Benarkah Manusia Adalah Makhluk Yang Paling Mulia (Mengenal Diri, Mengenal Allah dan Ruh Al-Quds).

[TANYA] Mengapa dahulu, pada saat penciptaan manusia, malaikat yang terbuat dari cahaya, bersujud pada Adam yang hanya terbuat dari tanah? Bukankah cahaya lebih mulia dari tanah?

[JAWAB] Dalam diri manusia yang telah disempurnakan Allah sebagai manusia sejati (insan kamil) terdapat secuil ‘unsur yang sangat mulia,’ yaitu yang dibahasakan dalam Al Qur’an sebagai ‘Ruhul Quds’. Ruhul Quds bukanlah malaikat Jibril a.s., Jibril disebut sebagai Ruhul Amin, bukan Ruh Al-Quds. Ruh Al-Quds juga dikenal dengan sebutan Ruh min Amr, atau Ruh dari Amr Allah (Amr = urusan, tanggung jawab). Dalam agama saudara-saudara dari nasrani, disebut Roh Kudus.

Ruh-Nya atau Ruhul Quds ini bukan dalam pengertian bahwa Allah memiliki ruh yang menghidupkan-Nya seperti kita. Ruh ini merupakan ruh ciptaan-Nya, sebagaimana ruh yang menjadikan diri kita hidup sekarang, namun dalam martabat tertingginya, dalam tingkatannya yang paling agung dan paling dekat kepada Allah.

Setiap ciptaan memiliki ruh. Manusia (ruh insani), tanaman (ruh nabati), hewan (ruh hewani), bahkan benda mati pun memilikinya. Atom-atom dalam benda mati sebenarnya ‘hidup’ dan terus berputar, dan ruh bendawi inilah yang menjadikannya ‘hidup’. Karena itu pula, benda, tumbuhan, hewan, bahkan anggota tubuh kita kelak akan bersaksi mengenai perbuatan kita di dunia ini. Namun demikian, ruh-ruh ini bukanlah ruh dalam martabat tertingginya seperti Ruh Al-Quds.

struktur ruh dan struktur insan

Ketika Allah berkehendak untuk memperlengkapi diri seorang manusia dengan Ruh Al-Quds, maka inilah yang menyebabkan manusia dikatakan lebih mulia dari makhluk manapun juga.

Perhatikan juga kata ‘Ruh-Ku’ dalam ayat 38:72, yang ditiupkan pada diri Adam saat penciptaannya:

“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya.”. (Q.S. 38:72)

Secuil ‘ruh’-Nya itu hanya diturunkan Allah pada manusia yang telah ‘disempurnakan-Nya’, yang diizinkan-Nya untuk mencapai derajat manusia yang sempurna (insan kamil) saja dan tidak pada semua manusia.

Pada Adam as dan Isa as, dua manusia yang diciptakan-Nya langsung dengan ‘tangan-Nya’ tanpa melalui proses pembuahan, Ruh ilahiyah ‘penyempurna’ ini langsung ‘tertularkan’ ketika mereka diciptakan. Karena itulah, dalam proses penciptaan Adam as, setelah ditiupkannya Ruh-Nya, para malaikat pun sujud kepada Beliau. Sedang pada kita manusia biasa yang tercipta melalui proses alamiah atas kehendak-Nya, juga diberikan perangkat untuk memperolehnya (tepatnya perangkat untuk ‘membuat’ Allah berkenan dan ‘percaya’ untuk menurunkannya pada kita), yaitu qalb, syariat lahir, dan syariat batin.

Dengan demikian, bagi manusia yang belum memiliki ‘unsur’ ini dalam dirinya, sangat wajar jika malaikat tidak akan tunduk padanya, dan dia memang belum layak untuk ‘disujudi’. Contoh saja, jika kita sekarang memerintahkan pada malaikat di samping kita untuk menampakkan dirinya, apakah mereka akan tunduk pada perintah kita itu?

Mengapa para malaikat tunduk pada para Nabi dan orang-orang suci? Karena lewat proses perjuangan penyucian qalb dan diri mereka masing-masing, Allah berkenan menganugerahkan Ruh-Nya tadi kepada orang-orang itu. Bedanya dengan Adam a.s dan Isa a.s, mereka ‘tertular’ Ruh-Nya sejak lahir, karena diciptakan langsung dengan ‘tangan Allah’ (dalam tanda kutip); sedangkan manusia selain mereka, untuk dapat dianugerahi Ruh Al-Quds, harus melewati perjuangan diri. Mereka harus membuktikan pada Allah bahwa mereka layak untuk dianugerahi ‘unsur’ yang paling agung yang bisa didapatkan oleh makhluk ke dalam jiwanya.

Di sisi lain, ada beberapa malaikat yang tidak tunduk kepada mereka yang memiliki Ruh Al-Quds, namun memposisikan dirinya sejajar dengan para Insan Kamil. Mengapa? Karena beberapa malaikat ini juga dianugerahi Ruh Al-Quds oleh Allah. Sebagaimana manusia, tidak semua malaikat memiliki Ruh Al-Quds. Dari para malaikat yang memilikinya, diantaranya adalah para malaikat utama (Archangels): Jibril a.s. (Arch. Gabriel), Mikail a.s. (Arch. Michael), Izrail a.s. (Arch. Uriel), dan Israfil a.s. (Arch. Raphael). Kedudukan mereka diantara para malaikat kurang lebih sama seperti kedudukan para Nabi diantara manusia.

Dalam [2] : 253,

“Rasul-rasul (rasul: pembawa risalah—pen.) itu Kami lebihkan sebagian mereka di atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam beberapa mu’jizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Quds.” (Q. S. [2] : 253)

Jadi kurang tepat jika kita mengatakan dengan terlalu mudah bahwa manusia, atau kita, adalah makhluk yang paling mulia di alam semesta. Manusia baru menjadi makhluk yang paling mulia jika telah diperangkati Allah dengan ‘unsur’ ini. Jika belum diperangkati dengan unsur ini, bahkan kedudukan manusia bisa lebih rendah dari hewan ternak (lihat Q.S. 25:44).

Penganugerahan Ruh-Nya pada seorang manusia inilah yang secara awam dikatakan sebagai ‘manunggaling kawulo gusti’, atau ‘penyatuan hamba dan Tuhannya’ yang sering dilabelkan pada kaum sufi di seluruh dunia. Padahal yang terjadi sebenarnya, adalah penganugerahan ‘Ruh-Nya’ atau Ruh Al-Quds kepada diri seseorang. Sebagai zat, Allah dan makhluk mustahil menyatu.

Ruh Al-Quds inilah yang membawa penjelasan kemisian seseorang, untuk apa seseorang diciptakan Allah, secara spesifik orang-per-orang. Dengan kehadiran Ruh Al-Quds, seseorang menjadi mengerti misi hidupnya sendiri. Mereka-mereka yang telah dianugerahi Ruh Al-Quds inilah yang disebut sebagai ‘ma’rifat’, dan telah mengenal diri sepenuhnya.

“Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu,” kata Rasulullah. Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Rabb-nya. Dengan kehadiran Ruh Al-Quds ke dalam jiwanya, seseorang menjadi mengenal dirinya, mengerti kemisian dirinya, dan mengenal Rabb-nya melalui kehadiran Ruh-Nya itu.

Dengan mengenal dirinya secara sejati, maka mulailah seseorang ber-agama secara sejati pula. “Awaluddiina ma’rifatullah,” kata Ali bin Abi Thalib kwh. Awalnya ad-diin (agama) adalah ma’rifatullah (mengenal Alah). Jadi berbeda dengan pengertian awam bahwa mencapai makrifat adalah tujuan beragama, justru sebaliknya: ma’rifat adalah awalnya beragama, ber-diin dengan sejati.

Saya pribadi percaya bahwa inilah ‘trinitas’ yang dikembalikan oleh Qur’an kepada hakikatnya semula: Allah, Ruh Al-Quds, dan jasad sang Insan Kamil. Pengertian trinitas ini, seiring dengan berjalannya waktu dan jauhnya aliran doktrin dari mata-airnya, perlahan berubah menjadi sesuatu yang abstrak: tiga tetapi satu dan satu tetapi tiga. Namun Rasulullah melaui Qur’an, secara halus mengembalikan khazanah tritunggal ini kepada esensinya: bukan zatnya yang satu sekaligus tiga, tetapi sebenarnya yang terjadi adalah Allah dan Insan Kamil, melalui kehadiran Ruh Al-Quds, telah sepenuhnya selaras dan menjadi satu kehendak. Apapun perbuatan, perilaku dan kehendak seorang Insan Kamil akan sepenuhnya sesuai dengan kehendak Allah. Sedangkan Allah-nya sendiri, sebagai zat, tetap hanya satu. Inilah yang dikembalikan: Allah itu satu, tidak memiliki anak, dan anggota sistem ke-tiga-an itu terpisah, baik secara hakikat maupun zat. Wujudnya satu, bukan tiga.

Siapa saja Insan Kamil itu? Mereka adalah semua orang yang telah dianugerahi Allah Ruh Al-Quds ke dalam jiwanya. Semua Nabi dan Rasul, termasuk Nabi Isa as, dan para orang suci yang ber-maqam rahmaniyah dan rabbaniyah, adalah Insan Kamil.

Ada sebuah hadits dari Rasulullah, ketika Umar melihat dajjal dan bermaksud membunuhnya, Rasulullah mencegah beliau. Rasulullah mengatakan, Umar tidak akan mampu membunuhnya. Yang akan menghadapi dajjal kelak adalah Nabi Isa as di akhir zaman. Kenapa Nabi Isa as, bukan Umar atau bahkan bukan Rasulullah? Karena, walaupun semua orang yang telah dianugerahi Ruh Al-Quds tidak bisa lagi disentuh iblis, hanya Nabi Isa-lah satu-satunya orang yang oleh Allah diberi kehormatan sebagai manusia yang memiliki Ruh Al-Quds sejak hari kelahirannya, bahkan sejak dalam kandungan. Kenapa bukan Adam a.s.? Karena Adam as tidak pernah dilahirkan. Beliau ‘diciptakan’, dijadikan. Menghadapi dajjal adalah hak Nabi Isa a.s.

“Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu ketika Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Quds, kamu dapat berbicara dengan manusia ketika masih dalam buaian dan ketika dewasa…”(Q. S. [5] : 110)

Kembali ke persoalan sebelumnya,

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan mereka yang kafir”. (QS. 2:34)

Sujudnya Malaikat kepada Adam, karena dalam diri manusia yang telah disempurnakan-Nya (Insan Kamil) ada yang disebut ‘Ruh-Ku’ dalam ayat 38:72 tadi. Malaikat —bukan— sujud kepada sifat jasadiyahnya Adam. Malaikat akan sujud kepada siapapun yang dalam dirinya ada pantulan ‘citra’ Allah (yang jelas, fokus, dan tidak blur), yaitu dengan kehadiran Ruh-Nya (Ruh Al-Quds) dalam jiwa seseorang. Iblis tidak mampu melihat ke dalam inti jiwa manusia tempat Ruh Al-Quds disematkan Allah, maka ia melihat Adam tidak lebih dalam dari sekedar tanah yang digunakan sebagai bahan jasadnya, sehingga ia enggan bersujud (perhatikan kata yang dipakai dalam ayat tersebut: ‘kafir’: tertutup, tidak mampu melihat kebenaran).

Kembali pada ayat:

“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya.”. (Q.S. 38:72)

Jangan ‘sujud’ kepada siapapun yang belum dianugerahi Allah ‘Ruh-Nya’ ke dalam dirinya. Allah hanya memerintahkan ‘sujud’ kepada mereka yang telah disempurnakan-Nya, dan telah dianugerahi Ruh Al-Quds kepada dirinya.

[]

P.S. :

(1) Mereka-mereka yang telah dianugerahi Ruh Al-Quds mempunyai kemewahan yang tiada tara: bisa berdialog (bukan monolog maupun meminta secara sepihak saja) dengan Allah langsung tanpa melalui ‘birokrasi’ malaikati apapun (jelas, karena kedudukannya jadi lebih tinggi dari malaikat). Allah akan berkenan menjawabnya langsung (lihat [2] : 253 di atas). Ia menjadi sahabat-Nya, Kalimullah (orang yang diajak berbicara dengan Allah). Ia menjadi keluarga-Nya (Ahlullah). Demikian pula, karena mustahil ketika seseorang mengenal Allah tidak takjub kepada-Nya, maka Allah-pun akan menjadi sosok yang paling dicintai orang tersebut.

(2) Tahu asal kata ‘Hadits Qudsi’? Kenapa ada perkataan Allah yang bisa disampaikan Nabi, tapi tidak ada dalam Qur’an? Disebut ‘Hadits Qudsi’ karena ucapan-ucapan-Nya itu disampaikan Allah lewat Ruh Al-Quds yang telah dianugerahkan Allah ta’ala kepada orang tersebut.

Oh ya, tentang ‘Hadits Qudsi’, baca juga tulisan ini.

(3) Plural dari ‘Ruh’ adalah ‘Arwah’. Karena semua Ruh langsung berasal dari Allah dan langsung pula kembali kepada-Nya, maka —TIDAK ADA— yang namanya ‘arwah gentayangan’. Tidak ada roh yang gentayangan, apalagi penasaran. Yang ‘gentayangan’ itu jin, atau bisa juga iblis, mungkin.

_______
Catatan: Tulisan ini bukan karya saya sepenuhnya. Lebih tepat jika dikatakan bahwa saya hanya menuliskan kembali secara ringkas apa-apa yang saya pahami, sebagaimana telah diajarkan oleh guru-guru saya. Semoga Allah menambah hikmah dan menganugerahkan rahmat-Nya pada mereka semua.

Benarkah Manusia Adalah Makhluk Yang Paling Mulia (Mengenal Diri, Mengenal Allah dan Ruh Al-Quds).

37 thoughts on “Benarkah Manusia Adalah Makhluk Yang Paling Mulia (Mengenal Diri, Mengenal Allah dan Ruh Al-Quds).

  1. zal says:

    @Mas Her, jika “Jadi kurang tepat jika kita mengatakan dengan serta-merta bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia di alam semesta”, berada pada surah terakhir “manusia, adalah yang sudah berlindung pada Rajanya manusia”, itu sudah tepat disebut mulia
    Yang Allah ciptakan, dan dicurigai malaikat akan melakukan pertumpahan darah malaikat menyebutnya “orang”,
    kaitan lainnya Allah menyebutkan, “setelah aku sempurnakan kejadiannya, kutiupkan sebagian ruhKU” inilah manusia…, karena telah hidupnya setelah matinya….mohon maaf jika salah

  2. saya termasuk percaya bahwa dalam alam semesta yang sangat luas ini sangat mungkin diciptakan makhluk lain yang ‘mirip’ kita di ujung lain sana. (sangat mungkin artinya tidak pasti, tapi bisa saja ada)

    Bumi kita saja sudah memiliki 3 periode kemakhlukan : jaman dinosaurus -lalu punah, jaman phitecantropus erctus -punah juga, lalu jaman kita.

    Dan kita bukanlah makhluk termulia, kita cuma diciptakan dengan potensi kemuliaan.

    Allah swt juga kuasa untuk menciptakan makhluk2 lain setelah masa kita lewat.

    Apapun semua itu, yang paling relevan adalah apakah kita berhasil melalui ujian Allah swt dengan potensi kemuliaan yang dikaruniakan itu.🙂

  3. @ zal : Saya kurang menangkap maksudnya, tapi dari yang dikemukakan itu, sependek pengetahuan saya, itu baru ‘insan’. Menjadi ‘insan’ tidak sama dengan menjadi ‘Insan yang mulia’ di sisi Allah dan di mata alam semesta.

    @ danalingga: bagaimana mengenalinya?

    Para insan kamil merupakan hamba Allah. Seorang hamba (budak) hanya taat secara mutlak pada tuannya. Sekeras apapun kita memanggil mereka, mereka tidak akan datang ke kita, karena kita bukan majikannya. Para budak hanya bisa ditemui dengan meminta ijin pada tuannya terlebih dahulu. Ini esensi tulisan yang ini.

    Selama kedudukan kita di bawah mereka, kita tidak bisa mengenali mereka. Mereka baru bisa dikenali dengan jelas oleh orang-orang yang sejajar atau lebih tinggi tingkat kedekatannya kepada Allah. Atau, jika Allah sendiri yang memerintahkan untuk membuka siapa dirinya kepada kita. Mereka tidak butuh untuk dikenal manusia, kecuali pada orang-orang yang –sungguh-sungguh– mencari Allah, maka Allah akan mempertemukan pencari-Nya itu dengan seorang Insan Kamil di zamannya, sebagai pertolongan dari Allah.

    Tapi, tanda-tandanya masih mungkin bisa dikenali dengan lubb (‘Aql jiwa, bukan akal jasad/rasio), oleh para ulil-albab, seperti pada tulisan ini dan tulisan ini.

    Makasih, om zal dan om dana🙂

  4. @ Mas Khairul: saya sepakat. Kita satu-satunya jenis makhluk yang diberi potensi untuk menjadi makhluk yang paling mulia di atas makhluk manapun juga. Tapi memang baru potensi, dan harus di-zahir-kan. Dan itulah jihad yang terbesar, jihad akbar sebagaimana sabda Rasul saw sepulang perang Badar.
    🙂

  5. zal says:

    @herry, pembahasaan jawa dgn pendengaran “otak-ati”, sbg transportasi datangnya “pengkabulan do’a, dari suatu do’a”, termasuk bagiannya adalah “perenungan”,

    @danalingga, “bagaimanakah kita dapat mengenali mereka yang sudah di tiupkan ruhnya? “…apa perlu…????, Allah saja Yang Empunya Ruh, sangat jarang yg mau ngenalinya…apalagi bagian yg ditiupkan, “kalau di Injil dikatakan mengenal Ruh dengan Ruh” maka hakikatnya siapa yg mengenal siapa”,
    dan ada kalimah lainnya “hanya wali mengenal wali….”…, yach hanya penggemar slank, yg benar mengenali musiknya…ya ngga… dan sesama penggemar kan mendiskusikannya dengan seru dan asik…., yg lain…munkin tinggal tungggu giliran perputaran kali…he..he

  6. syahru says:

    ada ilmu rahasia dan ada ilmu yg yg tidak rahasia(umum). Untuk menjelaskan tentang ruhul quds adalah memakai ilmu rahasia…dan tidak bisa di jelaskan oleh orang awam (gak level)…kecuali Allah megizinkan siapa juga bisa melihat Ruhul Quds. ilmu para wali adalah ilmu rahasaia…maknya ada perkataan”hanya wali yg bisa mengenali para wali” karena para wali menyandang ilmu rahasia. ilmu rahasia bisa didpt oleh siapa saja tergantung Allah SWT yg menghendakinya. dah hanya sedikit ilmu rahasia yg di berikan kepd manusia..Sabdanya ” tidak Aku beritahu tentang zat ku kecuali sedikit”. maka jadilah kamu yg sedikit itu. Lebih mudah kita mengenal Allah dari pada kita mngenal para wali, krn para wali adalah manusai sama dengan kita dan dia tidak mau mnonjolkan diri, sedangkan Untuk Mengenal Allah sangat mudah, kita menghdap kemana aja disitu ada Allah, masa dulu, sekarang dan masa yg akan datang tidak akan berubah bentuk Nya, hanya satu tiada yg menyamainya, maha besar. sebenarnya pepatah” semut di seberang lautan kelihatn gajah diplupuk mataa gak klihatan” artinya yg kecil bisa kliatan sedang Allah yg MAHA BESAR tidak klihatan olehnya. knp bgitu..? yg jelas manusia itu blom dpt Rahmat dari Allah SWT untuk mendpt kan RUHUL QUDS…belajarlah dan cari terus sampe kelubang kubur klo masih bisa, agar kita bisa memulai beragama yg sempurna untuk mencari keridhoan Allah SWT..bukan mencari surga dan juga bukan menghindar dari neraka. Ridho Allah SWT satu-satunya yg kita cari dalam beribadah…..wassalmlkm wr.wb.:smile:

  7. zal says:

    @syahru

    iya..ya syahru…
    tapi kesan saya koq enggga ngenali..herry dan dana juga, apa karena tongkrongannya masih muda…sehingga perlu dijelaskan seperti itu…
    menurut pendapat saya, herry dan dana sudah dipenyaksiin, diskusi yg saling jegal dengan pura-pura engga ngerti, hanya memperaya partikel yg sudah ada…
    kalau engga keberatan yo diskusi aja…kan kalau sudah menyaksikan Sang Ilmu…bedanyakan hanya kesepahaman…:wink:

  8. Pembahasannya cukup menarik. Yang kurang barangkali contoh-contoh orang/ insan yang telah memahami ruh al-quds, seperti misalnya apakah “Ashabul Kahfi” telah memiliki ruh al-quds karena dia telah berjuang melawan penguasa yang zalim? Apakah Para Khalifah termasuk mereka yang telah memiliki ruh al-quds, sebab tidak pernah terdengar berita atau kabar bahwa mereka memberi informasi pernah berbincang dengan Tuhan? Atau apakah Ruh Al-Quds adalah rahasia tersembunyi yang tidak mungkin dibahas kecuali antara sihamba “Al Quds” dengan Tuhan. Wallahualam bisshowab

  9. shukov says:

    penngertian permintaan untuk sujud kepada Adam, menurut pengertian saya bukanlah sujud seperti dalam shalat, melainkan suatu perintah taat mengikuti Adam. Alllah maha adil, dia juga memberikan rakhmat tidak terbatas kepada siapapun, tidak terkecuali kepada iblis pun , akan tetapi iblis menolaknya !.
    Jadi manaka kita menolak untuk taat Allah swt dan RasulNya yaa posisi nya sama dong dengan iblis ….:wink:
    wallahualam bis sawab

  10. m. romzie abduh says:

    Sekedar mengingatkan, hati-hati dalam membahas masalah ini, pertama pembahas mesti menguasai betul, kedua sering timbul fitnah (masalah-masalah baru) atau salah interpretasi

  11. sarisal says:

    Mas herry …
    Bukankah manusia sejak di dalam rahim ibunya sudah di tiup kan Ruh-Nya Allah, dan Allah tidak pernah menciptakan Ruh tetapi meniupkannya kedalam jasad. Jadi menurut saya antara Nabi dan Manusia biasa sama-sama ada percikan Ruh-Nya Allah dan tidak perlu perjuangan agar ALLAH menganugerahkan kita Ruh Al-Quds. Tetapi sebagaimana yg telah di katakan oleh Nabi Kita Nabi Muhammad SAW : “Man arafa nafsahu, faqad arafa Rabbahu,” Barangsiapa yang mengenal diri sejatinya, maka ia mengenal Tuhannya. kalau menurut saya yg perlu di perjuangkan adalah bagaimana kita bisa mencari siapa kita. sebab barang siapa buta di dunia maka niscayah dia akhirat dia juga akan jauh lebih buta. jika kita buta di akhirat bagaimana kita akan bertemu dan pulang kepada Allah?. Mohon maaf kalau tanggapan saya salah, ilmu yg saya miliki jauh sekali di bawah ilmunya Mas herry. Mohon Penjelasannya Mas….:cry:

    Jazakumullah
    By sarisal / 12 Augutus 2008

  12. gurandille says:

    @herry
    “….sedangkan manusia selain mereka, untuk dapat dianugerahi Ruh Al-Quds, harus melewati perjuangan diri. Mereka harus membuktikan pada Allah bahwa mereka layak untuk dianugerahi ‘unsur’ yang paling agung yang bisa didapatkan oleh makhluk ke dalam jiwanya.”

    dari statement diatas Logika saya menangkap bahwa, setelah manusia lahir kedunia, nantinya masih akan ada kegiatan penganugerahan ruh lagi (Ruh al Quds) dan tentu saja itu akan terjadi pada manusia setelah masa aqil baligh, karena perjuangan baru mungkin bisa dilakukan pada masa itu, gitu kan ..? Ehm… terus gimana ya mas penjelasan mengenai manusia yang tidak sempat melakukan perjuangan karena berpulang kepadaNYA sebelum mencapai aqil baligh ? bukankah mereka termasuk golongan yang tidak dihisab ?

    Bagaimana pengertian dari “…Kholaqol Insana fii ahsani taqwiim” ..?

    Mengenai @H:neutral::sad:erry ” …. Yang akan menghadapi dajjal kelak adalah Nabi Isa as di akhir zaman. …….,
    hanya Nabi Isa-lah satu-satunya orang yang oleh Allah diberi kehormatan sebagai manusia yang memiliki Ruh Al-Quds ……. Menghadapi dajjal adalah hak Nabi Isa a.s.”

    saya masih kesulitan memahami hal hal sebagai berikut :
    Terkesan bahwa tugas Nabiullah Muhammad, SAW tidak tuntas dalam misinya, karena masih ada “pending job” membunuh Dajjal yang notabene tidak bisa beliau lakukan

    dan apakah ini tidak bertentangan dengan Firman Allah yang mengatakan bahwa beliau adalah Nabi (Penutup) akhir Zaman (KATAMUL AMBIYYA’) ?

    mungkin saya tidak bisa memahami dengan baik tulisan Mas Herry dan/atau menyampaikan pertanyaan dengan baik, mohon mas Hery dapat memaklumi dan bersedia memberikan pencerahan.
    terimakasih
    salam😥

  13. Assalamualaikum,

    Mengenai qaul “man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu” itu.

    Abu Muzaffar ibn al-Sam’ani mengatakan bahawa qaul ini tidak tsabit sebagai hadith.
    Ia diriwayatkan dari Yahya ibn al-Muadz al-Razi, bahawa qaul ini adalah qaul Yahya. Imam an-Nawawi juga memberikan pandangan yang sama bahawa ia tidak tsabit sebagai hadith nabi saw (keterangan oleh Imam Sakhawi dalam Madasud al-hasanah).

    Jika qaul ini dinisbahkan kepada Nabi SAW maka ia menjadi hadith palsu. Akan tetapi jika ia dinisbahkan kembali kepada Yahya ibn al-Muadz al-Razi, maka ia menjadi kata-kata yang memberi kebaikan. Maka janganlah disangka qaul ini sebagai Hadith dan jangan sekali-kali ia dinisbahkan kepada Nabi SAW.
    Golongan Wahdatul Wujud yang ‘memanipulasi’ qaul ini, harus dilihat sebagai kesalahannya datang dari mereka dan bukan dari qaul ini.

    Sabda Nabi S.A.W: bermaksud ““sesiapa yang berdusta atas namaku,maka siap-siaplah tempatnya didalam neraka”_(hadis sahih).

    Wallahu A’lam bi al-Sawaab

  14. Assalamualaikum,
    Mengenai qaul “man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu” itu.

    Abu Muzaffar ibn al-Sam’ani mengatakan bahawa qaul ini tidak tsabit sebagai hadith.
    Ia diriwayatkan dari Yahya ibn al-Muadz al-Razi, bahawa qaul ini adalah qaul Yahya. Imam an-Nawawi juga memberikan pandangan yang sama bahawa ia tidak tsabit sebagai hadith nabi saw (keterangan oleh Imam Sakhawi dalam Madasud al-hasanah).

    Jika qaul ini dinisbahkan kepada Nabi SAW maka ia menjadi hadith palsu. Akan tetapi jika ia dinisbahkan kembali kepada Yahya ibn al-Muadz al-Razi, maka ia menjadi kata-kata yang memberi kebaikan. Maka janganlah disangka qaul ini sebagai Hadith dan jangan sekali-kali ia dinisbahkan kepada Nabi SAW.
    Golongan Wahdatul Wujud yang ‘memanipulasi’ qaul ini, harus dilihat sebagai kesalahannya datang dari mereka dan bukan dari qaul ini.

    Sabda Nabi S.A.W: bermaksud ““sesiapa yang berdusta atas namaku,maka siap-siaplah tempatnya didalam neraka”_(hadis sahih).

    Wallahu A’lam bi al-Sawaab

  15. Rudy Firmanto says:

    Ass Wr Wb,

    Mas Herry, terima kasih. Seorang pembimbing juga membimbing saya untuk mengenal diri sejati. Tulisan anda diatas membuat semuanya terang benderang.

    Rahmat dan Berkah Allah beserta anda.

    Wass Wr Wb
    Rudy Firmanto

  16. razuka says:

    @ Mas Her > :”man arafah nafsahu faqad arafah rabbahu…” itu sebenarnya menujuk kepada manusia yg dapat ” memaknai diri ” tdk dlm mengkaji diri😆

  17. eta says:

    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
    Assalammualaikum.

    Quote: Mereka-mereka yang telah dianugerahi Ruh Al-Quds mempunyai kemewahan yang tiada tara: bisa berdialog (bukan monolog maupun meminta secara sepihak saja) dengan Allah langsung tanpa melalui ‘birokrasi’ malaikati apapun (jelas, karena kedudukannya jadi lebih tinggi dari malaikat). Allah akan berkenan menjawabnya langsung (lihat [2] : 253 di atas).
    —–
    Ayat 2:253 secara spesifik dan terangan merujuk kepada Rasul/ Messengers (sama ada dari kalangan manusia/malaikat-Wallahuallam) yang menjadi pilihan Allah SWT dan tidak merujuk kepada manusia secara amnya. Untuk manusia secara amnya, rujuk tafsir ayat Al Quran berikut: As Shura (41):51-52
    Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir [2] atau dengan mengutus seorang utusan [malaikat] lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (51) Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu [Al Qur’an] dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab [Al Qur’an] dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (52)

    Mengikut tahap keimanan, pastinya para sahabat Rasulullah SAW seperti Abu Bakr, Umar Al Khattab , Utman Al Affan, Ali Abi Talib (ra) ternyata lebih tinggi daripada umat Islam yang lain seperti hadith Rasullulah SAW dalam Sahih Muslim, Kitab Keutamaan sahabat, no 4601.
    Dan telah menceritakan kepadaku Al Hasan bin ‘Ali Al Hulwani; Telah menceritakan kepada kami Azhar bin Sa’ad As Samman dari Ibnu ‘Aun dari Ibrahim dari ‘Abidah dari ‘Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya lagi, -aku tidak tahu- beliau menyebutkan generasi setelah beliau tiga kali atau empat kali.- lalu beliau bersabda lagi: ‘kemudian akan datang generasi setelah mereka yang mana persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya, atau sebaliknya.’
    Namun, tiada riwayat (setahu saya) yang menyatakan bahawa ada antara para sahabat yang dapat berbicara secara langsung dengan Allah SWT. Cuma, Al Farooq, Umar Al Khattab r.a dianugerahi Allah dengan kelebihan dari sisiNya iaitu ilham dari Allah untuk beberapa hukum Islam yang termaktub. Contohnya, seruan azan dan pemakaian hijab wanita seperti hadith Rasullulah SAW dari Riwayat Muslim, kitab keutamaan sahabat no. 4411
    Telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir Ahmad bin ‘Amru bin Sarh; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb dari Ibrahim bin Sa’ad dari Bapaknya Sa’ad bin Ibrahim dari Abu Salamah dari ‘Aisyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: di kalangan umat-umat yang terdahulu sebelum kalian, terkadang ada orang-orang yang mendapat ilham. Apabila di kalangan umatku terdapat beberapa orang yang mendapat ilham, maka Umarlah salah satunya. lbnu Wahab berkata; Yang dimaksud dengan muhaddatsuun dalam hadits tersebut adalah orang-orang yang mendapat ilham. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id; Telah menceritakan kepada kami Laits; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami ‘Amru An Naqid dan Zuhair bin Harb keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah keduanya dari Ibnu ‘Ajlan dari Sa’ad bin Ibrahim melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa.
    Malahan, Rasullah SAW sendiri menerima wahyu melalui perantaraanNya iaitu Malaikat Jibrail a.s kecuali wahyu tentang solat 5 waktu yang secara terus dengan Allah SWT sewaktu Isra’ Mikraj.
    Sebarang kesilapan/kekurangan dalam komen saya disini adalah kelemahan saya sendiri dan saya pohonkan keampunan Allah swt. Wallahuallam.

  18. m kurniadi (medan) says:

    asw, s.a.w alhamdulilah hi robil alamin… terima kasih penjelasan yg begitu teliti. sungguh bagi yg erti akan faham. bagi yg gak erti belum waktunya. itulah islam yg sejati yg bisa menyempurnakan semua agama( pegangan/ kepercayaan). sekarang orang mala terbaliki. itu hebatnya si setan.. seperti talaikat, tasawob yg diajar sahabat rosul abu bakar siddiq itu ilmu batin..itulah ilmu yg bisa bawa mati jasad. makanya tuntutlah ilmu sampai liang lahat.

  19. elfan says:

    nafs atau nafsu atau jiwa adalah akibat adanya pertemuan ‘roh’ dengan jasad. roh adalah unsur positif dan jasad adalah unsur negati, dan dengan bertemunya kedua unsur ini maka ‘muncul’-lah nafs atau nafsu atau jiwa.

    nafsu adalah seperti ‘cahaya’ pada bola lampu yang sifatnya netral sehingga cahayanya bisa dibesarkan dan bisa dikecilkan. cahanyanya besar dan terang jika jiwa tersebut dikuasai oleh unsur positif atau unsur roh, maka jadilah nafsu kita disebut nafsu muthmainah (QS. 89:27).

    nafsu atau cahaya bisa juga agak terang dan agak gelap maka posisi nafsu dalam keadaan labil alias nafsu orang awam yang tingkat pengaruh nafsu pun turun naik maka kita sebut nafsu lawwamah (QS. 75:2).

    terakhir nafsu yang sepenuhnya dikuasai oleh unsur jasad atau disebut nafsu amarah (QS.12:53) dikondisi seperti ini berarti kita sudah berada di bawah komanda hawa,

  20. BISMILLAH ALHAMDULILLAH.. ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULAHI WABARAKATUH..!!! BENAR..!!! MAKHLUK YG PALING MULIA DI JADIKAN OLEH ALLAH ADALAH MANUSIA..!!! KERNA ITU MALAIKAT SUJUD TANDA HORMAT KEPADA ADAM MANUSIA PERTAMA DI SEBABKAN MANUSIA ADALAH ROH NYA ALLAH, BERASAL DARI ALLAH, KEMBALI KEPADA ALLAH.. INNA LILLAHI WAINNA ILAIHI RAJI’UN..!!!

  21. Ikhwan Jakarta says:

    Mereka disuruh sujud ke adam bukan karena adam manusia tapi Allah menyuruh mereka sujud karena ada sebagian Ruh dia disana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s