Suluk, Mengenal Diri, Misi Hidup: Apa itu?

[TANYA] bersuluk, bermakna keberserahdirian. namun apakah yang dilakukan/dikerjakan oleh orang2 yg bersuluk? amalannya? dimana? caranya? kenapa? dan mengapa? (Nurhidayah)

[JAWAB] Bersuluk sebenarnya tidak tepat jika dikatakan bermakna keberserahdirian. ‘Islam’ (aslama)-lah yang artinya ‘berserah diri’. ‘Islam’, adalah keberserahdirian dalam ketaatan dan pengabdian sejati kepada Allah.

Bersuluk, artinya ‘menempuh jalan’. Jalan yang dimaksud adalah ‘jalan kembali kepada Allah’, yaitu ‘jalan taubat’ (ingat asal kata ‘taubat’ adalah ‘taaba’, artinya ‘kembali’), atau jalan ad-diin. ‘Suluk’ secara harfiah berarti ‘menempuh’, (Sin – Lam – Kaf) asalnya dari Q.S. An-Nahl [16] : 69, “Fasluki subula Rabbiki zululan,”

Q. S. 16 : 69 "Fasluki subula Rabbiki zululan"

“…dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (untukmu).” (Q. S. An-Nahl [16] : 69)

‘Menempuh jalan suluk’ berarti memasuki sebuah disiplin selama seumur hidup untuk menyucikan qalb dan membebaskan nafs (jiwa) dari dominasi jasadiyah dan keduniawian, dibawah bimbingan seorang mursyid sejati (yang telah meraih pengenalan akan diri sejatinya dan Rabb-nya, dan telah diangkat oleh Allah sebagai seorang mursyid bagi para pencari-Nya), untuk mengendalikan hawa nafsu, membersihkan qalb, juga belajar Al-Qur’an dan belajar agama, hingga ke tingkat hakikat dan makna. Dengan bersuluk, seseorang mencoba untuk beragama dengan lebih dalam daripada melaksanakan syari’at saja tanpa berusaha memahami. Orang yang memasuki disiplin jalan suluk, disebut salik (bermakna ‘pejalan’).

Ber-suluk –bukan– mengasingkan diri. Ber-suluk adalah menjalankan agama sebagaimana awal mulanya, yaitu beragama dalam ketiga aspeknya, ‘Iman’ – ‘Islam’ – ‘Ihsan’ (tauhid – fiqh – tasawuf) sekaligus, sebagai satu kesatuan diin Al-Islam yang tidak terpisah-pisah. Secara sederhana, bisa dikatakan bahwa bersuluk adalah ber-thariqah, walaupun tidak selalu demikian.

Yang dilakukan, adalah setiap saat berusaha untuk menjaga dan menghadapkan qalb nya kepada Allah, tanpa pernah berhenti sesaat pun, sambil melaksanakan syari’at Islam sebagaimana yang dibawa Rasulullah saw. Amalannya adalah ibadah wajib dan sunnah sebaik-baiknya, dalam konteks sebaik-baiknya secara lahiriah maupun secara batiniah. Selain itu ada pula amalan-amalan sunnah tambahan, bergantung pada apa yang paling sesuai bagi diri seorang salik untuk mengendalikan sifat jasadiyah dirinya, mengobati jiwanya, membersihkan qalbnya, dan untuk lebih mendekat kepada Allah.

“Tidak ada cara ber-taqarrub (mendekatkan diri) seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku sukai selain melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Aku fardhu-kan kepadanya. Namun hamba-Ku itu terus berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan (sunnah) nawafil, sehingga Aku pun mencintainya. Apabila ia telah Aku cintai, Aku menjadi pendengarannya yang dengan Aku ia mendengar, (Aku menjadi) pengelihatannya yang dengan Aku ia melihat, (Aku menjadi) tangannya yang dengan Aku ia keras memukul, dan (Aku menjadi) kakinya yang dengan Aku ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, sungguh, akan Aku beri dia, dan jika ia memohon perlindungan-Ku, Aku benar-benar akan melindunginya.” (Hadits Qudsi riwayat Bukhari).

Dasar segala amalan adalah Al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah, demikian pula amalan-amalan dalam suluk. Suluk tidak mengajarkan untuk meninggalkan syariat pada level tertentu. Syariat (bahkan hingga hakikat dari pelaksanaan syariat) tuntunan Rasulullah wajib dipahami dan dilaksanakan oleh seorang salik, hingga nafasnya yang penghabisan.

Dimana? Dimana pun, kapan pun. Setiap saat, selama hidup hingga nafas terakhir kelak. Kenapa? Karena sebagian orang ingin memahami makna hidup, makna Al-Qur’an, ingin hidup tertuntun dan senantiasa ada dalam bimbingan Allah setiap saat. Sebagian orang ingin memahami agama, bukan sekedar menghafal dalil-dalil beragama.

Jadi, bersuluk kurang lebih adalah ber-Islam dengan sebaik-baiknya dalam sikap lahir maupun batin, termasuk berusaha memahami kenapa seseorang harus berserah diri (ber-Islam), mengetahui makna ‘berserah diri kepada Allah’ (bukan ‘pasrah’), dalam rangka berusaha mengetahui fungsi spesifik dirinya bagi Allah, untuk apa ia diciptakan-Nya.

Dengan mengetahui fungsi spesifik kita masing-masing, maka kita mulai melaksanakan ibadah (pengabdian) yang sesungguhnya. Sebagai contoh, shalatnya seekor burung ada di dalam bentuk membuka sayapnya ketika ia terbang, dan shalatnya seekor ikan ada di dalam kondisi saat ia berenang di dalam air. Masing-masing kita pun memiliki cara pengabdian yang spesifik, jika kita berhasil menemukan fungsi untuk apa kita diciptakan-Nya.

Q. S. 24 : 41

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya ber-tasbih kepada Allah siapa pun yang ada di petala langit dan bumi, dan burung dengan mengembangkan sayapnya. Sungguh setiap sesuatu mengetahui cara shalat-nya dan cara tasbih-nya masing-masing. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Q. S. An-Nuur [24] : 41)

Inilah ibadah (pengabdian) yang sejati: beribadah dengan cara melaksanakan pengabdian pada Allah dengan menjalankan fungsi spesifik diri kita, sesuai dengan untuk apa kita diciptakan-Nya sejak awal. Fungsi diri yang spesifik inilah yang disebut dengan ‘misi hidup’ atau ‘tugas kelahiran’, untuk apa kita diciptakan.

Sebagaimana sabda Rasulullah:

Dari Imran ra, saya bertanya, “Ya Rasulullah, apa dasarnya amal orang yang beramal?” Rasulullah saw. menjawab, “Tiap-tiap diri dimudahkan mengerjakan sebagaimana dia telah diciptakan untuk (amal) itu.” (H. R. Bukhari no. 2026).

Juga,

“…(Ya Rasulullah) apakah gunanya amal orang-orang yang beramal?” Beliau saw. menjawab, “Tiap-tiap diri bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan, atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya.”(H. R. Bukhari no. 1777).

Tiap-tiap diri. Setiap orang. Spesifik. Masing-masing memiliki suatu alasan penciptaan, sebuah tugas khusus, sebuah amanah ilahiyah. Ketika seseorang menemukan tugas dirinya, Allah akan memudahkan dirinya beramal dalam pengabdian sejati berupa pelaksanaan akan tugas itu. Ia akan menjadi yang terbaik dalam bidang tugasnya tersebut. Jalan ‘yang dimudahkan kepadanya’ inilah jalan pengabdian yang sesuai misi hidup, sesuai untuk apa kita diciptakan Allah, sebagaimana Q. S. 16 : 69 tadi, “… tempuhlan jalan Rabb-mu yang dimudahkan (bagimu).”

Agama-agama timur mengistilahkan hal ini dengan kata ‘dharma’. Para wali songgo di Jawa zaman dahulu memberi istilah ‘kodrat diri’ atau kadar diri, sesuai istilah dalam Qur’an. Ada juga yang menyebutnya dengan ‘jati diri’.

Segala sesuatu diciptakan Allah dengan ketetapan, dengan tugas, dengan ukuran fungsi spesifik tertentu. Demikian pula kita masing-masing, dan berbeda untuk tiap-tiap orang. Al-Qur’an mengistilahkan hal ini dengan qadar. “Inna kulli syay’in khalaqnaahu bi qadr.”

Q. S. 54 : 49

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadr.” (Q. S. Al-Qamar [54] : 49)

Kita, karena ke-Mahapenciptaan Allah, mustahil diciptakan-Nya secara ‘murahan’ dan ‘tidak kreatif’ sebagai sebuah produk massal. Kita sama sekali bukan mass-product, karya generik. Masing-masing kita dirancang Allah secara spesifik, tailor-made orang-per-orang, dengan segala kombinasi kekuatan dan kelemahan yang diukur dengan presisi oleh tangan-Nya sendiri.

Masing-masing kita diciptakan-Nya dengan dirancang untuk memiliki sekian kombinasi ‘kadar’ keunggulan pada sisi tertentu dan kelemahan pada sisi lainnya, demi kesesuaian untuk melaksanakan sebuah tugas, demi melaksanakan sebuah misi.

Menemukan ‘misi hidup’ adalah menemukan qadr diri kita sendiri sebagaimana yang tersebut pada ayat di atas, sehingga kita memahami untuk (fungsi) apa kita diciptakan. Kita menemukan qudrah Allah yang ada dalam diri kita sendiri. Inilah maksudnya ‘mengenal diri’ dalam hadits “man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu.”.

“Siapa yang mengenal jiwa (nafs)-nya, akan mengenal Rabb-nya.”

Tentu saja, dengan mengenal jiwa (nafs) otomatis juga mengenal Rabb, karena pengetahuan tentang fungsi dan kesejatian diri kita hanya bisa turun langsung dari sisi Allah ta’ala dan bukan dikira-kira oleh kita sendiri. Turunnya pengetahuan sejati (‘ilm) tentang ini bukan kepada jasad maupun kepada otak di jasad kita ini; melainkan hanya kepada jiwa (nafs), diri kita yang sesungguhnya. Dalam jiwa (nafs) kitalah tersimpan pengetahuan tentang diri dan pengetahuan tentang Allah, karena nafs-lah yang dahulu mempersaksikan Allah dan berbicara dengan-Nya, sebagaimana diabadikan oleh Al-Qur’an di surat Al-A’raaf [7] : 172;

Q. S. & : 172

“Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan dari bani Adam, dari punggung mereka, keturunan-keturunan mereka, dan mengambil kesaksian terhadap jiwa-jiwa (nafs-nafs; anfus) mereka (seraya berkata): ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu.’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami bersaksi’….” (Q. S. [7] : 172)

Ketika kita mengenal jiwa (nafs), kita mendapatkan pengetahuan tentang Allah, qudrah Allah dan qadr diri yang tersimpan dalam jiwa kita. Dengan demikian, kita pun mengenal Allah dan juga mengenal fungsi spesifik untuk apa kita diciptakan-Nya (mengenal diri). Dengan melaksanakan fungsi tersebut, maka kita pun melaksanakan pengabdian yang sejati kepada Allah sesuai tujuan-Nya menciptakan kita. Kita mulai mengabdi (ya’bud) di atas agama-Nya (Ad-Diin) dengan hakiki. Inilah maksud perkataan sahabat Ali r. a. yang termasyhur: “Awaluddiina Ma’rifatullah.”

“Awal Ad-Diin adalah mengenal Allah (ma’rifatullah)” (Sahabat Ali r. a.)

Demikianlah pengabdian (ibadah) yang hakiki. ‘Ibadah’ bukanlah sekedar puasa, shalat, zakat, dan semacamnya; melainkan jauh, jauh lebih dalam dari itu. ‘Ibadah’ berasal dari kata ‘abid, bermakna, ‘abdi’, ‘hamba’, atau ‘budak’. ‘Ibadah’ pada hakikatnya adalah sebuah pengabdian, atau penghambaan diri. Dan pengabdian yang hakiki adalah pengabdian dengan menjalankan tugas ilahiyah sesuai dengan keinginan-Nya, menurut kehendak-Nya, untuk fungsi apa Dia menciptakan kita.

Demikian pula, status ‘Abdullah’ (‘abdi Allah/hamba Allah) maupun ‘Abdina’ (hamba Kami) adalah mereka yang sudah mengenali tugasnya dan sudah berfungsi sesuai dengan yang sebagaimana Allah kehendaki bagi dirinya. ‘Hamba Allah’ adalah sebuah status yang tinggi.

Sekarang, insya Allah kita jadi sedikit lebih memahami makna ‘dalam’ dari ayat tujuan penciptaan jin dan manusia, “wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduun.”

Q. S. 51 : 56

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah mengabdi/menghamba (ya’bud) kepada-Ku.” (Q. S. Adz-Dzariyaat [51] : 56)

Demikian pula pada Q. S. Al-Faatihah [1] : 5,

Q. S. 1 : 5

“Kepada Engkau kami mengabdi/menghamba (‘na’bud’,* dari ‘abid,), dan kepada Engkau kami memohon pertolongan.” (Q. S. Al-Faatihah [1] : 5)

Semoga kelak kita diizinkan Allah mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki, dengan dijadikan Allah termasuk ke dalam golongan ‘Abdullah’.

Semoga bermanfaat,

Herry Mardian; Yayasan Paramartha.
____
* na’bud sering diinterpretasikan dengan arti ‘kami menyembah’.

[*] Oh ya, mungkin akan sangat membantu memahami hal ini jika membaca juga tulisan Watung Arif, “Tiap Orang, Satu Misi”, di sini.

[*] Beberapa kalimat dikutip dari makalah Zamzam A. Jamaluddin, “Struktur Insan Dalam Al-Qur’an dan Hadits: Misykat Cahaya-cahaya.”
[]

Suluk, Mengenal Diri, Misi Hidup: Apa itu?

87 thoughts on “Suluk, Mengenal Diri, Misi Hidup: Apa itu?

  1. tulisan yang cukup menggambarkan dengan tegas dalil-dali alquran ttg kemisian diri, dan suluk. Allhamdulilah.. cukup membantu nih!.. nulis lagi ya mas hery yang banyaak..

  2. dewo says:

    mau nanya mas her..

    mengapa para sufi “terkesan” (kesan itu bisa jadi bener bisa jadi salah… tp itu yg dirasakan oleh orang lain) menutup diri dan, memilih2 “murid” dalam memberikan bimbingan… sedangkan kita diwajibkan untuk menyebarkan kebaikan walau hanya 1 ayat…

    mengapa tidak ber”syiar” seperti para ulama-ulama atau mereka yang mengaku-aku sebagai ulama… hehehehe
    sehingga mungkin akan banyak orang baik akan menjadi lebih baik, banyak orang cukup baik menjadi baik dikiiitttt, banyak orang yang ragu akan menjadi sedikit ragu,,,,banyak orang sesat jadi agak sesat.. .
    ma kasih ….

  3. kayhan says:

    mas Her,

    Disiplin diri itu adalah jalan tak terbatas, sepanjang hidup kita harus terus menempa diri dan berusaha utk menjadi individu yg lebih baik. Nah, apakah misi hidup itu bisa dispesifikkan seperti misalnya anak kecil kalo ditanya cita2nya apa.

    Apakah dgn menjadi karyawan, polisi, direktur, pengusaha, dll bisa disebut misi hidup? The basic idea is what do we suppose to answer if we’re asked what is our “mission”. Makasih…

  4. wawan says:

    Saya mau nanya nie, dalam Al Quran juga ada kata2 menyembah yang menurut saya berbeda maknanya dengan mengabdi. kalau menyembah hubungan antara hamba dan Tuhannya sedangkan mengabdi ibarat satu kerjaan dimana ada raja dan para pejabat kerajaan yang fungsinya untuk mengabdi kepada raja. trus ada suatu pertanyaan kalau Jin dan manusia dicipta untuk mengabdi trus yang dicipta untuk menyembah siapa?

  5. adjipamungkas says:

    salam sahabat sahabat mau nimbrung ah?!:lol:

    para sufi “terkesan” (kesan itu bisa jadi bener bisa jadi salah… tp itu yg dirasakan oleh orang lain) menutup diri dan, memilih2 “murid” dalam memberikan bimbingan… sedangkan kita diwajibkan untuk menyebarkan kebaikan walau hanya 1 ayat…

    eits….tunggu dulu coy mungkin hanya kesannya mas dewo aza :eek:…syiar sufi…bukan skedar dakwah..menyebar kebaikan tapi memperbaiki keberagamaan..contoh (mungkin gak nyambung)🙄 ehem..mas brapakali kita menyebut sirathalmustakim di dalam shalat kita entah di beberapa doa kita (spendek pengetahuan saya doa yang paling sederhana dan mudah di ingat dan di lafadzkan adalah surah alfatiha) tapi gak tau apa ? di mana ?sirathal mustakim siapa yang berada di sana ..?:cry:.ini menurut saya sngat kruisal dan berpengaruh kepada keberagamaan saya .

    hal inilah …yang “kadang” terlupakan dari model dakwah “biasa”(dan ini yang saya dapatkan ketika pertama kali belajar thasawuf).

    sufi milih murid…mmh😉 kayaknya memang gituh khan harus di lihat kesungguhan nya ..apa niatnya benar benar ingin bertaubat (kembali keAllah) atau mau coba coba ..(ilmu) mengisi waktu ataukah pelarian masalah…atau kepengen sakti madra guna…dan banyak lagi alasan (ini berdasarkan pengalaman pribadi dan survey yang saya lakukan) jadi lebih banyak yang tidak tulus untuk belajar. khan yang bersuluk pun adalah orang orang yang di kehendaki Allah…yaitu orang orang yang benar benar mau bertaubat kembali ke Allah:mrgreen:

    QS.4:146. “kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”:mrgreen:

  6. adjipamungkas says:

    Buat mas kayhan jawaban sederhana spendek pengetahuan saya adalah : …taubat dulu…jihad dulu…. di uji dulu…di rahmati dulu … diampuni segala dosa terus menjadi hamba yang di sucikan (mutaharrun) dapat pengetahuan (ilmu) sebagai perangkat pendukung “misi hidup” baru deh…Allah sendiri yang memberi petunjuk tentang apa misi hidup kita selain sekedar menjadi hamba, abdi, dan khalifa di muka bumi ..kalo bahasa mas hery (punten kalo saya salah memahami pernyataannya) fungsi “spesifik” sebagai pemakmur bumi 😆

  7. abu suci says:

    Comment by wawan — Wednesday, March 19, 2008 @ 17:30

    “Saya mau nanya nie, dalam Al Quran juga ada kata2 menyembah yang menurut saya berbeda maknanya dengan mengabdi. kalau menyembah hubungan antara hamba dan Tuhannya sedangkan mengabdi ibarat satu kerjaan dimana ada raja dan para pejabat kerajaan yang fungsinya untuk mengabdi kepada raja.

    trus ada suatu pertanyaan kalau Jin dan manusia dicipta untuk mengabdi trus yang dicipta untuk menyembah siapa?”

    Belalang, Mas! Belalang sembah.

  8. adjipamungkas says:

    Belalang, Mas! Belalang sembah. Comment by abu suci — Thursday, March 20, 2008 @ 07:28

    …:sad: adalagi komentar …sekedarnya

    sembah dan abdi….:roll: Muhammad = abdi Allah = Abdullah ..apa yang di sembah muhammad ?:lol: ya Allah SWT juga …mas wawan ummat siapa ?..kalo Muhammad otomatis ya seharusnya jadi abdi Allah ..juga yang juga menyembah Allah SWT…HEHEHE BINGUNG?!:mrgreen:

    Sederhananya…yang sejatinya menjadi atasan maha atasan, raja maha di raja siapa mas?…yah..Allah juga!:oops:
    mengapa harus di bedakan ..kalo mau berhadapan dengan pencipta kita ..lain urusan kalo di dunia …mungkin atasan kita yah pemimpin “sementara” bos..komandan ..atasan ..raja ..drektur(semuanya bisa mati?!:eek:)semuanya tidak patut kita sembah ..tapi menjadi abdi yang bertanggung jawab terhadap tugas pekerjaan adalah amanah…di dunia …amanah di akherat harus jadi Abdi allah di dunia😳

    btw kadang kita menjadi masih menjadi abdi hawanafsu dan syahwat bahkan sempat mempertuhannkannya(syrik):cry:

    coba kita lihat Qur’annya dulu…”,
    QS.45 : 23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

  9. adjipamungkas says:

    😆
    saya tadi singgah liat situsnya hazrat inayat khan mba rahayu…mmm bahasa inggris ..:sad: ada yang bahasa indonesia? (sekedar memudahkan untuk mengerti:lol:) btw trims buat menambah khazanah tasawuf saya:mrgreen:

  10. rully says:

    salam!
    mas, bantu saya menulis dengan huruf arab lafad yang mas herry maksud dengan kata “allah”, lalu baca, lalu tulis bacaan mas herry dalam tulisan arab itu dengan huruf latin.
    terima kasih.

  11. dewo: mau nanya mas her..

    mengapa para sufi “terkesan” (kesan itu bisa jadi bener bisa jadi salah… tp itu yg dirasakan oleh orang lain) menutup diri dan, memilih2 “murid” dalam memberikan bimbingan… sedangkan kita diwajibkan untuk menyebarkan kebaikan walau hanya 1 ayat…

    mengapa tidak ber”syiar” seperti para ulama-ulama atau mereka yang mengaku-aku sebagai ulama… hehehehe

    Sebenarnya bukan pilih-pilih murid, sih. Yang terjadi sebenarnya mekanisme natural: bahwa makanan baru bermanfaat jika diberikan kepada orang yang memang lapar atau membutuhkan. Sayang sekali jika kita, sebagai manusia, memberikan makanan kepada yang memang tidak membutuhkan. Bisa dianggurin sampai menjadi busuk, dibuang, atau bahkan membuat muntah yang bersangkutan. Padahal masih banyak sekali orang selain dia yang benar-benar membutuhkan makanan.

    Orang yang tidak lapar tentu tidak merasa butuh makanan. Orang yang merasa sehat, tentu tidak merasa butuh dokter. Orang yang merasa sudah tahu agama, tentu tidak merasa butuh belajar agama. Orang yang merasa tidak lapar tentang Allah, tentu tidak butuh belajar tentang Allah🙂

    “Sampaikanlah walau satu ayat,” itu hadits, memang benar sekali. Tapi sampaikan kepada penerima yang tepat (yang memang membutuhkan), dan waktu yang tepat. Kalau di depan jendela samping sebuah rumah kita taruh speaker ‘toa mesjit’ dan setiap saat kita bombardir dengan ceramah dan ‘kuenceng-kuenceng’ tanpa henti dengan mengatasnamakan dakwah, bisa jadi sebenarnya kita justru menzalimi penghuni rumah.

    Selain itu, pada orang-orang yang memang telah menerima tugas dari Allah ta’ala (mengenal diri dan misinya) ada ruang lingkup dakwahnya sendiri, dan Allah sendiri yang menentukan. Tidak semua para peraih kebenaran harus menjadi da’i dan tampil di depan ummat.

    Ada yang memang tugasnya menjadi Rasul alam semesta (Muhammad SAW), menjadi rasul bangsa tertentu saja (Musa, Isa as, dll), menjadi mursyid untuk orang tertentu saja, yang muridnya itulah yang justru harus menjadi nabi (Syu’aib as). Ada yang harus menjadi panglima perang (Sa’ad bin Abi Waqqash). Ada yang harus menyampaikan khazanah ilahiyah melalui puisi (Jalaluddin Rumi). Ada yang harus membuat buku (Al-Ghazali). Ada yang harus membuat buku dan menyampaikan ilmu ketuhanan yang rumit yang tidak untuk masyarakat biasa (Ibnu Arabi). Ada yang harus menjadi mursyid dengan penampilan mewah (Syaikh Abdul Qadir Jailani). Ada yang harus terlunta-lunta, sakit kulit dan menggelandang seperti Nabi Ayyub as. Ada pula yang diciptakan untuk kaya raya dan berkuasa seperti Sulaiman a.s.

    Banyak sekali ragam tugas dan kemisian, demi menyampaikan, dan –menampilkan–, suatu Khazanah Ilahiyah. Justru jika seorang diciptakan sebagai, misalnya, panglima perang, namun ia malahan tampil di depan podium dan berdakwah dengan cara klasik, ia justru menyalahi kehendak Allah bagi dirinya. Ia menyalahi tujuan penciptaannya.

    Bukan berarti orang-orang ini tidak berdakwah. Tapi, apa bentuknya: bicara? berbuat? berfikir? menulis? menyumbang harta? memimpin? Allah yang menentukan. Juga, ruang lingkupnya untuk siapa, untuk ummat-kah, bangsa tertentu kah, orang tertentu kah, atau cukup untuk keluarga, mungkin bahkan cukup hanya untuk dirinya sendiri.

    Mereka yang tampil di podium dan berdakwah, atau mereka yang bersurban dan berjubah, tidak berarti mereka menjadi lebih alim, lebih ulama, dan lebih soleh daripada mereka yang tidak tampil di podium dan berpenampilan biasa-biasa saja. Sama sekali tidak. Ukuran kesolehan dan kealiman sama sekali bukan pada tampilan lahiriyah seseorang. Dan, berdakwah untuk ribuan ummat sekaligus belum tentu lebih efektif dan lebih ‘berpahala’ (kalo masih ngitung-ngitung pahala) daripada berdakwah pada beberapa orang saja. Bukan jumlahnya, tapi sejauh jiwa apa orang bisa tertransformasi dengan khazanah Ilahiyah yang ada pada diri kita. Walau hanya satu orang.

    Kita ingat hadits yang bunyinya kurang lebih, “Barangsiapa menghidupkan satu jiwa, ia bagaikan menghidupkan seluruh jiwa manusia. Barangsiapa membunuh satu jiwa, ia bagaikan membunuh seluruh jiwa manusia.” ‘Menghidupkan jiwa’, secara batin juga berarti membebaskan jiwa manusia dari timbunan sifat jasadiyah dan keduniaannya sendiri.

    Banyak orang-orang yang dicintai Allah tapi tidak tampil secara terbuka di podium untuk berdakwah, karena memang bukan tugasnya. Dia dimudahkan pada bidang lain, tidak di bidang itu. (btw, mas dewo sudah melihat tulisan “Waham ‘Kesolehan’, Waham ‘Kekasih Allah’, dan Waham ‘Pembimbing Spiritual'”?)

    Yang terpenting, orang-orang seperti ini tidak berdakwah hanya dengan kata-kata atau sekedar mengutip ayat. Mereka benar-benar mengerti apa yang mereka bicarakan atau lakukan. Atau mereka berdakwah ‘bil hal’, dengan perbuatan. Tapi akhlaq, perbuatan maupun khazanah mereka semua sama: Al-Qur’an, Al-Haqq dan kebenaran, meski dari mulut mereka belum tentu terdengar mengutip, mendiktekan maupun ‘berdakwah’ Al-Qur’an kepada ummat di depan podium.

  12. kayhan:

    mas Her,

    Apakah dgn menjadi karyawan, polisi, direktur, pengusaha, dll bisa disebut misi hidup? The basic idea is what do we suppose to answer if we’re asked what is our “mission”. Makasih…

    Kurang lebih. Tapi bedanya, misi hidup bukan profesi (atau cita-cita) sebagaimana kita mengkotak-kotakkan profesi. Misi hidup adalah sebuah tugas, langsung dari Allah ta’ala kepada kita. Pengetahuan tentang ini diturunkan dari sisi-Nya pada saat kita meraih pengenalan diri dan pengenalan Allah. Ada spesifikasi dan ruang lingkup tugas tertentu, seperti di atas. Dan kita akan sangat mudah mengerjakan tugas itu, karena telah dimudahkan Allah ta’ala kepada si pengemban misi/mandat.

    Misaln ada yang bertanya: ‘Ngapain sih, jadi penyair seperti Rumi?’ Lha kalau memang itu tugasnya, dan dengan melaksanakannya ia menjadi kekasih-NYa? Ia pun ‘dimudahkan’ dalam membuat syair: sambil tutup mata pun mulutnya mengeluarkan puisi, dengan kualitas yang luar biasa keindahan dan kedalamannya, dan masih menginspirasi orang hingga sekarang.

  13. wawan:

    “Saya mau nanya nie, dalam Al Quran juga ada kata2 menyembah yang menurut saya berbeda maknanya dengan mengabdi. kalau menyembah hubungan antara hamba dan Tuhannya sedangkan mengabdi ibarat satu kerjaan dimana ada raja dan para pejabat kerajaan yang fungsinya untuk mengabdi kepada raja. trus ada suatu pertanyaan kalau Jin dan manusia dicipta untuk mengabdi trus yang dicipta untuk menyembah siapa?”

    Kata yang dibahas adalah ya’bud, na’bud, ‘abid, dst. Istilah Qur’annya, bukan terjemahan bahasa Indonesianya. Konteksnya.

    Allah tidak ‘gila hormat’ sehingga menuntut penyembahan dan ‘sesajen’ berupa ibadah dan amal. Dia menciptakan kita untuk mengabdi, atau menghambakan diri. Pengabdian yang hakiki di mata-Nya adalah menjalankan fungsi kita sebagaimana tujuan kita diciptakan-Nya. Ia tidak butuh kita berlaku ‘menyembah’ secara mekanistik saja tanpa tahu apa hakikat sebuah ‘penyembahan’ itu.

    Minimal, tidak mengabdi pada syahwat dan hawa nafsu. Benar ayat dari mas adjipamungkas,

    QS. 45 : 23. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya…?”

  14. rully:

    “mas, bantu saya menulis dengan huruf arab lafad yang mas herry maksud dengan kata “allah”, lalu baca, lalu tulis bacaan mas herry dalam tulisan arab itu dengan huruf latin.”

    ❓ maaf saya belum paham maksud permintaannya apa.

  15. arnol says:

    Terjawab dgn memuaskan pertanyaan2 saya di milis… tengkiu kang.
    selanjutnya..untuk mengenal diri itu bagaimana?

    Mungkin misi hidup kang herry berdakwah via internet…ya kang?

  16. wawan says:

    Terima kasih tanggapannya. Sejak saya menulis pertanyaan itu malah muncul pertanyaan baru lagi yang buat saya penasaran untuk tau…pertanyaan baru dimana tempat tinggal jin?

    Mudah2an tidak bosen menanggapi thanks.🙂

  17. adjipamungkas says:

    numpang coment lagi …mas wawan kok nanya masalah jin?:mrgreen:emangya ada pnampakan…
    spendek pengetahuan saya :lol:menurut pengalaman pribadi…mereka tinggal di sembarang tempat…(di mana aja menurut mereka nyaman dan layak di tinggali)pada dasarnya alam meraka dengan kita pararel kok cuma mata “jasad”aja yang gak ngeliat…tapi “ngeliat”mereka juga gak enak bahkan pada akhirnya sangat “menggangu”..mending ngurusin yang keliatan misalnya anak istri keluarga orang tua..pekerjaan paling top markotop mah ngurusin ibadah..n taubat kita..ocreee:wink:

  18. Anonymous says:

    Wawan: trus ada suatu pertanyaan kalau Jin dan manusia dicipta untuk mengabdi trus yang dicipta untuk menyembah siapa?

    abu suci: Belalang, Mas! Belalang sembah.

    Herry: Kata yang dibahas adalah ya’bud, na’bud, ‘abid, dst. Istilah Qur’annya, bukan terjemahan bahasa Indonesianya. Konteksnya.

    wawan: Sejak saya menulis pertanyaan itu malah muncul pertanyaan baru lagi yang buat saya penasaran untuk tau… pertanyaan baru: dimana tempat tinggal jin?

    Tempat tinggal jin?🙄 Mungkin deket tempatnya belalang sembah, mas…🙂

  19. @ Olson Osman : Salam Huwa!🙂

    @ Arnol : Makasih juga. Misi hidup? Wallahu ‘alam. Masih nyari.

    @ cahragil : salam kenal juga, semoga bermanfaat…

    @ wawan: Di mana-mana.. seperti kata adjipamungkas.

  20. krishna says:

    kang herry.
    ada kecenderungan saat ini terutama di kota-kota besar, dimana orang yg kelihatannya – katakanlah- zuhud atau yg sedang bersuluk, expressinya lebih kepada memelihara jenggot, low profil dan rajin ke pengajian, tetapi justru tidak tergerak untuk berprestasi atau – do not intend to fight for the top- di perusahaannya.
    apakah aktualisasi diri itu sesuatu yg salah ? atau pemahamannya yg keliru ?
    nuhun, kang !

  21. adjipamungkas says:

    hmm….ijinkan daku nimbrung:lol:
    expressinya lebih kepada memelihara jenggot, low profil dan rajin ke pengajian, tetapi justru tidak tergerak untuk berprestasi atau – do not intend to fight for the top- di perusahaannya.
    Comment by krishna — Tuesday, April 8, 2008 @ 13:56…

    jenggot ..ah gak juga mas ..banyak kok yang “bersih” malah di rajin bercukur!! cuma masalah “casing” jenggot bukan ukuran or parameter solehnya sesorang…(temen ane yang “preman” malah jenggotan biar pnampilan kayak”trio tenggulun”) low profil..yah..kan harus menjaga diri dari unsur unsur yang berbahaya bagi suluknya yaitu ujub riya..takabbur serta teman temannya.
    btw bukannya appresiasi or aktualisasi it’s bad idea..hanya kadang lebih mudah di hinggapi unsur berbahaya tadi…coba kalau pada awalnya wujud apresiasi itu di bangun dengan niatan menolong agama Allah…OH:twisted:syetan sudah mempersiapkan makar..untuk menyesatkannya di buatlah ketenaran..kekaguman …penghasilan…yang menggoda syahwat…untuk mengejar popularitas dan materi…atau di sesatkan dengan cara yang lain seperti menggoda syahwat spritualnya…:roll: yang pada akhirnya akan menjauhkan para “pejalan”(salik atau para pengamal thasawuf) dari tujuan sebenarnya yaitu kembali pada Allah sang pencipta dengan kondisi yang di sucikan.
    nih ayatnya
    QS.15 : 39-40. iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”.

    kalau pun mereka beraktualisasi “dakwah” cenderung kepada orang yang tepat (Orang orang yang benar-benar butuh..mau kembali ke Allah/taubat) dan di lakukan oleh orang..orang yang tepat juga ( ber Haq..punya ilmu dan pengetahuan ):razz:

  22. mia says:

    berkaitan dengan peran diri, ada buku bagus: “Mencari Nama Allah yang Keseratus” karangan Pak Muhammad Zuhri.

    salaam …

  23. wan, kalo mau tanya banyak, kenapa gak datangi saja rekan kami yang di makassar? UNM Elektro 2000 ya? Atau yang di yogya, kalo sekarang lagi di UGM.
    😉

  24. alhamdulillah Mas Herry…zidaburika itu awalnya merupakan nama usaha kateringan milik kakak saya [masih dirintis sih kelangsungan hidupnya:mrgreen: ], latinnya dari bahasa arab yg artinya kalo nggak salah “Bertambah berkahnya” dan saya gunakan karena senang dengan artinya tadi🙂

    Btw, Terima kasih atas kunjungannya dan salam silaturrahim.

    Wassalam

  25. Insya Allah…amin. Terima kasih Mas Herry utk do’anya. Tapi terus terang saya dan kakak saya beserta usaha katering ini bertempat di kota Batam:mrgreen:

  26. wawan says:

    wah😮 , mas herry tak diragukan lagi…..kenal aq tapi qt belum pernah ketemu sebelumnya. Dijogja sapa yang bisa ditemui?

  27. 😉 salam: mas herri ,tentang suluk itu…..bukanya suluk itu penukaran (menggantu hal yg buruk dgn yg baik.???. dan saya sangat berterima kasih atas banyaknya kutip pan2 yg ada tulis di blok ini………… dan mengenai suluk itu saya punya pengalaman pribadi.dan disitu saya tau bahwa suluk itu adalah penukaran.. kalo perjalanan itu adalah tarekat…???? trima kasin salam

  28. adjipamungkas says:

    salam buat kavi:cool:

    mohon maaf, rujukan kavi bahwa suluk adalah pergantian dari mana yah…kalo boleh tahu…?.
    tareqat atau tariqah atau tarekat..alias Tarikh (benar nggak sih penyebutannya ? ) sependek pengetahuan saya berarti : ” Jalan”.:razz:

    Masalahnya di masyrakat awam dan disebagian aliran thasawuf tradisional masih ada wujud kerancuan mengenai terminologi- peristilahan aktivitas thasawuf dan sufi serta thariqah:?:

  29. Ahmad says:

    Selain itu, pada orang-orang yang memang telah menerima tugas dari Allah ta’ala (mengenal diri dan misinya) ada ruang lingkup dakwahnya sendiri, dan Allah sendiri yang menentukan.
    Comment #1350 by Herry — Monday, March 24, 2008 @ 14:41

    Mas herry, yang mau saya tanyakan, gimana caranya kita mengenal diri dan misi yg diemban oleh kita sendiri???:cry:
    Sekarang kita seakan-akan ingin mendapatkan pengetahuan dari “Guru Ruhaniah”, tapi gmn caranya mendapatkan seorang guru sejati untuk kita teladani?? sekarang banyak yg mengatas namakan agama tapi akhirnya malah sesat:sad:
    trs gmn dunk mas??
    apa hanya orang2 pilihan Allah yg mendapatkan bimbingan dr guru sejati??
    biar kita dipilih oleh Allah untuk jd hamba pilihanNya gmn caranya mas??
    gmn caranya menTauhidkan dinul Islam didalam qulb kita mas??
    maaf mas banyak nanya:wink:

    Mudah2an salah satu dr orang yg beruntung menjadi pilihanNya termasuk kita , Amin…

    diantos walerannana ya mas:mrgreen:

  30. من أجل ذالك كتبناعلي بني إسرائيل أنه من قتل نفسا بغير نفس أو فساد في الأرض فكأنما قتل الناس جميعا و من أحيا ها فكـأنما أحيا الناس جميعا

    ‘…Oleh karena itu, kami tetapkan atas Bani Israil bahwa siapa saja yang membunuh satu jiwa atau berbuat kerusakan di bumi laksana membunuh semua manusia dan siapa saja yang menghidupi satu jiwa laksana menghidupi semua manusia…’

    Quran, Almaidah: 32

  31. Saya rasa Almaidah:32 itu merupakan salah satu misi bersama setiap kita. Tapi misi khusus setiap diri kita? Hanya diri bersangkutan yang tahu. Pertanyaannya: Bagaimana mengetahui misi pribadi itu? Ya harus tanya langsung ke Pemberi misi…disitulah letak jihad.🙄

  32. iwan says:

    Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga bahasan ini… ^_^

    “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah mengabdi/menghamba (ya’bud) kepada-Ku.” (Q. S. Adz-Dzariyaat [51] : 56)

    mohon maaf,
    kalau cara ibadahnya manusia kan banyak yang membahas, dan semuanya berusaha mencapai kesempurnaan,
    pertanyaan saya (karena tempo hari ada seorang kawan yang iseng-iseng menanyakan dan saya tidak punya pengetahuan akan hal itu),
    ” kalau ibadahnya manusia begitu, lantas cara ibadanya jin gimana ya ?”

  33. wow!! subhanallah, luar biasa..blognya amat sangat mencerahkan..terima kasih mas herry.. akhirnya setelah lama mencari “tempat berguru”, ketemu juga yang langsung sreg di hati..
    btw mau tau lebih banyak tentang yayasan islam paramartha-nya donk mas, ko web nya ga bisa di akses ya..
    terima kasih sebelumnya🙂

  34. hasbullahhamzah says:

    salam warga indonesia saya dari Tanah Besar Malaya.

    Saya tertarik dengan artikel yang disampai oleh mas herry.

    Namun didalam penyampaiannya mungkin tertinggal tentang penyataan diri kita yang sebenar untuk mengenal lebih dekat dengan RABBULJALIL.

    sesungguhnya diri kita ini makhluk yang dijadikan tidak boleh jadi dengan sendiri (buktinya surah Iqrabismirabbikallaziqalaq) setiap yang dijadikan mestilah ia bertempuh dengan satu kuasa yang menjadikan.Dan kuasa itu tidak sama dengan makhluk yang dijadikan baik dari segi apapun (jirim jisim jauhar atau jauharbirin). namun kenyataanNYA adalah dari makhluk yang diajdikannya untuk menunjukkan kuasanya asmanya dan apalnya………(boleh tuan sambung atau perbetulkan kembali jika ada sebarang kesilapan tlg mailkan kepada saya.)

  35. Salam kenal Mas Herry,

    Mau tanya sedikit mas. Diatas disebutkan tentang “dibawah bimbingan seorang mursyid sejati”. Apakah yang dimaksud mursyid sejati ini adalah para syaikh yang ada di aliran tarekat, atau barangkali ada mursyid lain yang non-tarekat ? Dan apakah dalam setiap perputaran waktu di dunia ini hanya ada 1 mursyid (yang disebut wali Qutb) untuk seluruh umat ?
    Mohon pencerahannya Mas.

    Terima kasih sebelumnya.
    Salam.

  36. “…dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (untukmu).” (Q. S. An-Nahl [16] : 69)

    mas hery…maksud dari ayat diatas apakah jalan yang dimudahkan itu menempuh thariqat (jalan) suluk?ataukah setiap insan telah ditentukan jalannya masing2 untuk dapat kembali dalam keberserah dirian terhadap Allah Ta’Ala?
    dan yang saya sedikit menangkap,jalan suluk itu ternyata berat dalam menempuhnya..tapi apakah jalan yang kita anggap berat tersebut adalah jalan yang sudah dimudahkan seperti yang di maksudkan ayat diatas??:?:

    Terima kasih mas…
    Assalamualaykum….

  37. sunyi damara semesta says:

    saya juga ad prtanyaan.
    kenapa yg diperintah nyembah cuma manusia & jin,
    padahal ciptaan allah kan bukan hanya mnusia&jin saja.
    bearti yang tdak bs nyembah allah cuma kita & jin.
    binatang,tumbuhan,malaikat,iblissss
    semua sudah menyembah pada -NYA
    hehehehe

  38. adjipamungkas says:

    hehe numpang komentar dikit…
    spendek pengetahuan saya binatang,tumbuhan,malaikat sudah tertib menyembah Allah:roll:.sedangkan Iblis…masi saudara sepupu ponakan adik iparnya ..jin:twisted:yang nolak Adam AS, yang berakibat ingkarnya beliau(iblis) kepada Allah…:cry:

  39. Djumhana says:

    Assalamualaikum….. Kang Herry makasih yah atas pencerahannya….
    saya sedikit ter gelitik dgn pertanyaan teman2 tentang Jin lah.. cara mereka beribadah lah dll…

    “Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya ber-tasbih kepada Allah siapa pun yang ada di petala langit dan bumi, dan burung dengan mengembangkan sayapnya. Sungguh setiap sesuatu mengetahui cara shalat-nya dan cara tasbih-nya masing-masing. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Q. S. An-Nuur [24] : 41)

    dari ayat di atas semua sudah terjawab atas pertanyaan2 yg bikin saya😀 coba “kita” lebih tepatnya saya lihat dari prespektip lain (*maaf kalo saya menyalahi aturan/pakem yg ada) di ayat tersebut di firmankan “dan burung dengan mengembangkan sayapnya.” dengan terbangnya burung berarti dia (baca: burung) sudah berserah diri kepada Allah (mengikuti aturan yg telah di tentukan) dengan berperan sebagai burung, bagai mana dengan Burung Unta yg tdk bisa terbang? apakah burung unta termasuk Burung yg di kategorikan Burung yg Kafir karena tdk bisa/mau terbang….. justru di situ lah letak ibadah nya Burung Unta pergerakannya mengunakan kaki karena itu lah tugas yg telah si Burung Unta terima.
    saya setuju dgn yg di ungkapkan kang/Mas Adjipamungkas Mereka sudah tertib menyembah Allah, coba kalo saja ada yg kafir di mahluk Allah yg berjenis burung misalkan tiba2 saja burung tersebut ingin ingkar terhadap PenciptaNya dan memutuskan untuk hidup di dalam air dan berenang ke dalam lautan apa yg terjadi apakah Dunia menjadi hancur ohhhhh tentu tidak justru si burung itulah yang akan binasa oleh ulahnya sendiri. sekarang bayangkan seandainya mahluk Allah yg di sebut Planet-planet, Galaksi-galaksi bila mereka tidak berserah diri pada ketentuan Allah maka sudah bisa di pastikan mereka beredar atas kehendaknya sendiri yg mengakibatkan saling bertabrakkan satu sama lain.
    Mudah2an sedikit catatan saya ini bisa di maklumi atas kekurangannya dan semoga di akherat kelak bisa saya pertanggung jawabkan. Amin.
    Wassalam.

  40. Abah Abhi says:

    Alhamdulillah, saya banyak belajar dari web sampeyan

    Semoga Alloh dengan KemurahanNYA dan Kasih SayangNYA serta Keluasan IlmuNYA terus diberikan kepada sampeyan

    Semoga apa yang dicita-citakan menjadi kenyataan

    salam,

  41. iwang says:

    Salam kenal mas herry.
    trims mas herry. semua tulisan anda sangat menggugah hati…
    mhm maaf kami telah menngcopy paste banyak tulisan anda untuk
    pelajaran hati kami…sunggu kami mhn keridhoaan mas herry…Iwangm Dumai-Riau

  42. Assalamu ‘alaikum…

    Wow! Keren banget blognya. Saya sempat berfikir:roll:,”Andai saja setiap orang bersuluk mampu memberikan penjelasan segamblang bang Herry, orang tidak akan ragu akan kebenaran tasawuf dan tarekat.”

    Tapi rupanya tetap saja banyak yang bertanya. Betul kata Guru saya,”Berkata adalah mudah, menjelaskan lebih sulit…”

    Kesimpulan saya memang susah menjelaskan “ilmu rasa” yang memerlukan bathin yang lembut. Sama seperti menjelaskan cara menggunakan suatu software komputer kepada orang yang tidak pernah menyentuh komputer:mrgreen:. Atau menjelaskan, “Bagaimana sih rasanya ‘kopi’?”, kepada orang yang belum pernah mencicipi kopi. Kalau dibilang kopi itu pahit saja, tidak cukup.

    BTW, apakah bang Herry pengamal tarekat tertentu? Kalau boleh tau, tarekat apa? Saya sendiri adalah pengamal tarekat Naqsyabandiyah Al Khalidiyah.

    Terima kasih telah berbagi.:smile:

    Wassalam,

    Ajoull

  43. wa alaikum salaam.

    Terimakasih atas kunjungannya, ajul🙂 senang jika dirasa bermanfaat.

    Saya memang tergabung di sebuah tarekat, mencoba belajar jadi pejalan. Tarekat apa, ah, mungkin gak terlalu penting ya, info ini? Yang jelas saya senang kalo ‘papasan’ dengan sesama pejalan.

    thanks again!

    Wassalaam.

  44. mimi says:

    assalamu’alaikum
    salam kenal mas herry (hehe kaya nama suami…)
    saya setuju sx dngn Ajoull MF Hidayat, alangkah indahnya jika semua orang islam bertasawuf…semoga dengan penjelasan dan referensi yg mas utarakan dapat mbuka pemikiran2 yang kaku akan makna qur’an n hadis.
    alhamdulillah jaman sdh modern ngg paham tinggal cr referensi or orang yg mngerti lewat media internet tnp mesti cape2 mondok or bertandang ke rumah guru, ngg ky saya dulu mentok pada apa kata “sang guru” pulang kerumah sakit kepala deh mengartikan maknanya
    terus semangat n jangan pernah berhenti ya mas herry
    wassalam😀
    wassalam

  45. nama allah keseratus adalah diri kamu sendiri hehe xp itu masih x betul yang betul tiada nama tiada sebutan dan tiada tiada tiada yang ada ya hanya diti tuhan yg tunggal xp ini masih x betul yang betul saja taw diri yer betul!! heheh haizz pening pening org yg pening je lah yg pening saya tidak kekeke:lol:

  46. mimi says:

    wah kalo nama Allah yang keseratus adalah diri sendiri banyak donk….manusia aja brp milyar ngg jadi 100 dong
    hehehe….

    salam mimi

  47. maji says:

    trimakasih pejelasannya tentang sukuk. oi cara nya untuk beli buku kitab al-hikam karangan ibn athaillah as sankandari terbitan katulis tiwapress dan buku2 yang lain karangan ibn athaillah.

  48. alwin says:

    mohon bantuannya saya sedang cari pengertian tentang SULUK karena kebetuan sekali sekarang saya sedang menjadi pimpinan grup musik etnic kontemporary SULUK SAMUDRA yang personilnya semua wanita, pada dasarnya saya ingin membuat profil kelompok, kelompok yang kami buat tidak ada maksud pada pemasalahan gender dikarenakan personilnya wanita semua, hal ini di karenakan kesadaran akan melestarikan seni budaya saja. mahon dibantu tentang arti suluk itu sendiri. dan jika boleh saya minta tanggapan mas herry tentang nama kelompok kami terimakasih…:smile:

  49. anton says:

    sepengetahuan ana ,sesuatu ibadah yang bukan dari rasullulloh ,,amalanya tertolak ,,ana minta antum jelaskan suluk ini dasar ibadah dari mana ,siapa yg pertama kali melakukanya ? trima kasih

  50. Santi says:

    Sudah beberapa minggu baca blog ini tapi belum pernah komentar. Blog yang bagus banget, benar-benar menambah pemahaman tentang Islam dan lainnya. Insya Allah bertambah ilmu dan berkah di bulan Ramadhan ini dengan baca tulisan mas Herry🙂
    Oya, saya juga share dengan beberapa teman link blog ini. Much thanks buat tulisannya dan salam kenal dari santi.

  51. Alhamdulillah , bisa ketemu blog yang bisa menambah pemahaman agama. Tadi malam sudah kumasukkan ke blogroll biar kalau berkunjung ke sini lebih cepat dan tak lupa linknya. Terima kasih. salam kenal wassaalam.

  52. BUKU 0: Siapa Dirimu? ADAM didalam ADAM
    DIDEDIKASIKAN
    untuk generasi muda bangsa
    agar mereka mengenal dirinya
    & mengerti tujuan hidupnya
    ____________________________

    JUDUL BUKU:

    Siapa dirimu?
    ADAM didalam ADAM

    Pengantar
    _________

    Bismillahirrohmanirrohim
    Segala puji bagi Allah,
    Tuhan semesta alam.

    Terimakasih anda telah menyempatkan membaca buku yang sangat sederhana ini, tapi percayalah di balik kesederhanaannya insya Allah buku ini sangat bermanfaat karena menjadi dasar pemahaman kita baik sebagai manusia maupun sebagai diri kita, sehingga kita sanggup menjawab pertanyaan di bawah ini:
    Siapakah dirimu ?
    Pertanyaan ini sangat mendasar, pertanyaan yang sangat hakiki, pertanyaan sederhana yang semestinya dapat di jawab dengan spontan dan benar.
    Pertanyaan yang semestinya tidak membuat bingung yang ditanya.
    Tapi kenyataannya tidaklah demikian, pertanyaan ini sering membuat yang ditanya terhenyak.
    Pertanyaan yang mengejutkan, yang jawabannya sama sekali be lum terpikirkan.

    Sangat ironis memang, sedemikian melalaikannya kehidupan didunia ini, sampai-sampai manusia dibuat lupa dengan dirinya.
    Bagaimana kita dapat kembali padaNya, kalau kita tidak paham diri kita sendiri, diri kita yang sebenar nya.
    Bukankah ada kata-kata bijak :
    ” Kenali dan pahami dirimu, maka kau akan dapat mengenali dan memahami Tuhanmu ”
    Sebagai dasar pemahaman tentang diri kita yang sebenarnya, saya rasa sangatlah tepat kalau kita menyimak untuk memahami kisah Adam dan istrinya, dari surga sampai ke bumi.

    Selamat membaca, semoga Allah berkenan memberikan syafaat dari sisiNya bagi kita semua.

    Surabaya, Juni 2010
    Wassalam;

    iskandar zulkarnain
    ________________
    adiluhung_nusantara@yahoo.com
    adiluhung.nusantara@gmail.com
    BLOG: adiluhungnusantara.blogspot.com:idea:
    FACEBOOK: adiluhung nusantara

    _____________________________

    Pengantar
    DAFTAR ISI :

    I. PROLOG

    II.Nyata, Irasional & Gaib
    II.1. NYATA
    II.2. IRASIONAL
    II.3. GAIB

    III. PENGERTIAN AKHIRAT

    IV. ADAM DI SURGA

    V. ADAM SEBELUM TURUN KE BUMI

    VI. ADAM DI BUMI
    _________________________________

    I. PROLOG
    _________

    Memang ironis, tapi itulah kenyataan yang terjadi.Kehidupan dunia betul-betul melalaikan, manusia
    ’dibuat tidak sempat’ memikirkan, menelaah dan memahami diri mereka yang sebenarnya, diri-sejati atau diri-pribadi mereka.
    Memahami diri-sejati sangatlah penting, karena diri-sejatilah yang nantinya diijinkan masuk surga atau ’terbuang’ di neraka.
    Diri-sejati pulalah yang mendapatkan cahaya dari amal-saleh yang kita kerjakan, atau terjebak dalam kegelapan karena dosa-dosa kita.

    Diri-sejati kita ’bukan’ jiwa kita.

    Apabila kematian tiba, nyawa kita kembali kepadaNya maka jantung berhenti berdetak dan tubuh mati, pada saat itu juga kita menjadi diri-sejati, alam kita juga berganti dengan alam akhirat, kita memulai ke hidupan yang sebenarnya, hidup dalam ’keabadian’, abadi dalam suka-cita atau abadi dalam duka-cita.
    “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan sendau-gurau dan permainan saja.Dan sesungguhnya akhirat itulah sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahuinya” (29:64)

    Diri-sejati adalah ’Akhirat’ kita, jadi kita harus memahaminya untuk kemudian memberdayakannya agar mendapatkan cahaya, yang dengan cahaya itulah kita dapat ber jalan di ‘Akhirat’ yang gelap-gulita.

    ADAM DAN HAWA
    Sedari kecil kita mendengar cerita tentang Adam dan Hawa, sepasang mahluk ciptaan Allah yang hi dup di surga, suatu tempat yang indah, damai dan penuh nikmat
    Tapi bujukan setan telah menggelincirkan mereka dalam dosa karena melanggar larangan Allah, sehing ga mereka berdua harus keluar dari surga dan turun ke bumi.
    Yang perlu dicermati adalah bahwa cerita Adam dan Hawa ini tertulis dalam Al Qur’an, sehingga secara prinsip kebenarannya adalah mutlak dan harus dipercaya.

    Banyak yang berpendapat bahwa Adam yang di surga ’turun begitu saja’ ke bumi menjadi manusia.
    Pendapat ini tidak tepat dan cenderung ’mencari gampangnya’, karena akan banyak hal penting yang hilang.
    Sebagai Bani Adam dan umat Islam, kita dituntut untuk memahami dan menemukan sesuatu dibalik cerita itu, sesuatu yang sangat penting bagi pengungkapan diri kita yang sebenarnya, diri-sejati kita.
    Bagaimana kita dapat mengarungi kehidupan ini kalau kita tidak paham akan diri kita sendiri ?

    Jadi sangatlah tidak bijak kita banyak mempelajari ilmu dan hal-hal lain, tapi kita justru lupa untuk mem pelajari dan memahami asal usul manusia, asal usul diri kita sendiri, bahkan cenderung mengabaikannya, menganggap penjabaran tentang Adam dan Hawa yang tertulis di Al Qur’an hanya sebagai dongeng belaka.

    Marilah kita simak beberapa ayat Al Qur’an, bagaimana Allah SWT telah mengingatkan kita melalui firmanNya yang al.:
    ” Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab, tidakkahkamu berpikir ?”
    ( 2: 44 ).
    ” Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Al lah, lalu Allah menjadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri.Mereka itulah orang-orang yang fasik” (59: 19)
    ” Sesungguhnya Allah tidak zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusialah yang zalim ke pada diri mereka sendiri ” (10: 44).( sampai-sampai manusia melupakan diri mereka sendiri, dan membiarkannya tak berdaya dan terjebak dalam kegelapan ).

    II. Nyata, Irasional & Gaib
    _____________________

    Sebelum kita lanjutkan, sebaiknya kita menyamakan presepsi terlebih dahulu, hal ini penting untuk meng hindari kerancuan pemahaman terhadap hal-hal yang terkait dengan pembahasan kita selanjutnya.
    Saya kurang setuju dengan pendapat yang menyatakan/memandang /menyikapi/membagi alam semes ta ini hanya dalam 2 bagian/kelompok/alam/dimensi, yaitu: nyata dan gaib.
    Gaib disini dinyatakan mencakup semua yang tidak nyata, semua yang tidak dapat dilihat/ didengar/ disentuh/ dibaui/ dirasakan oleh indera yang dipunyai tubuh/raga
    Menurut saya pengertian ini terlalu berlebihan dan merancukan/mengaburkan makna dari gaib itu sen diri, serta kontra produktip untuk mencari jalan lurus kembali kepada Allah.

    Mari kiita simak firman Allah yang termuat di:
    Al Baqarah ayat 1 s/d 5
    1. Alif laam miim
    2. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.
    3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami anugerahkan kepada mereka
    4. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya akhirat ( hari kemudian ).
    5. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

    Dari ayat-ayat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa mereka yang bertaqwa adalah mereka yang:
    – Beriman kepada yang gaib.
    – Beriman kepada Kitab-kitabNya.
    – Yakin akan adanya Akhirat.
    – Mendirikan shalat.
    – Menunaikan zakat.
    Merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk dan beruntung.

    Dalam susunan kalimat firman tersebut diatas jelas dibedakan antara gaib dengan Akhirat.
    Dari hasil kajian memang berbeda, Akhirat bukan gaib tapi irasional, Akhirat jelas ada tapi tidak nyata karena tidak dapat dilihat dan disentuh oleh tubuh manusia.
    Gaib tidak boleh dikaji, karena itu mutlak wewenang Allah.
    Demi keyakinan dan ketaqwaan serta senantiasa berpedoman pada Al Qur’an yang irasional boleh dikaji.
    Bukankah tujuan hidup kita adalah Akhirat ? Bagaimana kita bisa selamat di Akhirat kalau kita tidak
    mengerti apa dan bagaimana Akhirat itu.

    II.1. NYATA :
    ___________

    Kita semua telah paham bahwa yang dikatakan nyata adalah segala sesuatu yang dapat dideteksi oleh indera yang dimiliki oleh tubuh/raga manusia, sederhananya segala sesuatu yang dapat dilihat, diraba, didengar, dibaui dan dirasakan oleh tubuh/raga manusia.
    Contohnya :
    Tubuh/raga manusia, tanah, batu, air, tumbuh-tumbuhan, hewan, awan, bulan, bintang, matahari dllnya.

    II.2. IRASIONAL :
    _______________

    Ada tapi tidak nyata.
    Sesuatu yang diyakini ada tapi tidak nyata, tidak dapat dideteksi oleh indera yang dimiliki tubuh/raga manusia.
    Sebagai umat Islam kita diwajibkan untuk mengimani dan meyakini adanya: Malaikat dan Akhirat ( Hari Kemudian ), dua hal ini termasuk dalam rukun Iman.
    Dua hal ini adalah irasional: ada ( di yakini ada ) tapi tidak nyata.

    Informasi yang akurat mengenai segala sesuatu yang irasional lainnya dapat kita temui didalam
    Al Qur’an, antara lain :
    Surga, Sidratul-Muntaha, Baitul Makmur, Al A’raf, Kampung Akhirat, neraka, iblis, setan, jin, qolbu,
    ruh (ruhuu), jiwa, diri (anfusakum), dllnya.
    Ini semua wajib diyakini ada dan kebenarannya karena tertulis di Al Qur’an.

    Nyata dan irasional juga dikenal sebagai bilangan dalam Matematika :
    (-1) adalah bilangan nyata.
    AKAR(-1) adalah bilangan irasional :
    ada hasilnya tapi tak dapat dihitung, ada tapi tidak nyata.

    Demi keyakinan dan ketaqwaan serta senantiasa berpedoman pada Al Qur’an, semua yang irasional boleh dikaji.

    II.3. GAIB :
    _________

    Segala sesuatu yang menjadi wewenang Allah SWT, tidak terjang kau oleh indera dan akal manusia.
    Qada dan Qadar (ketentuan dan kuasa Allah) adalah gaib, termasuk didalamnya: apa yang akan terjadi terhadap kita detik, menit dan jam yang akan datang, apalagi esok hari.
    Manusia boleh berencana, tapi Allahlah yang menentukan.
    Oleh sebab itu kita dianjurkan mengatakan ”insya Allah” untuk hal-hal yang akan kita lakukan.
    Juga kapan terjadinya kiamat termasuk gaib, dan hal-hal lainnya.
    Karena mutlak menjadi kewenangan Allah, segala hal gaib tidak boleh dikaji apalagi mencoba
    mengungkapkannya.
    Oleh karena itu meramal nasib seseorang dan segala hal yang berkaitan merupakan tindakan yang keterlaluan.

    III. PENGERTIAN AKHIRAT
    ______________________

    Disini akan kita ulas secara ringkas pengertian dasar tentang Akhirat.
    Karena hal ini sangat diperlukan untuk mengungkap jati diri manusia.
    ( Untuk melengkapi pengertian tentang Akhirat, ada baiknya dibaca juga buku : Jangan menunggu kiamat di ’alam-kubur’ )

    Akhirat jangan diterjemahkan sebagai Hari-Akhir, tapi sebaiknya diterjemahkan sebagai Hari-Kemudian.
    Penerjemahan sebagai Hari-Akhir menimbulkan kerancuan pengertian yang berujung pada salah dalam memahami Akhirat.
    Padahal pemahaman hal ini sangat penting, karena Akhirat adalah tujuan hidup manusia sedangkan dunia hanya kesenangan (sementara).

    ” Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguh nya Akhirat itulah negeri yang kekal ” (40: 39)
    “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan sendau-gurau dan permainan saja.Dan sesungguhnya akhirat itulah sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahuinya” (29:64)

    Akhirat adalah Hari-Kemudian
    Artinya:
    Hari setelah kehidupanMU di dunia berakhir.

    BUKAN :
    Hari setelah kehidupan dunia berakhir.
    Yang berimplikasi pada pengertian bahwa Akhirat itu ada/terjadi setelah kiamat.
    Padahal tidak demikian, karena:
    Akhirat sudah ada sekarang ini.
    ( Baca: Jangan menunggu kiamat di ’alam-kubur’ )

    Perbedaan dunia dan akhirat hanya terletak pada dimensinya, tempatnya sama……ya disini ini.
    ” Pada hari bumi diganti dengan bumi yang lain dan (juga) langit, dan mereka menghadap Allah YME lagi Maha Perkasa….” (14: 48)

    Yang nyata alamnya dunia, yang irasional alamnya akhirat.
    Didunia kita dibatasi ruang dan waktu, sedangkan di Akhirat ruang dan waktu relatip.
    (Baca: Di Hari Kemudian, Waktu dan Ruang relatip )

    Kehidupan di dunia : sementara
    Kehidupan di akhirat : ”abadi”.

    Perbedaannya lagi adalah tolok ukurnya :
    Didunia tolok ukurnya tidak jelas, orang kafirpun bisa sangat berdaya dan berkuasa.
    Diakhirat tolok ukurnya jelas yaitu ketaqwaan, siapa yang bertaqwa pasti berdaya dan bahagia.
    Yang tidak bertaqwa pasti tidak berdaya bahkan tersiksa.

    Ulasan singkat tentang dunia dan akhirat ini semoga dapat memudahkan pemahaman kajian selanjutnya.

    IV. ADAM DI SURGA
    _________________

    Dengan seijin Allah Adam dan istrinya tinggal di Surga.
    Dan Kami berfirman: ” Hai Adam, diamilah olehmu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana dan kapan saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. (2: 35 ; 7: 19)

    Di Surga terdapat banyak makanan yang baik-baik, dari yang banyak itu hanya ’ satu ’ yang dilarang untuk didekati, tapi ternyata yang ’ satu ’ ini mampu menggelincirkan Adam dan istrinya, sehingga mereka menjadi orang-orang yang zalim.
    Lalu keduanya digelincirkan oleh setan, karenanya maka keduanya dikeluarkan dari keadaan mereka semula dan Kami berfirman, “ Turunlah kamu ! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman sementara di bumi, dan kesenangan hidup sementara sampai waktu yang ditentukan ”.(2: 36) (7: 24)
    Maka setan membujuk keduanya dengan tipu daya.Maka tatkala keduanya telah merasakan buah pohon itu, nampaklah bagi kedua nya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Dan Tuhan mereka menyeru mereka berdua : ’”Bukankah Aku telah melarang kamu berdua melampaui pohon itu dan Aku katakan pada kamu berdua”. Sesungguhnya setan itu bagi kamu
    berdua adalah musuh yang nyata. (7: 22)

    Karena ketidak patuhan mereka kepada Allah, maka mereka menjadi zalim dan itu ditandai dengan tanggalnya ‘pakaian-taqwa’ mereka, karena malu mereka menutupi aurat-aurat mereka dengan daun surga.
    Karena surga bukan diperuntukan bagi mereka yang zalim, tapi hanya diperuntukan bagi mereka yang patuh kepada Allah, maka Adam dan istrinya harus turun ke bumi.
    Allah telah menyediakan tempat tinggal sementara di bumi, sampai batas waktu yang ditentukan.

    Dari Surga turun ke Bumi.
    Ini dapat disimpulkan bahwa letak Surga lebih tinggi tempat dan kedudukannya dibanding dengan Bumi.
    Dimana Surga itu ?

    Mari kita simak ayat berikut ini:
    ” dalam Surga yang tinggi ” (69:22)
    ”.., sekali kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit, dan tidak masuk Surga,..” (7:40)

    Ketidakpatuhan mereka pada Allah membuahkan penyesalan, Adam dan istrinya memohon ampunan.
    Keduanya berkata: ” Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi ”(7: 23)

    Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang pastilah mengampuni hambanya yang memohon ampun dengan sungguh-sungguh.

    Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(2:37)
    Kemudian Allah memilihnya (Adam), maka Dia menerima taubat nya dan memberinya petunjuk. (20:122)

    Meskipun Allah telah menerima taubat Adam dan istrinya, tapi ketaqwaan mereka telah tanggal dan
    mereka tidak layak lagi tinggal di Surga, untuk itu mereka tetap harus turun kebumi.

    KAJIAN
    Adam di Surga
    _____________

    Dan Kami berfirman: ” Hai Adam, diamilah olehmu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana dan kapan saja yang kamu sukai……” (2:35)
    Fiirman ini menjelaskan:
    > Surga itu ada.
    > Di Surga tersedia makanan-makanan yang banyak lagi baik dan langsung dapat dimakan ( boleh jadi itu adalah buah-buahan atau yang lain).
    > Adam + istrinya tinggal di Surga, mereka dapat menyentuh dan makan makanan yang ada di surga.

    BERARTI :
    Adam dan istrinya mahluk surga.
    Adam dan istrinya satu dimensi/satu alam dengan surga.

    Maka setan membujuk keduanya dengan tipu daya.Maka tatkala keduanya telah merasakan buah
    pohon itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga, dan Tuhan mereka menyeru mereka berdua: ’ Bukankah aku telah melarang kamu berdua melampaui pohon itu dan Aku katakan pada kamu berdua’: Sesungguhnya setan itu bagi kamu berdua adalah musuh yang nyata.(7:22)
    Fiirman ini menjelaskan:
    > Di Surga juga ada setan, setanlah yang menyebabkan Adam dan istrinya menjadi zalim.
    > Adam dan istrinya juga punya aurat, berarti punya wujud.
    > Setan adalah musuh yang nyata bagi Adam dan istrinya.

    KESIMPULAN:

    Kesimpulan ini dibuat dengan tolok-ukur/pandangan kita sebagai manusia dengan menggunakan indera yang dipunyai oleh raga/tubuh.
    Artinya yang dapat dideteksi oleh indera raga/tubuh adalah NYATA.
    Sedangkan yang ada tapi tak terlihat / tak terdeteksi oleh indera raga/tubuh adalah IRASIONAL.

    Dengan demikian :
    >> Surga adalah irasional, karena tak terlihat.

    Karena Adam + istrinya dan surga satu dimensi/satu alam,
    maka:
    >> Adam + istrinya juga irasional
    >> Setan juga irasional.

    Pada pembahasan: Pengertian Akhirat dijelaskan bahwa:
    Yang nyata alamnya Dunia.
    Yang irasional alamnya Akhirat

    Berarti:
    >> Surga dan Adam + istrinya berada di alam Akhirat.

    V. ADAM SEBELUM TURUN KE BUMI
    ____________________________

    Adam diampuni & diberi petunjuk

    Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (2:37)

    Kemudian Allah memilihnya (Adam), maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. (20:122)

    Meski Allah telah menerima taubat Adam dan istrinya, tapi mereka berdua tetap harus turun
    kebumi.
    Tapi karena kasih sayang Allah kepada Adam yang tetap besar, maka Allah memberi petunjuk berupa beberapa kalimat, agar Adam dan istrinya dapat kembali ke surga.

    Adam dijadikan khalifah dimuka bumi

    ” Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah dimuka bumi.Maka barangsiapa yang kafir, maka kekafirannya itu akan ditanggung dirinya sendiri….” (35: 39)
    ” Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan memikulnya dan merasa berat daripadanya dan dipikullah amanat itu oleh insan manusia .Sesungguhnya dia itu zalim dan bodoh,…. ” (33: 72)

    Adam menyatakan sanggup untuk menjadi khalifah dimuka bumi, meskipun dia telah zalim dan bodoh, karena telah dapat diperdaya oleh setan, sehingga kemudahan dan kenikmatan yang dia dapatkan
    di surga terpaksa harus ditinggalkan dan harus turun ke bumi.

    Karena semua diri manusia dimuka bumi adalah keturunan Adam, maka amanah sebagai khalifah dimuka bumi ini diwariskan dan diteruskan oleh semua insan manusia.
    ”Hai sekalian manusia, bertaqwalah kamu kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari
    satu diri, dan daripadanya Allah menciptakan pasangannya, dan memperkembang-biakkan dari keduanya lelaki dan perempuan yang banyak….” (4 :1)

    Kekhalifaan Adam ini sempat ditentang malaikat, Tapi Allah telah berketetapan memilih Adam sebagai khalifah dimuka bumi, dan Dia bahkan telah mengajarkan Adam hal-hal yang tidak diajarkan kepada
    malaikat.
    “ Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan
    seorang khalifah dimuka bumi”.Mereka berkata:”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) dimuka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah padanya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau?”.Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (2: 31)
    Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat seraya berfirman: ”Beritahukanlah kepadaKu nama-nama benda itu jika kamu memang yang benar !”Mereka menjawab: ”Maha Suci Eng kau, tiada pengetahuan bagi kami selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijak sana”. (2: 32)
    Allah berfirman: ”Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu!”.
    Maka setelah diberitahukannya, Allah berfirman: ”Bukankah sudah Aku katakan kepada kamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan lebih mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan” (2: 33)

    Adam dibentuk dan disempurnakan

    ” Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat : ”Bersujudlah kamu kepada Adam ”, maka merekapun sujud kecuali iblis; dia tidak termasuk mereka yang sujud ”.(7: 11)

    Al Hijr (15)
    26. Dan sungguh Kami ciptakan manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi
    bentuk.
    27. Dan Kami ciptakan jin sebelumnya dari api yang sangat panas.
    28. Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: ” Sesungguhnya Aku akan menciptakan
    manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang dibentuk ”.
    29. Maka apabila Aku telah menyempurnakannya dan telah meniupkan kedalamnya ruh-Ku, maka
    tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
    30. Maka bersujudlah seluruh malaikat bersama-sama,
    31. kecuali iblis, ia enggan bersama-sama yang sujud itu.

    Shaad (38)
    71. Ketika Tuhan kamu berfirman kepada malaikat, ”Sesungguhnya Aku akan menciptakan
    manusia dari tanah.
    72. Maka apabila Aku telah menyempurnakannya dan Aku meniupkan ruh-Ku, maka hendaklah
    kamu tunduk sujud kepadanya. ”
    73. Lalu sujudlah masing-masing malaikat semuanya,
    74. kecuali iblis, ia takabur dan dia termasuk golongan kafir.

    Sebelum Adam diturunkan kebumi, Allah mempersiapkan ’ BEKAL ’ untuk Adam, ini bukti besarnya kasih-sayang Allah kepada Adam, dengan harapan agar Adam menggunakan sebaik mungkin ’ BEKAL ‘ itu agar dapat kembali ke Surga, kembali ketempat asalnya.

    ’ BEKAL ’ itu antara lain berupa:
    1. TUBUH.
    Tubuh Adam dibuat dari :
    ”…tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk…”
    2. Potensi langsung dari Allah yaitu : RUH.
    ” Maka apabila Aku telah menyempurnakannya dan Aku meniupkan Ruh-Ku….”

    Karena ’ BEKAL ’ inilah, Allah memerintahkan malaikat untuk sujud, dan para malaikatpun sujud,
    kecuali Iblis.

    Ancaman Iblis

    Karena tidak mau mengikuti perintah Allah untuk sujud kepada Adam, maka Iblis divonis sebagai durhaka dan harus turun dari surga
    QS 7: Al A’raaf
    12. Allah berfirman, ” Apa yang menghalangimu tidak sujud ketika Aku memerintahkanmu ?”.
    (Iblis) menjawab: ”Aku lebih baik daripadanya, Kau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Kau
    ciptakan dari tanah ”.
    13. Allah berfirman, ” Turunlah kau dari surga karena kau tidak patut menyombongkan diri
    didalamnya, maka keluarlah.Sesungguhnya kau termasuk yang hina”
    14. Iblis menjawab, ” Beri tangguhlah sampai hari mereka dibangkitkan”
    15. Allah berfirman, ” Sesungguhnya kau termasuk yang diberi tangguh”
    16. Iblis menjawab, ”Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan duduk
    menghalang-halangi mereka dari Jalan Engkau yang lurus.
    17. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari hadapan dan belakang, dari kanan dan kiri mereka
    Dan Kau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.
    18. Allah berfirman, ”Keluarlah kau dari surga sebagai yang terhina lagi terusir.Sungguh
    barangsiapa diantara mereka mengikutimu, niscaya Aku akan penuhi jahanam dengan kamu
    semuanya”.

    Sebelum turun dari surga, Iblis mengancam Adam dan keturunannya, dan Allah mengijinkannya.
    Untuk ’mengimbangi’ ancaman iblis, Allah mengutus MALAIKAT untuk menjaga Adam dan keturunannya.

    KAJIAN
    Adam sebelum turun ke bumi
    _________________________

    Mari kita cermati hal-hal atau kejadian–kejadian sebelum Adam diturunkan ke bumi :

    > Adam diampuni dan diberi petunjuk.
    > Adam ditunjuk sebagai khalifah dimuka bumi.
    > Adam disempurnakan dan diberi tubuh yang terbuat dari tanah.
    > Adam diberi Potensi langsung dari Allah berupa Ruh.
    > Iblis akan berupaya menyesatkan Adam dan keturunannya sampai kiamat.

    Kalau kita renungi dan kaji secara seksama dan mendalam, maka akan menyadarkan kita betapa cinta dan kasihnya Allah kepada Adam dan sudah tentu juga kepada semua manusia di bumi. Allah telah
    menjadikan Adam (dan kita) sebagai mahluk ciptaan Nya yang paling sempurna, sehingga para
    malaikatpun diperintahkan sujud.
    Kesempurnaan yang mengharus kan malaikat dan iblis sujud adalah adanya ’Potensi Allah’ berupa Ruh-Nya yang langsung ditiupkan pada Adam (dan keturunannya), yang sudah tentu esensinya lebih tinggi dari malaikat.

    Oleh karena itu Allah berfirman :
    ”Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat..”
    (2: 186)
    ” Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetehui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”. (50: 16)

    ’Potensi Allah’ inilah yang membuat Adam sebagai manusia sangat dekat dengan Allah dengan kedekat an yang ’tak berbatas’.
    Peniupan ’Potensi Allah’ ini terjadi setelah disempurnakannya tubuh Adam.
    ” Maka apabila Aku telah menyempurnakannya (tubuh Adam) dan telah meniupkan kedalamnya
    ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud ” (15: 29)

    Mengapa Allah memberikan/membentuk tubuh Adam?, dan mengapa pula dibentuk dari tanah?
    Dalam kajian, ada keterkaitan dengan kesanggupan dan ditunjuknya Adam untuk mengemban amanat sebagai Khalifah dimuka bumi.
    Sebagai Khalifah dimuka bumi, maka Adam (dan anak turunnya) berkewajiban untuk merawat dan me-‘menej’ bumi ini dengan sebaik mungkin.

    Telah dijelaskan bahwa Adam adalah mahluk surga, dengan tolok ukur kita sebagai manusia, maka Adam adalah irasional sedangkan bumi tempat Adam diturunkan, yaitu bumi tempat kita berpijak ini adalah nyata.
    Dengan dimensi yang berbeda – irasional dan nyata, sudah tentu Adam yang irasional tidak dapat memegang yang nyata.
    Agar Adam yang irasional dapat menjalankan amanat sebagai khalifah, dia harus dapat memegang dan berinteraksi dengan segala sesuatu yang ada dimuka bumi yang nyata ini, Adam yang irasional
    membutuhkan sarana yang sesuai, untuk itulah Allah membentuk tubuh Adam dari tanah dari bumi ini.

    Coba bayangkan seandainya Adam langsung diturunkan dimuka bumi ini tanpa dibekali tubuh yang terbuat dari tanah, apa yang terjadi?
    Adam tidak ubahnya seperti mahluk-mahluk irasional lainnya yang ada dimuka bumi ini, seperti jin dllnya.

    Dan tanpa ’Potensi-Allah’, Adam akan kesulitan umtuk dapat kembali ke surga, kembali ketempat asalnya.

    ADAM DI BUMI
    ____________

    Adam dan istrinya telah berada dimuka bumi, dengan sarana tubuhnya yang terbuat dari unsur bumi, yaitu tanah, Adam dapat melaksanakan amanat yang diembannya, yaitu sebagai khalifah.Mereka dapat hidup sementara dibumi sampai waktu yang telah ditentukan, sampai mereka mengalami kematian.

    Meski berada di bumi yang nyata, Adam sebagai mahluk yang berasal dari surga tetap irasional, tetap beralam akhirat.

    Dialah ADAM SEJATI,
    Dialah ADAM YANG SEBENARNYA, yang berada didalam tubuhnya yang nyata (beralam dunia)

    Tubuh Adam juga disempurnakan dengan otak yang nyata serta pikiran dan qolbu yang irasional.
    Maka apabila Aku telah menyempurnakannya dan telah meniupkan kedalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. ( 15: 29 )

    Kedalam tubuhnya yang telah di sempurnakan, ’Potensi-Allah’ ditiupkan.
    Dan karena ’Potensi-Allah’ itulah tubuh Adam dapat hidup dan berfungsi.
    Dia-lah yang secara nyata menggerakkan jantung.
    Bila waktu yang telah ditentukan tiba, ’Potensi-Allah’ akan ’ditarik’, maka tubuh mengalami kematian.
    ”….dan bagi kamu ada tempat kedi aman sementara di bumi, dan kesenangan hidup sementara
    sampai waktu yang ditentukan ”.(2:36)

    Didalam tubuh pulalah ditempatkan ‘ 4 ‘ malaikat ’penjaga dan pencatat’.
    ( Lebih jelasnya, silahkan membaca : “Jadilah manusia seutuhnya” )

    ADAM SEJATI – Adam yang sebenarnya (yang irasional, ber-alam akhirat)
    + tubuhnya yang sempurna
    + Potensi-Allah
    + ‘ 4 ‘ malaikat ’penjaga dan pencatat’
    itulah MANUSIA, yang juga bernama Adam.

    Jadi,
    ADAM SEJATI (Adam yang sebenarnya, Adam yang diturunkan dari surga)
    ada didalam :
    MANUSIA yang bernama Adam.

    Sebagai Bani Adam, kita juga sama:

    DIRI SEJATI kita (Kita yang sebenarnya, yang irasional ber-alam akhirat,
    yang bisa masuk surga atau neraka)
    ada didalam :
    MANUSIA yang bernama kita.

    Inilah hakekatnya, kenapa manusia menjadi mahluk ciptaan Allah yang paling sempurna.
    Kasih sayang Allah betul-betul tercurah padanya.

    Sungguh luar biasanya manusia.
    Berdimensi 2: NYATA dan IRASIONAL.
    Ber-alam 2: DUNIA dan AKHIRAT.

    Dengan kesempurnaan ini, ternyata DIRI SEJATI manusia masih kesulitan untuk kembali ke surga, kembali kepadaNya.

    Ini semua karena manusia lalai, sehingga tidak mengenal ’siapa dirinya yang sebenarnya, diri-sejati nya’, sehingga raga/tubuh menjadi sangat dominan, yang nyata membelenggu yang irasional, akibatnya ’Potensi-Allah’ tidak dipahami dan tersia-siakan.

    ” Kenalilah dirimu (yang sejati), maka kau akan mengenal Tuhan mu ”

    Ihdinash shiraathal mustaqiim,
    Shiraathal ladziina an ’amta ’alaihim…

  53. mahrksyen says:

    Mas mas maaf,sya orang awam..jalan2 yg mnuju Alloh Swt,sebaiknya jngan di debatkan tpi di dialog’kan..mnrut sya orng awam..alloh maha tau di setiap hati mahluknya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s