Makna ‘Kafir’ dan ‘Syuhada’ : ‘Kafir’ Tidak Dengan Sendirinya Berarti Orang Yang Tidak Beragama Islam

Herry Mardian, Yayasan Islam Paramartha.

Sahabat sekalian, sering sekali kita menyebut orang yang tidak beragama Islam sebagai ‘kafir’. Itu yang diajarkan sejak kecil pada kita. Dan makna yang tidak tepat ini turun temurun diwariskan dari generasi ke generasi, pada akhirnya kita menerimanya dengan taken for granted saja, dan tidak memeriksa lagi kebenarannya.

Seandainya kita mau membuka Al-Qur’an dan mencari definisi qur’aniyahnya, maka akan kita temukan bahwa makna kata ‘kafir’ sebenarnya sama sekali tidak terkait dengan perbedaan agama secara langsung.

 

A. Makna ‘Kafir’

Mari kita buka Al-Qur’an. Kita biasakan mencari definisi qur’aniyah dari segala istilah agama yang kita kenal. Dengan demikian, kita akan terbiasa untuk membuka Al-Qur’an dan pelan-pelan Insya Allah kita akan merasakan Al-Qur’an benar-benar berfungsi bagi kehidupan kita. Kita belajar untuk memahami agama ini, bukan sekedar menghafal dalil-dalil agama yang belum tentu benar, apa lagi menggunakannya untuk, misalnya, mendebat orang lain. Ini tentu bukan hal yang baik.

Definisi qur’aniyyah dari kata ‘orang kafir’, bisa kita temukan di surat Al-Kahfi ayat 100 dan 101.

18:100
18:101

Q.S. 18:100, “dan Kami tampakkan Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir (Al-Kafiriin) dengan jelas.”

Q.S. 18:101, “yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari ‘zikri’ (diterjemahkan di terjemahan qur’an bahasa Indonesia dengan kata ‘memperhatikan’) terhadap tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.”

Dari dua ayat di atas, kita dapatkan definisi qur’aniyyah dari kata ‘kafir’. Al-Kafiriin, atau orang-orang kafir, adalah mereka yang matanya tertutup dari ‘zikri’ terhadap tanda-tanda kebesaran Allah, dan telinganya tidak sanggup mendengar.

Jika demikian, apakah orang yang kebetulan ketika lanjut usia ia menjadi tuli atau menjadi buta karena usia tua, apakah ia berarti ditakdirkan akan mati dalam keadaan kafir? Atau, jika seseorang kebetulan ditakdirkan tuli atau buta sejak lahir, apakah artinya ia ditakdirkan untuk hidup sebagai orang kafir? Sebab sama sekali bukan keinginannya untuk dilahirkan sebagai orang buta atau tuli. Apakah Allah menakdrkannya kafir karena kebetulan lahir sebagai orang tuli atau buta?

Tentu jawabannya tidak. Semua orang, termasuk mereka yang buta atau tuli, diberi-Nya kesempatan untuk mati kelak dalam keadaan diridhoi-Nya.

Jika demikian, mata dan telinga mana yang tertutup?

Jawabannya bisa kita dapatkan pada Al-Qur’an surat Al-Hajj (22) ayat 46.

22:46

Q.S. 22:46, “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah qalb-qalb mereka (quluubun) yang ada di dalam dada.”

Dari definisi Qur’an tersebut, yang disebut ‘kafir’ bukanlah orang yang berbeda agama. Yang disebut kafir adalah mereka yang mata dan telinga qalb di dalam dadanya tidak berfungsi. Asal kata ‘kafir’ dan ‘kufur’ adalah ‘kafara’ yang artinya ‘tertutup’ (kata ini jkemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi ‘cover’ artinya penutup). ‘Kafir’ adalah mereka masih yang tertutup dari ‘Al-Haqq’ (kebenaran mutlak).

Mata dan telinga yang di dalam dada, maksudnya adalah mata dan telinga yang adanya bukan pada level jasad kita, tapi lebih dalam lagi. Mata dan telinga yang dimaksud adalah mata dan telinga yang ada dalam qalb kita, dalam dada/shuduur, yang ada pada level jiwa (nafs). Shuduur artinya ‘dada spiritual’, sebagaimana hati yang biasa kita kenal bukanlah liver maupun jantung, tapi lebih kepada ‘hati spiritual’ seperti nurani.

Jiwa atau nafs itu, jiwa yang mana? Kita mengetahui, bahwa ada tiga unsur yang dipersatukan dalam membentuk satu manusia yang hidup, yaitu Ruh, Nafs (jiwa), dan Jasad. Jiwa inilah, yang diabadikan dalam Q.S. 7:172, yang dahulu sekali disumpah di hadapan Allah untuk menjadi saksi (syahid, perhatikan kata bahasa arabnya: syahidna, kami bersaksi) mengenai siapakah Rabb mereka.

7:172

Q.S. 7:172, “Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil persaksian terhadap nafs-nafs (jiwa-jiwa, anfusihim) mereka: “Bukankah aku ini Rabb-mu?” Mereka menjawab, “Betul, kami bersaksi (syahidna)”.

Nafs, atau jiwa, inilah yang diminta persaksiannya dahulu, dan kelak akan diminta pertanggungan jawabnya ketika mati. Sementara pada saat itu jasad kita terurai menjadi tanah, dan ruh kita yang menjadi daya hidup bagi jasad (fungsinya mirip seperti energi yang ada pada baterai) kembali pada-Nya. Kita tidak mengetahui apa-apa tentang ruh, karena ruh adalah urusan Allah. Disebutkan dalam Q.S. 17 : 85, “Katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan (tentangnya) melainkan sedikit.”

Dengan demikian, barangsiapa yang mata dan telinga yang ada dalam dadanya ini belum berfungsi, pada dasarnya ia masih ‘kafir’, atau tertutup. Ia tidak akan bisa memahami petunjuk Allah, karena petunjuk Allah diturunkan bukan ke telinga dan mata jasad kita, tapi ke ‘mata dan telinga’ qalb pada level jiwa (nafs) kita.

Dasar dari hal ini bisa kita lihat dalam surat At-Taghabuun ayat 11:

64:11

Q.S. 64:11, “… Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada qalb nya (di terjemahan qur’an ditulis: ‘kepada hatinya’).”

Dan, barangsiapa yang mata dan telinga dalam dadanya belum berfungsi, dia tidak akan mampu memahami Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya, karena Al-Qur’an sebenarnya bukan untuk dihafal dalam otak. Sebagaimana yang dialami Rasulullah, Al-Qur’an diturunkan ke dalam dadanya. Rasulullah seorang yang buta huruf, tapi bagaimana Beliau saw. bisa memahami Al-Qur’an hingga ke hakikat terdalamnya? Karena Al-Qur’an seharusnya, dan sesungguhnya, ada dalam dada, bukan dalam kepala.

29:49

Q.S. 29:49, “Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang nyata dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.”

Al-Qur’an dalam dada (qalb di dalam shuduur/dada) kita inilah yang akan kita bawa hingga ke akhirat kelak, dan bukan Al-Qur’an yang dihafalkan dalam kepala. Ketika mati kelak, otak kita dan segala apa yang ada dalam kepala kita akan hancur menjadi tanah. Kita harus memahami dengan hati hingga ke tingkat makna dan hakikatnya, bukan sekedar menghafalkan dalil-dalil Qur’ani di kepala.

Dari data-data di atas, maka bisa kita pahami makna ‘kafir’. Kata ‘kafir’ bukan berarti mereka yang tidak beragama Islam. ‘Kafir’ adalah mereka yang telinga dan mata dalam dadanya belum berfungsi, sehingga tertutup dari Al-Haqq (kebenaran mutlak, kebenaran Ilahiyah). Dengan demikian, bahkan saya sendiri masih kafir karena mata dan telinga jiwa saya belum berfungsi dengan baik, belum sempurna dalam melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, dan belum memahami Al-Qur’an dengan sempurna.

Untuk memperkuat bahwa makna ‘kafir’ sebenarnya ada dalam konteks ketertutupan qalb dan tidak secara langsung terkait dengan perbedaan agama, kita lihat lagi dua ayat berikut yang sangat terkenal:

Q.S. Al-Baqarah (2) : 6 – 7,

2:6
2:7

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman [6].”

“Allah telah mengunci mati hati (qalb-qalb, quluubihim) dan pendengaran mereka, dan pengelihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat [7].”

Sayang dua ayat di atas sering dijadikan dalil untuk bersikap kurang bersahabat terhadap saudara kita yang beragama lain. Padahal, seandainya kita lebih teliti lagi, kata ‘kafir’ sebenarnya ada dalam konteks ketertutupan hati, bukan dalam konteks perbedaan agama.

Ayat ini sama sekali bukan rujukan supaya kita menunjukkan sikap tidak bersahabat pada saudara-saudara kita dari agama lain. Ayat ini justru memperkuat keterangan tadi, bahwa ‘kafir’ ada dalam konteks ketertutupan qalb, dan bukan dalam konteks perbedaan agama. Bukankah Allah menempatkan dua ayat ini secara berdampingan? Tentu ini sama sekali bukan kebetulan yang tanpa makna. ‘Kafir’ adalah sebuah kondisi (ruhaniyyah) tentang qalb, bukan status (keagamaan).

Jadi, secara sederhana bisa kita katakan bahwa orang kafir adalah orang yang qalb-nya masih tertutup dari Al-Haqq (kebenaran ilahiyah), dan tidak secara langsung terkait dengan orang-orang yang tidak beragama Islam.

Kondisi kafir sendiri bertingkat-tingkat, dari yang sama sekali tidak bisa memahami Al-Haqq, sedikit memahami, agak memahami, cukup memahami, dan seterusnya. Kadar kekufuran seseorang berbeda-beda, tergantung sejauh mana ia mampu memahami kebenaran (ilahiyyah). Kini semakin jelas bahwa kekafiran adalah sebuah kondisi, bukan status.

Karena saya sendiri masih kafir (atau masih banyak kekufuran yang ada dalam diri saya), jelas tidak ada gunanya bagi saya untuk menyebut orang lain, atau orang yang tidak beragama Islam, sebagai orang kafir. Hal ini tidak akan menambah kebaikan apapun bagi diri saya, bahkan justru akan menambah dosa saja.

Apakah orang yang tidak beragama Islam semuanya tidak beriman, semuanya laknatullah, atau semuanya ahli neraka? Belum tentu. Kita harus berhati-hati sekali karena ada ayat-ayat ini dalam Al-Qur’an.

3:199

Q.S. 3:199, “Dan sesungguhnya di antara para ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan kepada mereka, sedang mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Rabb-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungannya.”

3:113
3:114

Q.S. 3:113, “Mereka itu tidak sama; di antara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud.” Q.S.3:114, “Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar, dan bersegera kepada mengerjakan kebaikan. Mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.”

Dan yang membuat kita harus lebih berhati-hati lagi, camkanlah bahwa tidak semua orang yang ber-Islam dengan sendirinya telah beriman. Kita perhatikan ayat berikut ini:

49:14

Q. S. 49 : 14, “Orang-orang Arab (badui) itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah ber-Islam’ (perhatikan teks Qur’an-nya: ‘aslamna’ artinya ‘kami telah berserah diri’, di terjemahan Indonesia menjadi ‘kami telah tunduk’), karena iman itu belum masuk ke dalam qalb-qalb mu (quluubikum)…”

Perhatikanlah pada ayat di atas, bahwa beriman hingga masuk ke hati itu setingkat di atas tingkatan Islam. Dengan demikian, bisa jadi seseorang telah ber-Islam, tapi belum tentu dia memiliki iman.

Jadi menurut saya, mengatakan kafir pada orang lain meskipun mudah di lidah, bisa jadi merupakan hal yang beresiko besar untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala kelak. Di sisi lain, kita tidak perlu marah jika seandainya dihujat sebagai kafir, karena sangat mungkin memang masih banyak kekufuran dalam diri kita ini.

 

B. Makna ‘Syuhada’

Kata ‘syuhada’, dalam buku agama Islam di masa sekolah dasar saya dulu, maknanya diartikan sebagai orang yang gugur di medan perang melawan ‘musuh Islam’. Maka ketika dewasanya orang berlomba-lomba ingin berperang (atau membuat perangnya sendiri dan musuhnya sendiri) karena ingin mati sebagai syuhada, yang jaminannya adalah surga.

Ada sebuah hadits yang ‘menggelitik’:

“Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya”. (Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya).

Bagaimana mungkin mati di tempat tidur mendapatkan derajat kematian seperti seorang syuhada? Atau hadits berikut ini:

“Kebanyakan orang yang syahid dari ummatku, ialah mereka yang mati di tikar tidurnya. Dan banyak pula orang yang terbunuh di antara dua baris perang, yang Allah Maha Mengetahui apa niat sebenarnya”. (HR Ahmad dari Ibnu Mas’ud)

Bagaimana mungkin, sebagian besar syuhada justru meninggal di atas tempat tidurnya? Dan Rasulullah sendiri yang mengatakan hal ini.

Ini bisa kita pahami, jika kita teliti Al-Qur’an. Kata ’syuhada’, akar katanya sama dengan kata pada syahadat kita ‘Asyhadu’, artinya bersaksi, mempersaksikan dengan sepenuh kepercayaan, dengan sepenuh keyakinan (mengenai Tuhannya). Kata ’syuhada’ tidak semata-mata berarti orang yang mati di medan perang. Kata ’syuhada’ berarti ‘orang yang telah mempersaksikan (dengan sebenar-benarnya)’.

Di Al-Qur’an ayat 7 : 172 tadi, ketika Allah mengambil persaksian dari jiwa-jiwa manusia, kata yang dipakai adalah Asyhadahum ala anfusihim’, mengambil persaksian atas jiwa-jiwa mereka. Dan jiwa-jiwa tersebut menjawab, ‘Qaalu, bala syahidna,” benar, sesungguhnya kami bersaksi.

Demikian pula kata yang sama (syuhada) dipakai dengan jelas di Q.S. Al-Hadiid ayat 19,

57:19

Q.S. 57:19, “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya, mereka itu orang-orang Shiddiqiin dan ‘syuhada inda Rabbihim’ (menjadi saksi di sisi rabb mereka), bagi mereka pahala dan cahaya mereka…”

Maka jelas bahwa ‘syuhada’ berarti orang yang mempersaksikan (kebenaran Ilahiyah). Menjadi syuhada tidak harus melalui peperangan. Seorang yang meninggal di atas tempat tidurnya pun bisa menjadi seorang syuhada, asal ia benar-benar memintanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

Di zaman Rasulullah, mereka yang gugur ketika berniat mengorbankan jiwa mereka untuk Allah melalui jalan yang tersedia dan dibutuhkan ummat pada masa itu (berperang), yang pengorbanannya diterima oleh Allah, dianugerahi sebuah ‘penyaksian (akan kebenaran/Al-Haqq)’ melalui gugurnya mereka di medan perang. Namun demikian, belum tentu jalan pengorbanan yang paling dibutuhkan ummat pada setiap masa adalah berperang.

Dengan demikian, belum tentu setiap orang yang gugur di medan perang adalah ’syuhada’, jika pada saat kematiannya tidak dianugerahi sebuah penyaksian akan Al-Haqq. Juga hal ini berimplikasi bahwa banyak cara lain menjadi seorang ’syuhada’ selain melalui peperangan. Di atas semua itu, sudah tentu lebih bisa kita pahami sekarang mengapa orang yang telah berhasil menjadi seorang ‘syuhada’ maka jaminannya adalah surga.

Semoga bermanfaat,

Herry Mardian,
17 Februari 2006.

Makna ‘Kafir’ dan ‘Syuhada’ : ‘Kafir’ Tidak Dengan Sendirinya Berarti Orang Yang Tidak Beragama Islam

84 thoughts on “Makna ‘Kafir’ dan ‘Syuhada’ : ‘Kafir’ Tidak Dengan Sendirinya Berarti Orang Yang Tidak Beragama Islam

  1. widya says:

    Saya sangat menyukai tulisan2 yg ada di blog ini dan sudah membacanya sejak masih di blogspot. Alhamdulillah, dengan membacanya saya lebih banyak mengerti tentang kebesaran Allah dan dapat memandang sesuatu dari angle yg berbeda walaupun saya sendiri masih kafir. Semoga blog ini terus ada supaya saudara-saudara kita mendapatkan kebaikan dengan membacanya. Amin.

  2. Administrator says:

    Terimakasih banyak mbak/mas widya… semoga Allah semakin menambah hasanah-hasanah dalam diri kita dan semakin membuang sayyi’ah-sayyi’ahnya.. amiin.

  3. Saya sangat seneng ngebaca tulisan ini, dan ceramah tentang ini juga pernah saya denger dari Emha (Cak Nun). Saya menyadari kalau saya juga masih kufur.

  4. Robby says:

    >
    –> saudaraku, ayat ini ditujukan kepada ahli kitab pada zaman sebelum turunnya rasulollah. Bukan setelahnya. Dan ahli kitab yang di maksud disini pun beragama Islam, Ibrahim, Musa,Daud, Isa semua islam. apalagi setelah Rasulullah turun ajaran islam pun disempurnakan syariah, hukum2 dsb, tetapi bukan Aqidah.

    >>Apakah orang yang tidak beragama Islam semuanya tidak >>beriman, semuanya laknatullah, atau semuanya ahli neraka? >>Belum tentu. Kita harus berhati-hati sekali karena ada >>ayat-ayat ini dalam Al-Qur’an (Q.S. 3:199)

    Pernyataan ini saya rasa sangat berbahaya terhadap aqidah, karena ini bisa jadi pembenaran untuk orang pindah agama (murtad) karena, dari statement anda ini orang beragama lain selain islam mungkin masuk surga. padahal Alloh jelas2 berfirman “Inna Diina indAllohil Islam.” Sesungguhnya hanya islamlah agama di sisi Alloh SWT.

    Kalau saya boleh berkeinginan, lebih baik akhi lebih banyak menulis tentang pelajaran membaca al qur’an, fiqih islam dan aqidah. karena masih sangat banyak dan bertambah banyak saudara se islam yang makin jauh dari pelaksanaan syariah (hukum2 dan fiqih), terutama anak2 muda generasi penerus kita.

    bahkan saya sangat yakin tingkat buta baca qur’an di indonesia lebih tinggi dari buta huruf latin. Bagaimana islam bisa dipahami secara benar jika baca
    qur’an saja tidak bisa. Sedangkan Al Qur’an adalah sumber hukum dari Islam disamping al hadits sebagai penjelasan lebih detail. Bukankan keterpurukan negeri kita ini akibat dari makin jauhnya umat islam dari tuntunan Al Qur’an dan Hadits?

    Mohon maaf atas rendahnya ilmu islam saya, tetapi insya Alloh saya sangat yakin dengan Aqidah saya.

    Wassalam
    Robby

    ”Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasanya.” (QS Az-Zalzalah: 7-8).

  5. Yang mas tuliskan diatas dekat sekali dengan yang disampaikan mas ayang utriza.

    Von: ayang utriza Gesendet von: returns.groups.yahoo.comAntwort an: ppiprancis@yahoogroups.com
    An: ppiprancis@yahoogroups.com
    Datum: 13.03.2006 12:06
    Betreff: [ppiprancis] kafir, diskusi keagamaan, dll…
    Antworten | Allen antworten | Weiterleiten | Drucken | Absender den Kontakten hinzufügen | Nachricht löschen | Phishing melden | Original anzeigen | Verzerrter Text in Nachricht?

    aku mau ikutan,

    aku gak tahu hanif ini siapa? maaf. tapi kayaknya ada penafsirannya tentang kafir yang membuat saudara-saudara saya nashrani ‘tersinggung’. sebelum ngomentari masalah ini, saya tidak setuju kalau di milis ini tidak ada diskusi keagamaan, biarkan saja, mengapa harus dilarang? jangan kayak soeharto ah…semua dibilang SARA jadinya orang emoh membicarakan masalah agama, tahu-tahu sudah bunuh-bunuhan, justru agama harus dibicarakan secara terang-terangan dan jujur-jujuran. kan milis ini untuk mendewasakan para anggotanya. yang kita tolak ialah diskusi keagamaan yang menghakimi keyakinan orang lain apalagi sampai menghinanya.

    Sepanjang dialog agama itu ialah mengungkapkan keagungan keagamaan kita dan kita mencari nilai dan titik persamaan untuk kita jadikan pijakan bersama membangun keadilan dan dunia yang lebih ramah kenapa tidak (baca tulisan saya di kompas ‘natal dan kerukunan antaragama, 23 desember 2005). intinya, justru dialog agama harus lebih diintensifkan di mana pun dengan syarat yaitu tadi saling menghargai yaitu dengan semangat pluralisme……

    mengenai masalah kafir, ini panjang kalau mau didiskusikan (capek aku nulisnya…) tapi begini dulu menganggap orang bukan Islam kafir seperti hanif itu muncul dari keyakinan bahwa ‘agamaku lah yang paling benar’ dalam dialog agama tidak ada kata seperti ini. ini akan membuntukan dialog agama di mana pun dan kapanpun. bukankah jika umat islam dilihat dari keagamaan orang lain apa itu nashrani, yahudi atau budha dan hindu adalah kafir juga? aku menolak keras menggunakan istilah-istilah seperti itu tanpa mengetahui secara mendalam apa makna itu secara keilmuan dalam Islam……..

    kafir secara bahasa arab artinya menghapus, yaitu orang-orang yang menolak kebenaran. jadi umat Islam yang menolak kebenaran agamanya sendiri atau mengingkari ajaran agamanya sendiri juga kafir… seperti orang yang korup, zina, mencuri, menyakiti orang lain, berbohong, dstnya juga disebut kafir (orang yang menolak kebenaran agamanya sendiri) ……
    dalam alquran (surat albaqarah, juz pertama, pojok kiri atas lembar kelima kalau tidak salah) allah berfirman ‘orang majusi, zoroaster, yahudi, nasrani, islam semua masuk surga……….

    sudah dulu, capek aku menghadapi orang-orang islam fundamentalis yang menganggap dunianya paling benar sendiri………

    ayang
    guru ngaji dan tukang khutbah di kampung, tamatan UIN Jakarta, Kairo dan Paris…..

  6. Pencari Makna Qur'an says:

    “innalladziina kafaru min ahlil kitab wal muyrikiina fi naari jahannam khalidina fiha”

    Kalau “Kafaru” memang bermakna “mereka yang masih tertutup qalb-nya/qalb-nya masih belum melihat kebenaran”, maka bermakna lebih dalam:

    “Sesungguhnya ‘mereka yang masih tertutup qalb-nya’ dari para ahli kitaab dan musyrikiin, dalam api jahannam. Dan mereka kekal di dalamnya.”

    Justru mendukung apa yang diungkapkan kang herry…

    Mmakasih kang herry…

  7. Jawaban

    Saudaraku, Ya akhi,

    Di sisi mana ya, artikel itu membenarkan tindakan orang yang berpindah agama? Ad-Diin Al-Islam adalah Diin penyempurna dan penutup dari Diin-diin sebelumnya.

    Ketika orang sudah banyak yang melupakan esensi Diin yang dibawa Musa As (Yahudi), Allah menurunkan penyempurnanya supaya orang kembali melihat esensi ad-diin, melalui kenabian Isa as. (Nasrani). Ketika ummat nabi Isa as. sudah banyak yang melupakan esensi agamanya, Allah pun menurunkan Diin penutup dan penyempurna, melalui kenabian Muhammad Saw.

    Kita ditakdirkan-Nya menjadi ummat Muhammad Saw, yang membawa diin penyempurna dan penutup. Lalu untuk apa pindah memeluk diin para Nabi sebelum Muhammad Saw?

    Kalau ayat itu ditujukan untuk ummat sebelum Muhammad, untuk apa diturunkan kepada Muhammad? Selain itu, jika ayat itu hanya untuk ummat sebelum Rasulullah Saw, artinya ada ayat dalam Al-Qur’an yang tidak relevan untuk kita. Tidak mungkin.

    Masalahnya adalah, sejak zaman ummat Musa as, ummat Isa as, bahkan hingga ummat Muhammad Saw, adalah semakin banyak orang yang melupakan esensi beragamanya. Agama berubah menjadi hanya dalil-dalil yang dihapalkan, diwacanakan atau diperdebatkan. Atau dilaksanakan hanya sebagai kewajiban yang dilakukan tanpa pengertian dan pemahaman yang mendalam.

    Tentang masalah di atas, ada baiknya sahabat-sahabat membaca artikel ini juga:

    Golongan Yang Selamat Dalam Islam, Golongan Mana?

    Sumber pemahaman Ad-Diin, tidak bisa tidak, memang adalah Al-Qur’an dan hadits. Hanya sayangnya, orang hanya menjadikan sumber-sumber itu sebagai dalil untuk dihafalkan, bukan untuk dipahami secara hakiki. Tapi Al-Qur’an bukanlah kitab sembarangan. Hanya para hamba Allah sajalah yang mampu menyentuh maknanya secara hakiki. Silahkan baca artikel yang ini.

    Kesempurnaan seseorang dalam beragama tidaklah diukur dari sebanyak apa dalil-dalil yang bisa dia hafalkan, melainkan dari seberapa jauh ia bisa tertransformasi melalui agamanya.

    Wassalaam,
    Herry

  8. Ilham Daeng Sannang says:

    kalau dari Ali Imran 199, sebenarnya tidak akan muncul perbedaan pendapat, karena tegas2 disebutkan bahwa “di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu (Muhammad)…” Apakah yang diturunkan kepada Muhammad? Al-Quran. Berarti, kalau ahli kitab itu beriman kepada Al-Quran (sehingga otomatis beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad–yakni bersyahadat, dan lalu diikuti oleh amal saleh sebagai bukti imannya) mereka akan mendapat pahala di sisi Tuhan. Tidak ada masalah.

    Yang berpotensi menimbulkan perbedaan pendapat (menyangkut apakah ahli Kitab akan selamat atau tidak di akhirat) adalah ayat2 ini: Q.S. 3:113, “Mereka itu tidak sama; di antara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud.” Q.S.3:114, “Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang maruf dan mencegah kepada yang munkar, dan bersegera kepada mengerjakan kebaikan. Mereka itu termasuk orang- orang yang saleh.” QS 2: 62 “Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

    dalam tiga contoh ayat Al-Quran di atas (masih ada ayat2 lainnya), yang disebutkan tegas-tegas sebagai syarat mendapat pahala akhirat adalah (1) beriman kepada Allah, (2) beriman kepada hari akhir, dan (3) beramal saleh. Nah, ada yang menafsirkan bahwa ayat ini menerangkan nasib ahli kitab sebelum diutusnya Nabi Muhammad. Tapi ada pula yang memahaminya lebih luas: yakni bahwa ayat ini juga merujuk pada ahli kitab pada saat dan sesudah kedatangan Nabi dan seterusnya, karena ayat-ayat tersebut tidak tegas2 mensyaratkan keimanan kepada risalah Muhammad (hanya disebutkan beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh).

    Penafsiran yang terakhir ini dibantah pula, yakni bahwa orang yang beriman pada Allah, otomatis harus beriman pada rasul yang diutus Allah, yakni Nabi Muhammad Saw.

    Saya sendiri masih belum mendapatkan jawaban tuntas mengenai keselamatan ahli kitab ini, sebagaimana saya juga belum mendapatkan jawaban tuntas mengenai keselamatan diri saya sendiri di akhirat. Hanya saja, saya yakin bahwa jika seorang hamba–apa pun agamanya–bersungguh-sungguh mencari Allah, mendambakanNya, dan mendedikasikan sepenuh hidupnya kepadaNya, tetapi ternyata gambarannya tentang Allah itu salah, amalnya itu tidak akan disia-siakan oleh Allah.

    Allah akan melihat jerih payahnya dalam menemukanNya, bukan hasil temuannya itu sendiri. boleh jadi hasil temuannya salah, tapi bukan berarti jerih payahnya menemukan Allah itu akan disia-siakan. Mudah2an ini dapat dianggap sebagai bentuk prasangka baik kita kepadaNya.

    sebagaimana saya takut tidak diselamatkan di akhirat, saya pun takut manusia-manusia lain tidak diselamatkan. sering saya berpikir dan memohon kepada Allah, agar menyelamatkan saja semua manusia yang Dia ciptakan. Tidak berkurang sedikitpun kemuliaan dan keagungan Dia, kalau manusia semuanya Dia selamatkan. tapi bagaimana dengan keadilanNya?

    mari berdoa supaya kita diperlakukan dengan rahman-rahim dan ampunanNya, bukan dengan murka dan keadilanNya… amin

  9. mia says:

    Alhamdulillah Allah memberi saya kesempatan untuk membaca tulisan ini. Semoga penulisnya selalu berada dalam perlindungan Allah, khususnya dalam hal keimanan. Semoga tulus, semoga ikhlas, semoga terhindar dari beragam penyakit hati yang menodai amalan. Semoga kita semua dijauhkan dari keangkuhan dan rasa aman akan keimanan kita. Amin

    I deeply thank u for this writing. Personally, it means a lot to me!
    (thank u juga untuk tulisan tanggapan dari ilham Daeng .S..)

  10. i’m the one who need to say thanks, mia. Thanks for all your time coming here, reading the article and all the comments… i really appreciate that.😉

    Doa yang sama saya panjatkan untuk mia…

  11. saya setuju, artikel di atas menjelaskan makna “kafir” sebagai orang yang mata dan telinga batinnya “tertutup” dari al-haqq. sekarang tinggal kita telusuri, al-haqq itu apa? apakah agama lain (selain islam) adalah al-haqq? mari kita telaah lagi ayat lain dalam al-quran yang tegas-tegas menggunakan kata kafir, misalnya:

    sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “sesungguhnya allah itu ialah al masih putera maryam”. katakanlah: “maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak allah, jika dia hendak membinasakan al masih putera maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?”. kepunyaan allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; dia menciptakan apa yang dikehendaki-nya. dan allah maha kuasa atas segala sesuatu. (tqs. al-maidah: 17)

    atau

    sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “sesungguhnya allah ialah al masih putera maryam”, padahal al masih berkata: “hai bani israil, sembahlah allah tuhanku dan tuhanmu”. sesungguhnya orang yang mempersekutukan allah, maka pasti allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (tqs. al-maidah: 72)

    siapa yang dimaksud oleh kedua ayat yang tegas di atas sebagai orang kafir? mereka adalah saudara kita yang …

    jadi, mengapa harus takut mengatakan mereka kafir?😛

  12. Pendapat yang baik🙂 terimakasih.

    Sedikit catatan dari saya, tidak semua ummat nabi Isa as setuju bahwa Allah ialah al-masih putra maryam. Ada yang tidak setuju.

    Kalau kita, atau siapapun, mempercayai bahwa Dia yang tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, memiliki anak, maka dengan sendirinya qalb kita menjadi tertutup dari Al-Haqq. Begitu kan di ayat tersebut. Esensinya tetap ke qalb, bukan labelisasi golongan non-muslim.

    ‘Sesungguhnya telah ‘kafir’lah orang-orang yang berkata…’ sebenarnya kan juga maknanya menjadi ‘Sesungguhnya telah ‘tertutuplah qalb’ orang-orang yang berkata…’ dst.

    Jadi rasanya masih belum bisa digeneralisir…

    Lagipula, saya pribadi tidak merasa terlalu penting membahas ‘siapa yang kafir dan siapa yang tidak’. Saya lebih suka mencari tahu apa esensi dibalik istilah-istilah yang dikemukakan Qur’an, dan mencari tahu dengan segala keterbatasan dan ketidakmampuan saya.

    Kenapa ya, kita senang sekali dengan istilah ‘kafir’ dan cenderung menempelkan label tersebut di dahi orang lain? Kalau saya ketika melihat qur’an sedang menerangkan ciri-ciri tertentu kondisi seseorang yang belum ideal di mata-Nya, saya cenderung berfikir, ‘jangan-jangan saya, nih…’.

    Perhatikanlah isyarat yang Allah sematkan di diri kita: ketika kita sedang mengarahkan telunjuk ke orang lain, berhati-hatilah karena jemari lainnya justru menunjuk kepada kita sendiri.

  13. Eri Setiawan says:

    ❓ Maaf, saya rasa anda tidak memahami tafsir Qur’an. Anda hanya menukil ayat tanpa memiliki kemamuan ilmu tafsir dan bahasa arab yang baik. Jika Anda mengatakan kafir “BUKAN BEDA AGAMA” tapi hanya ketertutupan qalb dari kebenaran ini membuktikan anda tidak mamu menafsirkan Quran.

    Jika anda lebih dalam memelajari tafsir yang masyhur, dalil-dalil qathi, serta bukti sirah, maka anda akan dapati “Salah Satu” makna kafir adalah ketika seseorang tertutup qalbunya dari kebenaran Al Islam. Lihat surah 3:85, ” Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

    Untuk beberapa makna kafir yang anda utarakan saya setuju. Tapi jika Anda berpendapat kafir bukan berarti tidak islam adalah salah besar

  14. heard that before🙂

    3:85, “waman yabtaghi ghayral-islaami diinan, falan yuqbalu minhu, wa huwa fil akhirati minal khaasiriin.”

    Barangsiapa yang memilih selain diin islam, tertolak, dan kelak ia termasuk ‘khasiriin’, bukan kafiriin.

    oh ya, saya bukan mufassir, memang. Nggak pernah ngaku ahli tafsir juga…

    Tapi thanks anyway…

  15. wisnu says:

    Wah gitu aja kok repot… (Maaf Gus Dur, pinjem kalimatnya)
    Tuhan kita (islam) maupun Tuhan mereka (nasrani, hindu, budha, dkk) adalah satu sesuai dengan kesaksian kita dalam syahadat..
    Kalau sedikit saja terbersit di hati kita bahwa ada perbedaan antara Tuhan kita dan Tuhan mereka, maka haruslah dipertanyakan siapakah sesungguhnya yang kafir… Lanjut terus mas Herry, tulisan-tulisan anda insyaAllah dapat menjadi bimbingan..

  16. cheers says:

    Saya suka nih baca tulisan mas herry, soalnya tidak menyinggung orang lain. ya cuman mencoba sharing pendapat. Masalah agama kok diributin. Agama Islam diturunkan kan untuk menyempurnakan agama sebelumnya ibarat jalan menuju Allah itu lebih dipermudah ditunjukan lebih detail, yang mana agama agama sebelumnya itu tidak gamblang menunjukan ajaran ajarannya. Kalaupun ada orang pindah agama dari islam ke agama lain asalkan dia mengerti betul apa yang dia lakukan kenapa tidak, memang sebetulnya tidak perlu karena sudah diberi jalan yang lebih mudah kok masih suka yang lebih panjang. tapi kalau itu jalan yang dia pilih why not ? Cheers

  17. zal says:

    :roll:Maaf Mas Ery Setiawan, letaknya qolbu itu dimana ya…?, bagaimana caranya kita mengetahui kalau sudah terbuka…atau masih tertutup…?, apa kalau sudah hafal baca Al-Quran, seperti anak saya..berarti sudah terbuka qolbunya…., maaf..ya.. soalnya ada kalimah Allah..”antara manusai dan qolbunya ada hijab…”…lha saya mau nya kemana..kalau begini…yang mana manusia dan yang mana qolbu…oh..ya saya juga bukan mufassir…..(lebih baik saya ngaku aja sebelum diprotes…)

  18. Bismillahirahmannirrahim… Subhanallah dari segala prasangka dan ketercelaan manusia…

    saya telah membaca artikel ini.. ada yg mengganggu dalam benak saya, yaitu : “Karena saya sendiri masih kafir [*1](atau masih banyak kekufuran yang ada dalam diri saya), jelas tidak ada gunanya bagi saya untuk menyebut orang lain, atau orang yang tidak beragama Islam, sebagai orang kafir. Hal ini tidak akan menambah kebaikan apapun bagi diri saya, bahkan justru akan menambah dosa saja.

    Apakah orang yang tidak beragama Islam semuanya tidak beriman, semuanya laknatullah, atau semuanya ahli neraka? Belum tentu.[*2] Kita harus berhati-hati sekali karena ada ayat-ayat ini dalam Al-Qur’an.

    Pertanyaan saya adalah:
    1.Mengapa meragukan keimanan anda ?? [*1] Bukankah kita seharusnya memperbaikinya ktika kita mengetahuinya??
    Bukankah jelas bahwa dasar-dasar yg menjadi syarat-syarat keimanan adalah, meyakini (meng-imani) rukun islam, iman, ihkhsan dan yang Ghaib ??
    2. Kenapa anda begitu “YAKIN” [*2] kalau orang-orang diluar Islam belum tentu Kafir ??? bagaimana anda menjelaskan orang-orang Israel/Yahudi yang sampai hari ini masih memerangi bangsa Palestine, masih disebut “BELUM TENTU KAFIR” ??? yang jelas-jelas memerangi saudara se-Iman kita!
    Bukan-kah jelas yang digambarkan 4JJ1 SWT dalam Surah Al-Baqarah tentang Bani Israil (itu sebabnya dinamakan Al-Baqarah (Sapi Betina) karena ke-Ngeyelan Bani Israil terhadap Perintah 4JJ1 saat itu!?
    Bukankah jelas bahwa “Walantardha ankal yahudu walannashara hatta tattabi’a millatahum” (Tidak-lah ridho orang-rang yahudi & nasrani kepada kamu sampai kamu mengikuti ‘millah’ (ajaran) mereka…” (QS 2:??)

    + Nah! bagaimana anda menjelaskan ‘beberapa hal diatas’ bila org diluar islam belum tentu Kafir ???

    3. Bukankah Kafir itu terbagi 2 golongan ? Harbi & Dzimni ?? kalau menurut artikel yang anda tulis ini “yang tertutup” itu kafir… golongan yg manakah kita yg masih kafir???


    Memang benar dan saya setuju kita harus berhati-hati dalam hal mengkafirkan orang lain. Tapi, bukankah sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an tentang orang-orang diluar Islam???

    – Mas Wisnu, yth : “Wah gitu aja kok repot… (Maaf Gus Dur, pinjem kalimatnya)
    Tuhan kita (islam) maupun Tuhan mereka (nasrani, hindu, budha, dkk) adalah satu sesuai dengan kesaksian kita dalam syahadat..
    Kalau sedikit saja terbersit di hati kita bahwa ada perbedaan antara Tuhan kita dan Tuhan mereka, maka haruslah dipertanyakan siapakah sesungguhnya yang kafir… Lanjut terus mas Herry, tulisan-tulisan anda insyaAllah dapat menjadi bimbingan..”

    Apa itu paham pluralisme?? Kalau yg dimaxud Tuhannya Manusia adalah 4JJ1 SWT adalah benar! (sesuai dalam Al-Qur’an) “wama khalqtuljinna wal insa illa liya’buduun”

    – Pak Zal, yth : “Qalbu” bukankah hati?? bukankan kita disuruh membaca doa agar kita terlindung dari kedengkian, hasat, dan terbulak-baliknya hari dari kebenaran ?

    Usulan: Hendaknya dalam hal pembahasan seperti ini lebih disertakan pada hasil ijtihad imam-imam besar yang sholeh dan dari hasil-hasil tafsir para mufasirin yang sholeh. Karena bila salah, dapat mengkaburkan pemahaman kepada Ummat.

    Nabi SAW berpesan dalam hadistnya (Buku Qobasun min-nuri muhammad/1100 Hadits) “barang siapa tanpa ilmu mengartikan Al-Qur’an dan ia benar, maka ia berdosa. Dan barang siapa yang mengartikan Al-Qur’an dan ia salah maka masuk neraka”

    Wallahu’alam bisawaf…!!
    Semoga 4JJ1 SWT senantiasa memberi Nur kebenarannya kepada kita semua. amin!

  19. zal says:

    😀 Thanks, Bang Chairul… jika saya mengambil posisi, saya adalah masih kafir, sebab keislaman saya dari keturunan. Biarlah Tuhan saya saja yang menetapkan posisi saya.

    jika saya ikuti blog ini, adalah rangkaian-rangkaian pertemuan putik yang jika dikehendaki-NYA semoga menjadi suatu pohon/bunga yang baru, dan mungkin akan layu lagi setelah bersemi dalam paduan bunga yang baru lagi…semoga…

  20. 😯 Bang?? sy yakin bapak lebih tua dari saya :mrgreen:… lagian sy bukan abang2 kok😳 – – – tanpa maxud melecehkan serta merendahkan… sy mencoba menyampaikan apa yg sy ketahui lebih tidak, bila itu salah! koreksi aja ya pak…🙂

    just info nich (meski mungkin udah ada yg tau, gpp kan diulangin?😀 ) Berita Mualaf & Dunia Islam

  21. [*] Bukankah jelas bahwa dasar-dasar yg menjadi syarat-syarat keimanan adalah, meyakini (meng-imani) rukun islam, iman, ihkhsan dan yang Ghaib ??

    Iman…

    Di qur’an disebutkan ciri mereka yang memiliki iman (oh ya, sebaiknya juga membaca teks arabnya): “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya.” (10:9)

    Jika kita sudah mampu menerima petunjuk langsung dari Allah ta’ala, maka kita pasti memiliki iman, yang berupa nur iman di dalam ‘shadr’ (dada spiritual), bukan iman yang sekedar percaya di kepala atau hasil doktrinasi pada diri sendiri. Contoh, Q. S. 39:22, “Maka apakah orang-orang yang telah dibukakan Allah shadr nya (shadruhu) untuk Islam lalu ia mendapat nur dari Tuhannya (nuuri min-rabbihi) (sama dengan orang-orang yang membatu hatinya?”

    Iman yang sejati, nur iman, dalam shadr. Bukan mendoktrinasi diri ‘saya beriman’, percaya pada Allah, malaikat, rasul, dan seterusnya. Atau otomatis merasa beriman hanya karena kebetulan lahir dari orangtua yang muslim. Bukan iman yang itu.

    [*] Kenapa anda begitu “YAKIN” [*2] kalau orang-orang diluar Islam belum tentu Kafir ??? bagaimana anda menjelaskan orang-orang Israel/Yahudi yang sampai hari ini masih memerangi bangsa Palestine, masih disebut “BELUM TENTU KAFIR” ??? yang jelas-jelas memerangi saudara se-Iman kita!

    Pertama, tidak ada di tulisan saya menyebutkan bahwa orang yahudi yang memerangi muslim (bangsa palestina) adalah tidak kafir.

    Kedua, tidak semua yahudi setuju dengan penyerbuan ke palestina. Ada ideologi/agama yahudi, ada bangsa yahudi. Berbeda. Bangsa yahudi yang masuk kristen atau bahkan masuk Islam pun banyak (orang muslim atau nasrani yang pindah agama menjadi yahudi pun ada). Apa karena kebetulan mereka lahir dari orangtua berbangsa yahudi, lalu mereka otomatis kafir dan ahli neraka? sebagaimana chairul yakin bahwa chairul otomatis beriman jika lahir dari orangtua muslim dan pasti masuk surga? Menjadi golongan yang selamat?

    Ketiga, kenapa begitu yakin bahwa israel sudah pasti lebih kafir dari kita? Karena kebetulan memerangi muslim? Sementara kita (kayaknya) membela palestina (walaupun cuma pembelaan di dalam hati, itu pun hanya kadang-kadang ingat) maka kita pasti beriman dan israel kafir? Pada perang shiffin, kubu Aisyah r.a. berperang dengan kubu Ali r.a. Apakah itu otomatis berarti bahwa salah satu dari mereka adalah kafir? Atau malah dua-duanya kafir?

    [*] Apa itu paham pluralisme??

    Saya bukan penganut pluralisme maupun liberalisme. Saya sedang mencoba menjadi muslim yang baik di mata-Nya, bukan baik di mata guru, mertua, tetangga, ustad ataupun kelompok tertentu. Saya pribadi merasa perlu memahami diin saya sampai esensinya. if that makes me look like a pluralist, well, it’s your eyes… I personally don’t think so. But I do respect God’s footsteps found in other religions.

    [*] Hendaknya dalam hal pembahasan seperti ini lebih disertakan pada hasil ijtihad imam-imam besar yang sholeh dan dari hasil-hasil tafsir para mufasirin yang sholeh.

    Jika saya mengganti nama Herry Mardian pada tulisan-tulisan di blog ini menjadi, misalnya, H. M. Abdullah Muhsin Ibnu Mundzir Al-Madaniy, kemudian menulis dengan banyak disertai istilah-istilah arab, mungkin antum mengira ana termasuk golongan mufassir soleh, minimal akan lebih berfrasangka baik. Tapi orang-orang dengan nama non-arab, nama jawa, nama barat, nama melayu memang umumnya dianggaf kurang soleh sehingga ‘kurang berhak’ menulis dan berbicara tentang hal-hal yang berbau agama…🙂

    Weits! Tapi tunggu dulu! Chairul benar kok.:mrgreen: Saya memang bukan mufassir, apalagi mufassir soleh.

    Akhirul kalam, afwan atas kekurangan-kekurangan ana yang ada dalam maqolah-maqolah yang ada di blog ini, terutama jikalau maqolah-maqolah ana dianggap mengaburkan femahaman ummat di negeri Al-Indonesiyuna ini. Ilal-liqo’.

    Kembali ke laf…? tooooop……

  22. zal says:

    :lol:eits, ketemu lagi…,Mas Herry kembali mengambil posisi pendebatnya…he..he.., penyampai ya…penyampaikan…percaya engga percaya…kayaknya ada yang ngurus…he..he…

  23. ghozali muchtar says:

    setelah kami membaca apa yang di sampaikan mas herry, saya bangga sekali atas keluweasn dan kerendahan diri dari diri mas herry yang begitu santun dalam penyampaian kalimat dan nudah di mengerti oleh kami sbg orang awam..!! tapi mohon di kufas makna dari kalimat “nafs”…??? dan apa kaitannya dengan ” nafas – anfas – tanafas & nufus”..?? tolong jawaban di send ke alamat e-mail kami di atas..!!! wassalam.–

  24. wahyu says:

    kang herry,

    menunjuk salah satu komentar diatas,yang menyebutkan
    salah salah satu suku bangsa, yang saya yakin sekarang
    jadi public enemy no.1, apa iya yang dimaksud dalam qur’an
    dengan bani israil atau kaum terpilih itu adalah suku bangsa
    israel seperti yang sekarang ada ini ???
    ataukah apa yang ada dalam qur’an tersebut adalah ayat
    yang tersirat dan bukan tersurat ??
    serta pengertian ahli kitab, apa iya itu adalah orang orang
    yang ada diluar diin yang dibawa nabi muhammad ?

  25. Assalammualaikum,

    Pertanyaanya sekarang adalah masih adakah ahli kitab seperti yang termaktub dalam ayat Q.S. 3:199, Q.S. 3:113, Q.S. 3:114 saat ini ? saya pernah berdiskusi dengan seorang mahasiswa teologi katolik dan ia menggunakan dalil persis seperti yang anda jabarkan untuk membenarkan teori “Tri Tunggal Maha Kudus” dan banyak juga rekan – rekan muslim menggunakan teori mirip seperti ini untuk menyimpulkan hukum syari yang lebih “enak & nyaman” untuk dilakukan. Bagaimana Anda menyikapi hal ini ?

    Salam Kenal

  26. Abi Zahra says:

    Alhamdulillah. Ternyata masih ada saudara saya yang menyampaikan kebenaran yang tersembunyi ini. Teruskan perjuangan anda Mas Herry. Sudah waktunya hakikat ini dibukakan. Saya dan sahabat-sahabat saya tetap akan mendukung anda 100% dan melanjutkan perjuangan anda dalam “bentuk yang lain”.
    Salam dari “kami” untuk anda dan guru-guru anda.😎

  27. Ferry says:

    Abi Zahra -> “Alhamdulillah. Ternyata masih ada saudara saya yang menyampaikan kebenaran yang tersembunyi ini. Teruskan perjuangan anda Mas Herry. Sudah waktunya hakikat ini dibukakan. Saya dan sahabat-sahabat saya tetap akan mendukung anda 100% dan melanjutkan perjuangan anda dalam “bentuk yang lain”.
    Salam dari “kami” untuk anda dan guru-guru anda.”

    ==> Ooooo jadi ini toh maksudnya, mengkafirkan ummat muslim dengan alasan “qalb yang masih tertutup” den membenarkan ahli kitab dengan mentafsirkan ayat QUR’AN dengan semaunya, metode dan dalilnya koq sama dengan mahasiswa teologi yang diskusi dengan saya yaaaa😦

    Sungguh berbahaya sekali😥

  28. Ferry says:

    Abi Zahra -> “Alhamdulillah. Ternyata masih ada saudara saya yang menyampaikan kebenaran yang tersembunyi ini. Teruskan perjuangan anda Mas Herry. Sudah waktunya hakikat ini dibukakan. Saya dan sahabat-sahabat saya tetap akan mendukung anda 100% dan melanjutkan perjuangan anda dalam “bentuk yang lain”.
    Salam dari “kami” untuk anda dan guru-guru anda.”

    ==> Kebenaran yang tersembunyi maksudnya bahwa ahli kitab yang ada saat ini bukan dari golongan kafir & justru ummat muslimlah yang kebanyakan masih kafir dengan alasan “qalb yang masih tertutup” padahal mereka mengukuhkan TAUHID dalam hati mereka ?

    Semoga ALLAH menyelamatkan saya dari yang demikian.

  29. maksudnya?

    Apa Ferry mau bilang bahwa saya ini sebenarnya agen kristenisasi, dan menggunakan wacana ini untuk diam-diam mengangkat trinitas, dan nanti saya akan mengajak orang untuk jadi ahli kitab karena (menurut tafsiran anda pada tulisan saya), umat muslim lebih tertutup qalbnya dibanding (semua) ahlul kitab?

    Begitu maksudnya? Dan dari tulisan saya di atas, yang bisa anda tangkap bahwa tulisan itu isinya adalah mengajak orang untuk berpandangan ‘mending jadi ahlul kitab, daripada jadi muslim’. Apa itu yang anda tangkap?

    Komentar anda itu sebenarnya untuk tulisan saya, atau untuk komentar Abi Zahra di atas?

  30. Ferry says:

    @ Kang Herry,

    Dua komen saya terakhir buat Abi Zahra Kang, tidak ada maksud saya mengatakan bahwa Kang Herry agen kristenisasi, walaah nauzubillah bukan begitu Kang, hanya saja isu yang Kang Herry angkat sama persis dengan dalil teman diskusi saya yang kebetulan seorang teolog katolik. Dan menurut saya yang kadar ke-ISLAM-an nya masih rendah dan bodoh ini, wacana Kang Herry diatas tentu sangat diamini dan di syukuri oleh mereka.

    Menurut saya yang bodoh ini, tentu dalam ISLAM segala sesuatu mesti dilihat dari kadarnya, dalam hal ini apakah postingan Kang Herry kadarnya bisa lebih bermanfa’at atau malah berbahaya buat keimanan kita sesama muslim, dan tentu postingan Kang Herry dibaca oleh rekan – rekan kita sesama muslim dari beragam tingkat pemahaman tentang ISLAM, bisa jadi poin yang nanti diambil berbeda-beda Kang, dan sepertinya makin menyuburkan faham liberalisasi ISLAM di negeri kita tercinta ini.😥

    Salam Damai.

  31. 🙂 kirain…

    Ya memang tulisan apapun bisa dikutak-katik untuk dijadikan dalil menyerang orang, atau sebaliknya untuk kemanfaatan. jangankan tulisan, Al-qur’an saja sering ‘dikutak-katik’ untuk tujuan tertentu oleh segolongan orang, baik oleh sesama muslim atau oleh para teolog.

    Ya tergantung niat…

    All I am saying is:

    “(1) kafir itu bermakna qalb yang tidak mampu melihat, atau tertutup dari, Al-Haqq; bukan (semata-mata) bermakna non-islam.  (2) Jangan sekali-kali mengkafirkan orang lain.”

    salam damai juga.

  32. Ferry says:

    @ Kang Herry,

    –> *- All I am saying is:

    “(1) kafir itu bermakna qalb yang tidak mampu melihat, atau tertutup dari, Al-Haqq; bukan bermakna non-islam. -*

    wahh ini saya tidak setuju Kang, sebab ISLAM itulah pegangan yang diperintahkan ALLAH, apakah Kang Herry termasuk yang percaya ISLAM itu ada setelah Nabi Muhammad ada ?

  33. Diinul Islam sebenarnya adalah satu kesatuan tiga hal yang tidak bisa dipisah: Iman (nur iman, bukan sekedar percaya doktrinal kognitif), Islam (syariat Muhammad), dan Ihsan (hakikat dari apa yang dibawa Muhammad, atau apa yang dibawa para Nabi).

    ‘Syariat Islam’ yang dibawa Rasulullah yang mulia baru ada sejak Beliau, Nabi Muhammad, ada. Tapi nilai Islam-nya sendiri, ada sejak manusia pertama. Itu sebabnya orang cenderung menyamakan antara ‘syariat Islam’ dengan ‘syariat Muhammad’. Pada zaman Musa as, ‘syariat Islam’ adalah ‘syariat Musa’. Di zaman Isa, ‘Syariat Islam’ = ‘Syariat Isa’. Pada zaman Daud as, namanya ‘Syariat Daud’. Dan seterusnya, dan seterusnya.

    Islam = keberserahdirian, sebuah ketundukan yang mutlak pada Allah ta’ala yang membawa pada keselamatan. Allah-nya sendiri sama, yang ‘itu-itu juga’, apapun syariat yang dibawa nabi-Nya, dan dengan nama apapun Dia disebut pada zaman masing-masing nabi-Nya.

    Setiap Nabi membawa syariatnya sendiri-sendiri, dan ditutup oleh syariat Muhammad. Setelah kenabian Beliau saw, tidak boleh ada syariat baru. Syariat-syariat sebelumnya bisa jadi sudah berubah, karena jauhnya aliran air dari sumbernya. Tapi bukan berarti seratus persen salah, dan kebenarannya nol persen. Sisa-sisa kebenaran masih ada yang tertinggal. Kadarnya berbanding lurus dengan jarak dan selang waktu dari sumbernya, kecuali Al-Qur’an, karena Allah telah bersumpah untuk menjaga Al-Qur’an. Kitab-kitab yang lain tidak dijanjikan-Nya untuk dijaga.

    Saya sendiri sedang belajar ber-Islam yang tiga kesatuan itu, bukan Islam yang syariatnya saja.

    ya monggo, tidak setuju pun boleh kok…

    Oh ya, saya juga bukan pluralis, liberalis, atau apa lah namanya. Tapi saya menghargai jejak Allah dalam berbagai agama. Merasakan kehadiran Allah pada syariat-syariat lama, walaupun hanya sebagai sebuah jejak yang hampir sirna, menambah dalam sujud saya pada-Nya.

    Mungkin ada baiknya Ferry baca tulisan ini dulu, untuk lebih memahami Allah sedikit lebih dalam?

  34. Ferry says:

    @ Kang Herry,

    Nah yang diatas itu saya setuju Kang, tapi koq ya berlawanan dengan komen Kang herry sebelumnya ?

    Herry –> “All I am saying is:

    “(1) kafir itu bermakna qalb yang tidak mampu melihat, atau tertutup dari, Al-Haqq; bukan (semata-mata) bermakna non-islam.”

    ==> jadi golongan non ISLAM yang belum tentu kafir yang mana ? padahal ahli kitab saat ini seharusnya menuruti perintah ALLAH karena ALLAH sudah menunjuk Muhammad sebagai nabi terakhir dan untuk semua ummat ? dan sangat jelas saat ini hanya ummat nabi Muhammad yang masih memegang TAUHID tetapi malah masih mungkin dianggap kafir ?

    Kang Herry mungkin bukan pluralis, atau liberalis tetapi postingan Kang Herry justru menyuburkan ISLAM liberal yang memang sekarang sedang menjamur.

    Salam Damai.

  35. Abi Zahra says:

    Buat Ferry, jangan salah tanggap ya. Sebenarnya menurut saya apa yang dituliskan oleh Mas Herry itu adalah untuk diri kita pribadi bukan untuk orang lain artinya kita tanya hati kita, apakah aku ini masih kafir…? Kita munajat kepada Tuhan, “Ya Allah, bukakanlah hatiku untuk menerima kebenaran yang hakiki. Tunjukilah aku ke jalanMu yan lurus.”
    Jadi bukan berarti kita boleh mengkafirkan orang lain. Tidak. Sekali-kali Tidak. Siapapun dia kecuali yang sudah jelas kekafirannya seperti firaun, abu jahal dan abu lahab.

    Kebenaran yang tersembunyi maksudnya adalah bahwa apa yang diungkapkan Mas Herry dalam tulisan-tulisannya (bukan hanya yang ini) sudah mendekati (hampir) kepada ilmu hakikat.

    Begitupun ini adalah pendapat saya pribadi.
    Hanya Allah Yang Maha Tahu hakikat segala sesuatu.😎

  36. Ferry says:

    @ Abi Zahra,

    Bukan salah tanggap, tapi kalau mau jujur sekarang banyak sekali fenomena pengkufuran dengan metode pencarian diri tentang Tuhan atau pencarian tentang ISLAM, bahwasanya yang dituliskan oleh Mas Herry itu adalah untuk diri kita pribadi bisa jadi ada benarnya, tetapi postingan seperti ini bisa ditelan dengan makna yang berbeda pula oleh sebagian orang.

    Abi Zahra –> “Kebenaran yang tersembunyi maksudnya adalah bahwa apa yang diungkapkan Mas Herry dalam tulisan-tulisannya (bukan hanya yang ini) sudah mendekati (hampir) kepada ilmu hakikat.”

    ==> walah apa sudah boleh diangkat sufi ? saya pribadi lebih cenderung menyukai postingan seperti di http://www.eramuslim.com/ustadz/ lebih banyak manfa’at dari mudarat nya, sementara disini walau sepintas kelihatan baik dan mencerdaskan tetapi saya koq melihat lebih banyak mudarat nya dari pada manfa’atnya, jangan lupa postingan ini dibaca semua kalangan dan dari beragam tingkat pemahaman, bisa jadi postingan ini menyuburkan paham jaringan islam liberal dan juga sepertinya melemahkan semangat jihad yang seharusnya terpelihara. Bukan kita setuju dengan tindakan terorisme tetapi adalah nyata bahwa musuh ISLAM tetap ada dan semangat jihad fisabillilah tentu tetap relevan tetapi tentunya harus terarah dan bukan di negeri kita yang tercinta ini atau dinegeri manapun yang ummat muslimnya tidak dianiaya.

    Salam

  37. ooooooooooooohhh…..

    Blog ini lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya, gitu ya? Tidak selayaknya dijadikan bacaan ummat… hehe..

    Jadi inget sebuah tulisan sindiran satirnya omaigat:

    “Memang antum selama ini terlihat baik, dan tulisan antum pun sebenarnya tidak terlalu ofensif. Tapi apabila kita telaah, terdapat berbagai kekurangan, coba kita bandingkan dengan tulisan Al-ustadz [sensor], subhanallah, terdapat perbedaan yang cukup jauh. Oleh sebab itulah, ana merasa bahwa tulisan antum adalah syubhat dan tidak layak diterbitkan untuk menjadi bacaan ummat.”

    (1) Sebenernya yang berhak menentukan menyesatkan dan berbahaya atau tidaknya sebuah tulisan itu siapa sih ya? mudharat atau manfaat? Ferry kah?

    (2) Tadinya saya kira para pembaca blog sudah cukup cerdas untuk memilih sendiri mana yang baik dibaca dan mana yang tidak. Ternyata belum toh, masih harus dipilihkan, gitu ya? Oh gitu. Tadinya saya kira mereka sudah bisa memilih sendiri bacaannya.

    (3) Kenapa ya sebagian orang begitu benci pada mereka yang tidak sefaham, atau pada mereka yang berusaha memahami hakikat dari apa yang dibawa Rasulullah ya…

  38. Ferry says:

    Wah, Kang Herry, bukan maksud saya membenci sama orang yang berusaha memahami hakikat dari apa yang dibawa Rasulullah, walah bukan Kang, cuma sebagai sesama muslim saya lebih cenderung kepada hal yang lebih besar manfa’at dari mudarat nya Kang, para pembaca bodoh atau tidak tentu akan lebih baik berhati – hati, Salam kenal Kang, istri saya juga bukan muslim, dia seorang katolik dan saya berusaha untuk toleran tanpa mengikis akidah saya.

    Salam.

  39. Ferry says:

    Tentulah kafir Kang, meskipun mempercayai Tuhan itu esa tetapi memiliki 3 wujud, itulah kenapa saya selalu berusaha mencari postingan yang bisa saya jadikan sandaran membimbing istri saya Kang.

    Salam

  40. zal says:

    @fer Assalamu’alaikum

    Sebenarnya kamu itu beruntung banget, jika terfahami…, tidaklah tiap pertemuan dengan apapun, adalah warna dari kehendak yg kita bentuk, seperti ungkapan langkah, rezeki, pertemuan, maut, Allahlah penentunya….
    Kalau berkenan, sebaiknya tidak kaku terhadap apa yg ditemui, apakah bertentangan atau tidak dengan fikiran, sebab pada saat waktu ketetapan terjadi pada kita (bukan kematian dzohir yg termaksud) maka kekakuan ibaratnya seperti urat yg tidak pernah dipijet, namun harus dipijet….

    Percayalah bahwa sebelum Muhammad SAW menjadi nabi, ada Rasul yg diutus yaitu Isa AS, namun Rasulullah tidaklah menjadi pengikut/ menjalani ajarannya, malah Beliau juga sebagai Rasulullah…bukankah Beliau mengatakan “bahwa aku juga manusia sebagaimana kamu, dan akupun bisa marah…”. Beliau juga dilahirkan, menjalani masa kecil, berkembang sebagaiman kita bertumbuhkembang….dan Beliau juga engga takut dikatakan kafir, baik oleh penganut kristen atau lainnya maupun kafir quraisy pada waktu itu,…bahkan Beliau juga dikatakan gila..pada waktu menyampaikan kepada khalayak bahwa Beliau adalah Rasulullah, dan juga pada waktu menceritakan Isra’ mi’raj…jadi beliau engga seperti kita yg sdh seenaknya mengklaim bahwa saya beragama anu…Cuma karena Ibu/ Bapaknya beragama anu….

    Ridho, menurut Allah, adalah kadar dimana waktu kembalinya seorang insan menuju Allah.dan ini juga bukan termaksud “kealmarhuman” sebagaimana yg kita kenal, memang ada mati, namun bukan kematian yg seperti yg kita kenal sebelumnya…namun …insya Allah secara pribadi Allah jadikan suatu pengalaman, dan sebagai pembuka pengetahuan yg secara otomatis terjadinya.., ingatkan… kalau Rasulullah pada saat turunnya surat iqra’ mengatakan “ana ummiy…” dan ada ayat yg mengatakan “Kami jadikan engakau bisa membaca agar engkau tidak lupa…”, itu bukanlanlah menunjukkan Rasulullah buta aksara, sebab Rasulullah, adalah cucu Pemuka Arab dan juga Keponakan Pemuka Arab, sekaligus saudara sepupu Abu Jahal….pemuka arab juga…

    Tetaplah kritis…harus itu…, namun berfikirlah pada tiap-tiap yg Allah pertemukan, apapun bentuknya…dan sesungguhnya tidak ada yg bukan berasal dari Allah…apapun….apapun….!!!

  41. sherly says:

    Buah Duren….
    setiap orang ada yang menyukainya atau tidak…bagi yang tidak menyukainya akan beranggapan “kulitnya aja dah tajem2..apalagi baunya…bikin ‘eneg:eek:'” tanpa belum mencoba rasanya,,,
    bagi yang menyukainya karena mereka sudah merasakan rasa manisnya duren, tanpa melihat kulitnya yang tajam dan baunya yang menyengat….karena yang dicari ‘rasa’nya…
    Gitu juga dengan tulisannya kang Herry…

    menurut saya rasanya manis kayak rasa duren:wink:…karena saya berusaha tidak melihat kulit dan baunya…’tapi Siapa yang telah Menciptakan buah duren ini? ‘….dan kita pun tak bisa menilai dan mencap bahwa orang suka duren adalah orang yang memiliki citra rasa yang rendah, begitu juga sebaliknya…karena kita bukan yang menciptakan buah duren dan tak ada hak untuk menganggap pro duren atau yang kontra dengan duren adalah yang lebih unggul….yang pasti:
    “Jika Pengetahuan datang dariNya…kenapa kita menyimpulkan ini baik atau buruk..siapa tahu ketika kita mencap ini baik atau buruk..Allah lebih Memuliakan orang yang sudah kita label-i/cap’i ”
    semoga nyambung dengan topik di atas….

    maaf kalo ada salah kata…
    oia bukan bukan maksud nyamain tulisannya kg Herry dengan buah duren, punten…:grin:…ini mah cuman perumpamaannya aja…
    seneng bisa baca n semoga bermanfaat tulisannya kg…eh tapi bermanfaat ko buat aku mah..

  42. Ckckck,, mas Ferry ini,, Ma jadi spicles lama lama,,😐

    btw Ma setuju sama kalimat pak Herry yang,,

    (1) Sebenernya yang berhak menentukan menyesatkan dan berbahaya atau tidaknya sebuah tulisan itu siapa sih ya? mudharat atau manfaat? Ferry kah?

    (2) Tadinya saya kira para pembaca blog sudah cukup cerdas untuk memilih sendiri mana yang baik dibaca dan mana yang tidak. Ternyata belum toh, masih harus dipilihkan, gitu ya? Oh gitu. Tadinya saya kira mereka sudah bisa memilih sendiri bacaannya.

    kalo segitu khawatirnya bisa ngebunuh orang,, itu pisau dihentiin aja produksinya,,

    lagian kalo ga dibenturkan dengan berbagai pemikiran lain, gimana bisa berkembang?😕

  43. widy thayf says:

    Buat kang herry, tulisan ini bagus, membuka wawasan dalam memahami kata kafir. hmmmm, kalo dicoba diselami, kedalam diri ini, saya juga mungkin masih kafir, walaupun saya muslim (islam), yaa Allah berikanlah rahmatMu, karena dengan rahmatMulah keselamatan saya bergantung.
    BTW, mas …. pengajian serambi suluk apa masih ada, di makassar masih ada gak? yang dulu dilaksanakan di gedung telkom? minta infonya ya?

  44. ilham d sannang says:

    wah wah wah … diskusinya makin seru saja. saya ingin berkomentar lagi ah.

    utk Mas Ferry, yang ingin membimbing istrinya ke dalam Islam, mungkin bisa mengajak istrinya membaca blog ini: http://genenetto.blogspot.com/2006/04/saya.html
    kisah seorang mualaf eks-kristen asal New Zealand yang kini tinggal di Indonesia.

    dan, link ini: http://media.isnet.org/index.html
    cari artikel “Haruskah Anda Percaya Tritunggal”? Buku ini milik sekte Kristen Kesaksian Yehova yang menolak bahwa Yesus adalah Tuhan.

    Atau, cukup tanyakan pada istri Anda, apa kira-kira makna ucapan Yesus di tiang salib, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Matius 27:46) “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

    Kalau Yesus adalah Allah (Tuhan), maka mengapa Tuhan berseru pada Tuhan, “mengapa Tuhan meninggalkan Tuhan”? Apakah Tuhan berseru pada diri-Nya sendiri, mengapa diri-Nya meninggalkan diri-Nya?

    Atau, bacalah Matius 4:1-11. Di sana, Iblis menggoda Yesus, bahkan mencoba menyuap Yesus, menawarinya kerajaan dunia. Kalau Yesus memang Tuhan, apakah logis jika iblis–makhluk ciptaan Tuhan–mencoba untuk merayu Tuhan dengan memberikan kerajaan dunia, sementara seluruh dunia ini adalah milik Tuhan?

    Atau, tanyakan padanya, bagaimana mungkin Tuhan Yang Mahakuat kuasa, Yang sanggup menghidupkan dan mematikan, justru bisa dibunuh oleh orang Romawi di tiang salib? Apakah wajar kalau Tuhan Yang Mahakuat bisa dibunuh oleh manusia yang mahalemah? Kalau dikatakan bahwa “kematian Tuhan” itu untuk menebus dosa-dosa manusia, maka “kematian dan penderitaan Tuhan” itu sungguh suatu sandiwara saja, karena tokh—kalaupun Yesus itu Tuhan—“sang Tuhan” itu bisa hidup lagi dan menyembuhkan segala “luka-luka-Nya”. Dia hanya pura-pura mati di tiang salib. “Sebagai Tuhan”, Yesus punya stok nyawa yang tak terhitung, karena tokh “Dia” sendirilah yang menciptakan nyawa itu. Justru kalau Yesus adalah manusia (dan memang beliau hanya manusia, bukan Tuhan), maka pengorbanannya itu menjadi sangat berharga ketimbang dia sebagai Tuhan. Tuhan kan Maha Pengampun. Dia bisa dengan mudah langsung mengampuni manusia, tanpa perlu menjadi tumbal berkorban di tiang salib.

    Salah satu buku yang cukup bagus dan saya rekomendasikan adalah karya Purwanto Abd Ghaffar, terbitan Serambi, Tuhan Yang Menenteramkan Bukan Yang Menggelisahkan. http://toko.serambi.co.id/modules.php?name=TBSShop&op=pengarang&aid=118
    Penulisnya juga mualaf eks-nasrani dan menulis dengan santun dan argumentatif berdasarkan sumber-sumber Bibel sendiri.

    Saudara-saudaraku, Islam memang agama yang benar. Dan kalau kita beriman, berislam, dan beramal saleh, insya Allah kita akan selamat berkat rahmat Allah. Tapi, “muslim” belum tentu mengamalkan Islam. Muslim belum tentu mukmin kan? Lihat QS 49:14. Sekadar beragama Islam bukan jaminan untuk selamat kalau tidak berserah diri pada Allah dan membuktikan keberserahdiriannya itu dengan beramal/berbuat baik.
    Lalu, lihat juga QS 14:7. Kalau bersyukur, nikmat ditambah. Kalau ingkar/kafir (“kafartum”), azab Allah maha pedih. Jadi, muslim yang tidak mengingkari nikmat Allah pun mendapat azab pedih.

    Saudara-saudara kita yang belum beragama Islam sangat kita harapkan mereka mendapat hidayah. Tapi, bukan berarti ini menjadikan kita ge-er bahwa kita punya petunjuk dan pasti selamat, semata-mata karena kita beragama Islam. Bukan mustahil kita pun juga bisa tersesat kan? (karena itu kita selalu berdoa minimal 17 kali sehari dalam shalat, “tunjukilah kami jalan yang lurus”). Umat Kristiani yang meyakini bahwa Yesus adalah Tuhan atau anak Tuhan, memang betul mereka itu sesat, karena jelas-jelas bertentangan dengan Bibel mereka sendiri, bertentangan dengan Al-Quran QS 114 dan QS 4:171-172, QS 5:72; selain bertentangan dengan akal sehat.

    Karena itu, menjadi kewajiban kitalah untuk mengingatkan mereka dengan arif bijaksana, agar mereka tidak mempertuhankan manusia Yesus, bukan mengkafir-kafirkannya sehingga mereka akan semakin menjauh dari kita. Mereka perlu dirangkul dan diajak diskusi baik-baik. Bukan dikafir-kafirkan. Bukan di-“neraka-neraka”-kan. Kan harus dengan hikmah dan pengajaran yang paling baik? (QS 16: 125; QS 29:46).

    Namun, terlepas dari siapa yang salah siapa yang benar, siapakah kita sehingga kita merasa berhak menentukan bahwa orang Kristen, Yahudi, atau non-muslim lain manapun itu akan masuk neraka dan tidak beroleh keselamatan? Bukankah segalanya adalah hak prerogatif Allah saja? Coba simak jawaban bijaksana Nabi Isa Almasih as dalam dialog antara beliau dengan Allah dalam Al-Quran, menyangkut nasib umatnya yang kadung sesat mempertuhankannya:

    “Dan ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah ?”. ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.
    Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.
    Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS 5: 116-118).

    Nah, Nabi kita ini, Nabi Isa as, menyerahkan sepenuhnya keputusan pada Allah. Nabi saja tahu diri, tidak merasa berhak memasuki wilayah prerogatif Allah. Kalau mau disiksa, silakan, karena mereka memang hamba-Nya. Tapi, tetap ada kemungkinan lain: kalau mau diampuni, maka memang sifat Tuhanlah yang Mahaperkasa—yang dengan keperkasaannya itu memang sanggup untuk menyiksa—tapi di lain pihak, Tuhan itu pun bijaksana. Nabi Isa mengakui kesalahan umatnya yang mempertuhankan dirinya, dan beliau tidak memintakan ampunan untuk kesalahan umatnya ini, alih-alih menyerahkan sepenuhnya pada keputusan Allah. Persis sama dengan firman Allah dalam QS 22:17 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.”

    Jadi, kalau Allah sendiri sudah menyatakan demikian, mengapa pula kita manusia bersibuk-sibuk diri mengkafir-kafirkan orang lain, atau memasukkan orang non-muslim ke neraka? Kita hanya wajib menyampaikan kebenaran yang kita yakini, bukan memvonis siapa masuk neraka siapa masuk surga. Vonis itu ada pada Allah saja.

    Bagaimanapun juga, syarat mendasar untuk mendapat keselamatan adalah dengan beriman dan beramal saleh. Maka kita bermohon pada Allah untuk dirahmati dengan iman dan amal (perbuatan) saleh. Jangan sampai kita terpancing untuk bersibuk diri rebut-rebutan klaim surga-neraka seperti anak kecil berebut mainan, sehingga kita lupa berbuat baik. Bahwa agama non-Islam telah mengalami penyimpangan di tangan umatnya (sama seperti agama Islam pun suka diselewengkan oleh umatnya), itu benar, dan perlu kita koreksi. Tapi, keputusan selamat atau tidak, surga atau neraka, kita serahkan pada Tuhan saja. Kita doakan dan kita dakwahkan, agar sebanyak mungkin manusia mencapai keselamatan.

    Al-Quran sudah mengajarkan, tak perlu kita ribut-ribut berebut klaim kebenaran. Cukuplah berserah diri pada Tuhan (aslama) sambil sibuk berbuat baik:

    “Dan mereka berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”.
    (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak mereka bersedih hati. Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.(QS 2: 111-113)

    Allahu a’lam
    Ilham D. Sannang

  45. Fajri says:

    Bagaimana dengan adanya aliran2 yang katanya ‘sesat’ yang sering muncul saat ini?

    Ada yang bilang kalau hal itu terjadi karena belajar tasawuf tanpa syariat (yang kuat) dan tanpa guru…
    Apa bisa dikatakan kafir?
    Mereka kan juga menyembah Allah SWT

  46. Gagank says:

    Setahu saya arti kafir adalah menolak eksistensi Allah SWT sebagai tuhan dan menolak juga Rasul2 -NYA. Jadi mereka yang tidak mengakui hal tsb ya disebut kafir. Hanya saja kita dilarang memanggil dg sebutan kafir, cukup meyakininya secara aqidah.

    Sering2lah mengunjungi eramuslim dan syariah online, sebagai penyeimbang.

    Salam,
    Gagank

  47. elza says:

    Assalamualaikum Wr wb.

    Hendaklah kita merendah diri kepada Allah SWT.
    sebaiknya tidak berkata hal-hal yang kita sendiri tidak mampu mempertanggungjawabkannya di akhirat nanti, apalagi jika kata-kata itu menjadi sebab orang lain tersesat apalagi sampai murtad sehingga mendapat azab kekal.
    kewajiban kita hanyalah memberi peringatan, menyampaikan ayat-ayat Allah dengan santun, karena sesungguhnya peringatan itu sangat penting, terutama bagi yang belum tahu, masalah Hidayah kita serahkan kepadaNya. kita sama sekali tidak punya hak menyakiti orang lain, karena urusan Hidayah adalah Hak Allah semata. Kita tidak berhak memerangi orang lain, kecuali karena kita membela hak kita, keluarga kita, dan agama yang benar ini demi keselamatan diri kita dan orang lain di dunia terutama di akhirat.
    Apalagi sampai membunuh begitu banyak orang tak bersalah (sipil) yang mereka juga punya hak yang sama untuk mendapat pengetahuan kebenaran sehingga mencapai hidayah Allah.

    Jika Al Qur’an menyampaikan azab Neraka, ya sudah sampaikan saja, tidak perlu disembunyikan, karena jika orang sudah diberi peringatan bahaya tentu diharapkan jauh lebih waspada, berhati-hati dan bersungguh-sungguh mencari kebenaran. Jadi bukan berarti jika kita menyampaikan ayat tentang Neraka ini lalu berarti kita menuding orang lain masuk neraka, bukan itu maksudnya. Sama halnya ketika kita beri satu peringatan, awas disini banyak pencuri, lalu artinya kita menuduh orang yang kita ingatkan sebagi pencuri kan?, tujuannya hanya untuk berhati-hati.
    Orang yang diberi tahu suatu bahaya seharusnya berterima kasih, bukan sebaliknya, malah ingin agar orang melupakan Qur’an ini atau kalau bisa menghapuskannya dari muka bumi.
    Itulah fenomena yang kita baca akhir-akhir ini.

    Sesungguhnya Islam ini membawa keselamatan, diajarkan kepada manusia pertama hingga akhir zaman.
    Janganlah kita menyekutukan Allah dalam bentuk apapun, jangan kita samakan Dia dengan mahluk apapun, jangan menyembah selain Dia Allah yang Maha Esa.
    Dialah Allah, Tidak ada tuhan delain Dia,
    Dia yang menciptakan Mahluk, Dia bukan mahluk, maka tidak ada sesuatupun mahluk yang sama/setara dengan Dia, tidak ada seuatupun mahluk yang patut disembah, maka jangan sembah mahluk apapun dalam bentuk apapun
    Dia Maha Kuasa, tiada butuh sekutu.
    Dia yang Pertama, Dia yang menciptakan segala sesuatu sebelum segala sesuatu itu ada, Tiada dia diperanakkan siapapun. Dia yang Akhir, saat segala sesuatu binasa, Dia Maha Mewarisi, Dia Maha Kekal, tiada butuh keturunan.

    Semoga kita diberikan Allah kekuatan untuk mengikuti jalan kebenaran dan membimbing keluarga kita di jalan kebenaran pula.
    Semoga kita dan keluarga kita kelak diRidhoi Allah SWT sehingga dapat mencapai Husnul khatimah.
    Janganlah hanya karena imbalan sekeping uang kita membantu kaum yang dilaknatiNya untuk menyesatkan umat ini.
    sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya sekejap mata, tidak akan sampai 100 tahun, tidak ada sekeping uangpun yang kita bawa mati, hanya amal yang kita bawa mati, dan akhirat itulah negeri yang kekal, tergantung pilihan kita mau mengikuti jalan kekal di Surga atau jalan kekal di Neraka.
    jangan ragu jika Qur’an sudah berkata seperti itu, karena yang menjamin adalah Allah yang Maha Kekal.
    semoga kita ingat ketika kelak saat malaikat penjaga pintu neraka berkata, apakah tidak ada nabi yang diutus kepada kalian, sesungguhnya telah ditetapkanNya neraka yang kekal bagi orang kafir, maka mintalah pertolongan kepada apa yang kalian sembah (batu, manusia, jin, matahari, benda keramat dsb) jika mereka mampu menolong kalian dari azab ini.

    Astagfirullah hal Adzim…

    Wassalamualaikum wr wb.

  48. adjipamungkas says:

    salam …kasih dan damai bagi kalian semua wahai ahli kubur..

    kafir….mmmh sering kali kita menghakimi orang ..(bukan yang beragama islam) tapi apakah kita sadar kalo kita …punya bibit kafir….????…khan kita tidak punya hak mengkafirkan orang…hanya Allah yang maha menghakimi …mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi serta di dalam benak sanubari kita ..termasuk kekafiran kekafiran yang ada tersembunyi tertutup rapat oleh rasa ujub…riya..sombong..angkuh …

    ampuni kami wahai Sang Pemberi Ampun… salam buat mas hery… istri.. dan sang jabang bayi…

  49. Wah.. seru sekali artikelnya.. perdebatannya lebih seru lagi.. (walaupun terjadinya udah tahun lalu) hehehe..

    Dari tadi saya mau komen, udah panjang ta apus.. soalnya takutnya pemahamannya akan berbeda..

    tapi yang jelas.. saya setuju dengan tulisan mas Herry dengan poin, sbb:
    “(1) kafir itu bermakna qalb yang tidak mampu melihat, atau tertutup dari, Al-Haqq; bukan (semata-mata) bermakna non-islam.

    (2) Jangan sekali-kali mengkafirkan orang lain.”

    Buat saya, Tuhan itu personal.. dan semua orang mau mereka agama apapun atau tidak beragama sekalipun, mereka punya Tuhan. Tapi seorang itu dikatakan kafir ketika mereka tidak mampu melihat KEBENARAN yang sesungguhnya. dan Kebenaran itu cuma milik Tuhan. Buat saya Islam yang paling benar, karena saya melihat Tuhan dalam Islam.. Tapi itu jadi urusan saya, sekali lagi karena hubungan saya dengan Tuhan adalah personal buat saya.

    Saya rasa yang mau mas Herry jelaskan di sini juga bertujuan untuk mengungkapkan buah pemikirannya, agar yang memahami bisa belajar dari pemikirannya

    misalnya kalau saya, dari artikelnya, saya belajar untuk tidak terburu-buru menjudge seseorang menjadi kafir. Kata “bukan (semata-mata) bermakna non islam” juga berarti mas Herry mempercayai kecerdasan yang membaca untuk memutuskan either maksudnya: bukan non islam aja yang kafir.. tapi orang islam juga ada yang kafir.. atau.. pemahaman ada juga non islam yang ga kafir..
    Statement yang di bold tadi ga ada dalam kata-kata mas herry.. jadi pembaca dipercayai untuk berfikir sendiri dan semoga pemahaman yan benar mendapat terang dari Allah swt. amin

    Kecemasan akan menurunkan semangat berjuang/jihad bisa saya pahami. Tapi pembaca ga bisa cuma dikenalkan pada satu sisi saja.

    Untuk memilih artikel mana yang lebih disukai pun hak masing-masing orang. Tapi akan jadi sangat bias sekali ketika lagi-lagi judgement yang terburu-buru dikenakan dalam pendapat seseorang (yang bilang banyak mudharat dan lain sebagainya). Berhak sih berpendapat, tapi berhati-hatilah seperti hati-hatinya NabiAllah sebisa mungkin baik dalam mengungkapkan pendapat. (saya juga lagi belajar untuk itu sekarang)

    Allah sudah memberikan akal pada manusia. Dan dengan berserah diri padaNyalah (Yang Mempunyai Akal para manusia) akal bisa digunakan dengan baik.

    So, tulisan liberal atau bukan? IMHO, menurut saya bukan. Tapi pasti pendapat lain ada.

    Lagian emang liberal, pluralisme, udah pasti salah? yang seperti apa dulu? manusia kadang2 cuma mengcluster dan memberikan judgement dangkal tanpa tau akar dari kata-kata tersebut. (wh.. bisa-bisa saya dijudge liberal/pluralisme nih setelah pendapat saya dibaca😆. Untuk pencegahan itu, saya akan memberikan statement kalo saya bukan liberal, atau masuk dalam kelompok islam manapun. Saya cuma seorang muslimah)

    Semoga dengan adanya ini semua bisa lebih cerdas dan dewasa dalam berfikir. Amin

  50. Assalamualaikum Kang Hary
    Mau ikutan apreciate jg nih sama artikel ini.Pernah gak kepikiran bgt ttg sesuatu (an idea or theory),dan ternyata ada seseoang yg sudah menuliskan exactly spt yg kita pikirkan,plus penjelasan dn dalil2 yg mendukung pula!
    Nah,seperti itulah sy ketika mmbaca artikel2 kang Hary dn coments teman2 di sini.It’s like an AHA moent 4 me:idea:
    Untuk Kang Ilham (may I ?)
    Trm ksh utk.tulisan dn referensinya.Akan sy print out utk tmn sy,seorang kristiani yg sangat curious ttg Islam.Dan sering mengajak sy diskusi ttg perbandingan agama(srg bikin sy kewalahan:wink:) sampai2 akhirnya akhirnya sy speechless dn akhirnya cm bs blg “teh kalau mau mmbndingkan antara kambing dn ayam mah gak akan ktm,coz ke2 nya just simply different! (gak cerdas bgt ya?:mrgreen:)
    Soalnya sy tdk mau kejebak dlm debat kusir yg gak penting,krn synya kurang ilmu.
    Anyway,thanx 4 having me here.Smg Allah senantiasa meridhai dan membimbing usaha pembelajaran kita.Amin ya Rabbal Alamiin..
    Wass.Wr.Wb.

  51. Ahmad says:

    Comment ti nuy
    :grin:Maaf Ikutan ngasih saran:grin:

    Semua persoalan milik Allah SWT, semua berawal dariNYa dan akan Berakhir olehNya pula.
    Oleh karena itu, dalam perdebatan yg sangat panjang ini kita ambil sisi positifnya –mungkin Allah memang mentakdirkan seperti ini, bahwa hikmah dr ini semua adal;ah:
    1. saya orang yg sgt minim pengetahuan bisa memilah-milih dan mengkaji lebih dalam apa arti dari tulusan2 dan coment2nya:smile:
    2. Kang Herry, Kang Ferry, dan semua akang2 dan teteh2 yg sudah banyak berilmu akan lebih mengkaji lagi ilmunya tanpa ada yang merasa ini paling benar atau yang itu yg salah :wink:–karena yang benar hanya ilmu Allah yg diturunkan kepada Rasulallah SAW.
    :mrgreen:co: hadist yang kita baca sehari2 ada yg sahih ada pula yg hasan dll, kenapa itu bisa terjadi?? Pahamilah wahai akang2 teteh2, semua itu karena tak ada makhluk sempurna yg diciptakan Allah SWT selain drpd para Nabiyullah, meskipun kita makhluk sempurna dimuka bumi, tp ingat (klo saya g salah memahami) kita sbg makhluk sempurna hanya karena ditugaskan sebagai khalifah di muka bumi Makhluk Allah yg lain (bukan Nabiyullah), setiap manusia selalu ada kehilafan atau lupa. Kmbl ke hadis td, bahwa Nabiyullah Muhammad SAW sdh sgt sempurna mengajarkan, memberikan tauladan kepada sahabat2nya, tp kenapa di hadis ada yg berbeda pendapat (yg ini sahih dan yg itu hasan dll) itu karena daya tangkap yg diterima manusia tidak sesempurna Nabiyullah (tanpa ada maksud melecehkan para Sahabat r.a). Itulah mengapa akar yg dulunya sgt sempurna disampaikan pd Nabiyullah tapi sekarang2 jd bercabang??.. Akang2 teteh2 saya yakin bisa merenungkan jauh lebih baik dr saya…

    Saran saya hanya, kita umat Islam, umat yg sangat diridhoi oleh Allah, jgn hanya melihat dr sisi yang bertolak belakang dr prinsip yg kita pegang selama ini, adakalanya kita harus “legowo” menerima pendapat orla yg jauh lebih logis dan masuk akal, karena dg sikap spt itu Insya Allah selain perbendaharaan kita semakin bertambah dan juga Insya Allah, Allah pun akan meridhoi semua kaumNya yg bertentangan…

    Sekali lg saya tidak bermaksud menggurui pihak mana pun, saya hanya ingin mengingatkan kembali or me-refresh kembali apa yg sudah kita dptkan selama ini…

    Inti dr saran saya adalah, mari kang or teh kita kembalikan kepada Allah semua persoalan yg ada, meskipum bagus adanya perdebatan ini tp jgn sampai terjadi perpecahan dalam AGAMA yg SGT AGUNG ini– ISLAM. karena mungkin orang yg fondasi agamanya masih samar or masih perlu masukan yang baik malah jd berubah pandangannya trhdp agama Islam. karena saya sendiri pun jd bimbang setelah melihat perdebatan di atas (saling melemparkan, saling menuduh, itu, ini, itu, ini)
    Saya yakin anda semua adalah orang2 yang akan diridhoi oleh Allah SWT..AMIN

    sekali lg mohon maaf apabila ada kesalahan dalam comen saya ini, dan sekali lg saya tidak ada maksud untuk menggurui siapa pun karena saya sendiri pun masih mencari sosok seorang GURU SEJATI untuk membimbing saya ke arah yg jauh lebih baik…
    Mudah2an saya mendapatkannya Amin yaa Robbal ‘Alamin:oops:

    Syukron:smile:

  52. Dono. says:

    Ass.wr.wb.
    Sebelum saya menceritakan pengalaman saya yang berikut ini, saya memohon agar kita sebagai muslim agak sedikit melapangkan dada untuk menerima atau tidak menerima cerita saya berikut ini.Apakah ini suatu kenyataan ataukah tidak terserahlah kepada yg mendengarnya, kalau seandainya bapak keberatan untuk menerimanya dan menghapusnnya, untuk pribadi saya, juga saya tidak ada masalah,karena menurut hakikat saya,mendengar atau melihat cerita ini akan menimbulkan kebencian, penghasutan, pencacian dll,jadi saya serahkan saja kepada akal manusia yg sehat untuk menimbang baik atau buruknya.

    Beginilah ceritanya:
    Pada tanggal 3 bulan juli th 2008 masuk bulan rajab malam jumaat lalu setelah maghrib muncul makhluk bersayap yg sayapnya seperti mutiara-mutiara yg bertebaran di muka bumi ,begitu besarnya beliau dari pandangan saya,yg berjarak kira-kira 5 meter dari hadapan saya,keindahaan beliau tidak terlukiskan.
    Perkataan beliau yg pertama adalah: Tuliskan!lantas sekali lagi Tuliskan!
    Saya cepat mengambil kertas dan pena kemudian duduk kira-kira satu meter dari hadapan beliau.
    Perkataan beliau yg kedua:Assalamualaikum.
    Saya jawab wallaikumsalam.
    Perkataan beliau yg ketiga:saya Jibril,Tuliskan!
    Saya akan datang bersama Isa almasih kedunia bersama sembilan wali-wali dan bersama 200 lebih malaikat-malaikat.
    Waktu sudah sangat singkat, mulai tahun 2010 banyak kejadian yg akan merampas jiwa manusia.
    Perkataan beliau yg keempat:apa yg engkau inginkan? menyebarkan firman-firman Allah S.W.T, jawab saya.
    Perkataan beliau yg kelima:ada lagi?InsyaAllah, Allah S.W.T akan memberikan petunjuk kepada kami,jawab saya.
    Perkataan beliau yg keenam:baiklah! lantas beliau mengambil kedua belah tangan saya,beliau menyuruh saya berzikir.
    -Allahhuakhbar33x
    -Subhanallah33x
    -Alhamdulillah33x
    -Allah S.W.T33x
    -Laillahhailallah33x
    -Laillahhailallahmuhammadarasulallah33x
    Perkataan beliau yg kesepuluh:ingat!
    1.jangan engkau sombong
    2.bersabarlah
    3.sayang kepada kedua orang tua
    4.jangan engkau membuat kesalahan
    Beliau tunduk sejenak, lantas beliau berkata,saya musti kembali dan menyapa saya assalamualaikum, saya jawab wallaikumsalam Jibril a.s, dia membuka sayapnya lantas terbang begitu cepatnya.

    Saya beranggapan bahwa ini hanyalah sebagai amanah.
    Marilah kita menyimak cerita ini bersama dengan akal yg sehat menurut Alquran dan hadits-hadits rasulallah Muhammad S.A.W.

    Apakah kita sudah bersiap untuk kedatangan akhir zaman?

    Wassalam.

  53. Tulisan di web ini sudah bagus namun perlu digaris bawahi. Bahwa ma’na Kafir itu kan ingkar. Dan kafir itu dibagi menjadi 2 bagian Kafir Khofii dan Kafir Jaalii . Kafir Jaalii itulah yang memang di peruntukkan dalam konteks perbedaan agama. Sebagai contoh kita umat Islam akan dikatakan kafir oleh agama lain demikian pula sebaliknya.

  54. Muhammad Yogaswara I says:

    Menanggapi tulisan bapa :
    Nafs, atau jiwa, inilah yang diminta persaksiannya dahulu, dan kelak akan diminta pertanggungan jawabnya ketika mati. Sementara pada saat itu jasad kita terurai menjadi tanah, dan ruh kita yang menjadi daya hidup bagi jasad (fungsinya mirip seperti energi yang ada pada baterai) kembali pada-Nya. Kita tidak mengetahui apa-apa tentang ruh, karena ruh adalah urusan Allah. Disebutkan dalam Q.S. 17 : 85, “Katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan (tentangnya) melainkan sedikit.”

    kalolah ruh hanya seperti baterei/energi mengapa ruh baru ditiupkan setelah beberapa bulan,..lalu sebelumnya dari mana energi sang calon bayi..?
    sedikitnya pengetahuan yg diberikan Allah tentang ruh pada kita mungkin bisa jadi se alam semesta….jikalau tidak keberatan sudilah bapak sedikit menjelaskan ttg Ruh & Jiwa (nafs)….karena pemahaman saya saat ini adalah :
    Bahwa kita ini adalah Ruh yg berasal dari Allah..dimana sang ruh harus mampu mengendalikan dan memimpin Jiwa(nafs lawamah, mutmainah,amarah)..
    adakah hal lain yg bisa saya peroleh dari bapak..
    Terima kasih

    Yoga

  55. kalolah ruh hanya seperti baterei/energi mengapa ruh baru ditiupkan setelah beberapa bulan,..lalu sebelumnya dari mana energi sang calon bayi..?

    Ruh sebenarnya bukan “hanya” seperti baterai/energi. Itu hanya analogi. Tapi memang ruh, karena berasal dari Allah Sang Maha Hidup, ia membawa ‘daya hidup’.

    Ruh berasal dari-Nya, dan akan kembali kepada-Nya. Kita yang sejati adalah jiwa (nafs), namun bukan nafs yang terdominasi hawa nafsu dan syahwat. Nafs yang murni, yang tersucikan. Jasad akan hancur menjadi tanah, ruh akan kembali pada-Nya. Jasad-lah yang membawa mandat ilahi untuk menjadi simbol visual-Nya untuk memakmurkan alam semesta. Tapi nafs yang bukan lagi ammarah maupun lawwamah. Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu. Yang mengenal nafs-nya, akan mengenal rabb-nya.

    Makasih banyak, mas Yoga.

  56. Kepada saudara2ku… aq ikut nimbrung nih.. sekalian agar kita saling mengenal satu sama lainnya….

    Saya setuju nih ama tulisan mas herry mardiyan… bahwa prediket kekufuran tidak mutlaq hanya ditujukan untuk orang non-Islam. Bahkan mungkin banyak juga orang-orang muslim yang masih berada di dalam kekufuran baik dihatinya atau perbuatannya. Kufur atau kafir dalam arti masih belum sepenuhnya tunduk patuh kepada ketentuan Allah SWT.

    Namun yang menggelitik hati saya adalah sama dengan yg disampaikan oleh Mas Robby, bahwa kalo untuk umat non-muslim…dikatakan belum tentu kafir… wah sepertinya nanti akan menjurus pada membenarkan semua agama.

    Saya cocok tuh dengan penjelasan mengenai kelompok umat yg disampaikan oleh mas herry di surat alfatihah…

    Kesimpulan pendapat saya adalah :
    Bahwa pada diri kita yg sudah menjadi muslim belum tentu bersih dari sifat2 kekufuran dan pembangkangan kepada ketentuan ajaran Allah.

    Sedang kepada umat non-muslim, sudah jelas predikat kekafiran sudah disebutkan dibanyak ayat untuk mereka di dalam al-Quran.

    Sedangkan yang betul2 dilarang agama adalah, menyebut atau men-cap prediket kafir pada sesama muslim… karena perbedaan kelompok atau jamaahnya…

    Htr Nuhun kang
    Smg kita selalu dalam petunjuk_Nya…

    Wassalam
    ERRY

  57. Ibrahim says:

    Al-‘Ilmu Qoblal Qoul Wal ‘Amal…
    ILMU itu sebelum berbicara dan beramal
    Sesungguhnya semua lisan akan dimintai pertanggung jawaban. Barokallahufiik.

  58. Ibrahim says:

    Imam Syafi’i berkata, Al’Ilmu Qoblal Qoul Wal ‘Amal
    ilmu itu seebelum berucap dan beramal
    sesungguhnya semua perkataan akan dimintai pertanggung jawaban

  59. ghofar says:

    ada 2 kata yang tidak diterjemahkan (dimaknai) dalam semua Kitab Suci ; yaitu Iman dan Kafir.
    Kafir asal kata kafaro artinya Tertutup (betul…betul… kata ipin)
    Iman asal kata amnu, aman artinnya Terbebas dari hijab dengan Allah.
    Kafir = Kufur : orang yang tertutup qalb
    sama dengan Syukur asal kata syakaro : terbuka qolb.

  60. fazrial says:

    Jika membaca ayat yg tersurat dlm al qur’an lalu teruskanlah dgn memikirkan apa yg tersirat,teruskan lg cari yg tersembunyi dan lanjutkan dgn memikirkan apa yg terahasia dari makna ayat tersebut,maka tiada saling tuding,yg ada hanya rasa ingin pulang menyatu padaNya.Carilah seorang pembimbing yg mengetahui ” rahasia dalam rahasia ” dari surah az-zumar ayat 6.Wassalam WW.

  61. intan syuhada says:

    thanks for this information.. nama saye syuhada.. harap2 saye pown menjadi seorang syuhada.. amin2🙂

  62. WGM says:

    Tulisan mas Herry sealur dengan apa yang saya ketahui, meskipun saya perlu belajar ke mas Herry mengenai kesabarannya dalam menanggapi komentar orang yang mengandung racun..😳

    Shalawat, salam keselamatan kepada pembimbing anda dan tentunya mas Herry sendiri.. hi Hi hi

  63. zazat.s kang says:

    Assalamualaikum ww.
    menarik sekali tulisan mas Herry,ana ikut komen dikit mohon dibetulkan kalau salah didkit apalagi banyak.Makna kafir dari ayat Al-Hajj :46 adalah menjelaskan mereka yang musyrik,yg mempunyai arti pendustaan atau pengingkaran terhdp Allah dan Rasul-rasul-Nya.seperti dlm Alhajj:42- 43 – 44-45″Dan jika mereka(orang-orang musyrik)mendustakankamu,maka sesungguhnya telah mendustakan juga sebelum mereka kaum Nuh,”Aad,dan Tsamud” -“dan kaum Ibrahim dan kaum Luth”.- “dan penduduk Madyan,dan telah didustakan Musa,lalu Aku tangguhkan(azab-Ku)untuk orang-orang kafir, kemudian Aku azab mereka, maka(lihatlah) bagaimana besarnya kebencian-Ku(kepada mereka)
    Dan dimaksudkan seperti dalam Al-Baqarah-6.” Sesungguhnya orang-orang kafir,sama saja bagi mereka,kamu beriperingatan atau tdk kamu beri peringatan,mereka tdk akan beriman”.Al-Baqarah:98.” Barang siapa yang menjadi musuh Allah,malaikat-malaikat-Nya,rasul-rasul-Nya,Jibril dan Mikail,maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir”. Jadi melihat konteknya jelas sekali. Bagi yang non muslim dalam hal ini dikategorikan kafir.Dalam ALQUR’AN dijelaskan bahwa seluruh rasul-rasul yg diutus adalah membawa ajaran Tauhid mengesakan Tuhan ( ISLAM).Disini ana tidak bermaksud mengkafirkan mereka,tetapi ada satu kejelasan mana yg dimaksud kafir dan mana yg dimaksud muslim. Sedangkan sebutan kafir dalam Alqur’an itu jelas sekali konteknya. Seperti termasukKafir kecil ialah sesuatu yg tdk bertentangan dgn pokok iman dan tdk mengeluarkan pelakunya dari agama tdk menyebabkan kekal didlam nereka.Banyak keterangan apabila seseorang melakukan ingkar terhadap sesuatu perintah bisa disebut kafir,seperti kufur nikmat,tdk berhukum dgn hukum Allah,atau perbuatan dosa disebut kufur.Tetapi apa yg disebut kafir dlm konteks ini bukanlah kafir yg menyebabkan seseorang keluar dari islam.Iman kepada Alqur’an dan Kitab -kitab sebelumnya adalah pokok ajaran Islam,dan Islam adalah agama yg diridhoi Allah.Silahkan mau iman atau kafir.Firman Allah SWT.” ..”Pada hari orang-orang kafir telah berputus asa utk(mengalahkan)agamamu,sebab itu janganlah kamu takut kpd mrk dan takutlah kpd-Ku.Pada hari ini telah kusempurnakan utk kamu agamu,dan telah Ku cukupkan kpdmu ni’mat-Ku,dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama bagimu”( 5 :3).
    Mas Hery,agama yg hak(agama islam) itu bukan sebuah mimpi akal manusia,kecuali agama yang dibuat-buat oleh manusia betul sekali adalah mimpinya akal manusia.” Tiada sekutu bagi-Nya,dan demikian itulah yg diperintahkan kpdku dan aku adalah orang yg pertama-tama menyerahkan diri(kpd Allah) /muslimin”(6 :163).Jadi dlm Al-Hajj :46 ditujukan kpd mereka yg musyrik yg menyekutukan Allah swt,bukan diartikan tidak percaya saja.Mas Hery ,ma’af sblm dan ssdhnya. Harus jelas benang hitam dan putihnya,jangan bersifat abu-abu. wassalam.

  64. Wah… 2006 ya… saya masih duduk di kelas 2 SMA berarti.

    Hanya sekedar pemberitahuan kecil, bahwa hari ini, Jum’at tertanggal 25 Maret 2011, saya memetik manfaat dari buah-pikiran Anda di atas, Bung Herry. Semoga tidak di dunia (maya) saya kita bersahabat (secara imajiner), tapi semoga komentar ini bisa menjadi penanda, sekaligus membawa kita tetap bersahabat di yaumil akhir kelak.

    Salam esensi,

  65. m kurniadi (medan) says:

    asw. s.a.w. dulu aku seorang muallaf. 7 tahun dulu. kata ulama, ustad, guru. harus ucap 2 kalimat syahadat baru syah islamnya..
    menurut gimana yg keturunan islam yg orang tua islam apakah gak usah ucap lagi…banyak sekali gak dipelajari. syukur alhamdulilah.. aku belajar sendiri itu lah guru sejati.. tapi harus juga penuntun guru. maka harus juga beriman kepada kitab-kitab yg dulu kalau bisa belajari. aku dari buddha ke kristen dan islam. banyak ada persamaan antara itu. iatu satu nusa( bumi), bangsa(umat/ keturunan adam), satu bahasa (kata kunci untuk menemu rahsia diri kita sendiri.. bahasa Allah). kalau bahasa Arab Alquran. ditakdir harus di Arab. maka simak kata bangsa Arab kepada muhammad aku arab tanpa alif., . pas kali kata kafir sama syuhada…. maka jangan sekali kali kata orang lain kafir. saat tayiyatul solat berhatikan jari-jari yg tersembunyi,……………

  66. […] Sujudnya Malaikat kepada Adam, karena dalam diri manusia yang telah disempurnakan-Nya (Insan Kamil) ada yang disebut ‘Ruh-Ku’ dalam ayat 38:72 tadi. Malaikat —bukan— sujud kepada sifat jasadiyahnya Adam. Malaikat akan sujud kepada siapapun yang dalam dirinya ada pantulan ‘citra’ Allah (yang jelas, fokus, dan tidak blur), yaitu dengan kehadiran Ruh-Nya (Ruh Al-Quds) dalam jiwa seseorang. Iblis tidak mampu melihat ke dalam inti jiwa manusia tempat Ruh Al-Quds disematkan Allah, maka ia melihat Adam tidak lebih dalam dari sekedar tanah yang digunakan sebagai bahan jasadnya, sehingga ia enggan bersujud (perhatikan kata yang dipakai dalam ayat tersebut: ‘kafir’: tertutup, tidak mampu melihat kebenaran). […]

  67. […] Sujudnya Malaikat kepada Adam, karena dalam diri manusia yang telah disempurnakan-Nya (Insan Kamil) ada yang disebut ‘Ruh-Ku’ dalam ayat 38:72 tadi. Malaikat –bukan– sujud kepada sifat jasadiyahnya Adam. Malaikat akan sujud kepada siapapun yang dalam dirinya ada pantulan ‘citra’ Allah (yang jelas, fokus, dan tidak blur), yaitu dengan kehadiran Ruh-Nya (Ruh Al-Quds) dalam jiwa seseorang. Iblis tidak mampu melihat ke dalam inti jiwa manusia tempat Ruh Al-Quds disematkan Allah, maka ia melihat Adam tidak lebih dalam dari sekedar tanah yang digunakan sebagai bahan jasadnya, sehingga ia enggan bersujud (perhatikan kata yang dipakai dalam ayat tersebut: ‘kafir’: tertutup, tidak mampu melihat kebenaran). […]

  68. Dedi says:

    Ga ada yg bahas surat al kafirun yah, ujungnya jelas sih menurut saya bahwa kafir erat kaitannya dengan agama (diin). Saya sih berprasangka baik bahwa semua orang bisa masuk surga, labelisasi bukan identitas, tapi hanya sebuah ciri. Jadi saya setuju kalo mas heri ini kafir, wong dia ngaku kok hehe semoga terbuka ya apapunnya itu, pun buat saya dan semuanya… Aamiin.

  69. Tri ary says:

    Setelah baca ini.. tolong.. sekali lagi tolong.. ambil Al Qur’an cari dan baca surah Al-Maa’idah ayat 116 – 120, Al-Ikhlas ayat 1 – 4, An-Nisaa’ ayat 48 & 116, Al-Maa’idah ayat 72 – 74, Al-Bayyinah ayat 6, Az-Zumar ayat 65, Al-Luqman ayat 13, Adh-Dhariyat ayat 56, Ali-Imran ayat 85 dan terakhir Al Baqarah ayat 2. karena sepertinya penulis lupa dengan ayat-ayat tersebut. ini bukan menyebar kebencian atau menggurui lho ya.. hanya mencoba mengamalkan Al Qur’an surah Al-Ashr ayat 1 – 3

  70. Tri ary says:

    tambahan.. jgn ngomong tentang kristen kalo ga tau kristen, ini ada link youtube nya silakan dilihat sambil bawa Al-Qur’an kalau tidak ada install Al Qur’an terjemahan (ada tulisan arab dan artinya dalam bahasa indonesia) di Play Store untuk smartphoe android.. punya smartphone jangan hanya phone nya aja yg smart tapi penggunanya juga harus smart

  71. Emtezet says:

    Bagaimana dengan surat Al Kafiruun?

    Jelas2 surat itu mengaitkan istilah “kafir” dengan sesembahan / tuhan atau agama.

    Katakanlah: “Hai orang Kafir!”
    “aku tidak menyembah yg kamu sembah”
    “kamu tidak menyembah yg aku sembah”
    “dan aku tidak tidak pernah menyembah apa yg kamu sembah”
    “dan kamu tidak pernah menyembah yg aku sembah”
    “untukmu agamamu, untukku agamaku”

    Tersurat dan tersirat dengan jelas bahwa: Agama orang kafir tidak sama dengan agamaku (Muhammad saw) yaitu Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s