Pernikahan: Mengasah Diri Melalui Pasangan

sacred-union

Oleh Herry Mardian

KUTIPAN dari sebuah diskusi via e-mail antara saya dan Ilham*… mail ‘sumber persoalannya’ saya edit biar nggak terlalu panjang. Oh ya, tulisan ini bukan curhatannya Ilham. Tapi tulisan ini kami terima via e-mail, dan kami jadi mendiskusikan pernikahan dan cinta.

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.

Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman. Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.

Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik. Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua. Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur.

[Ilham]

Dari tulisan di atas yang saya baca, saya jadi punya pertanyaan, Her:

“Apakah ‘mencinta’? Mencintai cara kita mencintai, atau mencintai dirinya?”

[Herry]

Ham, apakah ada sebuah kebahagiaan yang sempurna, bulat? Seratus persen? Tidak ada. Setidaknya, tidak dalam kehidupan kita yang sekarang. Mengharapkan sebuah perkawinan yang bahagia, sempurna, total, bulat seratus persen bahagia,.. dream on. Not in this life. If you do, then you sucks. Loser. Try to get sober. Wake up. Hang on, get a grip. Whatever.

Tapi perkawinan yang –relatif– bahagia, bisa jadi ada. Walaupun jarang. Berapa lama kita bisa tampil sempurna di hadapan pasangan? Sesuai standar kesempurnaan yang dia harapkan? Nggak mungkin, karena standar kesempurnaan tiap orang pun terus berubah. Honeymoon –will– be over no matter what. But at least, we hope that the biggest portion of our marriage is happines. Itu –relatif–, bukan sempurna.

Mencintai itu ‘memberi’. Tanpa mengharapkan apapun. Seperti matahari yang memberikan sinarnya, atau pohon yang memberikan buah dan manfaatnya tanpa mengharapkan balasan apa-apa hingga dia menjadi layu dan mati. Seperti laut yang terus memberikan mutiara biarpun bilyunan ton sampah dibuang kemukanya setiap hari.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada.

(Sapardi Djoko Damono)

Itu level mencintai Ilahiyah. Divine Love. Sejak manusia pertama hingga sekarang, hanya beberapa gelintir manusia yang mempu mencintai seperti itu. Bahkan seorang ibu pun mengharapkan balasan dari anak-anaknya, apakah itu berupa perhatian, bakti, kesopanan maupun tanda terima kasih. Bahkan istri-istri nabi pun cemburu, mengharapkan sesuatu yang ‘lebih’ dari suaminya untuk dirinya, dan membuat lelah dan murung Sang Rasul hingga harus turun wahyu untuk menghibur Beliau saw.

Think: if you were accidentally burnt from head to toe, you become really ugly and disgusting, can’t work anymore, paralyzed… all money’s gone for medication.. will your spouse still love you –‘as you are’– ? Apakah kata-kata indah saling mencintai dan menyayangi masih bertaburan? Saya benar-benar berharap, semoga masih, demi Allah. Semoga. Jika demikian maka itu pasangan sejatimu, dan doakan semoga Allah membalasnya dengan cinta-Nya yang sejati, karena engkau telah sepenuhnya ridha pada pasanganmu. Jika demikian maka ia lebih layak untuk Dia daripada untukmu. Serahkan pada-Nya. Berikan kekasihmu untuk-Nya sebagai persembahan tertinggimu kepada-Nya.

Tapi, kalau ternyata tidak, who will love you then?

Cinta sempurna, hanya bisa diraih dan didapatkan dari sosok yang Maha Sempurna. Itulah yang dicari para pejalan ruhani sejati: menginginkan dicintai dan mencintai secara sempurna, oleh dan untuk Yang Maha Sempurna Cintanya.

Lalu untuk apa menikah? Justru itu. Kalau menikah hanya untuk mengejar cinta (psikologis), ia akan habis suatu saat. Apalagi kalo cuma mengejar ketampanan dan kecantikan, harta dan status. Then you will spent the rest of your life, sharing your bed and giving your body to someone that you know he/she ‘just doesn’t have it anymore’. Deep in your heart, you will sigh every second. Helpless. Trapped in your life, breathing in something you don’t like, in every single moment for the rest of your life. You –lose–.

Cinta memang sebuah perasaan yang dahsyat, sering membuat lupa diri, dan sangat jarang orang yang tidak ‘mabuk’ dan mampu menguasai rasionalitasnya ketika dihantam cinta. Tentu saja, karena cinta adalah proyeksi terendah dari asma ‘Ar-Rahiim’, sesuatu milik Yang Maha Agung. Proyeksi terkecilnya saja, bahkan dalam level cinta fisikal dan mental, sudah sedemikian dahsyat efeknya kepada makhluk. Hidup jadi indah, inspirasi mengalir, dan karya-karya raksasa dan monumental akan lahir dari tangan kita karena proyeksi terkecil asma Ilahiyah itu. We become drunk, and try everything we can to not get sober. Not now. No way. Apalagi ketika Allah percaya pada pengabdian kita, dan berkenan menugaskan malaikat untuk menyematkan asma ‘Ar-Rahim’-Nya, yang ‘asli’ dan bukan proyeksi, di dada jiwa kita. Kayak apa dahsyatnya.

Nah, para pejalan ruhani (sufi yang beneran, bukan ngaku sufi atau baru baca beberapa buku sufi macam saya ini) menempatkan pernikahan sebagai kerangka untuk belajar, tangga untuk meraih cinta sejati ini. That Divine Love. To love and be loved, divinely. Perfectly. Sejak awal, paradigmanya beda: baik si pria atau si wanita, sepenuhnya memahami dan mau menerima ketidaksempurnaan pasangannya. Di dalam hati akadnya justru itu: ‘pasangan saya akan ada buruknya, but yet i’m marrying him/her‘.

Ituah sebabnya, kata rasul, bumi dan langit, dan para penghuni langit berguncang, bergetar ketika ada pasangan manusia yang mengucap akad nikah, sumpah nikah mereka. Karena pada hakikatnya mereka berdua bersumpah di hadapan seluruh keagungan majelis Allah ta’ala untuk bersama-sama melangkah memasuki sebuah ‘keberserahdirian’: mereka tidak tahu akan mengalami apa di dalam sana. Proudly (or foolishly) stepping one’s foot into the realm of absolute unknown.

Sumpah ini adalah sumpah kedua terberat setelah sumpah eternal jiwa manusia di Qur’an [7]:172. Bumi dan langit tidak habis pikir dan ngeri: kok berani-beraninya ngambil SKS seberat itu, padahal nanti mereka akan dihakimi Allah ta’ala langsung. Kuliah pertama [7]:172 nya saja belum lulus. Padahal yang mengucapkan sumpah itu ketawa-ketiwi setelahnya, mendengarkan khutbah nikah orang KUA yang nyerempet-nyerempet jorok dan porno (sial, peristiwa sakral kok ngelawak jorok). Bumi sebenarnya udah mau geleng-geleng kepala, tapi teringat bahwa kalau ia geleng-geleng maka seluruh penghuni bumi kiamat dilanda gempa. Makanya semakin ada orang nikah, maka bumi semakin sabar, belajar menahan dirinya untuk tidak geleng-geleng kepala, hehe..

into the unknown

Kembali ke laptop.

Makanya, beragama lewat pernikahan itu lebih berat daripada selibat. Kata Rumi, “kalau engkau termasuk manusia pemberani, maka tempuhlah jalan Muhammad (yaitu menikah dan membersihkan diri lewat pasangan). Tapi kalau tidak, maka setidaknya tempuhlah jalan Isa.”

Justru tujuan pernikahan bagi mereka (para penempuh jalan spiritual sejati) masing-masing lelaki dan wanitanya adalah ‘menggunakan’ ketidaksempurnaan pasangannya itu untuk membersihkan jiwanya sendiri. Dia mengamplas hatinya lewat pasangannya, demi meraih Cinta Sempurna (C dan S nya kapital) untuk diri dan pasangan mereka, karena masing-masing diri mereka menyadari bahwa cinta mereka untuk pasangannya bukanlah cinta yang tertinggi.

Socrates paham sepenuhnya hal ini. Ia, sebagai seorang pencari kebenaran hakiki (sufi sejati juga kali?) justru mencari wanita berperangai paling buruk di Athena untuk ia nikahi. Ia ingin mengasah kebijaksanaan dan kesabarannya lewat istrinya. Kata-kata beliau yang terkenal setelah menikah: “By all means, get married! If you get a good spouse you’ll be happy. If you get a bad one, you’ll become a philosopher. You have nothing to lose.” Lucu sih. Tapi dalem.

Ini dari kitabnya Rumi, Fihi Ma Fihi diskursus #20, terjemahan monsiour Herr Mann Soetomo, tentang pernikahan sebagai jalan Muhammad:

Siang dan malam engkau senantiasa berperang, berupaya mengubah akhlak dari lawan-jenismu, untuk membersihkan ketidak-sucian mereka dan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka. Lebih baik mensucikan dirimu-sendiri melalui mereka daripada mencoba mensucikan mereka melalui dirimu-sendiri. Ubahlah dirimu-sendiri melalui mereka. Temuilah mereka dan terimalah apa saja yang mereka katakan, walaupun dari sudut-pandangmu ucapan mereka itu terdengar aneh dan tidak-adil.

Pada hakikat dari persoalan ini lah, Muhammad S.A.W. berkata: “Tidak ada kerahiban dalam Islam.” Jalan para rahib adalah kesendirian, tinggal di pegunungan, lelaki hidup tanpa perempuan dan berpaling dari dunia. Allah menunjukkan jalan yang lurus dan tersembunyi kepada Sang Nabi. Jalan apakah itu? Pernikahan, agar kita dapat menanggung ujian kehidupan bersama dengan lawan-jenis, mendengarkan tuntutan-tuntutan mereka, agar mereka memperlakukan kita dengan keras, dan dengan cara demikian memperhalus akhlak kita.

Menanggung dan menahan penindasan dari pasanganmu itu bagaikan engkau menggosokkan ketidak-murnianmu kepada mereka. Akhlakmu menjadi baik melalui kesabaran; sementara akhlak mereka menjadi buruk melalui pendominasian dan agresi mereka. Jika engkau telah menyadari tentang ini, buatlah dirimu bersih. Ketahuilah bahwa mereka itu bagaikan pakaian; di dalamnya engkau dapat membersihkan ketidak-murnianmu dan engkau sendiri menjadi bersih.

Singkirkan dari dirimu kebanggaan, iri dan dengki, sampai engkau alami kesenangan dalam perjuangan dan penderitaanmu. Melalui tuntutan-tuntutan mereka, temukanlah kegembiraan ruhaniah. Setelah itu, engkau akan tahan terhadap penderitaan semacam itu, dan engkau tidak akan berlalu dari penindasan, karena engkau melihat keuntungan yang mereka berikan.

Diriwayatkan bahwa suatu malam Nabi Muhammad S.A.W. dan para sahabatnya kembali dari suatu ekspedisi. Belian menyuruh mereka memukul genderang, seraya berkata: “Kita akan berkemah di gerbang kota, dan memasukinya esok-hari.” Mereka bertanya: “Wahai Rasul Allah, mengapa kita tidak langsung saja kembali ke rumah masing-masing?” Beliau S.A.W. menjawab: “Bisa jadi engkau akan menemui istrimu di ranjang bersama lelaki lain. Engkau akan terluka, dan kegaduhan akan timbul.” Salah seorang sahabat tidak mendengar ini, dia masuk ke kota, dan mendapati istrinya bersama dengan orang lain.

Jalan dari Sang Nabi adalah seperti ini: Menanggung kesedihan itu perlu untuk membantu kita membuang egoisme, kecemburuan dan kebanggaan. Menahan sakit dari keinginan-keinginan berlebihan dari pasangan kita, sakitnya beban ketidak-adilan, dan ratusan ribu macam sakit lainnya yang tidak terbatas, agar jalan ruhaniah dapat menjadi jelas.

Jalan dari Nabi Isa a.s. adalah bergulat dengan kesepian dan tidak meladeni syahwat. Jalan Muhammad S.A.W. adalah dengan menanggung penindasan dan kesakitan yang ditimbulkan oleh lelaki dan perempuan satu sama lain. Jika engkau tidak dapat menempuh jalan Muhammad, setidaknya tempuhlah jalan Isa, sehingga dengan demikian engkau tidak sepenuhnya berada di luar jalan ruhaniah. Jika engkau mempunyai ketenangan untuk menanggungkan seratus hantaman, dengan memandang buah dan panen yang lahir melalui mereka, atau jika engkau diam-diam meyakini di dalam kalbumu, “Walaupun saat ini aku tidak melihat hasil-panen dari penderitaan ini, pada akhirnya aku akan meraih harta-karun,” bahwa engkau akan meraih harta-karun, itu benar adanya; dan yang jauh lebih berlimpah dibandingkan dengan yang pernah engkau inginkan dan harapankan.

Jadi, justru di jalan Muhammad orang yang mau menikah seharusnya sepenuhnya menyadari bahwa sifat-sifat pasangan yang ‘buruk’ itu akan menempa kita, demi menjadi bijak, bersih, matang, dan suci, untuk meraih cinta tertinggi bagi masing-masing pasangan. Ini bahagia atau tidak bahagia? Tergantung cara memandang ‘kebahagiaan’. Bahagia kelas permen atau bahagia kelas langit.

Di sisi lain, Rasul melarang menikah tanpa cinta, sekalipun itu paksaan orangtua sendiri. Cinta adalah landasannya pernikahan. Tapi para pejalan ini tahu, bahwa hanya ada dua kemungkinan arah cinta di awal pernikahan itu: cinta itu akan mati saja, atau cinta itu akan mati dan tertransformasi menjadi cinta yang lebih tinggi, dalam tiap tahapan pernikahan. Itu artinya menanggung tempaan secara teratur, selang seling senang dan martil.

Sekarang, kalau saya ditanya, memang mau menempuh pernikahan seperti itu? Berani? Sejujurnya, rasanya nggak lah. Ke’sufi’an (dalam tanda kutip) yang saya punya paling juga masih sebatas wacana. No way. Not way. Saya juga tentu mengharapkan kebahagiaan dalam pernikahan saya. Tapi pada saat yang sama, juga mengharapkan adanya transformasi. Agaknya kalau mau enak semuanya itu jawaban hawa nafsu saya saja.

Kalau merenungi landasan pernikahan kami lumayan membuat saya ‘berkeringat dingin’. Bukan mikirin malam pertama, tapi mikir landasan pernikahan kami. Udah benar belum ya, landasannya, niatnya, paradigmanya, harapannya? Kalo salah gimana? Apa yang terjadi nanti? Apakah langgeng, berantem, bercerai? Kaya, melarat? Nggak tau. Mutlak nggak tau.

Saya hanya berharap semoga Allah tidak pernah meninggalkan kami, dan mencukupi kebutuhan kami lahir dan batin, jasad dan jiwa. Semoga dari ketidaktahuan itu akan lahir sebuah Keberserahdirian yang mendatangkan rahmat.

Islam, aslama, berserah diri. Makanya kata Rasul, menikah adalah setengah diin, diinul-Islam, jalan keberserahdirian. Sebuah kebergantungan hati yang mutlak kepada Allah ta’ala, no matter how good we are. That sense is so hard to accomplish.

Semoga Allah menguatkan kami dalam penempaannya. Semoga Allah berkenan hadir mengunjungi kami dalam kebahagiaan-kebahagiaannya. Ya Rabb, please be gentle with me. This is my first. Actually, You are my first.

😉

Salaam,
–HerryMardian–

oups, tentang pernikahan baca juga tulisan ‘Rasa Cinta Yang Salah’. Siapa tau dapet insight.

(* Ilham D. Sannang, sahabat saya sejak tiga belas tahun lalu. Thanks a lot, ham!)

P. S. : Sebuah pepatah lucu Jerman:

Laki-laki paling pemberani adalah seorang suami yang pulang dari bar lewat tengah malam dalam keadaan mabuk. Ketika ia membuka pintu rumahnya, melihat istrinya membawa sapu untuk memukulinya, ia berkata, “Sayang, bawa-bawa sapu malam-malam begini di depan pintu, emang mau terbang kemana?”

___
* Gambar I merupakan close-up dari stained glass, buatan Stephen Adam tahun 1906. Diambil dari sini.

* Gambar 2 diambil dari sini.

Pernikahan: Mengasah Diri Melalui Pasangan

49 thoughts on “Pernikahan: Mengasah Diri Melalui Pasangan

  1. wah, gak sangka k ilham.
    good luck on ur marriage then.
    my mom mungkin sejenis philosopher kayak socrates itu. dulu gak nyangka, karena papa jarang marah. walau suaranya kayak geledek.. tapi, mereka selalu mesra dan bahagia. gak peduli papa dah bangkrut sekarang. duh.. kalau inget gimana mommy strive dulu itu.. beneran deh. untung ada temen2 yg baek kayak k herry ini.

  2. zal says:

    Mas Herry, apa khabar,
    membaca artikel ini, saya belum nyambung antara motif, dari emailnya Ilham dengan tulisan lanjutan, hemat apa yang terfahamkan, emailnya menggambarkan “kesatuan tanpa cinta”, sedangkan rangkaian tulisan lebih menggambarkan fenomena kecintaan kepada Ilahi, tks

  3. Halo om zal🙂 baik.. alhamdulillah.

    Sebenarnya kami sedang membahas tentang ‘mencintai’. Apakah mencintai itu, dan untuk apa. Jadi bukan membahas atau memecahkan persoalan si ibu tersebut. Tulisan tersebut hanya pemicunya.

    Yang kami, saya dan ilham, coba pahami adalah bahwa para pejalan sejati menggunakan cinta dan perkawinan sebagai instrumen untuk mengasah diri masing-masing pasangan, memurnikan hati masing-masing, demi cinta ilahiyah yang lebih tinggi.

    Di sisi lain, banyak sekali pernikahan tapi tujuannya untuk ‘cinta’ itu saja. Tidak salah sih, tapi para pejalan itu menyadari bahwa ada tujuan yang lebih tinggi dari perkawinan. ‘Cinta’ bukan tujuan perkawinan, tapi cinta merupakan anak tangga pertama di sebuah perkawinan, baru sebuah proyeksi terkecil ‘Ar-Rahim’ dari alam Jabarut ke alam Mulk, alam kita ini. Bukan tujuan. Hanya instrumen. Pernikahan harus melangkah ke level penyatuan yang lebih tinggi, dan tidak seharusnya berhenti di anak tangga pertama.

    Makanya, nonsense kalau kita ingin bahagia seratus persen. Sekian kadar ketidakbahagiaan ‘harus’ ada, seperti kata Rasul tadi. Karena dengan itu kita akan berkembang.

    Saya tidak mengatakan bahwa cinta dalam perkawinan pasti habis, tapi seharusnya berkembang menjadi dewasa, seperti perkembangan manusia. Kalau seorang anak tidak merkembang menjadi dewasa, ia akan mati. Demikian pula cinta.

    Kami sedang mengagumi konsep ‘pernikahan’ yang dipahami para pejalan itu. Kami (saya, tepatnya. Sori ham) sendiri, tentu masih jauh banget kualitasnya dari mereka:mrgreen:

  4. Oh ya, ini mail aslinya, versi yang tidak diedit. Siapa tahu ada yang butuh.

    Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur. Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.

    Setiap sore, ibu selalu membungkukkan nbadan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikit pun. Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang. Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin.

    Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

    Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran. Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno.

    Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.

    Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman.

    Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.

    Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.

    Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

    Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan –lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini.

    Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri.

    Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.

    Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu, dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati. Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia.

    Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik!

    Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di pel?

    Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah.
    Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkawinan mereka.

    Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya. Yang kamu inginkan?

    Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya. Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya.
    Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya.

    Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.

    Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku. Cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia.

    Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.

    Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan?

    Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku! ujar suamiku.

    Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu….dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya. Semua itu tidak penting-lah!ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.

    Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut.

    Kami meneruskan menikamti kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.

    Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkannya di atas meja buku, Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku. Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.

    Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.

    Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan.

    Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup.

    Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar kota. Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing.

    Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.

    Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia.

    Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.

    Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur.

    Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri, perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.

  5. zal says:

    Alhamdulillah, Thanks Mas Her, ini bagiku tak sekedar cerita, ini adalah fenomena yg memang hrs jadi pertanyaan antara abduhu dg Sang Khaliq,

    Arruum sepertinya teka-teki yang harus dibongkar, tentang “ada apa dengan cinta”, sering bahkan terlalu sering saya pertanyakan dalam hati, apa sich kehendakMU dengan “keberadaan” ini, namun sepertinya mungkin kita menurutNYA lebih baik tidak tahu daripada mengetahuinya, sebab mengetahuinya menjadikan berpindahnya beban yang langit dan bumi tak mampu menerima beban itu, itulah mungkin keRAchman dan RachimNYA, namun karena “rasa” itu disenggolkan kesegenap jasad ini, fikiran yang tak mampu mencerna ini mempertanyakannya, jika tak ada jawaban kecewa terhadapNYA, ini memang fenomena yg membingungkan…., padahal “jika Rasul itu memenuhi keinginanmu akan payahlah kamu…”

    Mas Her, rasanya memang fenomena perkawinan adalah tujuan yang saat ini saya fahamkan “tertinggi” dari tujuan, “dariKUlah segala berasal, kepadaKUlah kembalinya..”, namun seperti lagunya KD “aku ingin semua berjalan sesuai keinginanku”, itulah mungkin diperkenalkannya kalimat “muslimuun”, dan gambarannya seperti kebangaanNYA menceritakan Ibrahim AS, diberbagai surah, dan berulang dengan kalimah yang hampir sama, “ikutilah agama Ibrahim yang lurus”, permasalahannya memang kita berpandangan panutan ummat Islam adalah Muhammad SAW, padahal Beliau sendiri berkata, “aku adalah nabi terakhir, sesudah aku tidak ada lagi nabi, aku umpama bentuk bangunan, dimana ada sebuah sisi, jika sisi itu ditutup maka sempurnalah bangunan itu, itulah aku”, dengan ini fenomena yang terfahamkan bahwa dengan Beliau terjadilah “puzzle” yang sesungguhnya, dari sisi manapun melihat sudah merupakan gambar utuh…, namun pertanyaannya mudahkah fikiran menerimanya…?, kenapa Allah mengatakan “bagi hambaKU yang berfikir” , “bagi Hambaku yang mempunyai fikiran…”, apa yang berbeda dari dua kalimat ini,

    Jika melihat adanya Para Aulia, “yang dengan hampir-hampir sempurna menggambarkan inisial “kemanapun engkau memandang disana wajah Allah berada” , dan dibandingkan dengan adanya “sibodoh” ya saya ini, kedua kalimah diatas menempati titik-titiknya sendiri…, perbedaannya terletak pada “harus melakukan sesuatu untuk berproduksi” atau ” sudah berproduksi dengan sendirinya….”, wallahu a’lam

  6. arief mahbub says:

    mas herry, wah artikel-artikelnya bagus banget, banyak yang jadi masukan buat saya, yang ngajinya lagi agak kendor. salam buat mas bambang. btw, artikel-artikelnya boleh nggak saya kutip untuk teman-teman dikantor, untuk bahan renungan mereka.

    salam,
    arief mahbub

  7. Assalammualaikum…udah lama gak ngasi comment🙂
    Wah seneng banget, akhirnya muncul juga tulisan dengan tema pernikahan.Tulisan diatas bener2 ngasi banyak pencerahan.Dulu, saat wacana ttg pernikahan mulai hinggap di kepala saya,saya berfikir bahwa cinta adalah segala2nya.semuanya bisa selesai dengan cinta dan pernikahan selalu berbanding lurus dgn kebahagiaan.tetapi sekarang, saya sadar bahwa kebahagiaan dalam pernikahan,yang bulat, yang seratus persen, hanya ada di negeri dongeng saja😉 pada akhirnya, pernikahan adalah benar2 aktualisasi dari taqwa dan bukan hanya sekedar ‘cinta’. nah, masalahnya semakin saya berusaha mencari tau, konsep pernikahan dalam benak saya pun menjadi semakin rumit, dan kadang2 malah bikin jadi takut menikah hehehe…kapan2 bikin tulisan tentang pernikahan lagi ya  oya, tulisannya mo saya ‘bajak’ gpp kan? 

  8. wahyu says:

    wah..udah lama nggak ada artikel. Tau-tau nongol masalah nikah, emang yang ditanya sudah berpengalaman?:razz:

    jangan puja cinta, namun cintailah pemilik cinta
    jangan kejar kebahagiaan, kejarlah pencipta kebahagiaan
    jangan banyak berharap dari makhluk karena hanya menyebabkan kau kecewa
    jangan berniat untuk menikah biarkan nikah yang mendatangimu:razz:, dan jangan lari bila engkau bertemu nikah

    janganlah menikah karena syahwat meski itu jalan yang benar, menikahlah karena Allah yang sudah menetapkan, tahun, tanggal dan dimana nikah terjadi, dengan atau tanpa syahwat. Jadi lebih baik tanpa syahwat.

    Pernikahan yang ideal terjadi tanpa ikhtiar, dalam kondisi mendekatkan dan merendahkan diri kepada Sang Pendefinisi

    Siapkan anak-anakmu untuk menikah sejak dini. Saat mereka akil balik siapkan untuk melamar atau dilamar, meski mereka baru berusia 9 tahun! Karena demikianlah agama kita memberikan teladan. Jumlah umur bukan penunjuk kedewasaan, namun akil baliklah penunjuk kedewasaan.
    Nikahkanlah anakmu saat mereka sudah siap menikah, jangan malah halangi. Hari ini banyak yang lebih rela berzina daripada nikah. Beginilah hebatnya setan membalik-balikkan nilai.

  9. neng kinceu says:

    sekali lagi terima kasih atas pencerahannya.🙂,kok ya pas banget,pas saya lagi gundah,trus saya buka blog ini, eh,ternyata ada tulisan ini.Helps me a lot.
    Ternyata makna pernikahan jauh lebih dalem lagi dari yang saya tau selama ini. terimakasih banyak ya mas her!ditunggu lagi postingan2 yang membantu untuk dapet pencerahan lagi,hehehe.

  10. keren!
    slama ini saya pikir menikah hanya menikah,,
    tetapi maknanya jauh lebih indah dan dlm drpd otak saya yg kerdil..
    menikah dan menjadikan pernikahan jalan untuk meraih cinta tertinggi begitu kan?
    kata ibu saya “surga istri berada pada suaminya.jika ia dpt suami yang baik, maka bersyukurlah ia dpt tuntunan menuju ke syurga, bila ia mendapat suami jahat, maka bersyukurlah karna jika ia sabar maka itulah syurga baginya”

  11. Fara says:

    Assalamu’alaikum,

    Pak, salam kenal. saya minta ijin copy paste satu paragraf dari tulisan diatas untuk blog saya. trims.

    Wass.

    Fara

  12. Terima kasih Pak atas kunjungannya ke blog saya. Jadi ge-er nih. Saya mohon maaf jika blog Bapak sudah lama saya link di brogroll, tanpa minta izin terlebih dahulu. Habis, postingan Bapak bagus-bagus, sih. Semoga silaturahmi kita secara online bisa terus berlanjut. Terima kasih dan salam budaya!

  13. chacha says:

    semoga rahmat Allah selalu tercurah pada mas Herry. terima kasih padaNYa yang telah memberikan pencerahan pada saya melalui tulisan anda. bravo😀 saya tunggu lagi tulisannya tentang pernikahan ya mas? coz kasus saya menikah tanpa cinta karena orangtua, dan beberapa bulan ini saya selalu merasakan beban dlam kehidupan berumah tangga. tapi setelah membaca tulisan mas herry…. thanks to Allah SWT

  14. ica says:

    pencerahan sekali pak. terutama buat yg lagi mentok gini… niatnya nikah masih belum bener. saya sebar ni ke temen2 yg juga lagi pada mentok…🙂

  15. Sheikh Bawa Muhaiyaddeen berkata:

    Kehidupan berumah-tangga adalah suatu rahasia besar. Terdapat banyak rahasia di dalam kehidupannya. Kehidupan berumah tangga juga penuh dengan masalah. Engkau mungkin harus memanjat gunung-gunung tinggi, engkau mungkin akan berkelana melewati padang pasir, hutan-hutan dan banyak kota, engkau mungkin akan berjalan dalam guyuran hujan atau berkelana dengan perahu di lautan. Engkau bahkan mungkin harus berenang suatu saat. Kemiskinan dan kesulitan-kesulitan lainnya akan datang. Inilah semua yang kita namakan kehidupan, dan ini adalah perjalanan yang harus engkau jalani di kehidupanmu.

    Pernikahan sejati ada ketika dua orang menjadi satu dan berkelana bersama sebagai satu kesatuan. Ketika mereka berkelanan melalui laut, sang suami harus menjadi perahunya dan sang istri harus menjadi orang yang memandu perahunya. Ketika mereka memanjat gunung, sang istri harus menjadi tongkat yang digunakan untuk mendaki dan sang suami adalah pendaki gunungnya. Ketika hujan, sang suami haruslah menjadi payungnya dan sang istri adalah orang yang membawa payungnya. Ketika mereka menyeberangi padang pasir, seseorang haruslah menjadi untanya dan seorang lainnya harus menjadi penunggangnya. Terkadang posisinya harus dibalik. Seperti inilah kehidupan berumah-tangga.

    Dalam setiap keadaan, sudah seharusnya terdapat kebesamaan diantara kalian. Di dalam tindakan-tindakanmu, di dalam tingkah lakumu, dalam sifat-sifatmu, dalam makanan dan minumanmu, di dalam kewajiban-kewajiban yang engkau lakukan, dalam berkecukupan dan kekurangan, dalam suka dan duka, engkau harus berada di dalam kebersamaan. Saat-saat seperti ini harus dipikul bersama. Jika engkau bisa menemukan suami yang dengannya engkau bisa menjalani hidupmu seperti ini, hal itu akan menjadi pernikahan sejati.

    Kehidupan adalah perjalanan yang terus membawamu ke tempat-tempat yang berbeda. Jika sepasang istri dan suami dapat membuat perjalanan tersebut sebagai satu kesatuan, perjalanannya akan sangat baik.

    ————————————————
    To you my love:

    Selamat menempuh hidup baru sebagai seorang suami,
    Semoga Allah selalu membimbingmu menuju keluarga Sakinah, Mawaddah wa Rahmah,
    Semoga Rahmat dan Anugerah Allah selalu tercurah kepada keluarga mas herry setiap saat.
    amin ya Rabb

    with love dimas😉

  16. fajri says:

    Kang Herry, Subhanallah, makin hari tulisan yg dibuat makin dalam. Soalan menikah, mmg benar2 harus liLLAH, krn kecintaan terhadap makhluk dapat pudar. Tp atas dasar cinta kepadaNYA, maka segalanya akan terasa indah. Apalah yg kita cari di dunia, selain cinta dan keridhoanNYA??? Selamat mengarungi samudra rumah tangga, semoga kang Herry dan Istri bisa saling mengasah cinta, atas dasar cinta kepadaNYA….. Barakallahu laka wa baroka ‘alayka wa jama’a bainakumaa fii khair…..

  17. wah….baru pertama buka blog dan baca isinya, duh, tanda2nya saya bakalan nge-fans nie😉

    mas, boleh konsultasi ga ?? pengennya si japri aja.
    btw, saya tertarik dg pernyataan (lupa, di artikel mana) bahwa purpose-lah yg memilih kita (kl ga salah). apa artinya itu ??? kok bentuknya kalimat pasif. apa itu juga berarti kita dihampiri juga olehnya ??? plis, rada g mudeng nie.

    soal konsultasi, beneran ni, serius.
    utk gambaran awal, saya punya pacar, beda agama. kami merasa (dan juga bbrp teman) bhw relasi kami bersifat spiritual. masalahnya, pacar saya itu ‘dikerjain’ orang. kayaknya si, disantet.

    emmm……bisa minta alamat imel zarasthustra ga ?? kok saya juga tertarik utk diskusi ni.

    maturnuwun

  18. lintang says:

    Assalammualaikum mas herry, salam kenal..
    Saya sudah lama baca artikel2nya.. keren banget, dalem banget, dan pas banget karena selama ini saya mencari2 esensi tentang segala hal.

    Artikel ini yang pertama saya baca, dan semakin membuka mata tentang arti cinta yang sesungguhnya ( selain novel “ayat-ayat cinta” ).

    Saya ingin bertanya mas, bagaimana caranya agar dalam setiap perbuatan qta tetap mengingat Allah ?. Saya sangat putus asa ketika merasa saya tidak menemukan Allah. Bukan Allah meninggalkan saya ( karena Dia tidak pernah meninggalkan saya ) tetapi sayalah yang sengaja maupun tidak, akibat kesibukan rutinitas menyebabkan saya sendiri tidak merasa bersama denganNya.
    Saya tidak ingat bagaimana awalnya, sekarang saya yakin sudah bertemu dan bersama lagi denganNya. Namun saya tidak ingin lagi kehilangan, karena kalaupun dunia ada di tangan qta, buat apa bila tidak ada Allah dihati qta. Buat apa jika kita tidak merasa bersamaNya. Rasanya akan sangat hampa…

    Bisakah membantu saya mas, trimakasih sebelumnya, maaf kalau merepotkan ya. 😉

  19. nida husain says:

    panduan yang baik utk saya utk saat ini n masa depan….
    semoga saya kuat untuk lalui rencah perkahwinan yang saya nampak mencabar.
    thanks a lot…

  20. Ray Raihana says:

    Assalamu’alaikum….
    saya baca tulisan ini untuk menguatkan kembali niat dalam dalam pernikahan
    sungguh… pernikahan adalah perjuangan yang lebih sering tidak mudah, apalagi kalau sudah menyangkut hati
    cuma senyum saja yang bisa saya berikan untuk suami, tanpa dia pernah tahu apa yang saya rasa.
    dia adalah takdir saya,
    tugas yang diberikan tuhan untuk saya
    saya cuma minta sama Tuhan,
    “karena kesempurnaan adalah MilikMu, maka hamba mohon, jadikanlah dia melihat saya seperti yang ingin dia lihat, jadikanlah dia mendengan saya seperti yang ingin dia dengan dengar, jadikanlah dia merasakan saya seperti yang ingin dia rasakan, sertakanlah syukur, kesabaran dan kebahagiaan dalam setiap langkah mendampinginya”
    semoga bermanfaat untuk teman-teman, selamat berjuang dalam pernikahan ya….:smile:

    Ray Raihana
    a mother with 2 handsome son
    for 11 years maririage

  21. Anonymous says:

    Assalamu alaikum kang harry

    Talking about love.I have one hugh problem:

    I’ve been in love (I think…?) with a perfect stranger since we met in a crowded train 7 years ago.we never talk to each other. I only know his name. N’ he….I’m sure he doesn’t even notice me!😥 I can’t get him out of my mind. N’ it’s bothering me.

    My parents wish me to get married soon,n they have some one 4 being my future husband.He’s a kind man.N’ I like him much.

    Kang Harry, I want a happy marriege. N’ it’s imposible 2 be achieved without love. I’m not sure I’ll be able to love my husband, if I have other man in my mind.

    Secretly, I keep searching that”perfect stranger”. I even “google-ing”him! (wich make me feel so silly n’ pathetic).

    He might have a wife now. N’ a happy familly too (I do hope so). But somehow something in me urge me to find him.to meet him, n find out what I really feel about him. So, I can let him go and move on. What do you think?

    Though it sounds strange or silly 4 you, please give me advises about my problem. 4 notification, I work in psychological field (so, I assure you that I’m as mentally health as can be :mrgreen:). Helping people with their problems is my daily job, but in dealing my own problem I need help. Especially from some one who have a better understanding of ISLAM like you n’ your friends you have here.

    Wassalamu alaikum wr.wb

    Million thanks
    -Hamba Allah-

    Ps: Would you mind answering my questions via e mail, please?

  22. saya yang sudah 26 tahun berumah tangga setelah membaca tulisan mas Harry dan komentar2 teman2 ternyata banyak hal-hal yang belum diketahui alias harus banyak belajar.

    Terima kasih semuanya.

  23. assalamualaikum.. dah lama g baca blog kg hery.. sbnrnya blum baca artikel ini sih, baru mau.. cuma pgn nyapa aja.. ternyata banyak bgt artikel baru.. kpn bacanya yaaaaa??

  24. dian says:

    aduduuuh…bagus bgt nih topiknya. very inspiring buat musim cerai yg belakangan makin marak…
    salam kenal ya… sekalian minta ijin ya buat di-share.

    btw, ada penjelasan yg lebih lengkap nggak ttg ar-rahiim? knp cinta disebut proyeksi terendah nama ar-Rahiim? haus jawaban nih..

    thx b4

  25. Catatan, kalo terjemahan versi saya:

    “Siang dan malam kau berjuang memperbaiki akhlak pasanganmu dan menyucikan dirinya. Sebenarnya akan jauh lebih baik bila kau sucikan dirimu sendiri melalui dia, daripada mencoba memperbaiki dirinya lewat dirimu.

    Rasul berkata, ‘Tiada kerahiban dalam Islam!’* Jalan para rahib adalah kesendirian, tinggal di pegunungan, hidup tanpa pasangan dan berpaling dari dunia. Namun Allah tunjukkan jalan singkat yang tersembunyi pada Sang Rasul, yaitu pernikahan: memikul ujian dari pasangan, mendengarkan tuntutannya, dan membiarkan mereka mencambukimu bagai pengendara kuda dengan tumit sepatu bertaji.

    “Dan sesungguhnya engkau pemilik akhlak yang agung.” (Q. S. 68 : 4)

    Menanggung dan menahan ujian dari pasanganmu adalah bagaikan engkau menggosok ketaksucianmu pada mereka. Akhlakmu menjadi agung dengan Kesabaran.

    Inilah jalan Sang Rasul. Menanggung perih itu perlu, untuk membantu kita membuang cinta diri, dengki dan kebanggaan. Menahan sakit dari keinginan-keinginan berlebihan dari pasangan kita, sakitnya beban ketidakadilan, dan ratusan ribu macam sakit lainnya yang tidak terhitung, agar jalan ruhani tampak jelas bagimu.

    Sadari ini, sucikan dirimu. Ketahuilah bahwa mereka bagaikan pakaian**; di dalamnya dapat kau bersihkan ketaksucianmu sehingga engkau sendiri akan menjadi suci.

    Jalan Isa adalah bergulat dengan kesepian dan tidak melayani syahwat. Jalan Muhammad adalah menanggung ujian dan kepedihan yang ditimbulkan oleh lelaki perempuan satu sama lain.

    Manusia pemberani, tempuhlah jalan Muhammad***. Jika kau tak mampu, maka setidaknya tapakilah jalan Isa.**** ”

    (Jalaluddin Rumi, “Fihi Ma Fihi”, #20 – terjemahan Herry Mardian)

    Keterangan:

    * Hadits

    ** Ayat al-Qur’an

    *** Jalan Muhammad: Menikah, hidup di tengah-tengah masyarakat, namun dengan segenap kemampuan tetap menjaga agar hati tetap menghadap Allah tanpa henti.*

    **** Jalan Isa: Menjauhi dunia sepenuhnya, hidup menyendiri, meminimalisasi interaksi dengan masyarakat umum.

  26. Versi Herman Soetomo:

    Siang dan malam engkau senantiasa berperang, berupaya mengubah akhlak dari lawan-jenismu, untuk membersihkan ketidak-sucian mereka dan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka. Lebih baik mensucikan dirimu-sendiri melalui mereka daripada mencoba mensucikan mereka melalui dirimu-sendiri. Ubahlah dirimu-sendiri melalui mereka. Temuilah mereka dan terimalah apa saja yang mereka katakan, walaupun dari sudut-pandangmu ucapan mereka itu terdengar aneh dan tidak-adil.

    Pada hakikat dari persoalan ini lah, Muhammad S.A.W. berkata: “Tidak ada kerahiban dalam Islam.” Jalan para rahib adalah kesendirian, tinggal di pegunungan, lelaki hidup tanpa perempuan dan berpaling dari dunia. Allah menunjukkan jalan yang lurus dan tersembunyi kepada Sang Nabi. Jalan apakah itu? Pernikahan, agar kita dapat menanggung ujian kehidupan bersama dengan lawan-jenis, mendengarkan tuntutan-tuntutan mereka, agar mereka memperlakukan kita dengan keras, dan dengan cara demikian memperhalus akhlak kita.

    Menanggung dan menahan penindasan dari pasanganmu itu bagaikan engkau menggosokkan ketidak-murnianmu kepada mereka. Akhlakmu menjadi baik melalui kesabaran; sementara akhlak mereka menjadi buruk melalui pendominasian dan agresi mereka. Jika engkau telah menyadari tentang ini, buatlah dirimu bersih. Ketahuilah bahwa mereka itu bagaikan pakaian; di dalamnya engkau dapat membersihkan ketidak-murnianmu dan engkau sendiri menjadi bersih.

    Singkirkan dari dirimu kebanggaan, iri dan dengki, sampai engkau alami kesenangan dalam perjuangan dan penderitaanmu. Melalui tuntutan-tuntutan mereka, temukanlah kegembiraan ruhaniah. Setelah itu, engkau akan tahan terhadap penderitaan semacam itu, dan engkau tidak akan berlalu dari penindasan, karena engkau melihat keuntungan yang mereka berikan.

    Diriwayatkan bahwa suatu malam Nabi Muhammad S.A.W. dan para sahabatnya kembali dari suatu ekspedisi. Belian menyuruh mereka memukul genderang, seraya berkata: “Kita akan berkemah di gerbang kota, dan memasukinya esok-hari.” Mereka bertanya: “Wahai Rasul Allah, mengapa kita tidak langsung saja kembali ke rumah masing-masing?” Beliau S.A.W. menjawab: “Bisa jadi engkau akan menemui istrimu di ranjang bersama lelaki lain. Engkau akan terluka, dan kegaduhan akan timbul.” Salah seorang sahabat tidak mendengar ini, dia masuk ke kota, dan mendapati istrinya bersama dengan orang lain.

    Jalan dari Sang Nabi adalah seperti ini: Menanggung kesedihan itu perlu untuk membantu kita membuang egoisme, kecemburuan dan kebanggaan. Menahan sakit dari keinginan-keinginan berlebihan dari pasangan kita, sakitnya beban ketidak-adilan, dan ratusan ribu macam sakit lainnya yang tidak terbatas, agar jalan ruhaniah dapat menjadi jelas.

    Jalan dari Nabi Isa a.s. adalah bergulat dengan kesepian dan tidak meladeni syahwat. Jalan Muhammad S.A.W. adalah dengan menanggung penindasan dan kesakitan yang ditimbulkan oleh lelaki dan perempuan satu sama lain. Jika engkau tidak dapat menempuh jalan Muhammad, setidaknya tempuhlah jalan Isa, sehingga dengan demikian engkau tidak sepenuhnya berada di luar jalan ruhaniah. Jika engkau mempunyai ketenangan untuk menanggungkan seratus hantaman, dengan memandang buah dan panen yang lahir melalui mereka, atau jika engkau diam-diam meyakini di dalam kalbumu, “Walaupun saat ini aku tidak melihat hasil-panen dari penderitaan ini, pada akhirnya aku akan meraih harta-karun,” bahwa engkau akan meraih harta-karun, itu benar adanya; dan yang jauh lebih berlimpah dibandingkan dengan yang pernah engkau inginkan dan harapankan.

  27. ani says:

    sudah lama sebenarnya saya baca tulisan ini. hanya saja dulu kondisinya berbeda. saya coba lagi sekarang ketika kondisinya tak lagi sama. yang mengejutkan adalah ternyata rasanya masih saja sama, FLAT.

    saya tidak dalam rangka menilai tulisan ini bagus atau tidak. tetapi lebih kepada apa yang saya kadung percayai, bahwa pernikahan bisa saja bukan hal penting atau bahkan bisa mengubah setiap orang di dalamnya menjadi orang yg lebih baik.

    yang saya nikmati, justru, adalah tentang mimpi-mimpi yang berpendar dalam tampuk perkawinan itu sendiri. kabahagiaan hanyalah mimpi, tetapi layak untuk dicecap. transformasi juga, sometimes, hanya menjadi angan-angan.

    ya…mgkn karena saya masih “ingusan” dalam dunia perkawinan, jadi cenderung “manja” dan hopeless.

    tapi saya teringat akan sebuah peristiwa yang baru terjadi beberapa minggu lalu. seorang kawan saya yang masih sangat muda (setidaknya untuk ukuran saya) sudah menikah. setiap kali kami berjumpa di jakarta, ia selalu dalam keadaan terluka, menangis di hadapan saya dan teman saya satunya lagi. si A yang sudah menikah itu juga tak pernah cerita masalahnya apa. nah kawan saya si B yang melihatnya berulangkali menangis nyeletuk: “heran, setiap ketemu dia nangis mulu. itu teh setelah dia menikah? kalau gitu untuk apa sih kudu nikah segala?”

    saya terdiam, tidak ikut menimpalinya. tapi saya berpikir, menikah itu seperti memasuki jenjang sekolah. ketika kita masuk sebuah sekolah, kita tidak tahu betul kualitasnya bagus atau tidak, or minimal sesuai harapan atau tidak. bahkan kita tidak tahu apakah bidang yang kita ingin dalami betul-betul kita butuhkan atau tidak. selebihnya, kita juga tidak tahu sama sekali apakah setelah lulus nanti akan bekerja atau tidak.

    menikah juga begitu. saya (ah gakan ngajak-ngajak) memasuki perkawinan sekadar mencoba. saya tidak tahu apakah akan menemukan keagungan, atau bahkan menemukan cermin diri sekalipun. saya tidak tahu.

    yang manis dari memasuki perkawinan hanyalah “saya sudah mencoba” entah nanti lulus cum laude (yang berarti bahagia secara jasad dan memperoleh banyak hikmah juga), atau mungkin lulus dengan nilai D, yang berarti lulus tetapi babak belur, biru lebam, dan tidak memperolah pekerjaan apa-apa selain harus sekolah lagi dan mencari bidang yang lebih cocok. []

  28. nice post…
    katanya: PERKAWINAN adalah kelanjutan dari CINTA…
    adalah proses mendapatkan KESEMPATAN,
    ketika kamu mencari yang TERBAIK diantara pilihan yang ADA,
    Maka akan mengurangi KESEMPATAN untuk mendapatkannya….

    “ketika KESEMPURNAAN ingin kau dapatkan…
    maka sia-sialah WAKTUmu dalam mendapatkan PERKAWINAN itu…
    Karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

    saya juga ingin… tp belum semoga doa’in ya….:lol::lol:
    ijin CoPas ya….

  29. guntoro says:

    Mz heri, salam kenal dari saya semoga mz heri berkenan akan kehadiran saya,terima kasih atas tulisan dan apapun bentuknya yang mz heri sharing di dunia maya ini sangat membantu saya dalam mencari kebenaran yang saya dambakan…masalh di atas juga saya alami..jd sekali lagi terimakasih..:smile:

  30. ada beberapa hadist yang mungkin kurang tepat penjabarannya…terutama ketika rosululloh sampai di gerbang kota (wallohu a’lam)
    tapi overall nice post…

  31. turob says:

    Ass w w.
    artikel yg sgt berkesan. Trimakasih bnyak ms her.
    Kebetulan ada tmn yg sdg dilanda mslh serupa. Mohn ijin sy krm via email.
    thx.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s