Menemukan Cermin Diri Pada Ajaran Para Wali

Oleh Siska Widyawati. Tulisan asli ada di sini, dimuat atas seijin penulis.

“Mengenai langkah yang harus dijalani, janganlah kamu berlebihan, hiduplah dengan bersahaja, jangan sombong dalam berbicara, dan jangan berlebihan terhadap sesama manusia. Itulah langkah sempurna yang sejati.

Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikanmu takabur, lakukanlah tapa di tengah ramainya manusia. Milikilah sikap luhur dan maafkanlah orang yang salah. Hanya itulah langkah yang sejati.”

(Sajarah Wali, Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunang jati, Naskah Mertasinga, Wahjoe: Pustaka, 2005)

PARAGRAF diatas saya kutipkan dari sebuah naskah kuno Mertasinga yang merupakan pesan yang disampaikan oleh Syekh Ataullah, salah satu guru dari Sunan Gunung Jati. Naskah ini diterjemahkan oleh Bapak Amman N. Wahjoe, yang memiliki dokumen ini secara turun menurun dalam keluarganya. Wahjoe membuat babad yang berbahasa Jawa-sundan ini dalam bahasa Indonesia dan menjadi satu bacaan berbahasa Indonesia yang banyak mengungkap sejarah tentang para wali di pulau Jawa.

Sebenarnya ajaran-ajaran macam ini bertebaran di Indonesia. Bentuknya dapat berupa babad, kawuh, kinanti dan sebagainya. Satu bentuk dokumen yang biasanya hanya dipunyai oleh keturunan yang sifatnya ekslusif dan tidak terdokumentasi dengan baik.

Banyak keluarga di Indonesia ini menyimpan catatan-catatan ataupun tinggalan dari kakek, nenek atau buyutnya. Namun karena ketidakmengertian catatan ini diperlakukan sebagai jimat yang dikeramatkan tanpa dikuak isinya.

Bagi saya pribadi amat menarik untuk mengetahui secara mendalam ajaran-ajaran para wali di pulau Jawa ini. Sejak dulu informasi yang saya terima tentang para wali, hanyalah hal-hal yang berisifat sinkretik yang penuh dengan cerita-cerita kegaiban.

Namun semakin saya mencari, yang saya temukan adalah kesederhanaan ajaran mereka yang cukup menyentuh sisi keberagamaan saya. Kalau ditilik dari ajaran-ajarannya para sunan ini tidak hanya sekedar pendakwah, namun mereka mempunyai khazanah sufistik yang cukup mendalam.

Salah satu tanda dari khazanah sufistik yang dimiliki para wali tersebut adalah wisdom (kebijaksanaan). Salah satu contohnya dapat kita rasakan pada ajaran Sunan Kudus yang sampai saat ini masih diyakini oleh sebagian masyarakat di kota itu, yaitu tidak menyembelih sapi. Saat itu Sunan Kudus memerintahkan penghormatan terhadap sapi untuk mentoleransi kepercayaan masyarakat Hindu yang hidup di kota itu.

Menurut kisah yang tersebar dalam masyarakat, Sunan ini memulai dakwahnya dengan cara yang sangat unik untuk memancing masyarakat pergi ke masjid mendengarkan dakwahnya. Ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, tumbuh simpatinya. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti ‘sapi betina’.

Selain itu kita dapat juga mempelajari ajaran dari Sunan Bonang yang gemar mecipatakan lagu-lagu rakyat sebagai lahan dakwahnya. Salah satu tembangnya yang cukup populer sampai saat ini, terutama saat dinyantikan kembali oleh Opick, ‘Tombo Ati’ merupakan hasil karya sunan. Boleh saya kutipkan disini terjemahan dari syair yang aslinya berbahasa Jawa tersebut:

Obat hati ada lima perkara.
Yang pertama, baca Qur’an dan maknanya
Yang kedua, shalat malam dirikanlah
Yang ketiga, berkumpulah dengan orang saleh
Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah.
Siapa yang bisa melakukan salah satunya
Semoga Tuhan memberikan penyembuhnya.

Salah satu sunan yang cukup unik pendekatannya dan cukup akrab dengan budaya lokal adalah Sunan Kalijaga. Wali yang satu ini menggunakan pendekatan budaya untuk mendekati masyarakat Hindu Budha pada jamannya. Salah satu peninggalan beliau yang cukup dikenal oleh masyarakat Jawa adalah kisah pewayangan Dewa Ruci (Dewa Ruh Suci, Ruh Al-Quds—ed.). Kisah tentang Bima yang bertemu dengan Dewa Ruci yang berwujud sama dengan dirinya menyimbolkan pertemuan manusia dengan jiwanya sendiri*. Kisah Dewa Ruci merupakan satu simbol khazanah kesufian yang melihat bahwa tiap-tiap manusia harus bertemu dengan jiwanya sendiri untuk mengetahui laku sejati dalam hidupnya. Sayangnya saat ini banyak orang Jawa menggunakan pementasan wayang Dewa Ruci ini untuk ritual “ruwatan” tanpa mengetahui pesan sesungguhnya dari kisah tersebut.

Yang cukup ajaib buat saya juga adalah fakta sejarah bahwa para wali itu sebagian besar adalah orang-orang asing. Menurut buku yang ditulis oleh Sudirman Tebba, “Mengenal Wajah Islam yang ramah” (Pustaka Irvan, 2007) dan juga Sajarah Wali dalam Naskah Mertasinga, para wali kebanyakan berasal dari tanah Arab dan Campa.

Syekh Syarif Hidayatullah sendiri serta Sunan Kudus mempunyai darah Arab. Wali-wali yang lain seperti Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Bonang yang mempunyai hubungan kekeluargaan satu sama lain, merupakan keturunan dari Campa, perdebatan sering merujuk Campa sebagai salah satu daerah di Kamboja.

Kenyataan bahwa orang-orang asing khusus datang dan berkumpul ke pulau Jawa untuk menyebarkan dakwah Islam, adalah hal yang cukup menarik untuk diselami. Mengapa mereka datang ke pulau Jawa? Dan lebih hebatnya lagi mengapa mereka yang berdarah asing itu dapat membumikan nilai-nilai Islam sesuai dengan nilai lokal atau lebih tepatnya ‘berdakwah dengan “bahasa” kaumnya’? Ini adalah misteri yang membutuhkan studi yang panjang, namun dengan khazanah sufistiknya yang unik, para wali mengajarkan nenek moyang saya untuk menyembah Tuhan dengan keberserahdirian yang sederhana.

Sayangnya esensi dari ajaran para wali ini terlupakan saat ini. Banyak orang di Indonesia mencoba mencari refleksi keagamaannya ke luar dan bukan pada dirinya sendiri. Gerakan pan Islamisme tahun 80-an agaknya banyak membuat perubahan dalam berislamnya orang Indonesia. Faham-faham yang serba keras, hanya berwajah syariah tanpa percikan kebijakan membuat Islam difahami dengan perspektif yang amat berbeda pada generasi–generasi muda Islam Indonesia yang ada saat ini.

Gerakan–gerakan Islam yang banyak merupakan turunan dari organisasi Islam dari Mesir atau Saudi Arabia, membuat banyak orang terasing dari sejarah keberagamaannya sendiri. Aliran garis keras ini pun direaksi dengan gerakan keIslaman yang liberal yang mencoba memasukkan Islam mempunyai logika berfikirnya sendiri yang transenden, dalam kerangka ilmiah barat yang sifatnya materialistik.

Saya tidak menemukan wajah Islam yang diyakini oleh nurani saya pada dua sisi ekstrim tersebut. Namun saya menemukan ketersambungan akar keyakinan saya tentang bagaimana seharusnya beragama Islam dalam ajaran para wali.

Sekarang, disaat Islam didentikan dengan terorisme dan kekerasan, Indonesia sering ditoleh oleh barat sebagai anti thesa bahwa Islam adalah wujud dari kedamaian dan toleransi. Menurut saya sudah saatnya untuk menggali dan mencoba menemukan inti dari warisan ajaran-ajaran para wali, sehingga kita bisa menemukan keunikan sejarah keberagamaan kita sendiri dan menyebarkan pada dunia, wajah Islam yang sebenarnya sebagai Rahmat sekalian alam. []

___
* Mengenal diri, “Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu”, Siapa yang mengenal jiwanya akan mengenal Rabb-nya. (Al-Hadits).

Menemukan Cermin Diri Pada Ajaran Para Wali

60 thoughts on “Menemukan Cermin Diri Pada Ajaran Para Wali

  1. kayhan says:

    mas her,

    Bagaimana memilah tradisi yg bisa dilestarikan dengan yg sebaiknya ditinggalkan? Mis: injak telor pd prosesi pernikahan pdhl telor itu kan makanan, koq di-injak2.

  2. adjipamungkas says:

    mas kayhan ijin khan daku..nimbrung bholeh khan…

    mas coba buka qur’an deh..its the manual book of Muslim ..let see..
    QS. 17 : 36. dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya…

    INI MERUPAKAN RAMBU AWAL DALAM BERAMAL(BERBUAT APA SAJA!!!!)

    intinya adalah mau belajar dan mencari pengetahuan. kalo punya pengtahuan pasti tau yang mana yang mubazir..yang mana yang bermanfaat. jadi kita sudah bisa memilah milah budaya..atau kebiasan yang “tidak bermanfaat” coba deh buka qur’an pelajari sunnah rasull (belajar fiqih sunnah) itu sangat membantu kita dalam ber amal:mrgreen:

  3. kayhan says:

    mas adji

    Tentu kita belajar utk kritis tetapi di balik tradisi2 juga tersimpan kearifan lokal. Jika di-pikir2 sich tradisi2 itu kan sekedar simbol yg kalau ditelaah ada benarnya juga. Saya tidak berusaha utk menghakimi bahwa tradisi2 itu menyimpang, kalau memang ada yg membuat kita lebih dekat kpd Alloh ya bisa diikuti dan meninggalkan tradisi yg menjauhkan kita dari Alloh.

  4. adjipamungkas says:

    heheh:mrgreen: bagi saya tetaplah ada “lampu merah” ..yang membatasi kita dalam beramal..makannya tetap belajar..mungkin saya menganalisa spendek pengetahuan saya:roll:..
    menghakimi..semoga tidak ..kita kan di karuniai dengan kebebasan ber kehendak tinggal mau pilih yang mana jalan takwa atau fujur coba liat Qur’annya mas
    QS.91:8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya
    kita bebas kok milih mau ikut budaya tapi gak ngerti maknanya (malah melenceng jadi mubassir dan syubhat..yang paling parah mas bisa di tuduh bid’ah btw dont wory saya gak tuduh bid’ah karena bukan hak saya:lol: ) atau..mau pilih gak usah di lakukan dulu ..belajar dulu kalo udah ketemu..hubungkanlah dengan Qur’an:oops:..kalo cocok yah..lakukan kalo gak ada yah beritihajlah..mohon petunjuk pada allah sebab kalo gak di kasih petunjuk kan bisa sesat.ingat kisah nabi Ibrahim as di qur’an
    QS.6:77. kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: “Inilah Tuhanku”. tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat.”
    btw mohon petunjuk pun ada syaratnya yah buka qur’an lagi coba liat
    QS.64:11. tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
    LALU
    QS.10: 9. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya,di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan.
    tapi hati..hati petunjuk bisa juga turun untuk menguji keimanan contohlah nabi Ibrahim orang yang mencari pengetahuan dengan belajar dan patuh pada Allah SWT
    QS.2:124. dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.
    YAH selamat memilih semoga saya tidak menghakimi apalagi menggurui ..:mrgreen:
    yang benar dari Allah :mrgreen:yang salah adalah dari kefakiran serta kebodohan saya:cry:

  5. Tidak semua tradisi menyimpang, demikian pula tidak semua tradisi benar🙂

    Yang terbaik adalah, kita ketahui dulu apa falsafah dasar dari sebuah tradisi, sehingga bisa kita pilah-pilah.. tentang injak telor, saya nggak tau filosofi di baliknya🙂

    Wayang kulit, misalnya. Ciptaan sunan Kalijaga. Jika yang ditonton cuma bayangannya pada layar, kenapa wayangnya harus dibuat begitu indah dan berwarna?

    Filosofi dasarnya adalah, wayang kulitnya sendiri simbol nafs, jiwa, diri sejati kita. Sangat indah, dengan segala detil dan tanda, ornamen, yang menggambarkan karakter dan tugas sang wayang.

    Bayangannya di layar, adalah simbol kita sebagai jasad. Seindah-indahnya kita ini, dengan segala kompleksitasnya, tetap saja hanya ‘bayangan’ dari jiwa, diri kita yang sejati. Cuma bayangan tak berwarna dari jiwa.

    Api lampu, yang menyinari wayang kulit hingga bayangannya tampak di layar, adalah simbol ruh. Karena ada cahaya ruh, maka jiwa kita memiliki ‘bayangan’ berupa kita yang jasad.

    Dalang, adalah simbol…?😉

     

     

    Mungkin masalahnya bukan tradisinya. Tapi semakin jauh aliran air dari sumber mata airnya. Lama-lama tradisi hanya dipahami sebagai ‘tradisi’, tanpa manusia merasa perlu mengetahui asal-usul dan latar belakangnya…

    Zaman sekarang ini, toh banyak sekali orang yang shalat, puasa, zakat, ber-Islam dan lain-lain hanya semata menjalankan ‘tradisi’ dari orang tuanya atau lingkungannya, tanpa mengetahui ada apa sebenarnya di balik semua ritual itu. Sama saja, kan?😉

  6. adjipamungkas says:

    kalo budaya yang di bawa oleh para wali… tentu dengan maksud yang di landasi dengan pengetahuan, hingga lahirlah sebuah filosofi yang luhur.. (berlandaskan kepada hikmah-hikmah Al-Qur’an dan Sunnah):mrgreen: ana sfaqatz!!!

    yah.. yang perlu di dicermati adalah distorsi.. seperti yang di katakan mas hery ada “budaya” yang menjadi jauh nilai nilai filosofis akibat “kebodohan”,akibat kita sekedar taklid atau mengikuti tata cara kebiasaan.. orang-orang terdahulu

    Ana cuma memperingatkan para sohib skalian untuk tetap berhati-hati.. semoga tidak menghakimi .. apalagi menggurui😳.. kok jadi arab gini yah.. mungkin pengaruh.. sebuah blog.. di indonesia tapi isinya kok serasa di “padang pasir”

    ngomong ngomong soal wayang …hehehe saya juga “penikmat” cerita wayang..gak tahu yah waktu..balita senneng banget nonton wayang kulit di TVRI (walau kadang gak ngerti bahasanya tapi tau jalan ceritanya) ..pas sd ..duit jajan habis buat rental komik wayang pandawa lima maha bharata..bharata yudha…ramayana..karya ra.kosasih..banayak kisah kisah tauladan kesatriayaan dan gambaran kehidupan tersaji di dalamnya:mrgreen:

  7. salaam,
    tradisi budaya disini hanyalah salah satu bentuk dari ajaran para wali, esensinya ajaran mereka menurut saya adalah bentuk keberserahdirian yang sederhana, sedangkan ritual untuk mencapai tahap keberserahdirian tersebut berbeda-beda, tergantung pada tiap wali. Banyak pertanyaan yang belum terungkap sebenarnya, ada apa dengan tanah jawa yang membuat para wali itu datang? Terutama, kualitas spiritual seperti apa yang dapat menarik orang2 suci terus berada pada tanah ini, dan mensucikannya? menariknya hal itu berlanjut sampai hari ini, banyak sufi-sufi besar, tersebar di pelosok nusantara.. namun ajarannya kadang diserap hanya permukaan atau ritualnya saja.. menarik kalau kita bisa menggalinya. mencoba menemukan bentuk keberserahdiri kita sendiri.

  8. adjipamungkas says:

    🙄 di beberapa daerah ada tradisi hari hari besar islam…seperti grebeg…maulud, maudu lompoa..satu suro…tabot…
    Namun ada sebagian dari “ummat islam” yang menghakimi..aktivitas tersebut…(padahal mereka bukan hakim apalagi jaksa:sad:) sebagai bid’ah..

    tanya kenafa?:mrgreen:
    sebuah pandangan sederhana..mungkin
    1.perayaan tersebut terkesan mubazir..(banyak memakan biaya dan menghambur hamburkan uang..bahan makanan.
    2. tampak seperti ceremonial yang di paksakan harus di adakan..kalo tidak bisa kualat?:😕
    3.terlihat banyak mengandung mudharat..sperti ngalap berkah dengan mengambil sisa..atau bahan bahan baku perayaan tersebut..untuk mengharap berkah..:twisted:

    ini yang perlu di mendapatkan perhatian oleh para ulama dan budayawan agar image negatif..tersebut tidak meningkatkan semangat menghakimi atau zu’dzon diantara kita:razz:

  9. salaam..
    menurut saya banyak yang ada saat ini dinisbatkan ke ajaran wali padahal bukan.. itu halyang perlu penyelidikan lebih lanjut.. dan yang perlu digali saya kira, makna dari simbol2 ritual itu… misalnya acara sekatenan, apa sih sebenernya yang pengen disampaikan dengan sekatenan itu? atau gending kebo giro misalnya, apa maksudnya kebo giro? ajaran para wali itu amat dalam.. sayangnya, karena keterbatasan kita mereduksi ajaran yang penuh simbol itu jadi kemusyrikan.. jadi sibuk sama medianya dibandingkan pesan2nya…sayang banget sebenernya..

  10. arnol says:

    Mbak Siska, bikin lagi dong artikel2 kebijaksanaan para wali.
    misalnya lagu ilir2 itu makna sebenarnya apa, grebeg maulud, atau metode2 dakwah masing2 wali, dll…
    selama ini kalau bicara para wali, hal pertama yg muncul pasti kesaktiannya…apa iya krn sakti terus bisa jadi wali?
    btw terjemahan mertasinga itu bisa diperoleh dimana mbak?

  11. pengennya gitu mas.. tapi saya juga baru belajar nih, dan pertanyaan lebih banyak daripada jawaban he he…naskah mertasinga saya pinjem dari teman.. itu terbitan balai pustaka, judulnya sajarah para wali: naskah mertasinga, penulisnya sudah saya cantumkan.. kayanya di toko-toko buku ada deh.. :)) smoga ketemu ya..
    ilir-ilir itu menarik, saya inget syair awalnya aja..: lir ilir lir ilir tandure wis sumilir… itu sepertinya cerita tentang jiwa manusia yang baru tumbuh. Tapi saya juga belum tahu, belum ada referensinya.. ada yang dapat membantu? menarik kalau kita bisa bahas bareng2 disini :))

  12. Ah, saya suka banget lagunya Sunan Kalijaga ini, Lir-ilir. Maknanya dalam sekali, dan ajaibnya bisa di-compressed dengan lagu seringan itu. Ini yang saya pahami:


    Lir Ilir

    Lir ilir, lir ilir
    tandure wis sumilir
    Tak ijo, royo – royo
    Dak sengguh temanten anyar

    Bocah angon, bocah angon
    penekno blimbing kuwi
    Lunyu – lunyu penekno
    kanggo mbasuh dodotiro

    Dodotiro, dodotiro
    kumitir bedah ing pinggir
    Dondomono jlumatono
    kanggo sebo mengko sore

    Mumpung pandang rembulane
    Mumpung jembar kalangane
    Yo surako surak hiyo

    Lir ilir, lir ilir
    (ucapan bangun tidur untuk bayi: ucapan selamat bangun tidur kepada jiwa/nafs yang baru bangun dari timbunan dosa maupun dominasi sifat-sfat jasadnya. Ada sebuah kesadaran untuk taubat, ingin mengenal diri dan Tuhannya)

    tandure wis sumilir
    tanaman padinya sudah mulai tumbuh
    (padi: simbol nur iman, tanah sawah: jasad; ada nur iman yang mulai menyala dalam jasad)
    *’sumilir’ adalah padi yang baru mulai tegak kembali setelah dipindah dari pembiakannya di tanah yang agak kering ke sawah yang berair.

    Tak ijo, royo – royo
    menghijau cerah segar
    (seorang suci yang senang sekali melihat nur iman seseorang dalam qalb-nya yang mulai bercahaya)

    Dak senggoh temanten anyar
    seperti pengantin baru
    (jiwa yang baru mulai suci, bagaikan pengantin: jasad mulai malu-malu mendampingi jiwa, jasad mulai ingin selaras dengan sang jiwa)

    bocah angon, bocah angon
    anak gembala, anak gembala
    (kita semua gembala: menggembalakan seluruh sifat jasadi kita sendiri, juga syahwat dan hawa nafsu. ‘Bocah Angon’ ini panggilan Sang Sunan kepada kita semua)

    penekno blimbing kuwi
    panjatlah pohon belimbing itu
    (pohon: pohon takwa, panjatlah pohon takwa; cobalah belajar taqwa. buah belimbing lima seginya: sholat lima waktu dan rukun islam yang lima: panjatlah/capailah ketaqwaan melalui Islam)

    Lunyu – lunyu penekno, kanggo mbasuh dodotiro
    biar licin sekalipun tapi panjatlah, buat mencuci kain mu
    (‘memanjat’ Islam dan belajar bertakwa: licin, susah, tidak mudah. kain = pakaian: iman, keyakinan)

    Dodotiro, dodotiro, kumitir bedah ing pinggir
    kainmu, kainmu, berkibaran koyak di tepinya
    (imanmu itu, keyakinanmu itu, belum kokoh. Banyak cacatnya, masih banyak salahnya)

    Dondomono, jlumatono; kanggo sebo mengko sore
    jahitlah, dengan di-‘jelujuri’, untuk ‘sebo’ (menghadap raja) petang nanti
    (perbaikilah, sebaik-baiknya dengan tekun satu demi satu, untuk menghadap Allah di hari akhirat nanti)

    Mumpung pandang rembulane
    selagi purnama bulannya
    (purnama: simbol jiwa yang suci, mumpung jiwanya lagi bersih)

    Mumpung jembar kalangane
    selagi luas gelanggang nya
    (selagi masih di dunia ini)
    ‘Kalangan’ adalah tempat rakyat jelata menghadap seorang Raja.

    Yo surak-o, surak hiyo
    ayo bersoraklah.
    (ayo tampilkan/keluarkan isi hatimu: ayo jadilah diri sejatimu, = ayo kenali dirimu, agar bisa menyuarakan ‘suara Allah’, kehendak Allah. Agar menjadi hamba Allah, ‘instrumen’ Allah).

    btw, kok saya jadi nangis ya abis nulis ini…

    esensi lagu ini sama kan dengan seluruh karya sufi-sufi seluruh dunia, apapun bungkusnya: puisi, narasi, dll.

  13. dan makna-makna yang terkandung…bikin sudut-sudut mata jadi basah siang ini.. makasih mas herry ..Gusti Allah yang mbales.. (doa sederhana ini aku tiru dari mbak iwul..:)

  14. arnol says:

    Makasih sharingnya Kang herry…

    Ilir-ilir ini bukannya ciptaan Sunan Bonang Kang?
    hebatnya tembang ini juga dijadikan sebagai tembang nasehat oleh penganut spiritual kejawen.

    Wah jadi makin penasaran/rindu pengen mengenal ajaran para wali songo ini.

  15. adjipamungkas says:

    hiks…ingat..waktu kecil sering di dendangkan lagu..ini oleh seseorang yang sudah sepuh…tapi sudah lupa siapa yah…semoga Allah merahmatinya

  16. adjipamungkas says:

    :cry:hiks ..dahulu..waktu masih kecil sering didendangkan kalo lagi rewel oleh seorang sepuh..tapi saya sudah lupa namanya..hiks:cry:..semoga Allah merahmati beliau:mrgreen:

  17. adjipamungkas says:

    prasaan ada yang aneh deh…:roll: kok banyak budaya jawa…yang “melekat”kepada saya..yah:oops:..padahal saya cuma mlewatkan -+3thn di magelang..besar..di Makasar..tapi..akhir akhir ini kok masa kecil terasa di” rewind” dengan jelas …:mrgreen:..semoga ini suatu “hikmah” yang harus di pelajari:cool:

  18. Lir-ilir.. Sunan Bonang apa Kalijaga ya? Seingat saya sih Sunan Kalijaga.

    Arnol, di Sumatra kan ada Hamzah Fanzhuri, dan Nuruddin Ar-Raniri?😉

  19. arnol says:

    Herry wrote:
    Arnol, di Sumatra kan ada Hamzah Fanzhuri, dan Nuruddin Ar-Raniri?😉

    Arnol:
    Wah Kang…saya cuma pernah denger namanya aja. dikalangan orang awam tokoh2 sufi gak begitu dikenal. biasanya tiap daerah punya tokoh sendiri, tapi paling orang2 dari dari tersebut yg kenal. kecuali buya HAMKA, siapa sih yg gak kenal. di SUmatra Barat, biasanya suluk (bahasa minangnya suluak) itu melekat pada filosofi silat Kang…

  20. Menurut saya Walisongo sangat berhasil mendakwahkan ajaran Islam tanpa menghancurkan budaya lokal. Hasilnya orang Indonesia bisa menerima ajaran Islam dengan damai.

    Dulu saya menganggap dakwah Walisongo menghasilkan ajaran sinkretisme. Tapi setelah wawasan bertambah, saya sangat menghargai jasa Walisongo yang dengan metode dakwah yang bijaksana dengan menggunakan simbol2 budaya lokal berhasil mendakwahkan ajaran Islam. Coba kalau Islam didakwahkan dengan metode dakwah ala wahabi yang keras dan kaku, barangkali cuma sebagian kecil yang masuk Islam.

  21. arnol says:

    dakwah ala wahabi & ikhwanul muslimin justru berkembang pesat dewasa ini. mengapa bisa begitu? padahal selain dakwah Islam mereka juga (secara sengaja atau tidak) menyebar budaya arab yg kontra dgn mayoritas budaya nusantara.

  22. arnol says:

    Jadi…mari kita gali kembali kebijaksanaan dakwah para wali yg sesuai dgn keluhuran budaya nusantara….dan menerapkannya mulai pada diri kita dan keluarga.

  23. “Ngulat saliro hangroso wani” saya rasa yang lebih mengenal diri itu para salik ilmu kedokteran / psikologi. para sesepuh / wali sangat mengerti diri dan sanggup memetakan tubuh. benerkan, jantung hati dll beliau paham.
    salam pencerahan untuk menyongsong kebangkitan diri dan nasional ke 100x. nuwun

  24. ANDREAS says:

    saya sangat menikmati segala artikel yang ada di blog ini, mas hery ,mbak siska ,alfathri adlin dan semua yang menyumbang tulisan disini, saya sangat menikmati serta menambah keimanan sebagai orang katolik sangat diperkaya, menambah rasa khusuk dalam setiap ibadahku…terima kasiiih sekali…

  25. terimakasih juga mas andreas..
    senang sekali kalo mas andreas bisa merasa lebih dekat pada Tuhan.. itu keinginan kita semua kan… please come again and share your thought.. btw, saya pernah diterangkan sama seorang teman yang juga katolik, kalau di katolik juga ada “tariqat” ya? tapi untuk para pendeta.. mungkin mas andreas bisa menerangkan lebih jauh..
    salaam…

  26. ANDREAS says:

    memang ada tareqat religius di iman katolik…mungkin banyak sekali…tareqat berdasarkan aturan yang ditulis oleh pendiri tareqat…tapi semua bermuara pada iman yang diyakini oleh semua orang katolik…mungkin salah satunya adalah JESUIT…para JESUIT ini seperti para sufi…mereka bermeditasi dalam setiap aktifitas yang dijalani…mereka berefleksi&kontempelasi pada setiap pekekerjaan yang dijalani…sesuai yang diajarkan santo ignatius dari loyola pendiri JESUIT…pada tahun 2000 kemarin kami orang katolik meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan GEREJA ketika perang salib…serta pada galileo galilei dengan teori heliosentris yang ditentang oleh gereja waktu itu…terima kasih mba’ Siska…atas persaudaraan ini…saya pasti selalu baca koq semua artikel yang ada di blog ini…semoga kita bisa menghadirkan persaudaraan sejati…salam hormat saya

  27. ANDREAS says:

    o..ya lupa…aku tertarik di blog ini karena pengasuhnya rendah hati….saluuut…saudara semua itu pinter2…semoga selalu dalam lindungan ALLAH…pernah baca ANAK BAJANG MENGGIRING ANGIN? karangan SINDHUNATA? aku pengin lho bisa dikasih renungan setelah mas HERRY & mba’ SISKA baca…kira2 apa yang bisa di share dengan saya…maaf klo serakah mau dikasih ilmu terus ya…

  28. Wah, Mas Andreas, saya yang terima kasih atas segala waktunya berkunjung ke sini🙂

    Saya pribadi juga sangat menikmati beberapa khazanah katolik, diantaranya tulisan-tulisan Anthony De Mello.

    Buku Anak Bajang Menggiring Angin-nya Sindhunata adalah buku yang luar biasa🙂 di sana tergambarkan tahapan-tahapan transformasi seorang manusia.. kami semua menyukai buku itu (saking sukanya, buku itu nyaris meningkat statusnya seakan-akan jadi bacaan wajib buat kami, hehehe). Dan, di buku itu juga ada sedikit kisah mengenai buku sastra jendra.

    Makasih sekali lagi, saudaraku.

  29. “We are the family of God” begitu kata sheikh Bawa Muhaiyaddeen🙂
    Salam kenal ya mas Andreas😀
    Kita semua di sini sama-sama belajar untuk mengenal diri dan mengenal siapa Pencipta kita🙂

    *mas Herry pinjam bukunya donk:mrgreen:

  30. hi mas andreas..,

    ttg apa yang gereja lakukan di masa lalu, setiap jaman pasti punya maksud dan pelajarannya sendiri kan?

    Aku jujurnya sedih waktu nonton film joan of arc.. tragic juga gereja baru mengakui ke-waliannya setelah ratusan tahun lalu. Joan of arc itu jadi saint apa ya mas?

    ttg anak bajang menggiring angin.. aku juga suka buku itu.. aku baca berulang-ulang.. bahkan sebelum tau kalo senior-seniorku disini baca buku itu..

    renungannya.. hmm dalem nih.. buatku bahwa sesuatu yang diijinkan Tuhan terjadi bahkan dosa sekalipun akan membawa seorang manusia dalam kebaikan, apabila dia mengakui dosanya, bertaubat, dan kembali dengan keras kepala untuk berjalan di jalan Tuhan.

    Namun dosa adalah dosa, dia mewujud sebagaimana rahwana, yang lahir dari pergumulan dosa Dewi Sukesi yang suci dan Begawan Wiraswa. Mungkin juga disini diingatkan manusia jangan pernah terlalu merasa suci..sebab pastinya mereka akan diingatkan akan kegelapannya, kali ya?

    Dan juga peristiwa Sukesi dan Wiraswa seperti suatu paradox.. suatu yang salah, berdosa.. namun akhirnya pun berujung kebaikan :)).pada akhirnya wibisana yang betul-betul manusia lahir dari mereka kan? dan wibisana punya misinya tersendiri.. Tidak akan lahir wibisana, tanpa rahwana, dan saudaranya (aku lupa namanya) yang mendahuluinya. Its the secret of life.. it might be telling us of how a human soul can grow.

    Agaknya semua manusia pun melalui tahapan seperti itu, ketergelinciran, dosa, kekhilafan melahirkan rahwana, kemudian taubat, kembali lahir raksasa-raksasa yang lebih halus.. dan taubat… akhirnya lahirlah wibisana.

    Dan rahwana pun lahir dengan suatu maksud bukan? untuk menguji Rama? semuanya terkait, dan dengan suatu maksud. Bahkan kita semua disini terkait, seperti puzzle, dengan suatu maksud.

    Baik, buruk, senang, sedih, dosa, dihadirkan dengan suatu maksud…tapi karena pandangan mata manusia terbatas.. kita masih suka sedih dan bertanya2..mungkin karena itu kita berjalan ya..

    awalnya setiap pejalan memulai perjalanan pasti untuk mencari makna. Mengenggam substansi dari tiap peristiwa yang dihadirkan di mejanya.

    ttg tariqat dalam katolik itu menarik ya.. sebab dalam Islam tariqat sebagai suatu tahapan bagi seorang pejalan untuk sampai pada Tuhannya. Proses pembersihan jiwa, raga. Bersiap menemui sang Pencipta. Berusaha “mati” sebelum mati.
    “Bangun” dari ilusi di dunia ini sebelum dibangunkan.

    Apa mas andreas ikut tariqat jesuit?

    ps: tolong aku diingatkan kalo salah ya..:))

  31. adjipamungkas says:

    salam..numpang nimbrung
    mas andreas ….bukannya presenter di acara..tv kalo gak salah sebuah tayangan rohani KRISTEN di SCTV:?:…
    MOHON MAAF KALO SALAH ORANG

  32. ANDREAS says:

    buat mba’ SISKA terima kasih untuk sharingnya…wah luas ya wawasannya jadi kelihatan klo pinter…sebuah kesetiaan dengan cobaan penderitaan, untuk menemukan sebuah petunjuk kebahagiaan kepada ALLAH TA’ALA…keraguan spiritualitas pun pernah aku temui…yang paling penting tetap setia pada ritual serta selalu mencari makna akan ajaran yang kita yakini…secara iman pun akan bertambah dewasa…iya ngga sich? wassalam

  33. ANDREAS says:

    soal TAREQAT dalam katolik pemahamannya sama koq! soal JESUIT aku bukan anggota, tapi mengikuti SPIRITUALITAS yang diyakini JESUIT : SEMUA DEMI KEMULIAAN ALLAH YANG SEMAKIN BESAR…KEMANUSIAAN…serta GEREJA…,pernah dulu ikut bimbingan masuk mjd aggota tapi tidak lulus alias gagal…dalam tareqat JESUIT, diwajibkan untuk setiap anggota melakukan penyangkalan terhadap kecenderungan manusiawi…jadi “mati” dalam hidup, akan tetapi bukan dalam artian PESIMIS,PASIF serta tidak BERPENGHARAPAN…semua kehidupan berlandaskan MA’RIFAT SPIRITUALITAS JESUIT tadi….seperti yang pernah ditulis mas HERRY…sebagai insan yang IKHLAS TAPI BERILMU

  34. ANDREAS says:

    untuk JOAN OF ARC, memang setelah berabad-abad baru diakui, karena dalam tradisi gereja jika orang akan diberikan gelar SANTO/A ( orang suci ), perlu melalui pembuktian dengan KANONISASI…dan sudah ada dewan yang mengurus ini, tapi proses&syaratnya sangat ketat…agar tidak terjadi kesalahan seperti pada abad pertengahan, yang ahkirnya menimbulkan perpecahan!

  35. adjipamungkas says:

    yap…sejarah sering kali mengingatkan kita untuk tidak sekedar menilai dari penampilan fisik..
    Joan of Arc merupakan sebuah ayat…

  36. Dedy di Jerman says:

    Waktu jamannya Syaikh Bahauddin Naqsyabandi (Pelopor Tarekat Naqsyabandi), terdapat university Tarekat (Madrasah) yang menjadi pengaruh terbentuknya negara besar, salah satunya Turkey. Pada umumnya orang2 Yahudi menganggap murid madrasah tersebut sebagai ummat Yahudi. Tetapi ummat katolik menganggap murid2 madrasah tersebut sebagai ummat Kristiani. Begitulah orang2 Sufism / Tasawuf.

    salam,
    Dedy di Jerman
    http://www.naqsya.wordpress.com.

  37. Dedy di Jerman says:

    BOCAH ANGON dalam ilir ilir,
    kita adalah boca2 angon itu.
    dalam diri kita banyak kambing2 (nafs)

    Kita jadi orang baik kalau kita bisa jadi gembala atas kambing2 yang ada dalam diri kita. Jangan sampai kambing kita lari bercerai berai…..

    http://www.naqsya.wordpress.com

  38. rahman says:

    Subhanalloh..
    Sebuah pemikiran tentang makna Islam yang hampir 99,9% sama dengan pemikiran yang saya alami. Saya pernah merasakan aktif di kedua ektrim yang mas hery tulis. Tp sy tdk menemukan “sesuatu” yg dicari. hingga sy dipertemukan dg sebuah pemikiran yg banyak dianut oleh para wali. dan ternyata pemikiran tsb membuat sy merasakan keindahan islam dibalik keberserahdirian yg sederhana. mas hery..kalo ada waktu luang sy ingin berbincang. mudah2an sy dapat manfaat yg banyak guna mencari jalan hidup terbaik setelah mengetahui jati diri?

  39. tirtawidjaja says:

    Lagi nyari tentang SGJ nyelolong kesini, terus baca, menarik sekali. Salam untuk semua yg telah berdiskusi dengan tenang. Damai nggak hiruk pikuk seperti di dunia nyata.

    best regards
    tirta

  40. Sejak kecil, oleh orang tua saya, kami dibiasakan untuk ‘nyadran’ alias ziarah kubur menjelang ramadhan. Bila waktu memungkinkan, selain ke makam keluarga, kadang2 kami keliling pulau jawa untuk ziarah kubur ke makam2 para wali..

    Menjelang ramadhan ini, ketika keinginan ziarah ke makam wali itu kembali membuncah, tetapi terbentur berbagai kendala… akhirnya ‘tersasar’lah saya ke rumahnya mas Herry ini…

    Ketika kebiasaan-kebiasaan saya semacam ini sering dicap sinkretis binti bid’ah oleh sebagian rekan yang lain. Model pemahaman Islam seperti ini yang sebetulnya bisa memunculkan keindahan Islam.. tanpa perlu menggurui apalagi menghakimi.

    Apalagi buat saya yang masih terus “mencari” sambil berdoa ke Gusti Allah mudah2an gak kesasar, hehehe…:grin:

    Tulisan orisinil Mbak Siska di atas, komentar Mas Herry, dan komentar2 yang lain, bener2 membawa saya ke kedamaian yang hakiki…

    Terimakasih ya mas & mbak.. Marhabban ya Ramadhan..

  41. Mas Herry, Mbak Siska.. kalau boleh, mohon ijin tulisannya saya re-post di rumah saya yang isinya lebih banyak suluk atau perjalanan2 tidak penting saya di dunia.. (yang kalau menurut Syeh Siti Jenar adalah alam ‘kematian’ … :smile:)

    Biar timbangannya bisa imbang… hehehe

  42. monggo, mas wisnu.. silahkan saja dimuat jika dirasa layak.😉

    titip kasih link ke sini aja, biar kalo-kalo ada yang butuh ke sini jadi gampang…

  43. noerildeastro says:

    kalo syair ni da yang tau arti’A gak
    “ono kidhung tengah wengi
    teguh hayu luputo ing liro
    luputo sekabehing jim setan
    datan purun anami panggawe olo
    geni atemaian tirto maleh adoh dudupan sirno”
    Yang tau maksut’A tolong chat ke
    aQ……..makasih

  44. Alhamdulillah, di tengah maraknya gerakan wahabisme yang merusak ukhuwah Islamiyah dan dapat mengancam keutuhan NKRI, ternyata masih ada orang-orang seperti mbak Siska, mas Hery dan lain-lain yang masih concern untuk menghidupkan kembali metode pemahaman Islam yang diwariskan oleh para Waliyullah. Salam kenal mas-mas dan mba-mba, saya sungguh bahagia bisa menemukan blog yang sangat bermanfaat ini. Saya juga punya tulisan berjudul “Para Wali Sinkretis?”, jika berkenan insya Allah akan saya kirimkan ke blog ini. 😀

  45. elfan says:

    :cool:Menunjuk seseorang sebagai wali, boleh-boleh saja. Tetapi, menunjuk seseorang sebagai WALI ALLAH (baca Wali Allah), saya kira, itu bukanlah wewenang dari si-manusia- itu sendiri, tiu wewenang Tuhan, Allah SWT.

    Jika kita berani menunjuk seseorang sebagai Wali Allah, Insya Allah di akhirat kita akan diminta pertanggungjawabannya.:!:

  46. dawonk says:

    sir rasa ciptaning asih, tumiba kana raga,..ragap diri kanu suci , ..ragap jiwa kana sadaya….
    bismillah abdi ngawitan…tina rasa kabungahan,…tina raga kalungguhan…tina daya kalemahan…..wala haulawala kuwata ila billah….salam buat semua ,dawonk rangkasbitung banten….wassalamualaikum wr.wb:shock:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s