Introvert

Oleh Jonathan Rauch, diterjemahkan oleh Hery Mardian
http://www.theatlantic.com/doc/200303/rauch

introvertPERNAH kenal seseorang yang selalu butuh waktu menyendiri, beberapa jam setiap harinya? Yang menyukai obrolan-obrolan tenang seputar perasaan atau gagasan? Yang bisa begitu dahsyat ketika memberikan presentasi di hadapan banyak orang namun tampak canggung ketika ngobrol-ngobrol kecil dalam kelompok, atau skill basa-basinya agak lemah dan ecek-ecek? Yang harus diseret-seret untuk datang ke pesta, lalu perlu menghabiskan waktu sisanya untuk pemulihan diri? Yang justru mengeluh, mengrenyitkan alis, menghela nafas atau meringis; jika disapa dengan cara diledek atau digoda oleh orang yang sebenarnya bermaksud beramah-tamah?

Kalau iya, apa menurut anda orang ini “terlalu serius”? Atau perlu ditanya, “kamu baik-baik aja?” Atau mungkin dia memang sengaja menjaga jarak, angkuh, tak sopan atau tidak bisa membawa diri? Bahkan diperlukan usaha dua kali lebih keras lagi untuk membuatnya mau menjelaskan ada apa sebenarnya.

Kalau jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas adalah “ya”, maka hampir pasti anda sudah bertemu dengan seorang introvert—dan hampir pasti pula bahwa anda tidak memperlakukan dia sebagaimana seharusnya.

Di tahun-tahun belakangan ini, sains sudah mempelajari banyak hal tentang perilaku maupun kebutuhan para introvert. Bahkan sudah diketahui pula—melalui pemindaian otak—bahwa otak orang-orang introvert mengolah informasi dengan cara yang berbeda dengan orang lain (saya tidak sedang mengada-ada!).

Kalau anda ternyata belum tahu fakta ini, anda memang tidak sendirian. Keberadaan orang-orang introvert mungkin sangat umum, tapi di Amerika, termasuk di dunia, mereka adalah golongan yang paling banyak disalahpahami dan dibuat merasa tertekan .

Saya sungguh-sungguh tahu itu. Nama saya Jonathan, dan saya seorang introvert.

Sebelumnya, bertahun-tahun lamanya saya mengingkari ini. Lagipula saya adalah orang yang memiliki kemampuan sosial yang baik. Saya sama sekali bukan orang yang pemurung atau tidak suka orang lain. Umumnya, saya jauh dari pemalu. Saya sangat menyukai obrolan-obrolan panjang tentang pemikiran-pemikiran mendalam, atau tentang hal-hal menarik yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Namun akhirnya saya mengenali hal itu pada diri saya, dan tetap tampil dengan membuka diri sebagai seorang introvert pada teman-teman maupun rekan kerja. Dengan cara ini saya terbebas dari banyak sekali kesalahpahaman atau labelisasi yang menyakitkan.

Kini, saya ingin menjelaskan apa yang harus anda ketahui sehingga anda bisa memberikan respon yang tepat sekaligus mendukung pada keluarga, teman maupun rekan kerja anda yang introvert. Perhatikan: pasti ada dari mereka yang anda kenal, anda hormati, atau yang dengannya anda berinteraksi setiap hari, adalah seorang introvert; sementara bisa jadi anda malah “menyiksanya” bila tak paham rambu-rambunya.
 

Apa itu introversi?

Dalam tampilan modernnya, konsep ini diperkenalkan tahun 1920-an oleh Carl Jung, psikolog yang terkenal itu. Hari ini introversi adalah salah satu tiang utama dalam banyak tes identifikasi kepribadian, termasuk tes Myers-Briggs Type Indicator yang sangat banyak digunakan itu.

Para introvert tidak mesti pemalu. Orang pemalu merasa cemas, takut, atau mengutuki dirinya sendiri dalam lingkungan sosial; sedangkan para introvert biasanya tidak demikian. Para introvert juga bukan orang yang misantropik atau pembenci umat manusia, walaupun ada beberapa dari kami yang sepakat dengan kata-kata Sartre, “Neraka adalah adanya orang lain ketika sarapan.” Namun akan lebih tepat jika dikatakan bahwa (berinteraksi dengan) orang lain itu melelahkan bagi para introvert.

Para ekstrovert menjadi “hidup” dengan kehadiran orang lain, dan akan layu serta kehilangan kecemerlangan mereka jika sendirian. Ekstrovert kerap tampak seperti bosan dengan dirinya sendiri. Tinggalkan seorang ekstrovert sendirian selama dua menit, maka ia akan segera meraih ponselnya. Sebaliknya, setelah satu atau dua jam bersosialisasi, kami para introvert membutuhkan saat-saat off sejenak untuk mengisi ulang batere kami. Saya sendiri, rumus kebutuhan saya adalah dua jam off untuk setiap satu jam bersosialisasi.

Ini sama sekali bukan anti-sosial. Ini juga bukan tanda depresi, dan tidak membutuhan tindakan medis apa pun. Bagi para introvert, dibiarkan sendiri menyelami pikirannya itu sama menyegarkannya dengan tidur, dan sama bergizinya seperti makan. Motto kami, “Saya senang, kamu senang, sama-sama senang—sedikit tapi sering.”
 

Berapa banyak orang introvert?

Saya melakukan riset mendalam untuk menjawab pertanyaan ini, di Google. Jawabannya: sekitar 25 persen dari seluruh populasi. Atau kurang dari setengah. Atau, —favorit saya—“Kelompok minoritas di kalangan umum, tapi mayoritas di kalangan manusia berbakat”.

Famous Introverts
Mahatma Gandhi, Albert Einstein, Michael Jordan, J. K. Rowling (Harry Potter), Steven Spielberg, Bunda Theresa, dan Bill Gates adalah introvert.
 

Apakah para introvert kerap disalahpahami?

Sangat, di mana-mana. Seakan-akan itu memang sudah jadi porsi kami. “Sangat sulit bagi seorang ekstrovert untuk memahami introvert,” tulis pakar pendidikan Jill D. Burruss dan Lisa Kaenzig (mereka jugalah yang menjadi sumber kutipan kalimat favorit di akhir paragraf sebelumnya). Namun para introvert mampu memahami ekstrovert dengan sangat mudah, karena para ekstrovert menggunakan begitu banyak waktu mereka untuk berusaha keras menunjukkan siapa dirinya—dengan pembicaraan yang begitu banyak dan kadang tak bisa dihindari—ketika berinteraksi dengan orang lain. Mereka begitu terbukanya, seperti seekor anak anjing yang sedang lucu-lucunya.

Namun sayangnya jalan ini hanya jalan satu arah. Para ekstrovert hanya memiliki pemahaman yang sedikit, atau bahkan sama sekali tidak memahami, persoalan introversi. Mereka berasumsi bahwa kebersamaan, khususnya jika bersama mereka (yang ekstrovert), adalah hal yang selalu lebih menyenangkan bagi semua orang. Mereka tidak mampu membayangkan bagaimana mungkin ada manusia yang butuh untuk sendirian; bahkan kerap justru merasa tersinggung kepada mereka yang mengemukakan kebutuhan menyendirinya ini. Sesering saya berusaha menjelaskan hal ini kepada para ekstrovert, saya belum pernah benar-benar merasa yakin bahwa mereka sungguh-sungguh memahami. Biasanya mereka cuma mendengarkan sesaat, lalu kembali menggonggong dan mendengking lucu.
 

Apa para introvert tersisih?

Apa boleh buat, saya harus mengatakan “ya”. Lihat satu hal, bahwa para ekstrovert sudah terlalu banyak terwakili dalam dunia politik, profesi yang sangat menyenangkan hanya bagi mereka yang gemar bicara kesana kemari. Lihat George W. Bush. Lihat Bill Clinton. Mereka seperti sangat penuh daya hidup ketika keberadaannya disekitar orang lain. Jika mengingat kembali beberapa introvert yang berhasil menyentuh puncak di dunia politik—Calvin Coolidge, Richard Nixon—justru menegaskan hal tersebut. Pengecualian, mungkin Ronald Reagan, yang terkenal menjaga jarak emosional maupun kehidupan pribadinya, bisa jadi merupakan tanda adanya garis introvert yang dalam (saya pernah baca, banyak sekali aktor adalah introvert; dan banyak introvert, ketika bersosialisasi, merasa seperti sedang akting), para introvert tidak dipandang “berbakat alami” dalam dunia politik.

Maka, ekstrovert lebih mendominasi dunia publik. Ini sebenarnya patut disayangkan. Jika para introvert yang menjalankan kepemimpinan di dunia, agaknya dunia akan menjadi tempat yang lebih tenang, lebih waras dan lebih damai. Konon Coolidge pernah bilang, “Tahukah anda, bahwa empat dari lima persoalan hidup akan hilang jika kita bisa duduk diam dan tenang?” (Ia juga konon pernah bilang, “Kalau seseorang diam, maka ia tidak akan diminta untuk mengulangi.” Satu hal yang paling tidak disukai introvert selain berbicara tentang dirinya, adalah mengulangi apa yang diucapkannya).

Karena kebutuhan akan bicara dan perhatian yang tak habis-habisnya, para ekstrovert lebih dominan dalam kehidupan sosial sehingga standar-standar pun ditetapkan secara ekstrovert. Dalam masyarakat ekstrovertis kita ini, orang yang terbukalah yang dianggap normal, sehingga orang semua orang ingin menjadi terbuka. Sifat “terbuka” menjadi ciri kebahagiaan, percaya diri, atau kemampuan memimpin. Orang yang ekstrovert kerap disebut dengan kata-kata “besar hati”, “menularkan kebahagiaan”, “hangat”, “empatik”. “Sosok yang disukai semua” menjadi sebuah pujian. Introvert, sebaliknya, umumnya dideskripsikan dengan kata-kata seperti “terlalu berhati-hati”, “penyendiri”, “lambat”, “tak suka bicara”, “tak butuh orang lain”, “pilih-pilih teman”—kata-kata yang sempit, tak ramah, kata-kata yang bermakna miskin secara emosional, atau kepribadian yang kerdil.

Para perempuan introvert, menurut saya, adalah yang paling menderita. Dalam lingkungan tertentu, khususnya di dunia barat, seorang pria bisa tidak terlalu bermasalah dengan julukan-julukan yang menggambarkan sifat-sifat yang “kukuh tapi diam”. Namun perempuan introvert, karena tidak memiliki alternatif itu, akan lebih cenderung dianggap sebagai tidak percaya diri, menarik diri, atau angkuh.
 

Apakah para introvert sombong atau arogan?

Sangat jarang. Agaknya kesalahpahaman umum ini disebabkan oleh para introvert yang cenderung lebih cerdas, lebih perenung, lebih independen, lebih berkepala dingin, lebih halus dan lebih sensitif dibandingkan ekstrovert. Juga, karena kurangnya kemampuan introvert dalam berbasa-basi, kekurangan yang kerap menjadi bahan celaan oleh para ekstrovert. Introvert cenderung berfikir sebelum berbicara, sementara ekstrovert cenderung berfikir dengan bicara. Ini menjadi sebab kenapa rapat orang ekstrovert tidak akan bisa memakan waktu kurang dari enam jam.

“Para introvert”, tulis seorang pintar bernama Thomas P. Crouser dalam sebuah resensi onine dari buku berjudul “Why Should Extroverts Make All the Money?” (judul itu juga tidak saya buat-buat), “seringkali dikacaukan konsentrasinya dan dibuat bingung oleh dialog-dialog ‘setengah internal’ yang biasanya ditampilkan para ekstrovert. Sementara para introvert tidak akan mengeluhkan hal ini secara terbuka, mereka hanya akan mengalihkan pandangan mata dan ‘diam-diam mengutuki kegelapan’.” Begitulah memang.

Yang terburuk adalah, ekstrovert benar-benar tak menyadari tekanan yang mereka timpakan kepada para introvert. Kadang, sambil megap-megap mencari nafas di dalam tebalnya asap pembicaraan ekstrovert yang 98-persen-bebas-kandungan-makna itu, seorang introvert bisa bertanya-tanya apakah para ekstrovert benar-benar pernah mencoba untuk mendengarkan dirinya sendiri berbicara. Namun demikian, introvert dengan teguh kukuh berlapis baja tetap berupaya menahan dan menanggung derita ini, karena buku-buku etiket—tak ragu lagi, pasti ditulis oleh ekstrovert—menulis bahwa tidak balik membalas candaan itu tidak sopan, dan membiarkan adanya jeda diam di tengah pembicaraan adalah hal yang menimbulkan kecanggungan.

Kami hanya bisa berharap bahwa kelak, ketika keadaan kami ini sudah bisa dipahami secara lebih luas, ketika gerakan “tegakkan hak asasi kaum introvert” ternyata sudah berkembang dan berbuah, bukan lagi dianggap sebagai suatu hal yang tidak sopan jika seseorang mengatakan, “Saya introvert. Anda orang yang menyenangkan, dan saya senang bersama anda. Tapi sekarang, tolong diam, ssssshhht.”
 

Bagaimana cara menunjukkan pada para introvert di kehidupan saya, bahwa saya mendukung dan menghargai pilihannya?

Pertama, mohon dipahami bahwa itu bukan pilihan. Itu bukan sebuah gaya hidup yang dipilih. Itu adalah orientasi kepribadian.

Kedua, ketika melihat seorang introvert sedang diam dan menyelami pikirannya sendiri, tidak perlu bertanya, “Ada apa?” atau “Kamu baik-baik saja?”

Ketiga, tidak perlu berkata apa-apa juga, sih.

[]

(Jonathan Rauch adalah korensponden untuk “The Atlantic” penulis senior di “National Journal”)

: : : : : : : :

Lihat juga:

Keterangan:
Gambar diambil dari http://watung.org/2007/01/27/introvert/. Lukisan paling atas adalah ‘Aloof’ karya Aaron Waugh.

Introvert

29 thoughts on “Introvert

  1. kay says:

    Minal aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir & batin.

    Menyenangkan sekali membaca tulisan di atas, apakah itu konteksnya psikologi, filosofi, spiritual, etc selama itu menjadi referensi yg mencerahkan utk lebih mengenal diri. Next article please…:wink:

  2. Agnes says:

    Yang jelas, memang dalam ilmu keberbakatan, anak2 gifted dengan disinkroni perkembangan terutama yg IQ nya tinggi banget, pasti ada yg jomplang di sisi lainnya, biasanya bermasalah dlm sosial n emosional, umumnya memang introvert ditambah perfeksionis, kadang lelet, observer, cara berpikirnya ga lazim dll. Jadi ga heran klo orang2 yg gifted kadang terlihat ‘aneh’, ga heran pula kalo orang2 yg dicontohkan diatas termasuk introvert, karena umumnya mereka adl org2 yg jenius n gifted🙂. Siap2 aja buat yg punya anak gifted🙂

  3. Widya says:

    ‘Introvert’ ini Wd banget. Pengen banget bisa ‘teriak’ buat bisa dimengerti tapi tenggelam oleh orang lain yang ingin lebih dimengerti.

    Cepat merasa lelah kalo terlalu lama berinteraksi ama banyak orang dan butuh banyak waktu buat menyendiri. Awalnya Wd ngerasa diri ini aneh (orang2 jg menganggap begitu), tapi begitu baca artikel ini, pas banget ama Wd.

    Ternyata Wd ‘introvert’.

  4. diah says:

    tulisan ini menjelaskan beberapa hal yang saya temukan, saya introvet tapi berada dikeluarga yang mayoritas ekstrovet, sehingga saya berusaha tampil ekstrovet, namun akhirnya saya tahu saya tidak nyaman, dan memutuskan untuk melakukan apa yang membuat saya nyaman, dan kesalahpahaman timbul kembali, namun sekarang saya sudah cukup dewasa, untuk tidak terlalu menuruti apa yang orang lain inginkan dari saya yang membuat saya tidak nyaman, namun paling tidak ke depan bila ada yang mengkritik saya bisa bilang, kamu salah paham, bukan saya tidak sopan tapi saya hanya introvet

  5. Tulisan yang sangat menarik dan terjemahan yang sangat baik.
    Saya sendiri baru memahami sisi introvert diri saya setelah sedikit belajar tentang kepribadian. Dari sana saya mulai menghargai sisi positif introvert dan mengapa saya memiliki kecenderungan perilaku tertentu.
    Untuk memadukannya, saya mencoba mengambil sedikit sisi ekstrovert yang diperlukan sehingga pada saat-saat tertentu yang penting sisi introvert tadi bisa disimpan sejenak dan digunakan pendekatan extrovert-nya. Dengan demikian, insya Allah bisa menjadi seorang introvert yang lebih efektif🙂

  6. saya jadi bingun, saya extro atau intro ya?🙄 kadang suka sekali dengan kesendirian dan tidak mempermasalahkan kesendirian, tapi suatu saat bersemangat di tengah banyak orang.
    adakah saya kombinasi keduanya?:mrgreen:

  7. Bambang SN says:

    Terimakasih mas Herry, saya merasa dibukakan lagi dengan sisi kehidupan introvert dalam menjalani kesehariannya.
    Bagi yang merasa punya sisi tersebut, wacana ini bisaa membantu anda, insya Allah.
    Yang menarik adalah, kenyataan dalam keseharian, banyak peraturan ternyata dibuat oleh kawan2 dari extrovert, kalau peraturan dibuat tanpa mempertimbangkan aspek2 manusia secara utuh tentu menimbulkan rasa ktidak adilan bagi orang2 introvert seperti yang disebutkan di atas.
    Introvert dan extrovert bukanlah baik dan buruk, benar dan salah, populer dan tidak populer, hal itu menunjukkan kuasa Tuhan agar manusia bisa memahami diri sendiri dan memahami orang lain.

  8. Bambang SN says:

    Terimakasih mas Herry, saya merasa dibukakan lagi dengan sisi kehidupan introvert dalam menjalani kesehariannya.
    Bagi yang merasa punya sisi tersebut, wacana ini bisaa membantu anda, insya Allah.
    Yang menarik adalah, kenyataan dalam keseharian, banyak peraturan ternyata dibuat oleh kawan2 dari extrovert, kalau peraturan dibuat tanpa mempertimbangkan aspek2 manusia secara utuh tentu menimbulkan rasa ktidak adilan bagi orang2 introvert seperti yang disebutkan di atas.
    Introvert dan extrovert bukanlah baik dan buruk, benar dan salah, populer dan tidak populer, hal itu menunjukkan kuasa Tuhan agar manusia bisa memahami diri sendiri dan memahami orang lain.

  9. Saya suka yang ini:

    Ekstrovert lebih mendominasi dunia publik. Ini sebenarnya patut disayangkan. Jika para introvert yang menjalankan kepemimpinan di dunia, agaknya dunia akan menjadi tempat yang lebih tenang, lebih waras dan lebih damai. Konon Coolidge pernah bilang, “Tahukah Anda, bahwa empat dari lima persoalan hidup akan hilang jika kita bisa duduk diam dan tenang?”

    Jadi saya buatkan sebagai status di FB saya.:smile:

  10. Thian says:

    Good article…
    Mudah2an bisa mengispirasi para introvert untuk tampil apa adanya & cinta dirinya….:wink:
    Karna terkadang para introvert mmaksa dirinya untuk mnjadi extrovert di keadaan sesuatu keadaan/ lingkungan yg menuntut..:neutral:

  11. SAYA SANGAT SENANG SEKALI MEMBACA INI… TERIMAKASIH BANYAK SEKALI SUDAH MENULISKANNYA….. mohon maaf saya sedikit berlebihan.. tapi… saya benar-benar senang… terimakasih share nya….. terimakasih sekali lagi!!!!!!!!!!!!!

  12. Apakah Anda merasa bersemangat saat menghabiskan waktu sendirian?
    Apakah Anda ‘menjadi kosong’ saat terlalu banyak hal terjadi di sekitar Anda?
    Apakah Anda cenderung untuk menemukan hal-hal kecil yang tidak dilihat orang lain?
    Apakah Anda sering merasa seperti seekor kura-kura yang terjepit di antara kelinci-kelinci?
    Apakah perayaan ideal yang Anda inginkan adalah dengan sebuah kelompok kecil, bukan sebuah pesta besar?
    Di dalam sebuah rapat, apakah Anda merasa bahwa orang lain perlu bertanya untuk mengetahui ide dan opini Anda?

    Kabar baiknya, Anda adalah seorang introver. Kabar yang lebih baik lagi adalah, dengan merayakan dan memanfaatkan kekuatan dan keunikan Anda sebagai seorang ‘innie’, THE INTROVERT ADVANTAGE menunjukkan kepada introver, dan juga ekstrover yang peduli kepada mereka, cara untuk menerima dan memanfaatkan temperamen seorang introver.

    Membahas tentang hubungan, cara mengasuh anak-termasuk mendidik seorang anak introver-cara bersosialisasi, dan lingkungan kerja, buku ini berisi strategi dan taktik yang Anda perlukan untuk mengatur tingkat energi Anda, dan juga ratusan tip berharga untuk tidak hanya bertahan, tapi juga berkembang dan menjadi berhasil di dunia ekstrover.

    Spesifikasi Buku
    ID: 236131951
    ISBN: 9786020222745
    Editor: Novia
    Pengguna: Mahasiswa, Dewasa, Umum
    Harga: Rp. 64.800
    Ukuran: 15 X 23 Cm
    Cover: Soft Cover
    Tebal: 408
    Est. Terbit: 06-Nov-13
    Media: MANAJEMEN
    Kelompok: SELF DEVELOPMENT
    Kategori: MOTIVASI&INSPIRASI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s