Niat

Oleh Herry Mardian

Balap Kelereng

INGAT nggak, ketika kita kecil, mungkin di suasana perayaan tujuh belasan di kampung? Di sebuah lintasan rumput atau tanah, ada beberapa lintasan yang dibatasi tali rafia. Kita, yang masih kanak-kanak, ada di salah satu lintasan tersebut. Di depan wajah kita, ada sebuah sendok yang kita gigit pangkalnya. Di cekungan sendok itu ada kelereng. Kita jaga mati-matian supaya kelereng itu tidak jatuh dari sendok, selama kita berjalan secepat mungkin menuju garis finish di depan sana.

Ketika itu, jantung kita berpacu kencang, kencang banget. Dag-dug-dag-dug… . Nafas kita memburu, saling menyusul dengan detak jantung. Di punggung, kedua tangan kita saling menggenggam. Kaki-kaki kita mencoba melangkah secepat mungkin, tapi kita atur kecepatannya sampai pada titik yang ‘pas’ : tidak terlalu lambat sehingga bisa mendahului peserta lain, tapi tidak terlalu cepat sehingga kita kehilangan keseimbangan dari semua faktor pendukung, yang pasti akan menyebabkan ‘out of control’: kelereng kita jatuh dari sendoknya. Ada satu titik yang paling pas, somewhere in between, dan kita akan menemukan ‘titik keseimbangan semuanya’ itu dalam di proses melakukannya. Titik itu akan kita temukan sendiri setelah berangkat dari garis start.

Kita bahkan tidak menyadari teriakan-teriakan penonton yang begitu riuh. Ekspresi orang tua kita yang begitu senang menyaksikan kita ‘bertarung di arena’ sambil bertepuk tangan memberi semangat, tidak lagi kita perhatikan. Kita pun tidak memperhatikan kalau anak cewek yang kita taksir sedang meneriakkan nama kita di pinggir sana, memberi semangat. Dan kita juga, dengan sendirinya, tidak (merasa perlu) membayangkan gimana manisnya nanti ekspresi senyum malu-malu si anak itu, ketika hadiah kemenangan lomba ini kita kasihkan ke dia. Itu, pretty much, ‘kagak usah dibayang-bayangin sekarang’. Pokoknya manis.

Pada saat itu, kita adalah ‘gladiator’ di arena rumput dan bentangan tali rafia. Kita tidak memikirkan untuk menikmati kemenangan: saat itu kita simply menghirup pertarungannya. Pada saat itu, apapun selain garis finish dan sendok dengan kelereng di mulut sedang tidak relevan di kehidupan kita.

balap kelereng

Sebelum berangkat, memang kita menyadari ada penonton, ada arena. Ada orang tua, ada teman-teman, ada ibu-ibu tetangga. Ada ibu tua yang berjualan minuman di pinggir lapangan, ada juga satu-dua balon yang lepas tertiup angin. Anak cewek yang manis itu juga ada di pinggir lapangan, siap memberi semangat. Tapi saat-saat menjelang wasit meneriakkan satu kata yang membuat semua peserta berpacu meninggalkan garis start, semua itu menjadi samar.

Menjelang wasit meneriakkan satu kata itu, alam semesta pelan-pelan menghilang. Dan kita tahu, nanti setelah berangkat, dengan sendirinya detak jantung, kecepatan kaki, sudut kemiringan kepala, tekanan gigi pada sendok, dan akselerasi kelajuan dan meknisme pengurangan kecepatan gerak kaki kita bertemu pada satu titik keseimbangan sempurna. A perfect equilibrium. Pada saat itu, semua hilang. Lenyap. Dan kemudian, di alam semesta ini ada dua hal saja: sendok dengan kelereng di mulut kita, dan garis finish.

Itulah niat.

Dan setelahnya, semua di alam semesta yang terhubung dengan niat kita, akan bersatu. Bahu membahu, saling menyesuaikan diri mereka masing-masing demi niat kita itu. Dan itu terjadi dengan sendirinya!

Ketika lomba balap kelereng tadi, kita tidak mengatur seberapa harusnya tekanan gigi kita pada sendok. Berapa kecepatan langkah kaki kita. Berapa sudut kemiringan kepala kita. Berapa akselerasi kita, dan pada titik mana kita harus menambah atau mengurangi kecepatan. Mereka yang akan menyesuaikan dirinya masing-masing kepada niat kita.

Niat untuk membawa kelereng di atas sendok sampai garis finish. Apapun selain itu, tidak relevan. Itulah niat. Niat bertaubat, niat kembali dan pulang kepada Allah, adalah seperti itu. Niat shalat, ya kurang lebih begitu. Niat bangun malam, ya begitu juga. Niat puasa, niat studi, ya sama saja kurang lebih. You got the picture.

Niat bukanlah ucapan atau kata-kata. Niat adalah sebuah ‘penghubungan diri’ kepada Allah, sebuah tekad yang mendasari sebuah harapan kepada Allah ta’ala, yang (membuat Dia berkenan) menundukkan hal-hal tertentu di alam semesta demi harapan kita itu.

Kenapa para sahabat Rasulullah bisa tidak menyadari apapun ketika shalat? Ya intensitas niat shalat mereka tentu luar biasa dahsyatnya. Ketika shalat, alam semesta melenyapkan diri dari mereka, bahkan diri mereka sendiri pun lenyap dalam shalatnya. Yang ada hanya Allah ta’ala, dan diri-diri mereka pun hilang, perlahan-lahan berubah menjadi ucapan-ucapan shalat yang beterbangan satu demi satu ke arah Tuhan mereka.

Dengan niat yang seperti itu, mengucapkan niat secara verbal atau tidak, bukan masalah. Kita tidak harus melafalkan sebelum perlombaan, “Saya niat balap kelereng, menggigit sendok dan menjadi peserta paling depan, dua kali bolak-balik, lillahi ta’ala.” Jika tidak tercipta sebuah ‘keterhubungan’ tadi, walaupun dengan niat yang dilafalkan, pengucapan itu bahkan tidak ada gunanya.

Pelafalan niat hanya sebuah cara, metode pengkondisian diri. Niat yang dilafalkan barulah niat secara jasad. Sedangkan niat yang secara batin, adalah niat yang seperti di atas. Idealnya, jika kita berniat, seharusnya merupakan ‘rembesan’ dari sebuah niat batin yang naik ke jasad sehingga terlafalkan. Bukan sebaliknya.

Niat bukanlah ucapan atau kata-kata. Niat adalah sebuah ‘penghubungan diri’ kepada Allah, sebuah tekad yang mendasari sebuah harapan kepada Allah ta’ala, yang (membuat Dia berkenan) menundukkan hal-hal tertentu di alam semesta demi harapan kita itu.

“Manusia hanya mendapatkan sebagaimana yang diniatkannya,” sabda Rasulullah ketika hijrah.

Senada nasihat Salim bin Abdullah kepada Umar bin Abdul ‘Aziz: “Ketahuilah wahai Umar, bahwasannya bantuan Allah kepada seorang hamba berdasar atas niatnya. maka barangsiapa telah menyempurnakan niatnya, niscaya akan disempurnakan pula bantuan Allah kepadanya.”

Sempurnakanlah niat. Sempurnakan sehingga kelak hasilnya layak kita persembahkan pada Allah ta’ala. Hadiah lomba balap kelereng? Kita berikan sajalah pada gadis kecil manis yang kita taksir itu. Bayangkan betapa manis senyumnya nanti. []

Keterangan: Foto diambil dari sini dan sini, tanpa ijin.

Niat

22 thoughts on “Niat

  1. tetamu says:

    Salam mas,

    “Bayangkan betapa manis senyumnya nanti..”

    Tak terbayangkan pula betapa indah pandangan kasih-Nya nanti..
    bila niat sudah terus menuju-Nya,
    dan tidak lagi mikirin selain-Nya.

    Makasih atas pencerahannya yang mendalam.
    Betul2 buat saya terkesan dgn kisah anak2 ini,
    penuh erti untuk dimengerti.

    Bahawa niat lahir itu harus rembesan dari yang batin,
    niat itu suatu keterhubungan dalam dan luaran diri,
    juga penyempurnaan niat itu menidakkan perkara yang menyalahinya.

    Bila hati sudah meniatkan-Nya, Dia jua yang membantu penyempurnaannya. In sya Allah🙂

  2. la_bona says:

    Subhanallah…
    Mas…!
    Sepertinya membangun “keterhubungan” itu bukan perkara yang mudah bagi org2 yang awam kayak sy nih ya mas.
    yah…sy masih sangat awam akan diri sy sndiri apabila Dia, rasanya Dia begitu “jauh” dg sy.

  3. Mirna Anggia says:

    Assalamualaikum…
    mgk..ini kali pertama sy give comment bwt tulisan2x mas Herry setlh sekian lma sy membc tulsn2 mas Herry..bkn tdk mau memberikan comment atw ap..tp krn sy bingung hrus membrikn comment ap..smua tulsn2 mas Herry bner2 Luar Biasa..Bnyk hal2 baru yang sy ketahui..& ju2r terkadang sy agk susah untk mencernax..it bkn krn tulisan mas ..tp krn sy nya aj yag awam n blm paham..Terus Berkarya y mas..krn Banyak Orang yang menanti Tulisan2 Indah Mas..

  4. abu says:

    :lol:salam kenal…..to all reader, writer and oyhers….
    ane poenya ratusan tulisan yg ngetop dan hits di portal BANK BUMN….tapi setelah ke penerbit ane jadi RIKUH….

    soale pernah tulisan ane hilang gitu aja n’ ane gak dapet apa2….
    salam ukhuwah abi
    at….abu_mufti@yahoo.co.id
    :cool::cool:

  5. marutto says:

    mas herry, saya minta maaf karena tanpa ijin saya telah membuat buku, yang isinya kumpulan suluk dari mas herry. Tapi, itu semua hanya untuk saya pribadi. kenapa bisa saya lakukan, karena saya sangat tertarik dengan karya mas herry yang begitu baik dan bagus untuk pencerahan jiwa.
    sekali lagi saya minta maaf.

  6. marutto says:

    Salam Kenal Mas Herry

    Niat Jasmani dan Niat Qolbu dalam menuju kebenaran/jalan yang lurus (Allah SWT), jika diwujudkan dalam suatu aktifitas (Shalat, Dzikir, Qiyamul Lail) bagaimanakah kita dapat merasakan kehadiran-NYA..? rasa seperti apakah rasa kehadiran-NYA itu.
    Mas Herry, mohon untuk penjelasan tentang diatas. terimakasih.

    (Marutto sedang mencari dan belajar kehidupan)

  7. syarief says:

    Ass.:smile: Kang Hery nama saya syarif…mau tanya….Sekarang kan Kang Hery Ikutan Suluk di Paramartha Bukan???? klo boleh aku tau Pengalaman apa sich yang paling ber kesan menyentuh Qalb selama ikutan????

  8. Wa alaikum salaam wr wb

    Marutto dan Syarief, kapan-kapan aja kita ngobrol langsung ya..

    Ibarat dua orang yang saling jatuh cinta, tentu akan tumbuh rasa saling percaya antara kita dan sang pacar. Sang pacar sedikit-sedikit makin mempercayakan rahasia-rahasianya yang tertentu pada kita. Kalo tiba-tiba rahasianya saya muat di internet gitu aja tanpa seleksi, dan semua orang boleh baca, wah. Bisa marah besar dia. Ntar saya diambekin, gak ditegur-tegur lagi, hehehe…. kiamat.

    Tapi intinya, kita jadi seperti anak kecil yang belajar jalan. Dituntun, dibimbing. Diajarin supaya kelak mampu menempuh kehidupan dengan benar, dan mampu memahami kehidupan yang kita jalani. “Sentuhan-Nya: bikin hidup lebih hidup.”

    Punya anak? Kita suka bilang ke anak kita, “Ini boleh, tapi yang itu jangan dilakukan ya nak, nanti kamu jatuh…” Kalo kita bandel juga dan tersandung dan menangis kesakitan karena kebandelan kita sendiri, “Tuh, nak. Sakit kan? Makanya jangan… harus nurut ya sama ayah.”

    Atau anak kita itu nanyaaaaa melulu. “Ayah, itu apa? Kenapa ini begini? Kenapa itu begitu?” Dan kadang-kadang, kita tahu kalo dijelasin sekarang juga dia gak bakal ngerti… “Nanti aja ya nak, ntar kamu paham sendiri kok. Asal sabar aja. Ntar kalo kamu sudah besaran dikit. ” (“Kalo udah besal? Lama amat! Cekalang aja.” Duh gusti…)🙄

    Nah, kalau yang terjadi pada saya, ya kurang lebih seperti anak kecil itu. Anak kecil yang buandeeeel banget. Padahal seringnya cuma bikin malu bapak dan paman-pamannya🙄 Maklumlah, namanya juga anak-anak:mrgreen: Blog ini juga cuma coretan kanak-kanak, hehehe…

    PS: syarief di bandung bukan?

  9. arnol says:

    @herry
    Boleh banget… siapa tahu kapan-kapan kita papasan di jalan ini, dan saling membagi hikmah…
    Semoga Allah mengizinkan.

    amin…..
    Kang herry tinggal di bandung ya? saya di jakarta. udah lama saya mencari teman seperjalanan namun belum ada yg sejalan. membaca artikel2 diblog ini…sepertinya ada asa untuk bertemu teman seperjalanan…insyaallah.

    kalau akang nggak keberatan, japri aja ya kang…

  10. marutto says:

    Mas Herry, saya tunggu kabar selanjutnya, O…ya, jika Mas Herry tidak keberatan tolong kirim email ke saya, agar saya dapat mengetahui email Mas Herry.

    Mas Herry, terimakasih atas kesediaannya untuk memberikan kesempatan untuk bertemu (kapan?)

    PS: kirim alamat email lewat HP juga boleh.

  11. eva says:

    analaoginya pas banget, sederhana tapi ‘kena’.kalo dipikir2 entah berapa banyak kelereng yang sudah saya jatuhkan selama hidup,karena ternyata saya lebih peduli terhadap teriakan-teriakan penonton😦 semoga kita semua bisa tetap istiqomah.supaya satu kelereng bisa sampai dengan selamat di garis finish aja, sulitnya minta ampun…🙂

  12. dewapur says:

    Salam,

    wah dianalogikan dengan jatuh cinta. terkadang rasa cinta itu disimpen sendiri ya karena ga mau orang lain tahu🙂

    trus dianalogikan sama pacaran…. wah kalo pacarnya sama lama kelamaan juga akan ketemu kan dengan pacarnya pacar kita yang lain….🙂 Oo… kamu ketahuan…. hehehe…

    sori… ini gara2 cari arti kata maksudi dan mathlubi jadinya nyasar kesini🙂 trus tertarik untuk comment.😀

  13. Hidupku terus berjalan untuk slalu ‘menemukan’ & perjalananku tidak bertolak dari sebuah tujuan. halah nyambung nggak nih Mas Herry:mrgreen:

  14. gurandille says:

    Asswrwb
    menukick di Laa haula Waallaquwwata ilabillah.. Lebur, mengalir, melayang, menebar di kehampaan dan kepenuhan, gitu apa ya mas Her ya maksudnya …?:lol:
    salam hormat saya
    wass wrwb
    Adjie al Gurandille (Biar beda aja sama Mas AdjiePamungkas)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s