http://kawansejati.ee.itb.ac.id/node/15954.

    Satu hal lagi, kalaulah semua orang harus pandai baca Al Qur’an dan faham bahasa Arab, bagaimana dengan orang bukan Arab yang baru masuk Islam ? Apakah semua orang harus memahami Al Qur’an seperti Guru-guru mursyid ? Tidak akan mampu. Maka Tuhan jadikan Islam itu mudah dengan adanya keberkatan seorang pemimpin, seorang guru yang kenalkan kehidupan kita dengan Al Islam. Pemimpin inilah penerjemah, penafsir dan orang yang mempraktekkan Al Qur’an sehingga Al Qur’an bisa di cerna dan dipraktekkan oleh orang-orang biasa seperti kita, tanpa kita merasa ditarik-tarik dan dipaksa-paksa. Tulisan lengkap tentang hal ini ada di http://affanzbasalamah.wordpress.com/2007/01/05/islam-itu-mudah/

    Mudah-mudahan berguna,
    wass.wr.wb.

  11. agustinus says:

    Assalamualaikum, Wr.Wb
    Saudara Wisnu.
    Setiap penciptaan sesuatu pasti ada tujuan dibalik hal tersebut.
    Begitu juga setiap pertanyaan memerlukan jawaban.
    tapi apakah hal itu dapat memuaskan penerimanya, yang diciptakan atau yang mendaptkan jawaban.

    Saran saya, anda tidak dapat mempelajari isi dan kandungan Al Qur’an secara sendiri. Sebaiknya anda carilah seorang guru yang menguasai atau faham dengan wawasan yang luas.

    Karena setiap surah dan ayat, mempunya 2 makna:
    1. Tersurat.
    2. Tersirat.

    Mungkin anda dapat mempelajari makna tersurat dari tafsir yang banyak ditemui di toko buku.

    Tetapi utuk makna tersirat anda memerlukan seorang guru yang wawasan dan fahamnya luas.

    Kenapa hal ini diperlukan ???
    Tujuannya untuk menghindarkan anda dari kekeliruan, dan salah menafsirkan.

    Ini saja yang dapat saya sarankan pada anda, mudah-mudahan anda mendapatkan petunjuk dari Allah dan diberi kefahaman yang luas.

    Amin

  12. walaupun al quran [kesannya] tidak beraturan, tapi kalau terus dicoba untuk direnungi, eh, lama-lama hati jadi tentram… al quran memang ajaib …:smile:

  13. onohaw says:

    seingat saya urutan ayat-ayat Quran yang kita kenal saat ini adalah hasil usaha penyeragaman Usman bin Affan. Tadinya ada 8 versi, tapi beliau memilih salah satu dan dijadikan standar. Tapi itu katanya sih😳

  14. gurandille says:

    Alqur’an nur karim diawali dengan surat fatihah (pembuka) diakhiri dengan surat Anass (Manusia) sehingga Alquran merupakan kita Pembuka Rahasia Manusia, agar dapat mengenal Tuhannya, “Barang siapa mengenal jiwa (diri) nya maka ia akan mengenal Tuhannya” MAN AROFA NAFSAHU FAQOD AROFA NAFSAHU”  apakah itu bukan kitab yang sistematik..?

    Ass Kang Herry, mohon maaf nyelonong nich, walaupun telat, tapi pengin juga urun rembug, Met Kenal .. baru tau blog ini.
    Alhamdulillah saya seneng banget dg isi blog ini serta member membernya.
    wass wrwb

  15. gurandille says:

    maaf ada revisi dikit ..:lol:
    Alqur’an nur karim diawali dengan surat fatihah (pembuka) diakhiri dengan surat Anass (Manusia) sehingga Alquran merupakan kita Pembuka Rahasia Manusia, agar dapat mengenal Tuhannya, “Barang siapa mengenal jiwa (diri) nya maka ia akan mengenal Tuhannya” MAN ‘AROFA NAFSAHU FAQOD AROFA ROBBAHU”  apakah itu bukan kitab yang sistematik..?

    Ass Kang Herry, mohon maaf nyelonong nich, walaupun telat, tapi pengin juga urun rembug, Met Kenal .. baru tau blog ini.
    Alhamdulillah saya seneng banget dg isi blog ini serta member membernya.
    wass wrwb

  16. Yuda says:

    Astagfirullahalazim, bismillahhirohmannirrohim,
    Mohon maaf sebelumnya bila lancang.saya boleh ikut memberi masukan pada pertanyaan ini?
    Saya coba kutibkan beberapa ayat Al Quran untuk menambah referensi dalam masalah mutasyabihat.
    “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an (jelas maksudnya) dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat (sarat duga atau multi interpretatif). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya, mereka berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal.” (Ali Imran: 7)

    “Dan perumpamaan-perumpamaan ini (ayat-ayat mutasyabihat) Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al Ankabut: 43)

    “Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata (terang maknanya) di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.(ulama) Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim”.(Al Ankabut:49)

    “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang ingkar mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,” (Al Baqarah: 26)
    “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al Araaf :179)

    “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya,” (Al Imran 7

    Ini menunjukkan bahwa Al Quran memiliki kemungkinan untuk dipahami secara luas dan dalam. Bahkan mengapa surat yang pertamakali turun yakni Al Alaq ditempatkan pada urutan ke 96 tentunya menjadikan urutan surat-surat dalam Al Quran juga menjadi mutasyabihat. Kenyataannya-lah bahwa sebagian besar ayat-ayat Al Quran, bahkan urutan suratnya adalah mutasyabihat.
    Penting untuk kita sadari, bahwa kemampuan akal (otak) untuk memahami secara obyektif-empiris, ada batasnya. Contohnya, untuk memahami dimana ujung batas dari alam semesta ini saja akal tidak dapat menjangkaunya. Apalagi untuk secara langsung memahami sesuatu yang batin.
    Kitab Al Quran ada menjelaskan bahwa dengan berpikir saja tidak cukup untuk memahami Al Quran.
    Firman Allah :”Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali dengan persangkaan (asumsi hasil pikirannya) saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Yunus:36)
    ”Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan ilmunya dan belum datang kepada mereka takwilnya (penjelasannya). Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu.” (Yunus: 39)
    Kedua ayat di atas Allah menujukkan sesuatu yang batin tidak dapat dipahami dengan ilmu akal saja, harus dipahami dengan ilmu batin(hati)
    Karenanya, untuk memahami Al Quran pada sisi batinnya, perlu masuk ketingkat persepsi yang lebih tinggi.
    “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Al Hajj: 46)
    Pada ayat-ayat di atas Allah telah menunjuk hati sebagai pusat kesadaran manusia, bukan pikirannya. Jadi Islam mendahulukan hati yang aktif, sebagai pusat kesadaran, sehingga dapat menerima ilham, kemudian dilanjutkan dengan berpikir dengan akalnya.

    Semoga dapat bermanfaat. Amiin

  17. Shaffarizan Mohamad says:

    tidak masuk akal kalau kita membahaskan yang kita tidak memahami konteks Al Quran, kenapa Al Quran tidak disusun secara sistematik pada pandangan setengah orang yang hanya berpeluk kepada sistem akalnya yang kerdil itu? kerana mereka yang mempersoalkan sistematik atau tidaknya Al Quran itu harus memikirkan – apakah ada sistem yang dipergunakan oleh malaikat Izrail untuk mencabut nyawaku?

    Al Quran ialah petunjuk paling benar, paling utuh dan paling berkesan dijiwa yang merendah hatinya kepada Allah Tuhan semesta alam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s