Kegaiban Hari Esok

Oleh Zamzam A. J. Tanuwijaya, Yayasan Paramartha (diedit dan diperbaiki seperlunya oleh Herry Mardian).

Orang yang beruntung adalah orang yang bisa menjadikan keghaiban hari esok sebagai hidangan bagi hatinya.

KETIKA Nabi Musa as diperintahkan Allah swt untuk membawa bani Israil ke tepi laut apakah ia sudah mengetahui bahwa Allah swt akan membukakan laut bagi mereka ? Tidak sama sekali. Ia hanya meyakini bahwa di tempat itu Allah swt akan menurunkan pertolongannya, tanpa diketahui apa bentuknya.

Musa a.s. dan umatnya, dalam tekanan kebingungan yang hebat, terjebak diantara laut dan kepulan debu gurun yang dihamburkan ke angkasa oleh ribuan kereta perang Fir’aun Merneptah. Cacian-cacian kepada sang Nabi mulai berhamburan dari lisan-lisan umatnya sendiri, karena Musa, nabi mereka, malah mengarahkan mereka terkepung dan terdesak ke laut Merah.

Sementara pada saat itu, seorang pemuda yang tulus, panglima dan murid Musa a.s., berseru ke imamnya dari atas kuda yang terus diarahkannya ke laut, sesuai perintah imamnya. “Ya Nabiyullah, masih terus?” Pertanyaannya menunjukkan kesiapannya.

Air laut sudah seleher kudanya, dan dia, Yusha’ bin Nun, masih terus berusaha memacu kudanya yang sangat ketakutan itu untuk tetap maju menuju ke laut. Ia tidak mempertanyakan, apalagi membantah, perintah Allah untuk menembus laut Merah. Meski ia tahu bahwa Musa, imamnya dan Nabinya, juga belum mengetahui apa yang akan terjadi kepada mereka setelah itu.

Apakah seorang pangeran muda yang bernama Musa, bertahun-tahun sebelum peristiwa di atas, mengetahui bahwa pukulannya—yang hanya sekali—kepada seorang koptik akan membunuhnya? Satu kejadian “sial” yang membuat Musa menjadi tercela dan kehilangan singgasanannya. Ia ketakutan dan melarikan diri ke Madyan, tempatnya Nabi Syu’aib as. Suatu peristiwa yang merevolusi hidupnya, dari seorang pangeran Mesir menjadi cuma seorang pengemis lain di dunia ini. Namun tanpa peristiwa “sial” itu, ia tidak akan bertemu Syu’aib a.s. yang menjadi gurunya.

Kita semua adalah orang-orang yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi, bahkan untuk semenit ke depan. Tidak kita, tidak para orang suci, tidak juga para Rasul yang lain. Kita dilarang bahkan untuk sekedar ingin mengetahui zaman di depan. Keinginan seperti itu hanya akan menjadikan kita masuk ke dalam golongan mayoritas, golongan orang-orang yang tidak bersyukur *.

Masa depan adalah kotak Pandora, dan keghaiban hari esok adalah bagian dari palu Allah yang dipergunakan-Nya untuk menempa dan membentuk jiwa kita. Kita semua adalah hamba-Nya, sebagaimana Rasulullah saw bangga ketika mengatakan “Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, dan rasul-Nya”.

Mari kita sambut dengan suka cita dan kita nikmati palu keghaiban-Nya, karena kita tidak tahu palu yang mana yang akan digunakan-Nya membentuk jiwa kita esok hari. Tenanglah, karena kita berada dalam genggaman Sang Maha Sutradara yang Sangat Terpercaya. Tidak ada yang perlu kita khawatirkan, semua sudah diukur-Nya dengan rapi. Kita hanya melompat dari keadaan “nyaris” yang satu ke “nyaris” yang lain. Semakin tebal tabungan “nyaris” kita, semakin terbukalah Wajah-Nya yang Maha Indah. Hati kita mungkin dibuat-Nya remuk, tapi bukankah Allah swt mengatakan, “Carilah Aku di antara para hamba-Ku yang remuk hatinya”.

Kedigjayaan diri adalah musuh hati, dan keperihan adalah obat. Keutamaan dan kemuliaan seseorang tidak diukur dari penglihatan-penglihatan tentang alam yang tak terlihat, atau bisikan-bisikan skenario masa depan. Orang yang beruntung adalah orang yang bisa menjadikan keghaiban hari esok sebagai hidangan bagi hatinya.

Sahabatku, saudara-saudaraku seperjalanan, kita semua sama, dibuat kalang kabut dengan “pengaturan-pengaturan” suci dari-Nya, dan hati-hati kita ada diantara permainan dua Jemari-Nya.

Jangan ada lagi ketragisan di hati. Kita semua ada dalam genggaman-Nya.***

[*] “Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”Q. S. Al-Mu’miin [40] : 61

Kegaiban Hari Esok

25 thoughts on “Kegaiban Hari Esok

  1. intan says:

    Ya Rabbi, panggillah kami dan tuntun kami di setiap langkah kami, jangan Kau tinggalkan kami, bila kami salah dan khilaf. Amin

  2. Ahmad says:

    “Carilah Aku di antara para hamba-Ku yang remuk hatinya”.
    Maaf mas mau nanya, ada di surat apa dan ayat berapa y mas..Mau coba nyari:grin:

  3. Sesungguhnya apa yang kita pikirkan akan menjadi doa yang ampuh
    tapi Allah melarang kita untuk memiliki pikiran sehitam tinta melainkan pikiran seputih kapas hikmah yg saya ambil lebih berharga dari nyawa :eek:dan lebih bersih dari kapas
    seandainya jika saya tak membuka web ini jadi apa yahhhhh!!!!!!!!!:oops: 😕😕

  4. Tidak satupun daun jatuh kecuali tertulis dalam lauh mahfuz… Terkadang kita sebagai manusia banyak ketakutan.. Takut jodoh lama, takut tidak berhasil, dll. Ya Allah berilah kami keikhlasan dan kesabaran menjalani takdirMu… amiin.

  5. habbah says:

    ashlih lii sya’nii kulluhuu walaa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin………….

    artikelnya bagus. d bc bolak-balik jg g bsn. thx a lot..

  6. ya rabb.. benar2 telak.. kena banget nih..
    bener2 ga sabar nunggu bukunya datang..

    semoga bisa kembali, ke jalan nurani yang dulu begitu tinggi…

    makasih ya kak..

  7. surya says:

    #

    Tidak satupun daun jatuh kecuali tertulis dalam lauh mahfuz… Terkadang kita sebagai manusia banyak ketakutan.. Takut jodoh lama, takut tidak berhasil, dll. Ya Allah berilah kami keikhlasan dan kesabaran menjalani takdirMu… amiin.

    Comment #1974 by tisha — Saturday, April 11, 2009 @ 05:25
    moga cepat terkabul apa yang dikehendaki

  8. Jadid says:

    Mf herry..kta”sial”anda tdk mnunjuk seorg muslm yg baek..kalm rasullh:”bukan UmatKu bg suka menyial-nyialkan sesuatu”.renungi dn bljar lg dg kta yg lbh sopan..

  9. Itu contoh salah yang ditulis dalam tanda kutip. Coba baca dulu sebelum komentar. Renungi diri dulu sebelum mencari-cari kesalahan orang lain. Dan “ummatku” “K”nya kecil, bukan “K” besar.


    “Bukan dari golongan kami siapa yg merasa sial atau minta diramalkan kesialannya atau menenung atau minta ditenungkan atau mensihir atau minta disihirkan.” (H.R. Thabarani)


    Itulah bunyi teks haditsnya. Bukan “menyial-nyialkan”. Jauh bedanya.

  10. luli says:

    subhanallah indahnya..

    meski processor otak saya yang pas-pasan sempat menterjemahkan artikel ini sebagai bentuk anjuran kepasrahan yang total.
    punten kang, bagaimana konsep sebenarnya konsep “perencanaan” dalam islam kang harry?
    selama ini saya berpegang bahwa ‘takdir Allah ada diujung usaha manusia’ (setelah berencana, berusaha, berdoa dan harap2 cemas bahwa proposal project akan di-approve- olehNya)

    dan dalam konteks “Orang yang beruntung adalah orang yang bisa menjadikan keghaiban hari esok sebagai hidangan bagi hatinya.”., bagaimana cara menjadikan sesuatu hidangan bagi hati.

    jazakillah khoiron sebelumnya🙂

  11. sering keberserahdirian (aslama, akar kata “Islam”) disalahpahami dengan makna “tidak berbuat apa-apa, pasrah bongko’an.

    Dalam konteks kerja dan berencana, hal ini sudah merupakan sebuah keharusan. Namun sangat penting, pekerjaan yang tepat, yang dimudahkan untuk kita, yang membuat “jiwa kita bernyanyi”, pekerjaan yang membuat kita “merasa tidak bekerja”. Bukan kerja yang membuat kita mengeluh dan murung.

    Bekerja, berencana, berusaha. Namun “seni”-nya adalah, melepaskan keterikatan/asosiasi antara usaha dan hasil. Jika hasil adalah anugerah hidangan dari-Nya, maka kita perlu menyiapkan piringnya (berbuat) untuk tempat anugerah-Nya itu. Namun, hidangan yang turun sama sekali tidak disebabkan karena kita menyiapkan piring.

    Yang tersulit adalah memahami bahwa hasil itu sama sekali bukan karena usaha kita. Bahwa ketika ada hasil bagus dibelakang usaha kita tidak membuat kita bangga diri, dan hasil tidak sesuai harapan di ujung usaha kita tidak membuat kita berkecil hati.

  12. Rindu says:

    dan kita hanya hamba …. kalimat yang indah, esok adalah milik ALLAH🙂 mintalah kebaikan, kebahagian pada sang pemilik hari esok

  13. Silahkan selama ketentuan di bawah terpenuhi.

    “Diizinkan mengutip tulisan dari blog ‘Suluk’ ini asalkan mencantumkan dengan jelas link sumber tulisan, nama penulis, dan/atau permanent link ke tulisan yang dikutip, selama bukan untuk tujuan komersial dalam bentuk apapun. “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s