Jatuh Cinta dan Ad-Diin: Sebuah Artikel Mengenai Sufisme

Oleh Herry Mardian

ANDA pernah jatuh cinta? Pernah melihat atau sekedar berkenalan pada seseorang, lalu anda mulai tertarik dengannya? Awalnya mungkin ada sebuah ‘rasa’ terhadapnya. Lalu anda mulai sering memikirkannya. Banyak hal yang dilakukannya membuat anda tertarik, walaupun mungkin tidak setiap saat kita berinteraksi dengannya. Ketika dia ramah dan tersenyum pada kita satu atau dua detik, atau sekedar berkata “Halo, apa kabar?” sambil tersenyum, pikiran kita mulai berpersepsi.

“Wah, ramah sekali. Kayaknya baik ya. Boljug nih, jadi pasangan… ” dan seterusnya.

Ketika anda sedang lelah, lalu teringat lagi padanya, kemudian muncul rasa ingin bertemu dengannya. Kita mulai berimajinasi. “Kayaknya enak kalau lagi capek begini ngobrol dengannya. Pasti kebaikannya bisa membuat saya terhibur. Kalau curhat pasti dia mau dengerin deh.”

Ketika kita melihat dia ramah pada anak-anak, maka pikiran kita berpersepsi lain lagi. “Wah, betapa dia seorang ibu/ayah yang ideal.”

Ketika kita sudah mulai berinteraksi satu-dua kali, ternyata tutur katanya ramah, santun, dan sebagainya. Pikiran kita mengambil indikator ini, “Ternyata orangnya baik. Enak diajak ngobrol. Pemikiran kita nyambung. Udah gitu humoris pula.” Ditambah lagi dengan data dari teman-teman kita, katanya dia orang baik, humoris, bertanggung jawab dan sebagainya.

Lalu dia mulai sering ada di pikiran kita. Sosok dia, dalam pikiran kita, kini sudah menjadi imajinasi satu kepribadian manusia yang utuh: orangnya baik, cantik/ganteng, ramah, cerdas, humoris, bertanggung jawab, dan seorang suami atau istri yang ideal. Sepotong senyum atau interaksi satu-dua kali, sudah cukup untuk membuat mekanisme kecerdasan kita membentuk satu sosok kepribadian yang utuh di dalam imajinasi kita. Dan sekarang, dengan adanya sosok yang utuh di dalam pikiran kita ini, kita mulai benar-benar jatuh cinta kepadanya. Ingat terus, kalau ditelepon atau ketemu merasa senang sekali, dan seterusnya, dan seterusnya.

Indikator-indikator kepribadian yang tadinya disimpan di kepala kita sebagai data, dengan kemampuan persepsi otak kita diolah menjadi suatu sosok yang utuh, dan akhirnya kita jatuh cinta dengan sosok ini. Indah sekali kan?

Pada tahap ini, kenapa kita bisa jatuh cinta hanya dengan satu senyum, atau satu-dua kali interaksi? Imajinasi. Itulah keunggulan mekanisme pikiran kita. Kita dibekali kemampuan berimajinasi tentang sesuatu, sehingga dari data yang sedikit bisa dipersepsikan, atau diimajinasikan, bagaimana sosok kepribadian orang itu dengan utuh.

Lalu semakin lama anda berinteraksi dengannya, mulai nampak pula hal-hal yang tidak terlalu kita sukai dari dirinya. Kita mulai menimbang-nimbang, berfikir positif atau negatif mengenai dirinya. Cinta kita sudah mulai memasuki tahap cinta rasional, bukan hanya cinta emosional. Rasa cinta tidak lagi demikian terasa dahsyat dan menggebu-gebu di dalam dada kita. Sekarang kita mulai ‘mendapatkan pengalaman’ (meng-experience) interaksi dengan dia yang sebenarnya.

Pada tahap ini, bisa jadi kita malah sebal, atau ternyata berkesimpulan tidak cocok dengannya. Atau jika kebetulan kita sampai di jenjang pernikahan, setelah sepuluh tahun menikah, misalnya, cinta kita tidak lagi terasa demikian emosional dan menyenangkan seperti ketika awal bertemu. Pada tahap ini, cinta kita sudah mulai menjadi cinta yang rasional dan dewasa. Diwarnai oleh tanggung jawab, peran sosial, kewajiban, pemakluman, dan lain sebagainya. Intinya, kini belum tentu ‘semuanya indah sekali’ seperti dulu.

Lalu kenapa dulu rasa cinta itu bisa terasa demikian menyenangkan dan ‘dahsyat’ terasa di dalam dada? Sekali lagi, imajinasi. Dulu, sebenarnya kita jatuh cinta bukan pada dia, tapi jatuh cinta kepada ‘imajinasi kita tentang dia’. Kita jatuh cinta pada sosok dia yang ada di pikiran kita, bukan pada dia yang sebenarnya. Kini, setelah lama berinteraksi dengannya, kita mulai mengenal dia yang asli, bukan hanya imajinasinya. Dia yang asli, dengan ‘imajinasi kita tentang dia’ tentu berbeda.

Dia yang asli bisa kita kenali dengan interaksi dengannya, dan bukan melalui ‘imajinasi’ kita tentang dia.

Demikian juga dengan mengenal Tuhan. Sebenarnya, tidak cukup untuk mengenal Dia hanya dengan indikator sifat yang diperoleh ‘kata teman’, menurut buku, kata ustad, dan sebagainya. Kita selama ini hanya mendapatkan data tentang Dia dengan ‘katanya’. Kalau kita jujur pada diri kita sendiri, tanyakanlah: siapa Tuhan yang kita mengaku mencintai-Nya itu? Siapa yang kita sembah itu? Jawablah dengan jujur: kita benar-benar mencintai-Nya, atau baru mencintai imajinasi kita tentang diri-Nya, yang terbentuk di kepala kita?

Sudahkah kita mengenal Dia yang sebenarnya, dan bukan sosok Dia yang dalam imajinasi kita itu? Siapa yang kita sembah? Dia yang asli, atau Dia yang imajinasi kita? Padahal Tuhan tidak menerima penyembahan selain kepada Dia. Dia yang asli.

Seseorang yang memasuki disiplin sufi, sebenarnya adalah mereka yang ingin mengenal Dia secara real dan bukan imajinasi pikiran saja, bukan ‘kata orang’, justru karena tidak ingin jatuh pada kemusyrikan dengan terpeleset menyembah ‘Tuhan yang imajinasi’. Mereka ingin meng-experience pengenalan terhadap Tuhan yang sebenarnya (tentunya dengan sangat tidak mudah, karena Tuhan adalah sesuatu yang Maha Tinggi). Walaupun ini sangat sulit, tapi sebagian orang berusaha –berjihad– dengan segenap dirinya untuk menjalankan disiplin ini.

Dan karena pintu mengenal Tuhan adalah kesucian qalbu, maka mustahil pula orang yang mengaku menjalankan disiplin ini tanpa menjalankan syariat yang telah ditetapkan Qur’an dan Rasulullah saw. Kalau ada ‘sufi’ (dalam tanda kutip) yang tidak shalat atau puasa, misalnya, sudah jelas dia hanya ‘mengaku-aku’ saja sedang menjalankan disiplin tasawuf. Mustahil qalbu bisa menjadi suci tanpa syari’at. Rasulullah adalah gerbang menuju Allah, maka setelah periode kenabian Muhammad s.a.w., tidak akan ada yang bisa mengenal Dia tanpa melalui Beliau dan apa yang Beliau bawa, termasuk syariat dan hakikatnya.

Maka sebagai panduan pertama kali (atau tepatnya: panduan mutlak sepanjang jalan), tentu melalui apa yang Beliau bawa: Al-Qur’an. Tapi, itu pun bukan makna Al-Qur’an yang ‘dipersepsikan’, melainkan makna Al-Qur’an yang sesungguhnya, yang ‘apa adanya’. Itulah sebabnya, di awal perjalanan untuk mengenal Allah kita terlebih dahulu harus mencari orang-orang yang sudah mampu menjangkau makna Al-Qur’an yang sesungguhnya, untuk mengajarkannya pada kita.

“Bagaimana jika sudah ma’rifat? Apakah syariat tidak lagi diperlukan? Maka shalat, puasa dan lain-lain tidak perlu lagi dong.. ” Nah, ini juga sebuah kesalahan umum yang sangat mendasar. Ma’rifat bukan akhir perjalanan. Ma’rifatullah (mengenal Allah) adalah proses akhir, bukan titik akhir. Perhatikan: proses, bukan titik. Dan semua orang yang benar-benar menjalankan disiplin tasawuf ini tahu, proses akhir ini adalah sebuah proses yang tidak akan pernah berakhir, karena Tuhan adalah Maha Tak Terbatas. Proses mengenal sesuatu yang tak terbatas akan berlangsung selama jangka waktu yang tak terbatas pula. Rasulullah, sebagai manusia yang paling mengenal Allah (paling ma’rifatullah) pun tidak pernah berhenti shalat.

Hanya bedanya dengan berinteraksi dengan manusia, kalau semakin mengenal manusia kita akan semakin mengenal kekurangannya pula, tapi jika dengan Tuhan, semakin berinteraksi dengan Tuhan, Karena Dia Maha Indah, maka semakin mengenal-Nya pun akan semakin jatuh cinta dan semakin jatuh cinta saja. Tapi bedanya, bukan cinta yang di-indoktrinasi ke kepala kita sendiri: “Saya mencintai Tuhan!! Alangkah indahnya Tuhan!!” dan semacamnya. Kecintaan pada tahap ini adalah sebuah ungkapan hati yang jujur. Sebuah cinta yang ‘dialami’, bukan cinta yang diindoktrinasikan ke kepala.

Mereka yang mengenal Allah, saking takjub dan terpesonanya dengan keindahan Dia, akan ‘mabuk’. Beberapa wali menjadi ‘romantis’, kemana-mana berpuisi tentang cinta dan rindu kepada-Nya dalam ke’mabuk’annya, seperti puisi-puisi Jalaluddin Rumi, Rabi’ah, dan lain-lain. Rumi sering mengumpamakan ke’mabuk’annya ini dengan anggur, atau ‘terbakar’ dalam cinta. Ia ‘hilang’ ditelan cinta kepada-Nya. As if they’re ‘mad’ for Allah, externally and internally.

Mengapa para Nabi, terutama Rasulullah saw., dalam hal ini lebih utama dari para wali? Karena meski cinta dan pengenalan Rasulullah terhadap Allah lebih tinggi daripada Nabi atau wali yang manapun, namun Beliau tetap sanggup menguasai dirinya, dan tidak ‘mabuk’. Beliau tetap bisa tampil seperti manusia biasa, dan tampak tidak tenggelam dalam mabuk cinta kepada-Nya. Externally sane while ‘madly in love’ internally, for Allah. Ini sebuah kualitas manusia yang ‘tidak manusiawi’, saking tingginya tingkat penguasaan dirinya.

Kembali ke persoalan.

Ma’rifat adalah proses akhir, dan justru menjadi awal beragama secara sejati. Inilah makna dari perkataan yang masyhur dari salah seorang sahabat Rasul Ali r.a.: “Awaluddiina Ma’rifatullah”. Awalnya Ad-Diin adalah mengenal Allah. Makrifat justru baru awalnya beragama, bukan tujuan. Karena dengan mengenal Dia yang sebenarnya, barulah seseorang berinteraksi dengan Ad-Diin yang sebenarnya pula. Jika seseorang hanya mengenal imajinasi dirinya sendiri tentang Allah, seharusnya perlu dipertanyakan apakah kita benar-benar berjalan di atas Diin (agama)? Atau kita hanya ‘berimajinasi’ tentang ad-Diin itu?

Demikian pula, seseorang belum bisa dikatakan sebagai seorang salik (pejalan, pencari Tuhan, pencari kebenaran hakiki/Al-Haqq) atau sedang menjalankan disiplin tasawuf, jika hanya membaca buku-buku tentang tasawuf dan sufi, atau menghadiri pertemuan dan ceramah tasawuf. Inti disiplin tasawuf dalam beragama adalah ‘mengalami’, experiencing, dan bukan ‘data tentang sufi’ atau persoalan agama. Dalam kacamata hakikat, seseorang belum berjalan di atas ad-diin jika semata-mata hanya ‘tahu banyak tentang ad-diin‘ dan dalil-dalinya tapi tidak menjalani, mengamalkan, atau meng-experience esensi maupun makna ad-diin.

Seberapa jauh bedanya? Sejauh beda antara ‘jatuh cinta’ dengan ‘membaca deskripsi tentang cinta’.

Semoga bermanfaat.

–Herry Mardian–

Jatuh Cinta dan Ad-Diin: Sebuah Artikel Mengenai Sufisme

44 thoughts on “Jatuh Cinta dan Ad-Diin: Sebuah Artikel Mengenai Sufisme

  1. Wah jatuh cinta itu memang suatu anugerah yang patut kita syukuri, apalagi bila kita benar jatuh cinta karena ” lillahi ta aala”
    Mungkin saya ini termasuk orang yang beruntung saat ini karena jatuh cinta sama orang yang tidak saya kenal & orang yang saya
    cintai itupun belum tentu mencintai saya tapi rasa cinta saya kepadanya semakin mantap karena nasehatnya kepada saya
    untuk slalu ingat kepada Allah.

  2. Cahaya says:

    Alhamdulillah, saya mengenali seseorang yg boleh memimpin saya.. selalu mengingatkan saya pada Allah.. mudah2an jodoh atr kami berpanjangan.. amin..🙂

    insyaAllah…

  3. Pak,, Ma terhaaruuu!!

    sebenarnya adalah mereka yang ingin mengenal Dia secara real dan bukan imajinasi pikiran saja, bukan ‘kata orang’, justru karena tidak ingin jatuh pada kemusyrikan dengan terpeleset menyembah ‘Tuhan yang imajinasi’

    Kapan ya Ma bisa kaya gitu,,:cry::cry:

    @ Dwi

    wah,, ada Dwi,,

  4. Iya ya, jika kita tidak mengenalNya bagaimana kita yakin sedang melaksanakan kehendakNya? Bisa jadi kita hanya melaksanakan apa yang kita pikir (imajinasikan) sebagai kehendakNya.

  5. @ danalingga: exactly. Itulah pentingnya mengenal Allah. Kita mengerti dan memahami kehendak-Nya karena mengalami dan berinteraksi dengan Dia, bukan karena mengutip dan kopi paste. Itulah ‘iman hakiki’-nya Al-Ghazali.

    @ Rizma: ceup, ceup..:mrgreen:

  6. Efi says:

    assalamu’alaykum ww. alhamdulillah, posting ini menjawab pertanyaan kami, bagaimana pendekatan awal utk menjelaskan pentingnya ma’rifatullah. subhanallah, posting2 anda sangat sesuai dg konsep yg pernah kami terima dan semakin menjelaskannya dg gamblang. kalau boleh, tolong kontak japrinya ya, sekalian alamat yayasan. kapan2 kalau ke bandung insya Allah kami mampir lah biar bisa diskusi lbh banyak. wassalamu’alaykum ww.

  7. Salam

    Artikel diatas cukup menyegarkan pikiran saya saat ini, mudah2an rasa cinta saya terhadap-Nya lebih besar daripada rasa cinta saya pada selain-Nya. :wink::lol:

    Thank U.

  8. Rageh says:

    Mas Herry Mardian,
    Pencerahannya tentang ma’rifatullah menarik sekali, bolehkah japri? Terimakasih
    Rageh.

  9. Demikian pula, seseorang tidak bisa dikatakan sebagai seorang salik , ……………………

    Berdasarkan pengalaman saya, pengalaman seorang sufi menuntun orang-orang fakir seperti saya mengalami peristiwa yang secara pribadi sulit diraih. Cerita-cerita langit dan perasaan cinta kepada Allah yang meluap-luap melanda siapa saja yang membaca karya atau berkumpul dengan orang-orang yang dimaksud tanpa sebelumnya mengerti atau bahkan belum sama sekali menapaki jalan salik. Kerinduan seperti ini yang memotivasi orang-orang untuk menempuh jalan salik tanpa peduli status, teori atau praktek yang penting maju terus untuk berebut menatap wajah Sang Pencipta …wallahualam

  10. Mempelajari dan membaca, kan awal menjalani mas?🙂

    Kalau sudah timbul kerinduan yang meluap-luap, kan Dia yang menanam? Kalau kita rindu Dia, artinya sebelumnya Dia lebih dahulu rindu pada kita. Dia tidak mungkin melangkah kemudian: Dia selalu lebih dahulu dari siapapun.

    Kata Rumi, kita mengira kehausan itu dari kita. Sebenarnya, Sang Air lah yang rindu untuk diminum dan memberikan manfaatnya.

    Salamu ‘alaikum.. Saya juga fakir, btw.

  11. Ferry says:

    Ini postingan bagus, tetapi apa ada seorang sufi yang memang kepingin dipanggil sufi ? tentu sesorang yang ber-Ma’rifat tinggi tidak memandang rendah seseorang yang gigih mempertahankan syari’at walau belum mendalam Ma’rifat nya, dan tentu pula seseorang yang Ma’rifat nya tinggi tidak memadamkan semangat jihad tetapi mengarahkanya kearah yang benar. Adalah bahwa menjadi tanggung jawab seseorang yang ber Ma’rifat tinggi untuk menjaga ISLAM dari musuh – musuh ALLAH, bukankah ALLAH sudah berpesan dalam AL-QUR’AN bahwa sampai nanti hari kiamat menjelang tidak akan berhenti ummat muslim diperangi baik secara fisik maupun akidah ?

    Salam Berma’rifat.

  12. ya ya ya… jihad = perang, bunuh. Kita perangi musuh Allah. hore.

    Apakah jihad hanya punya satu arti : ‘memerangi kaum yang lain’? “Kita baru pulang dari jihad kecil dan menuju jihad akbar,” kata Rasulullah sepulang dari perang Badar. “Adakah jihad yang lebih besar dari perang badar, ya Rasulullah?” tanya para sahabat. “Berperang melawan hawa nafsu dan syahwat,” kata Beliau saw.

  13. Assalamu’alaikum wr.wb.,

    Bagus sekali artikelnya mas Herry, terima kasih ya. Baru kali ini saya mendapatkan sudut pandang baru dalam usaha kita mengenal Tuhan.

    Namun saya punya pertanyaan. Mungkin bagi mas Herry pertanyaan yang mudah, namun saya belum menemukan jawabannya. Bagaimana kita bisa yakin/tahu bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang sebenarnya, dan bukan Tuhan yang hanya menjadi imajinasi kita saja? Apa yang membedakan Tuhan yang sebenarnya dan Tuhan yang hanya imajinasi kita saja? Saya takut selama ini saya hanya menyembah Tuhan sesuai dengan imajinasi saya saja, dan bukan Tuhan yang sebenarnya.

    Sebelumnya terima kasih banyak.

    Salam hangat,
    Teguh

  14. wa alaikum salaam wr wb. Terimakasih kembali.

    Hadits Rasulullah, “Siapa yang mengenal-Nya, pasti mencintai-Nya”

    Kita ukur diri sendiri saja, tapi dengan jujur kepada hati kita sendiri. Kita sudah mencintai-Nya atau belum? Apakah saat menemui-Nya sudah menjadi saat-saat yang paling dirindukan? Sudahkah saat shalat dan zikir, atau shalat malam menjadi saat-saat yang sangat menyenangkan? Kita shalat karena sekedar menjalankan kewajiban, atau sudah tak sabar ingin segera shalat karena rindu?

    Semakin mendalami agama, kita semakin takjub kepada-Nya dan semakin merasa tidak berarti, atau justru menganggap diri semakin suci dan semakin benar? Ketika melihat salah satu nama dari asma’ul husna di sebuah buku misalnya, hati kita ‘tergetar’ atau tidak ada pengaruhnya sama sekali?

    Itu contoh-contoh kecil saja sebagai indikator. Semakin kita ditarik kepada Dia yang asli, indikator-indikator ini semakin menguat.

    Arah perjalanan ini bukan dikira-kira, karena pada setiap tahap Allah akan memberikan kita konfirmasi benar/salahnya arah kita. Kita akan memahami tanda-tandanya. Tapi yang paling penting justru kesadaran itu: kesadaran bahwa kita tidak bisa mendekat jika tidak dituntun. Ketika kita takut salah, maha mohonlah untuk diajari cara yang benar. Dia Maha Mendengar dan Maha Memberi Rahmat. Mohonlah dengan sepenuh hati, maka Dia akan menunjukkan pada kita dengan cara-Nya yang terbaik untuk kita.

  15. chacha says:

    mas heri, boleh minta alamatnya gak? seandainya Allah mengijinkan saya ingin bertanya lebih jauh/berdiskusi. tolong dibalas ke email saya ya…. pleazze….:lol:

  16. AdaM says:

    saya setuju
    saya mau tanya?
    apakah salah jika kita mencintai seseorang karena ALLAH dan tidak mengharapkan orang tersebut mencintai kita?:wink::wink::wink:

    :roll::roll::roll::roll::roll:

  17. nunung says:

    Membaca ini mengingatkan saya bahwa saya seorang mahluk yang masih hina dina, bodoh dan bertumpuk dosa di hadapanNya.Trims ILLAHI ANTA MAKSUDI WARIDHO KAMATLUBI

  18. Alhamdulillah, akhirnya saya menemukan ruang baca yang saya cari-cari. Lengkap banget. Makasi..semua artikelnya bagus2, pasti dech saya sering mampir kesini. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya pada kitasemua. Saya hampir tak bisa mengatakan apa-apa… yang jelas….A L H A M D U L I L L A A H.

    Semoga anda terus diberikan semangat dan usaha anda ini tidak akan sia-sia. Allah Maha Mengetahui dan Maha Membalas apa yang dilakukan oleh hamba-Nya.

    Salam saya, Dick
    http://menuju-ketenangan.blogspot.com

  19. nida husain says:

    terima kasih mas….

    syukur pada Allah.Kerana dari nya, saya beroleh petunjuk untuk membaca ruangan penulisan yg baik spt ini.
    jauh di hati ini, ingin selalu mencari Allah…namun duniawi dan cinta saya pada makhluk kerap membuat saya lalai dan alpa.
    dan artikel mas buatkan saya jatuh cinta….jatuh cinta pada Allah.
    Semoga saya lebih dekat pada Allah…dan lebih mengenal nya..semoga saya diberi peluang utk lebih mencintai nya dan beroleh cintanya,Tuhan yang pengampun dan penyayang..

    Ruangan mas ni pasti menjadi santapan minda saya .
    terima kasih kerana berkongsi sesuatu yang ‘indah’….
    semoga Allah berkati usaha mas.amin.

    nida,
    malaysia

  20. nida husain says:

    terima kasih mas….

    syukur pada Allah.Kerana dari nya, saya beroleh petunjuk untuk membaca ruangan penulisan yg baik spt ini.
    jauh di hati ini, ingin selalu mencari Allah…namun duniawi dan cinta saya pada makhluk kerap membuat saya lalai dan alpa.
    dan artikel mas buatkan saya jatuh cinta….jatuh cinta pada Allah.
    Semoga saya lebih dekat pada Allah…dan lebih mengenal nya..semoga saya diberi peluang utk lebih mencintai nya dan beroleh cintanya,Tuhan yang pengampun dan penyayang..

    Ruangan mas ni pasti menjadi santapan minda saya .
    terima kasih kerana berkongsi sesuatu yang ‘indah’….
    semoga Allah berkati usaha mas.amin.

    nida,
    malaysia

  21. nida husain says:

    terima kasih mas….

    syukur pada Allah.Kerana dari nya, saya beroleh petunjuk untuk membaca ruangan penulisan yg baik spt ini.
    jauh di hati ini, ingin selalu mencari Allah…namun duniawi dan cinta saya pada makhluk kerap membuat saya lalai dan alpa.
    dan artikel mas buatkan saya jatuh cinta….jatuh cinta pada Allah.
    Semoga saya lebih dekat pada Allah…dan lebih mengenal nya..semoga saya diberi peluang utk lebih mencintai nya dan beroleh cintanya,Tuhan yang pengampun dan penyayang..

    Ruangan mas ni pasti menjadi santapan minda saya .
    terima kasih kerana berkongsi sesuatu yang ‘indah’….
    semoga Allah berkati usaha mas.amin.

    nida,
    malaysia

  22. rini says:

    Pak Hery

    Ulasannya sangat menarik, sayapun jadi lebih sadar atas kekeliruan saya selama ini. Sebelumnya, Saya begitu mengagumi seorang pria, yang menurut saya pada awalnya sangat sempurna, dan ternyata kesempurnaan itu adalah imajinasi yang secara tidak sadar saya bentuk sedikit demi sedikit. Akhirnya Allah SWT membukakan mata hati saya, bahwa ternyata pria itu tidaklah sebaik yang saya pikir. Saya sangat kecewa dengan kenyataan itu, tapi..Alhamdulilah saya masih mampu menguasai diri saya dan berusaha pasrah dan sabar atas semua kekeliruan yang telah saya buat sendiri. Mudah2an Allah SWT akan selalu memberikan kekuatan pada saya sehingga saya bisa melupakan Pria tersebut.
    Terima kasih artikelnya yang sangat menarik

    Wass,
    Astuti

  23. d_ragil says:

    Hebat,

    Saya google ‘suluk’, muncul site ini. Saya baca sekilas rencananya, dan ternyata saya sampai lupa sudah seharian belum keluar dari sini.

    Ternyata saya masih terlalu cinta pada imaginasi saya. Saya masih terlalu senang dengan yang saya lihat. Saya masih mencari yang saya suka. Saya terlalu mudah untuk melupakan tujuan. Tujuan untuk selalu mengingat-Nya. Saya terlena dengan site ini.

    Selamat ber-suluk.

  24. tapi rasa cinta yg saya miliki menyiksa jiwa…
    cinta membuat saya gila,tak diundang datang seperti maling,dikejar lari bagaikan kucing..
    cinta membuat saya gila…mas eh mba…..eh apalah…..:cry::cry::cry::cry::cry::cry:

  25. tapi mungkin itu benar, rasa cinta emosional, dan ketika melihat banyak sekali kekurangannya jadi timbul rasa sebal.. tapi bagaimana jika ternyata, walaupun sudah tau kekurangan dan berberapa hal buruk ttg dia, kita tetap mencintai dan mau menerima dia, dan tetap merindukannya setiap saat? rasa apa itu disebut?

  26. shafa says:

    :!::!::!::………JIKA KAMU MENCINTAI SESUATU BIARKAN IA PERGI…….DAN JIKA IA KEMBALI MAKA ITU ADALAH MILIKIMU DAN JIKA TIDAK MAKA TAK KAN PERNAH……………

  27. adjipamungkas says:

    JIKA KAMU MENCINTAI SESUATU BIARKAN IA PERGI…….DAN JIKA IA KEMBALI MAKA ITU ADALAH MILIKIMU DAN JIKA TIDAK MAKA TAK KAN PERNAH……Comment by shafa — Wednesday, April 2, 2008 @ 11:42
    lho…kalo kita mencintai Allah?…gmana membiarkan IA pergi?…:cry: (jangan sampeee x )..amit amit cabang beibech:roll:

  28. Adjie says:

    Ass..

    Mas Harry M, anda telah membuka pikiran saya tentang apa itu arti cinta yang sesungguhnya dan ternyata apa yang selama ini saya pikir tentang cinta adalah salah besar..

    Subhanallah..
    1X lagi makasih..:!::!::!:

    Wass…

  29. nurul says:

    dear author,
    thank you for such a profound writing on this ‘falling in love’ subject. it really gets me thinking and how should i say this; in a way it makes me feel ashamed of myself.

    ia mengingatkan saya betapa dunia ini hanya persinggahan yang sementara sebelum perjalanan diteruskan ke negeri yang abadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s