Sampaikanlah Walau Satu Ayat?

preacher small

“Orang yang tidak lapar tentu tidak merasa butuh makanan. Orang yang merasa sehat, tentu tidak merasa butuh dokter. Orang yang merasa sudah tahu agama, tentu tidak merasa butuh belajar agama. Orang yang tidak merasa lapar (akan pengetahuan) tentang Allah, tentu tidak akan merasa butuh belajar tentang Allah.”

[TANYA] mengapa para sufi “terkesan” (kesan itu bisa jadi bener bisa jadi salah…) menutup diri dan, memilih2 “murid” dalam memberikan bimbingan… sedangkan kita diwajibkan untuk menyebarkan kebaikan walau hanya 1 ayat… mengapa tidak ber”syiar” seperti para ulama-ulama atau mereka yang mengaku-aku sebagai ulama… hehehehe. Makasih Mas. [Dewo]

[JAWAB] Sebenarnya bukan pilih-pilih murid, sih. Yang terjadi sebenarnya mekanisme natural: bahwa makanan baru bermanfaat jika diberikan kepada orang yang memang lapar atau membutuhkan. Sayang sekali jika kita, sebagai manusia, memberikan makanan kepada yang memang tidak membutuhkan. Bisa dianggurin sampai menjadi busuk, dibuang, atau bahkan membuat muntah yang bersangkutan. Padahal masih banyak sekali orang selain dia yang benar-benar membutuhkan makanan.

Orang yang tidak lapar tentu tidak merasa butuh makanan. Orang yang merasa sehat, tentu tidak merasa butuh dokter. Orang yang merasa sudah tahu agama, tentu tidak merasa butuh belajar agama. Orang yang tidak merasa lapar (akan pengetahuan) tentang Allah, tentu tidak akan merasa butuh belajar tentang Allah.

“Sampaikanlah walau satu ayat,” itu hadits sahih, memang benar sekali. Tapi sampaikan kepada penerima yang tepat (yang memang membutuhkan), dan waktu yang tepat. Kalau di hadapan jendela samping sebuah rumah kita taruh corong toa mesjit dan kita bombardir dengan ceramah, pengajian dan zikir ‘kuenceng-kuenceng’ setiap pagi, siang atau sore tanpa henti dengan mengatasnamakan dakwah, bisa jadi sebenarnya kita justru menzalimi penghuni rumah. Siapa tahu di sana ada bayi sakit? Orang tua? Atau suami yang baru pulang kerja dan lelah, sehingga gangguan itu malah membuatnya sensitif dan marah-marah pada anak istrinya.

Selain itu, pada orang-orang yang memang telah menerima tugas dari Allah ta’ala (mengenal diri dan misinya) ada ruang lingkup dakwahnya sendiri, dan Allah sendiri yang menentukan. Tidak semua para peraih kebenaran harus menjadi da’i dan tampil di depan ummat.

Ada yang memang tugasnya menjadi Rasul alam semesta (Muhammad SAW), menjadi rasul bangsa tertentu saja (Musa, Isa as, dll), menjadi mursyid untuk orang tertentu saja, yang muridnya itulah yang justru harus menjadi nabi (Syu’aib as). Ada yang harus menjadi panglima perang (Sa’ad bin Abi Waqqash, Khalid bin Walid). Ada yang harus menyampaikan khazanah ilahiah melalui puisi (Jalaluddin Rumi). Ada yang harus membuat buku (Al-Ghazali). Ada yang harus membuat buku dan menyampaikan ilmu ketuhanan yang rumit dan tidak untuk masyarakat biasa (Ibnu Arabi). Ada yang harus menjadi mursyid dengan penampilan mewah seperti sultan (Syaikh Abdul Qadir Jailani). Ada yang harus terlunta-lunta, sakit kulit dan menggelandang seperti Nabi Ayyub as. Ada pula yang diciptakan untuk kaya raya dan berkuasa seperti Sulaiman a.s.

Banyak sekali ragam tugas dan kemisian, demi menyampaikan—dan menampilkan—suatu Khazanah Ilahiah. Justru jika seorang diciptakan sebagai, misalnya, panglima perang, namun ia malahan tampil di depan podium dan berdakwah dengan cara klasik, ia justru menyalahi kehendak Allah bagi dirinya. Ia menyalahi tujuan penciptaannya.

Bukan berarti orang-orang ini tidak berdakwah. Tapi, apa bentuknya: bicara? berbuat? berfikir? menulis? menyumbang harta? memimpin? Allah yang menentukan. Juga, ruang lingkupnya untuk siapa, untuk ummat-kah, bangsa tertentu kah, orang tertentu kah, atau cukup untuk keluarga, mungkin bahkan cukup hanya untuk dirinya sendiri.

Mereka yang tampil di podium dan berdakwah, atau mereka yang bersurban dan berjubah, tidak berarti mereka menjadi lebih alim, lebih ulama, dan lebih soleh daripada mereka yang tidak tampil di podium dan berpenampilan biasa-biasa saja. Sama sekali tidak. Ukuran kesolehan dan kealiman sama sekali bukan pada tampilan lahiriyah seseorang. Dan, berdakwah untuk ribuan ummat sekaligus belum tentu lebih efektif dan lebih ‘berpahala’ (kalo masih ngitung-ngitung pahala) daripada berdakwah pada beberapa orang saja. Bukan jumlahnya, tapi sejauh jiwa apa orang bisa tertransformasi dengan khazanah Ilahiah yang ada pada diri kita. Walau hanya satu orang.

Kita ingat ayat yang bunyinya,

“Barangsiapa membunuh satu jiwa… maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa menghidupkan satu jiwa, ia bagaikan menghidupkan seluruh jiwa manusia.” (Q. S. Al-Maa’idah [5] : 32)

‘Menghidupkan jiwa’, secara batin juga berarti membebaskan jiwa manusia dari timbunan sifat jasadiyah dan keduniaannya sendiri.

Banyak orang-orang yang dicintai Allah tapi tidak tampil secara terbuka di podium untuk berdakwah, karena memang bukan tugasnya. Dia dimudahkan pada bidang lain, tidak di bidang itu. (btw, mas dewo sudah melihat tulisan “Waham ‘Kesolehan’, Waham ‘Kekasih Allah’, dan Waham ‘Pembimbing Spiritual'”?)

Yang terpenting, orang-orang seperti ini tidak berdakwah hanya dengan kata-kata atau sekedar mengutip ayat. Mereka benar-benar mengerti apa yang mereka bicarakan dan lakukan. Juga, mereka berdakwah ‘bil hal’, dengan perbuatan. Tapi yang paling jelas—akhlak, perbuatan maupun khazanah mereka semua sama: Al-Qur’an, Al-Haqq dan kebenaran, meski mulut mereka belum tentu gemar mengutip, mendiktekan maupun ‘berdakwah’ ayat-ayat kepada ummat di depan podium.

Semoga bermanfaat,

Herry Mardian

[]

Ketr: gambar diambil dari sini

Sampaikanlah Walau Satu Ayat?

33 thoughts on “Sampaikanlah Walau Satu Ayat?

  1. ovie says:

    ass wr wb..
    terimakasih ka Herry,sy jd merinding jika ingat kalimat ini.. “Barangsiapa menghidupkan satu jiwa, ia bagaikan menghidupkan seluruh jiwa manusia. Barangsiapa membunuh satu jiwa, ia bagaikan membunuh seluruh jiwa manusia.”..

    smg hal tsb dpt lebih memperkukuh sy dlm manapaki proses keber-agamaan saya..amin semoga..wass wr wb:smile:

  2. erawan says:

    Garis garis tuan menggaris
    Memilih pada yang hak seolah olahnya
    Aku dengar ..dia dengar …siapapun dengar .. itu seorah olah
    karena garis garis di garis diri
    yang seolah olah
    paling
    akh…..
    tersungkur dalam kecemburuan ….
    Erawanrudal91@yahoo.com

  3. Salam, Pak Herry menarik sekali artikel ini, saya copy ke blog saya ya, pak (sudah terlanjur published nih. hehe..):lol:
    Saya tunggu selalu artikel lain. Bahasa Bapak terasa mengalir tapi “MENYERANG” dengan telak. Saya juga masukkan blog ini ke dalam blogroll saya.

  4. Aku sebenarnya dah terbilang lama menyimak tulisan2 Mas Herry di sini, walau tak tentu waktunya, dan banyak pula yang aku kopi. Sebagian isinya malah menuntunku untuk coba2 menemukan diri sendiri meski yang ketemu cuma ini: awamologi. Maka, ketika saat ini aku mulai ngeblog, izinkan aku untuk memasang taut Mas Herry sebagai sumber.
    Salam awami dari orang awam.

  5. ana says:

    aku baru baca hari ini mas.makasih banyak karena ngasih pencerahan baru buat aku.karna jujur aku adalah seorang yang sangat sedikit pengetahuan ttg islam.mungkin ALLAH telah memanggilku karna sesungguhnya dari mulai umur 15thn aku selalu gelisah ttg jati diriku.secara aku memang dilahirkan dari keluarga broken home.salut buat mas herry dan terima kasih banyak.semoga barokah disisi ALLAH Aminn….

  6. hikayat bulan adalah hikayat debu
    yang kagumi bulan penuh

    hanya sebutir debu
    hanya debu yang terberkati
    hanya debu yang dimuliakan

    hanya pemberian berlimpah
    untuk sebutir debu
    berlipat ganda dari ukuran wadagnya
    menenggelamkan
    sebutir debu, jadi lautan cahaya

  7. Yuda says:

    Ass.w.w.
    Salam kenal, Blog ini menarik utk di ikuti. Mengomentari “sampaikan walau satu ayat” artikel ini enak dibaca. saya sependapat, bila emas di kalungkan di leher kerbau akan dibawa berkubang, bila diikatkan di kaki ayam akan dibawa menceker. Dan memang telah dilarang Allah dlm surat Jin:26 untuk sembarangan menceritakannya. kecuali bagi yg benar-benar ingin mempelajarinya;dan hanya boleh/dapat disampaikan oleh yg telah dipilih / diridhoi-Nya untuk menyampaikannya(srt Jin:27) Wassalam W.W

  8. dewi m uthie iskandar says:

    Asslmkum Kang Herry…
    Makasih ya artikel2nya yg penuh manfaat.
    Mohon ijin unt mngutip y.. Jazakalloh.

  9. Sebenarnya tidak ada yang dirahasiakan bagi seorang sufi, mereka sudah secara impilisit mengutarakan ayat secara terus menerus, cuma… cuma kitanya belum “ngeh” karena banyak faktor.

  10. mohon bimbingannya yaa mursyid…

    karena aku ga mau diriku sendiri hancur karena salah mengambil jalan, salah mengarahkan langkah, salah dan salah dan salah…

    huhuhu..:oops:

  11. sulistiyanto says:

    Salamun “alaikum

    Bagaimana caranya kalau saya mau ikutan dapat artikel-artikel seperti ini ke email saya mas?
    Syukron

    Salam,

  12. Budi W says:

    Baliighu annii walau ayyah..!”. Masih ingat hadits “populer ini? Yup… artinya “sampaikan meski hanya satu ayat”. Sederhana, namun sarat akan makna. Tapi apa sih hakikat sebenarnya dari hadits ini?

    Bila kita menelusuri lebih lanjut, akan kita ketahui bahwa hadits yang disampaikan Rasulullah Muhammad SAW tersebut mengandung dua definisi sebagai berikut:

    1.Eksistensi

    Hadits yang mengandung kata “baliighu” yang artinya “sampaikan” adalah sebuah bukti bahwa “tabligh” atau “menyampaikan” adalah salah satu sifat wajib seorang Rasul. Dengan didukung dengan sifat wajib lainnya, “amanah”, maka beliau menyampaikan hal ini kepada umatnya, kita semua, manusia. Eksistensi lain yang terkandung dalam hadits ini adalah “walau ayyah” yang artinya “meski hanya satu ayat”. Maknanya bahwa untuk bisa menyampaikan (berdakwah), seorang manusia sekaliber Rasulullah SAW sekalipun tidak harus menunggu seluruh informasi dan data yang membuktikan bahwa“Islam itu unggul dan tidak (akan) ada yang (bisa) mengunggulinya” telah beliau peroleh. Ketika sebuah wahyu turun kepada beliau, seketika itu pula beliau sampaikan. Karena setiap wahyu yang diturunkan selalu berhubungan langsung dengan kondisi yang terjadi, kondisi masa lalu yang perlu diceritakan, atau kondisi masa depan yang perlu disampaikan saat itu.

    2. Instruksi

    Sebuah konsekuensi logis bagi kita, umat manusia, ketika mengetahui ada sebuah hadits, yang merupakan salah satu wasiat dari Rasulullah, maka harus menjalankannya. Karena percaya atau nggak percaya, akhlak Rasulullah SAW adalah AL-Quran sehingga apa yang beliau sampaikan pasti bersumber dari firman Allah pula, entah yang diabadikan dalam Al-Quran maupun melalui hadits Qudsi. Khusus hadits “sampaikan walau satu ayat” di dalamnya benar-benar ada makna instruksi bagi umat manusia, terutama “orang-orang (yang mengaku) beriman” untuk menindaklanjuti isi dari hadits tersebut. Apakah itu???

    Yup.. jawabnya adalah kalimat dalam hadits tersebut. Kata pertama adalah “baliighu” atau “sampaikan”. Apabila diartikan secara simple kata “sampaikan” bermakna “sekedar” menginformasikan dan selanjutnya selesai. Ternyata, menurut “asatidz (jama’ dari ustadz)” yang faham bahasa aslinya (arab), kata “sampaikan” dalam hadits tersebut bermakna lebih dalam, yakni “sampaikan sehingga dengan benar-benar sampai”. Nah lo… ternyata ga gampang juga kan. Kalo hanya menyampaikan sih, tinggal ngomong doang. Tapi “jaminan” bener-benar sampai itu yang perlu disiasati tekniknya. Makanya, supaya tercapai tujuannya ya minimal perlu tiga unsur pendukung:

    a. Communication skill (teknik berkomunikasi)

    Seseorang yang ingin menyampaikan sesuatu hingga benar-benar sampai harus memiliki taktik yang jitu. Dalam dunia bisnis periklanan, misalnya. Berbagai teknik dan upaya dilakukan oleh tim kreatifnya agar tujuan dari pesan yang disampaikan benar-benar tercapai.

    b. Consistency (terus menerus)

    Sebongkah batu yang terkena tetesan air hujan terus menerus, semakin lama akan berlubang. Begitu pula hati manusia, jika secara terus menerus diberikan sebuah pemahaman, insya Allah akan berubah menuju apa yang ditargetkan .

    c. Qudwah (keteladanan)

    Untuk memberikan sebuah pemahaman kepada seseorang, akan lebih mudah apabila kita sendiri telah melakukannya sehingga bisa menjadi sebuah bukti atas apa yanng disampaikan.

    Instruksi berikutnya adalah satu frasa terakhir dari hadits tersebut yaitu “walau ayyah” yang artinya “meski hanya satu ayat”. Sebuah perintah bagi umat manusia terutama bagi orang-orang beriman agar “menyampaikan” sekecil apapun yang dimiliki tentang pemahaman keislamannya.

    Ada sebagian orang yang merasa baru pantas menyampaikan tentang pemahaman keislamannya ketika dia telah berbekal ilmu yang cukup. Namun bila kita telusuri, sampai ajal menjemput pun belum tentu pemahaman seorang manusia tentang keseluruhan ajaran Islam akan tercukupi. Kondisi ini mengakibatkan seorang muslim kehilangan kesempatan untuk menyampaikan apa yang telah dipahaminya. Di sisi lain, ada sebagian orang yang begitu sembrono dalam menyampaikan ajaran islam yang dipahaminya yakni dengan hanya menyampaikan sekilas kepada seseorang lalu meninggalkan orang tersebut begitu saja.

    Sebagai jalan tengah dari kondisi tersebut, kalimat “sampaikan meski hanya satu ayat” adalah solusinya. Substansi dari kalimat tersebut adalah sesedikit apapun ilmu yang baru diperoleh, asal disertai dengan landasan yang kuat, segera sampaikanlah. Tidak perlu menunggu sampai mencapai level “kesempurnaan” ilmu untuk menyampaikannya. Namun tidak pula menjadikan kita menyampaikan secara sewenang-wenang lalu meninggalkan begitu saja.

    Kesimpulannya, setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain hingga benar-benar sampai. Caranya? Ada sebuah kemauan untuk “membina” dalam proses penyampaiannya. Dengan demikian, secara substansi bisa tersampaikan dengan utuh, secara psikologis pun si penerima merasa nyaman.

    Terakhir, sebuah terjemah hadits lain, “jika seorang anak adam (manusia) mati, maka terputuslah semua amalnya, kecuali 3 perkara: 1. shadaqah jariyah, 2. ilmu yang bermanfaat. 3. anak shalih/ah yang mendoakan orang tuanya.”

    Semoga yang sedikit ini, bisa menjadi ilmu yang bermanfaat. Allahu a’lam bish shawwab.

  13. pitak says:

    asskum…
    salam kenal Mas Her.
    kenapa gak bahas tentang Syekh Siti Jenar dan ajarannya? mkn teman2 lainnya ingin mengetahui hakikat sebenarnya dari Syekh Siti Jenar?
    gimana ya caranya buat register, kok ga bisa?❓

  14. Assalamu’alaikum wr wb

    Kalau menurut pendapat saya (yang masih sangat minim pengetahuannya) dengan kita menyampaikan dan berbagi ilmu pengetahuan yg kita miliki, berdakwah, mengajak orang pada kebaikan, itu sangat berguna bagi orang lain yang membutuhkan atau yg belum mengetahui. Mudah2an Allah SWT menjadikan setiap ilmu pengetahuan yg kita bagi, setiap dakwah kita sampaikan, sebagai satu kebaikan bagi kita. Semoga setiap huruf yang ditulis dan dibaca dan setiap dakwah yg disampaikan baik lisan maupun tulisan, bisa menjadi saksi di hari perhitungan nanti, bahwa kita pernah berada di Jalan-Nya,.dan bahwa kita pernah berusaha mengajak orang pada kebaikan, amiin

    Bila berkenan, nungkin Mas Herry, bisa mengunjungi saya di ” http://jalandakwahbersama.wordpress.com

    Wassalam,
    Dewi Yana

  15. Hendra says:

    salam kenal mas Herry. Mohon maaf saya hanya mau sedikit bertanya. selama ini saya punya banyak pertanyaan, dan jawaban dari orang-orang serasa hasil fotokopi. baru kali ini baca tulisan mas Herry rasanya kok seperti asli. saya harus kemana dan bagaimana supaya bisa ikut ngaji dari Mursyid yang sejati?

    terima kasih, mas..

  16. laila sabila says:

    Assalamualaikum..

    salam kenal. teruskan berkarya demi DIA wahai sahabat. semoga ruangan ini terus menjadi didikan untuk jiwa saya yang masih belajar untuk mengenal diri.

  17. Kgs.Ridhwan says:

    alhamdulillah.. saya setuju sekali dg pernyataan pemberian itu bisa bermanfaat bila kita berikan kepada orang yg tepat . karena setiap umat memiliki mashlahat yg tidak sama, ada yg sakit gigi, ada yg sakit kepala , ada yg sakit perut dll, klw semua y kita beri obat sakit gigi ,,waduh repot jga jadi y .. sukron 🙂

  18. saif says:

    saya ingin bertanya suatu persoalan pada Mas Herry, saya ingin mengirim pertanyaan tersebut ke email Mas Herry tapi tidak tahu alamat emailnya.
    jika Mas Herry berkenan, mohon info alamat emailnya.
    terima kasih, salam alaikum

  19. Fuadi says:

    Dan dari guru saya mengatakan bhw ” Sampaikan dariku walau satu ayat” adalah tugas bagi org2 yg sudah betul2 paham akan apa yg akan disampaikan.. karena konteks yg disampaikan dalam hadits ini adalah yg bisa menyebabkan semakin dekat atau ingin menjadi dekat dgn Rabb-nya, jd jika yg disampaikan justru menyebabkan keresahan, permusuhan, kedengkian dst yg makin kita jauh dr RahmatNya dan menimbulkan fitnah, maka berarti dia jauh dr kebenaran yg artinya diamnya jauh lbh baik dr bicaranya… Jd kita berusaha utk mencari persepsi yg benar dulu apa yg dimaksud Sang pembicara (Allah), krn jika persepsi salah, konsepsi salah, konsepsi salah,konklusi/ deskripsi tambah salah, dan kemudin aplikasinya makin tambah salah dan makin jauh dari kebenaran… Demikian pengertian yg saya dapat dr guru saya… Smg Allah memaafkan saya dan guru saya jika ada salah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s